
Alka kesal benar benar sangat kesal melihat kebodohan Raka yang masih tak paham dengan apa yang Ia minta.
Ia ingin Amina, ya Ia ingin gadis itu namun Raka malah membawa wanita tua masuk ke dalam ruangannya, membuatkan kopi untuknya. benar benar sangat menyebalkan.
Raka terlihat membuka pintu dan segera berlari mendekati meja Alka.
"Siap menerima perintah pak." ucap Raka dengan wajah pucat takut.
"Kau ingin bercand denganku?" tanya Alka menatap Raka dengan wajah kesal.
"Bu bukan saya yang memilih pak."
Alka mengerutkan keningnya, "Lalu siapa?"
"Pak Juan yang memilih,"
Alka berdecak, semakin kesal karena Juan berani mengerjainya.
"Bawa dia keluar dan panggil Juan kemari." perintah Alka.
"Siap pak."
Raka mengajak Yani keluar, baru menutup pintu Juan sudah terlihat berjalan ke arah Raka dan Yani.
"Dia pasti memanggilku." tebak Juan yang langsung diangguki Raka.
"Pak Alka sangat marah." jelas Raka.
Juan tertawa, "Aku sudah biasa menghadapi amarahnya." kata Juan lalu memasuki ruangan Alka.
"Kau benar benar ingin dipecat?" tanya Alka saat Juan sudah berada diruangannya.
"Tentu saja tidak Tuan, saya hanya ingin Tuan mengungkapkan perasaan Tuan yang sebenarnya."
Alka berdecak, "Itu bukan urusanmu."
"Tentu saja menjadi urusan saya karena Tuan yang mengajak saya pindah kemari."
Alka menatap Juan dengan tatapan yang tak terbaca, "Lalu kenapa jika aku menyukainya, apa kau cemburu hah!" akui Alka yang langsung membuat Juan tertawa.
"Sial, kau malah menertawakanku!" umpat Alka.
"Akhirnya Tuan mengakuinya." ucap Juan tersenyum puas.
"Jadi kau sengaja mengerjaiku huh!"
Juan menggelengkan kepalanya, "Tidak Tuan, saya hanya ingin Tuan mengakui perasaan Tuan pada gadis itu." kata Juan.
"Pasti gadis itu rasanya sangat spesial hingga membuat Tuan seperti ini." tambah Juan.
"Kau ini benar benar!"
"Apa ini artinya Tuan sudah melupakan Sarah?" tanya Juan.
Alka tidak menjawab, hanya menghela nafas panjang.
"Baiklah saya tidak akan bertanya lagi. Saya akan membantu Raka membawa gadis itu kemari." ucap Juan lalu keluar dari ruangan Alka.
Alka tersenyum puas, Akhirnya Ia bisa bertemu dengan Amina setelah ini. Alka benar benar sangat penasaran dengan respon Amina jika melihatnya. Apa gadis itu akan senang seperti dirinya? Ah entahlah, Alka tidak bisa menebak itu.
__ADS_1
Diluar, Amina baru saja selesai membersihkan semua kaca yang ada di kantor ini. Amina istirahat sejenak dipantry sambil mendengarkan celotehan teman temanya yang masih membahas tentang Bos yang baru.
"Ganteng tapi galak kayak setan, gue nggak mau lagi kalau disuruh balik kesana!" umpat Riska yang tadinya ditugaskan diruangan Bos besar.
"Padahal wajahnya keliatan kalem gitu ya." celetuk salah satu temannya.
"Itu Mbok Yani aja baru dari sana juga langsung takut nggak mau lagi kesana." ucap Riska lagi.
"Apa segalak itu?" batin Amina merasa beruntung karena bukan dirinya yang ditugaskan disana.
Namun baru saja Amina merasa beruntung, Raka terlihat memasuki Pantry dan menatap ke arahnya.
"Kamu, buatkan kopi untuk Pak Bos!" pinta Raka membuat mata Amina membulat.
"Sa saya pak?"
"Iya kamu, jangan membantah dan cepat kerjakan."
"Ba baik pak." ucap Amina segera bangkit dari duduknya untuk membuatkan kopi.
"Ati ati Na, salah sedikit dipecat Lo." ledek Riska menertawakan Amina.
Amina hanya diam tidak mengubris ucapan Riska. Amina segera keluar membawa secangkir kopi, berjalan pelan menuju ruangan Bos besar.
Amina mengetuk pintu, tidak ada jawaban jadi Ia langsung masuk ke ruangan.
Amina menundukan kepalanya meskipun bosnya terlihat berbalik memunggunginya.
"Silahkan kopinya pak." ucap Amina dengan bibir bergetar.
Amina baru ingin berbalik namun bosnya lebih dulu berbalik. Dan betapa terkejutnya Amina melihat siapa bos yang ditakuti oleh semua rekan kerjanya itu.
"Tu tuan Alka..."
Wajah Alka terlihat biasa, tidak terkejut seperti Amina, "Oh kau... kau bekerja disini?" tanya Alka acuh lalu menyeruput kopinya.
Amina menganggukan kepalanya dan langsung menunduk, tidak berani menatap Alka.
"Hmm, rasanya sedikit pahit." gumam Alka.
"Maafkan saya Tuan eh Pak, saya tidak tahu selera Bapak seperti apa." ucap Amina terdengar gugup.
"Bapak? Kau pikir aku Bapakmu!" ketus Alka.
"La lalu saya harus memanggil Apa? Tuan lagi?" tanya Amina terlihat bingung.
"Terserah kau saja mau memanggilku apa dan untuk kopinya aku suka yang seperti ini, jangan mengubahnya." jelas Alka yang langsung di angguki Amina.
"Baiklah jika sudah tidak ada lagi, saya akan keluar sekarang pak." pamit Amina.
"Tunggu!"
Amina baru saja berbalik dan sudah mendengar suara keras Alka membuat langkahnya terhenti.
"Dimana kau tinggal sekarang? Kau pergi bahkan tanpa berpamitan. Tidak sopan!" ucap Alka.
"Maafkan saya pak, waktu itu Bapak ke paris menemui kekasih Bapak jadi saya tidak bisa berpamitan, maafkan saya."
Mendadak Alka berdehem karena Amina menyebut kekasihnya, jika saja Amina tahu kalau Sarah sudah bukan lagi kekasihnya.
__ADS_1
"Aku merindukan masakan Bik Surti." ungkap Alka.
Amina tersenyum, "Bapak bisa main ke tempat saya jika memang merindukan masakan Ibu."
"Baiklah nanti malam sepulang kerja aku akan kesana." ucap Alka dengan semangat.
Amina hanya melongo tak percaya, padahal Ia mengatakan itu hanya sekedar basa basi namun ternyata Alka malah begitu semangat mengiyakan.
"Kalau begitu saya permisi pak." pamit Amina.
"Tunggu!" ucap Alka yang lagi lagi membuat Amina menghentikan langkahnya.
"Ada lagi yang bisa saya kerjakan pak?" Amina mulai kesal karena jujur dirinya tidak ingin berlama lama melihat Alka.
"Belikan aku makan siang." pinta Alka sambil memberikan selembar uang ratusan.
"Bapak ingin makan siang apa?"
"Apapun yang penting enak."
Amina berdecak, Ia sungguh bingung jika Alka tidak memilih.
"Saya belikan nasi padang ya pak?" tawar Amina.
Alka mengangguk, "Belikan dua."
"Baik pak."
Amina segera keluar dari ruangan Alka.
"Kenapa aku sesenang ini melihat gadis itu." gumam Alka.
Berbeda dengan Amina yang mendadak lesu karena harus berurusan dengan Alka lagi.
"Ck, kenapa harus Tuan Alka. Aku benar benar tak sanggup jika harus melihatnya setiap hari tapi aku juga tidak memiliki pilihan lagi." keluh Amina.
Amina segera kembali ke kantor setelah mendapatkan 2 bungkus nasi padang pesanan Alka.
Amina baru ingin masuk namun seseorang lebih dulu melewatinya saat Ia melihat orang itu tersenyum menatapnya.
Amina langsung menundukan kepalanya karena tahu jika orang itu adalah Juan asisten pribadi Alka. Amina pernah bertemu saat di hotel.
"Wah membeli 2 bungkus apa satu bungkusnya untuk ku?" tanya Juan saat Amina meletakan nasi padang dimeja Alka.
"Keluar." pinta Alka sambil melotot ke arah Juan.
Juan tertawa nakal, "Baiklah, saya akan keluar sekarang."
"Saya juga permisi pak." pamit Amina saat Juan sudah keluar.
"Tunggu!"
Amina kembali menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Alka,
"Te temani makan, aku tidak bisa menghabiskan nasi padang 2 bungkus sendirian!"
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komenn
__ADS_1