
Hari mulai gelap, Amina bersiap untuk pulang karena kantorpun mulai sepi namun diruangan, Alka masih terlihat sibuk dengan pekerjaannya.
Amina berjalan mndekati Alka, "Pak saya pulang ya?"
Diam masih tidak ada respon apapun dari Alka membuat Amina bingung. Sejak kejadian pandang pandangan diantara mereka sore tadi keadaan memang menjadi aneh, baik Alka maupun dirinya sama sama banyak diam.
"Pak..."
"Hmm." Alka menatapnya dengan tatapan terkejut, seolah tadi Alka melamun tidak mendengarkan Amina bicara.
"Saya pulang ya?" rayu Amina.
Alka melirik jam dipergelangan tangannya, Ia pun berdiri dan mengambil kunci mobil, "Ya sudah ayo."
"Eh saya pulang sendiri nggak apa apa pak kalau Bapak masih sibuk."
Alka menatap Amina tajam membuat Amina bergindik, "Ya sudah saya mau diantar."
Alka tak mengatakan apapun, langsung keluar diikuti oleh Amina.
"Besok hari pertama kamu kuliah." ucap Alka saat keduanya sudah berada didalam mobil.
Amina hanya mengangguk,
"Kamu sudah punya perlengkapannya belum?"
"Sudah pak, buku dan tas saya masih ada."
"Sepatu? baju baru?"
Amina tersenyum geli, "Saya bukan lagi anak Sd yang apapun harus baru saat pertama kali masuk sekolah."
Alka ikut tersenyum, "Mau makan malam diluar?"
Amina menggelengkan kepalanya, "Kita langsung pulang saja pak."
Terdengar helaan nafas Alka, "Ya sudah."
Alka melajukan mobilnya menuju gang masuk komplek kontrakan Amina. Saat sampai, Alka ikut turun bersama Amina.
"Kenapa Bapak ikut turun?"
"Karena aku ingin kerumahmu."
"Bapak mau menginap lagi?" mata Amina melotot seperti ingin keluar.
Alka tertawa, "Kalau boleh."
"Jangan pak." tolak Amina, mengingat pagi tadi semua tetangganya melirik tajam ke arahnya sudah dipastikan malam ini jika Alka menginap lagi pasti mereka akan digrebek oleh warga.
"Kenapa?" Alka terlihat kesal.
"Saya tidak mau warga salah paham kalau Bapak menginap dirumah saya."
__ADS_1
"Bapak bapak!" Alka mendengus kesal.
"Eh iya mas, jangan nginep dirumah saya lagi ya mas." Amina tidak sadar jika mereka sudah tidak dikantor. Terbiasa memamggil Alka bapak hingga lupa jika harus memanggil Mas saat diluar.
"Jangan pikirkan tetanggamu, aku hanya ingin menemanimu."
"Tidak perlu mas, saya baik baik saja." tolak Amina. Sejujurnya Amina merasa tak enak jika harus menolak Alka namun mau bagaimana lagi, mereka bukan pasangan suami istri, Amina tidak ingin mendapatkan masalah, lagipula Alka juga sudah memiliki wanita idaman lain jadi Ia tidak akan berharap lagi pada Alka.
"Aku akan tetap menemanimu!"
"Mas, jangan..."
"Kenapa?" Alka masih saja bertanya padahal Ia tahu alasannya.
"Bagaimana kalau sampai kita digrebek warga karena kita belum menikah tapi tinggal bersama."
Alka tersenyum, "Kalau begitu ayo kita menikah."
Deg...
Jantung Amina berdegup sangat kencang mendengar permintaan Alka.
"Ayo kita menikah agar bisa hidup bersama tanpa takut digrebek oleh warga." ajak Alka lagi.
Amina diam, bibirnya terasa kaku untuk digerakan, Ia bahkan juga tak tahu harus menjawab apa.
Kembali terdengar helaan nafas Alka, "Pikirkan apa yang baru saja ku katakan padamu." ucap Alka menepuk bahu Amina,
"Aku pulang." Alka berjalan kembali memasuki mobil dan meninggalkannya.
Semalaman Amina tidak bisa tidur karena memikirkan permintaan Alka,
"Bukankah Ia bilang jika sudah memiliki wanita pilihan, apa yang dimaksud wanita pilihan itu aku?"
"Ah tidak mungkin, lalu apa dia hanya bercanda?"
Amina menepuk nepuk pipinya, "Sudahlah Amina, sudah. Jangan pikirkan lagi. Sebaiknya kau segera tidur, jangan sampai terlambat datang ke kampus dihari pertamamu!"
Amina memaksakan diri memejamkan mata hingga Ia pun terlelap dengan sendirinya.
Sementara itu hal yang sama juga dirasakan oleh Alka. Pria itu juga sama seperti Amina tidak bisa tidur.
Alka bangun dari ranjangnya, Ia mengambil kotak beludru kecil dilaci mejanya.
Alka membuka kotak itu, terdapat 2 cincin yang memang sudah Ia siapkan untuk Amina.
Sepulang dari mengantar Amina tadi, Alka mampir untuk membeli cincin ini.
Jika mengingat masa lalu bersama Sarah, jujur Alka masih trauma jika sampai lamarannya ditolak lagi.
Melihat Amina hanya diam saja setelah ajakannya menikah membuat Alka kembali takut.
Entah apa yang Amina pikirkan tadi, Alka hanya ingin membuktikan jika apa yang Ia ucapkan tadi karena memang Ia serius. Alka juga sudah memantapkan hatinya ingin hidup bersama Amina hanya bersama Amina.
__ADS_1
Alka menutup kotak itu lalu kembali meletakan dilaci mejanya, Ia bergegas untuk segera tidur karena besok pagi Ia ingin mengantar Amina pergi ke kampus.
...****************...
Amina berjalan cepat keluar dari komplek kontrakannya, Ia harus segera berangkat agar tidak terlambat.
Saat Amina ingin memesan ojek online, Amina mendengar suara klakson mobil.
"Pak Alka..." Amina melihat mobil Alka sudah terparkir disamping gang.
Amina segera memasuki mobil Alka, "Kok Mas bisa disini?"
"Mau nganter kamu."
Seketika perasaan Amina berbunga mendengar Alka mengatakan ingin mengantarnya. Amina merasa sangat diperhatikan.
Dan kali ini Amina tidak akan menolak seperti biasanya karena Ia memang suka diantar oleh Alka, "Sudah sarapan mas?"
Alka menggelengkan kepalanya, "Mampir beli sarapan dulu mau?"
Amina melihat jam dipergelangan tangannya sebelum Ia menyetujui ajakan Alka.
"Masih ada waktu buat sarapan." batin Amina lalu tersenyum.
Alka mengajak Amina membeli bubur ayam dikedai yang tak jauh dari kampus Amina. Disana keduanya lebih banyak diam.
"Apa dia menolak ku?" batin Alka.
"Apa dia semalam hanya bercanda? Kenapa tidak membahasnya lagi?" batin Amina.
Keduanya masih diam dan kalut dengan pikiran masing masing hingga selesai sarapan.
Amina baru selesai menutup pintu, Ia melihat Alka menatap ke arahnya,
"Ada apa pak? Apa ada yang kotor?" tanya Amina melihat wajahnya dispion depan.
Alka tidak menjawab, Ia malah mendekat seperti ingin memeluk Amina padahal Alka hanya ingin memasangkan sabuk pengaman untuk Amina.
"Jika tidak dipasang aku bisa ditilang." bisiknya tepat ditelinga Amina membuat jantung Amina berdegup dengan kencang.
Alka kembali ke tempatnya setelah selesai memasang sabuk pengaman, membuat Amina bisa bernafas lega.
Amina hanya diam saja hingga mobil Alka sampai didepan kampusnya.
"Kau sudah membawa surat surat yang kuberikan kemarin?" tanya Alka yang langsung diangguki Amina.
"Bagus, berikan pada salah satu dosen agar kau bisa mendapatkan kelas, Juan sudah mengurus segala sesuatunya kemarin, kau hanya tinggal datang dan belajar."
Amina kembali mengangguk, "Terima kasih banyak pak eh mas."
Alka tersenyum, sebelum Amina keluar Ia menahan lengan Amina lalu menarik Amina agar lebih dekat dengannya.
"Jangan nakal dan jangan membuat pria lain menyukaimu." Bisik Alka lalu mencium pipi Amina.
__ADS_1
bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaaa