
Alka berlari mengejar Amina, tak peduli jika saat ini Ia menjadi bahan tontonan para karyawannya yang sudah datang ke kantor.
"Amina tunggu!" Alka berhasil mengejar Amina dan langsung menahan lengan Amina.
"Pak tolong lepaskan saya pak, lepaskan." pinta Amina dengan mata berair, Amina menangis.
"Hey, apa yang terjadi? Ada apa?" Alka terlihat khawatir mengingat mereka baik baik saja dan sedang tidak ada masalah apapun.
"Ibu saya pingsan pak, sekarang dibawa kerumah sakit dan saya harus segera kesana, tolong lepaskan saya pak." pinta Amina memohon agar Alka melepaskan lengannya.
Alka terlihat ikut shock mendengar Bik Surti masuk rumah sakit,
"Oke tenang, tunggu disini. Aku akan ambil mobil dan kita kesana bersama.''
Amina menggelengkan kepalanya, "Tidak pak, biarkan saya sendiri."
"Jangan membantah, tetap disini atau aku tidak akan membiarkanmu pergi!" ancam Alka.
Amina mengangguk pasrah, Ia pun menuruti Alka menunggu didepan kantor tanpa peduli ke sekitar dimana orang orang melihat ke arahnya saat ini.
Mobil Alka berhenti tepat didepan Amina, segera Amina masuk ke mobil Alka,
"Dimana rumah sakitnya?"
"Rumah sakit cipta medika."
Alka mengangguk paham, Ia memang belum tahu letaknya karena Alka pendatang baru namun semua bisa dicari melalui aplikasi diponselnya.
Alka melajukan mobilnya sedikit kencang, sesekali Ia melirik ke arah Amina yang masih saja menangis.
Sampai dirumah sakit, Amina keluar lebih dulu dan berlari meninggalkan Alka.
Alka hanya bisa menghela nafas panjang dan segera menyusul Amina masuk ke dalam.
"Budhe..." Amina memanggil seorang wanita paruh baya yang menunggu didepan UGD.
"Syukur kamu sudah datang, Ibumu baru ditangani sama dokter." ucap wanita itu.
Alka yang baru saja masuk pun langsung mendekat ke arah Amina.
"Siapa dia? Pacar kamu?"
Amina menggeleng, "Bos dikantor."
Wanita yang disapa Budhe itu terkejut, "Kok masih pakai piyama." bisiknya yang bisa didengar oleh Alka.
"Buru buru mau nganter kesini sampai nggak sadar kalau masih pakai piyama." balas Alka sopan.
Wanita itu hanya berohh ria mendengar jawaban Alka.
__ADS_1
"Ini budhe Parmi, tetangga sebelah rumah." Amina memperkenalkan pada Alka.
"Saya Alka, bosnya Amina dikantor."
Budhe Parmi mengangguk paham, "Ganteng dan cantik, kalian cocok." celetuknya namun tidak digubris oleh Amina.
Dokter keluar dari ruangan UGD, Amina dan Alka segera berlari mendekati Dokter itu.
"Bagaimana keadaan Ibu saya dok?"
"TBC nya sudah mulai menyerang jantung, harus segera masuk ICU."
Amina terkejut setengah mati mendengar penjelasan dari Dokter, "TBC?"
"Iya pasien mengalami TBC Akut, seharusnya ini sudah ditangani sejak lama. Jika sudah terlanjur parah seperti ini saya tidak bisa berjanji banyak."
Air mata Amina kembali menetes, Ia benar benar tak tahu jika Ibunya memiliki penyakit TBC akut. Yang Amina tahu selama ini Ibunya hanya sakit asam lambung.
Pantas saja Ibunya sering batuk akhir akhir ini, badannya juga bertambah kurus dan lagi Ia juga melarang Amina dekat dekat ternyata karena ini, Ibunya menyembunyikan penyakit menular ini darinya.
"Segera urus biaya administrasinya agar pasien bisa segera masuk ruang ICU." ucap Dokter itu lalu meninggalkan Amina.
Amina merasakan tubuhnya lemas hingga Ia terjatuh dilantai. Bagaimana ini? Bagaimana Ia harus membayar biaya rumah sakit jika Ia tidak memiliki uang sepeser pun bahkan uang tabungannya pun sudah habis untuk biaya pindahnya waktu itu.
Alka menepuk bahu Amina, Ia membawa Amina duduk dikursi yang ada disana.
"Tidak perlu memikirkan masalah biaya, aku yang akan mengurus itu."
"Jangan membantah, jika kau ingin Ibumu segera ditangani."
"Sa saya akan mengembalikan uang Bapak."
Alka tersenyum, "Ku bilang jangan pikirkan apapun. Tunggu disini, aku akan segera kembali."
Alka berjalan menuju ruang administrasi dan Ia ingat jika tidak membawa dompet serta uang sama sekali. beruntung Alka membawa ponselnya jadi Ia bisa menghubungi Juan agar mengantar barang yang Ia butuhkan.
"Tidak usah banyak bicara, cepat antarkan dompet juga baju ganti untukku dirumah sakit cipta medika. Jika 5 menit kau tidak sampai, aku akan memecatmu saat ini juga." ucap Alka lalu mengakhiri panggilan.
Alka memasukan ponselnya dikantong celananya, Ia segera keluar untuk menunggu Juan datang.
Sampai didepan, Alka dikejutkan oleh sebuah motor yang tiba tiba berhenti didepannya berdiri.
Dan saat orang itu membuka helm ternyata Juan "Tepat 5 menit Tuan." Juan menyerahkan Dompet juga paper bag berisi baju ganti.
"Lama!" decak Alka padahal Ia baru saja sampai diluar.
"Jika kinerja saya masih belum memuaskan besok Tuan mencari karyawan setan saja." Juan terlihat kesal membuat Alka langsung tertawa.
"Ngomong ngomong siapa yang sakit Tuan?"
__ADS_1
"Kepo!" Alka memgambil paper bag dari tangan Juan lalu kembali memasuki rumah sakit.
"Apa mungkin Amina yang sakit?" tebak Juan lalu menggelengkan kepalanya, "Udah ah bodo amat, mendingan balik kantor, kerjaan gue banyak!" Juan kembali menyalakan motor dan langsung melajukan motor meninggalkan rumah sakit.
Alka sudah selesai mengurus administrasi, Ia kembali ke UGD untuk memberikan surat perpindahan ke ICU.
Alka sampai di UGD namun tak menemukan Amina, hanya Budhe Parmi yang masih terlihat duduk didepan ruang UGD.
"Amina lagi ke toilet." kata Budhe Parmi saat melihat Alka berjalan mendekat.
"Ya sudah, nanti kalau Amina kembali suruh berikan ini pada Suster agar Ibunya segera dipindah ruang ICU." jelas Alka memberikan selembar kertas yang Ia dapatkan dari ruang Administrasi.
"Ya nanti Budhe berikan pada Amina, sudah mau pulang ya?"
Alka menggelengkan kepalanya, "Mau ganti baju." Alka memperlihatkan paper bag yang Ia bawa.
"Masih mau nungguin disini?"
Alka mengangguk, Ia memang berencana libur sehari agar bisa menemani Amina disini.
"Waduh, kalau gini mah bukan sekedar atasan sama bawahan." ucap Parmi lalu terkikik geli.
Alka tersenyum, "Doakan saja saya bisa jadi calon suaminya."
Parmi terkejut namun seketika Ia tersenyum dan mengangguk, "Aminaa... Beruntungnya." Parmi merasa lega karena Amina sudah memiliki pria yang mungkin bisa menjaga Amina dan Ibunya.
Meskipun Parmi hanya tetangga namun Parmi sangat menyayanggi Amina.
"Kalau begitu saya permisi ke toilet dulu." pamit Alka yang langsung diangguki Parmi.
Alka segera ke toilet pria untuk mandi ala kadarnya dan berganti pakaian.
Selesai dengan urusannya di toilet, Alka segera keluar dan kembali ke mobil untuk meletakan paper bag berisi piyama.
Alka keluar dari mobil, berniat kembali masuk ke rumah sakit. Alka dikejutkan oleh Amina yang berdiri disamping mobilnya, seperti sedang menunggu dirinya.
"Amina, kenapa kau disini? Bagaimana Ibumu?" tanya Alka.
"Ibu sudah pindah keruang ICU berkat Bapak,"
Alka mengangguk, "Ibumu pasti akan segera pulih." hibur Alka.
Amina tersenyum namun senyuman terkesan dipaksa, "Jika saya membayar hutang dengan mencicil setiap bulan pasti akan lama karena biaya rumah sakit ini sangatlah besar."
"Sudah jangan pikirkan masalah itu." potong Alka.
"Saya mau pak, saya mau tidur dengan Bapak lagi asal hutang saya bisa lunas."
Alka terkejut, menatap Amina tak percaya.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaaa