
Brian tidak marah saat Amina mengatakan dirinya psikopat, Ia justru tertawa keras hingga suaranya terdengar sangat menakutkan.
"Psikopat? Ya aku memang psikopat Amina, aku biasa membunuh siapa saja yang menolak keinginanku!" ungkap Brian yang langsung membuat Amina menggeleng tak percaya.
"Dasar gila!"
"Kau lihat gadis ini Amina?" Brian menjambak rambut gadis yang Ia ikat dikursi dan kakinya berlumuran darah.
"Dia sama sepertimu, menolak ku, tidak memberi aku kesempatan untuk dekat dengannya, membuatku marah, sangat marah." kata Brian menjambak lebih keras lagi rambut gadis itu namun gadis itu hanya diam saja, tidak menjerit atau pun meringgis seolah sudah kebal, tidak lagi merasakan sakit.
"Dan sekarang giliranmu Amina, duduklah disini." kata Brian menepuk nepuk kursi kosong yang ada disamping gadis itu.
Amina menggelengkan kepalanya, Ia berbalik dan ingin lari namun sayang pintu gudang sudah terkunci.
Brian kembali tertawa keras saat melihat Amina tidak bisa kabur.
"Lebih baik kau menurut saja karena aku tidak ingin berbuat lebih kasar padamu." pinta Brian.
Amina terdiam cukup lama, memikirkan tawaran Brian hingga akhirnya Ia mengangguk. Duduk dikursi yang disediakan oleh Brian sambil berharap Alka segera menolongnya.
"Aku suka gadis penurut sepertimu." gumam Brian mulai mengikat tangan dan kaki Amina.
Selesai mengikat Amina, Brian menatap Amina dari atas sampai bawah.
"Kau sangat cantik Amina, tapi kau sudah menyakitiku!" kata Brian.
Brian ingin menyentuh pipi Amina namun Amina menghindar hingga Brian tak bisa menyentuhnya.
Brian mengeram marah dan plak... Satu tamparan mendarat di pipi Amina.
"Jika disentuh sedikit saja tidak mau lebih baik kau ku perkosa saja!" kata Brian membuat Amian langsung pucat ketakutan.
Brian mengambil pisau lipatnya dan memperlihatkan pada Amina.
"Ja jangan..." pinta Amina sangat ketakutan dan ingin menangis.
"Ssstttt, jangan takut baby, hanya ingin melucuti semua pakaianmu dengan pisau ini." kata Brian lalu tersenyum jahat.
Brian mendekat, siap untuk merobek baju Amina dengan pisau lipatnya.
Belum sempat pisau mengenai baju Amina, terdengar suara pintu dibuka dan tembakan.
Dorrrr... Satu tembakan tepat mengenai tangan Brian hingga pisau lipat Brian jatuh ke lantai.
"Sialan!" umpat Brian memegangi tangan kanannya yang terkena peluru.
Dorr...
Dorr...
Dorr...
3 tembakan menyusul dan kali ini mengenai tangan kiri, kaki kanan dan kaki kiri Brian hingga Bria jatuh ke lantai.
Amina menatap siapa yang sudah menembak Brian dan bersyukur karena itu Alka.
__ADS_1
"Mas Alka..." suara Amina serak menahan tangis.
Alka melangkah masuk untuk menyelamatkan Amina dan beberapa polisi juga datang untuk menangkap Brian juga menyelamatkan gadis yang ada disamping Amina.
"Kamu nggak apa apa sayang? Maaf aku terlambat." kata Alka melepaskan tali yang mengikat tubuh Amina lalu memeluk Amina.
"Aku takut mas... Takut." kata Amina lalu menangis dipelukan Alka.
"Its oke, semua sudah baik baik saja."
Alka segera membawa Amina keluar dari gudang.
"KALIAN TIDAK TAHU SIAPA PAPA KU? AKU AKAN MENGADUKAN KALIAN PADA PAPAKU!" teriak Brian pada para polisi yang hendak membawanya masuk ke mobil.
"Papa mu sudah bangkrut, dia tidak akan membebaskan penjahat sepertimu lagi, jadi sebaiknya kau menurut saja atau aku akan memukulmu!" ancam polisi itu.
"Tidak, Papa ku tidak bangkrut! Aku akan mengadukan kalian!"
Polisi itu tidak mengubris teriakan Brian dan segera membawa Brian pergi dari sana bersama beberapa preman yang menjadi anak buah Brian.
"Bagaimana?" tanya Alka saat Juan menghampirinya ke mobil.
"Aman Tuan, setelah ini Brian pasti akan mendapatkan hukuman yang setimpal karena Brawijaya sudah tidak memiliki dana untuk menyelamatkan putranya." jelas Juan.
"Bagus, pastikan dia membusuk dipenjara!"
"Baik Tuan."
Alka segera melajukan mobilnya, membawa Amina pergi dari sana.
"Apa dia sudah menyakitimu?"
Amina menggelengkan kepalanya, "Dia baru ingin merobek bajuku dengan pisau lipatnya. Terima kasih mas sudah datang tepat waktu untuk menyelamatkan ku."
Alka mengangguk, "Maafkan aku sayang, aku terpaksa melakukan ini untuk menangkap Brian."
Amina mengerutkan keningnya tak mengerti, "Melakukan apa mas?"
"Membiarkan mu diculik oleh Brian, aku sudah tahu rencana Brian namun aku sengaja membiarkan kamu diculik agar aku bisa menangkapnya."
Amina memanyunkan bibirnya, tak menyangka jika ini salah satu strategi Alka untuk menangkap Brian.
"Bagaimana kalau tadi mas sampai terlambat datang?" Amina terlihat kesal.
"Tidak mungkin, nyatanya tepat waktu kan?"
"Tetap saja mas, seharusnya Mas jangan melakukan-"
"Ssstttt, semua sudah selesai sayang, jangan diperpanjang lagi yang penting sekarang aku sudah menyelamatkanmu." kata Alka.
Amina masih memanyunkan bibirnya, masih kesal dengan Alka.
Sesampainya dirumah, Amian segera mandi, membersihkan diri agar Ia tidak lagi mengingat Brian yang hampir menyentuhnya.
Amian keluar dari kamar mandi, masih mengenakan jubah mandi, baru ingin menyisir rambut, tiba tiba Alka memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Jangan marah lagi baby." bisik Alka lalu mengecup kepala Amina.
Amina diam sejenak lalu berbalik dan mengendus endus tubuh Alka.
"Aku belum mandi lagi jadi nggak bau kan?" protes Alka sebelum Amina mengusirnya.
Amina mengangguk dan membiarkan Alka kembali memeluknya karena jujur Amina merasa semakin tenang saat Alka memeluknya.
Sementara itu dikantor polisi, Juan masih menunggu Brian yang diperiksa oleh polisi. Ia tidak akan pulang sebelum memastikan jika Brian sudah masuk sel penjara.
"Pak Juan..." sapa Brawijaya, Papa dari Brian yang baru saja datang bersama pengacaranya.
Brawijaya terlihat mengulurkan tangan ingin menyalami Juan namun Juan tidak mau menerima uluran tangan Brawijaya.
"Jadi Brian adalah putramu?" tanya Juan sinis.
Brawijaya menunduk malu, "Maafkan atas apa yang terjadi."
"Jika Tuan Alka tahu Brian adalah putramu, jangan salahkan jika sampai Tuan Alka memutuskan kontrak kerja sama." kata Juan yang langsung membuat Brawijaya panik.
"Ja jangan lakukan itu, ku mohon." pinta Brawijaya.
"Jangan biarkan putramu keluar dari penjara dan mengusik istri Tuan Alka lagi jika kau masih ingin bekerja sama dengan kami." kata Juan yang langsung diangguki Brawijaya.
"Saya akan mengurus dan memastikan putra saja mendapatkan hukuman dari apa yang telah diperbuatnya." kata Brawijaya membuat Juan tersenyum puas.
Brawijaya memasuki ruangan introgasi dimana Brian berada disana.
"Papa,... Akhirnya kau datang." ucap Brian tersenyum senang melihat Brawijaya datang bersama pengacaranya.
"Cepat bawa aku pergi dari si-"
Plakkk... Belum sempat Brian menyelesaikan ucapannya, Brawijaya sudah menampar pipinya. Tidak hanya sekali namun juga berkali kali.
"Memalukan, sampai kapan kau akan berulah seperti ini!" geram Brawijaya.
Brian terkejut, tak percaya dengan apa yang baru saja Papanya lakukan.
Biasanya Papanya akan menyuap polisi agar Ia bisa bebas namun kali ini Ia malah mendapatkan tamparan.
"Apa yang Papa lakukan? Bebaskan aku sekarang!" pinta Brian dengan nada marah.
"Tidak, kali ini Papa tidak akan membebaskanmu. Papa akan membiarkanmu mendapatkan hukuman atas apa yang sudah kamu lakukan!!" kata Brawijaya yang membuat Brian melotot tak percaya.
"Hukum dia sesuai prosedur, kali ini aku tidak akan membantunya lagi." kata Brawijaya pada polisi yang ada disana lalu keluar dari ruangan itu, tak peduli dengan Brian yang berteriak meminta tolong padanya.
"Papa, tolong aku. Jangan biarkan aku disini!" teriak Brian namun Brawijaya tidak mengubrisnya, meninggalkan Brian begitu saja.
"Semua beres, Brian akan mendapatkan hukuman disini." kata Brawijaya pada Juan yang masih menunggunya.
"Bagus, aku akan mengatakan pada Tuan Alka."
Juan akhirnya pergi dari kantor polisi setelah Brian sudah diproses hukum.
Bersambung....
__ADS_1