
Alka membawa Amina kerumah sakit, membuat Amina protes karena Ia merasa tidak terluka sedikitpun.
"Aku baik baik saja mas, tidak perlu membawaku kerumah sakit seperti ini." protes Amina.
"Tidak sayang, kau tetap harus periksa."
Amina menghela nafas panjang, Ia akhirnya menurut saja. Mengikuti Alka memasuki rumah sakit.
"Tidak ada luka, sepertinya tidak perlu khawatir, semua baik baik saja." jelas dokter yang memeriksa Amina.
Amina menatap kesal ke arah Alka yang malah tertawa, "Maafkan aku Dok, aku terlalu khawatir." jelas Alka yang membuat dokternya tersenyum.
Alka dan Amina segera keluar dari ruang periksa, mereka kembali memasuki mobil.
"Sudah ku bilang aku baik baik saja mas." ucap Amina lagi.
Alka tersenyum, "Setidaknya sekarang aku lega sayang."
Amina memanyunkan bibirnya membuat Alka gemas dan tak tahan untuk tidak mencium Amina.
"Aku jadi takut belajar naik mobil jika seperti ini mas."
Alka tersenyum, "Tidak perlu takut, bukankah semua sudah baik baik saja?"
Amina mengangguk, Ia masih tak percaya Alka datang dengan sangat cepat saat Ia menghubungi Alka.
"Lagi pula aku sudah memasang alat pelacak di ponselmu jadi aku bisa tahu kemana dan dimana kau saat ini." ungkap Alka.
Amina melonggo tak percaya, "Pantas saja mas cepat sampai."
Alka tersenyum, "Bukan berarti aku posesif, aku hanya ingin melindungimu dan inilah caraku."
Amina mengangguk mengerti, "Terima kasih mas,"
"Tidak mengomel lagi?" cibir Alka dengan bibir tersenyum.
Amina menunduk malu, "Maaf."
Alka tersenyum, Ia mengelus kepala istrinya sambil mengemudikan mobil.
Alka mengantar Amina pulang kerumah.
"Mobilnya sudah dirumah, apa masalahnya sudah selesai?" gumam Amina segera keluar.
Amina terkejut melihat body belakang mobilnya sudah tidak penyok lagi.
"Sudah saya service Nona." suara Juan terdengar mendekati Amina.
"Terima kasih banyak Juan, kau gerak cepat sekali, Mas Alka belum menyuruhmu tapi kau sudah melakukannya."
Juan tersenyum penuh bangga, "Saya memang salah satu anak buah yang sangat teladan dan patut dicontoh Nona."
Amina tertawa, "Benar, aku merasa kau memang seperti itu."
"Ck, itu karena aku menggajinya sangat banyak jadi dia bisa seperti itu!" protes Alka yang baru saja bergabung.
__ADS_1
Amina memutar bola matanya malas mendengar ucapan Alka yang terdengar sombong.
"Dimana Kak jane? Apa dia sudah pulang?"
"Sudah Nona, baru saja dia pulang."
"Kau tidak mengantarnya?" tanya Alka.
Juan menggelengkan kepalanya, "Tidak Tuan, dia sudah membawa motor sendiri."
"Sepertinya dia tertarik padamu." celetuk Alka.
Juan tersenyum, "Saya tidak peduli dengan wanita yang tertarik dengan saya karena sekarang saya sudah memiliki wanita yang harus saya jaga perasaannya." ungkap Juan.
"Wah, kau romantis sekali Juan." Amina mengacungkan jempolnya pada Juan.
"Aku juga seperti itu kan sayang, aku tidak pernah melirik wanita lain selain dirimu." ungkap Alka.
"Iya mas, aku percaya." balas Amina melegakan hati Alka.
Alka dan Juan segera kembali ke kantor sementara Amina segera masuk rumah.
Beberapa hari ini Juan merasa kelelahan karena banyaknya pekerjaan dikantor maupun diluar kantor.
Juan hanya mengantar Lily sampai depan kos dan tidak mampir.
"Yakin nggak masuk dulu?" tawar Lily sekali lagi.
"Aku capek sayang, besok saja ya?"
"Apa mas sudah punya wanita lain?"
Mata Juan melotot tak percaya, bagaimana bisa Lily mengatakan hal seperti itu padanya sementara Ia sudah menjaga dirinya sebaik mungkin.
"Kenapa kau berpikiran seperti itu hmm?" tanya Juan sambil mengenggam tangan Lily.
"Kamu berubah aneh mas, dari kemarin nggak mampir ke kos dan lagi kalau pas dikantor keliatan cuek banget." ungkap Lily dengan jujur.
"Astaga sayang, jadi karena ini kamu jadi anggap aku selingkuh?" Juan tertawa, menatap Lily yang menunduk malu.
"Jika ada Tuan Alka mungkin aku terlihat cuek saat dikantor karena aku tidak ingin terlihat bucin didepan Tuan Alka karena ingin fokus dengan pekerjaan ku, jadi maafkan aku sayang." jelas Juan dengan jujur.
"Dan lagi aku tidak mampir bukan karena ada wanita lain tapi karena aku kelelahan, aku ingin cepat sampai dirumah dan istirahat, apa kau sudah mengerti?"
Lily mengangguk paham, "Maafkan aku karena sudah salah paham."
Juan tersenyum, "Tidak masalah, masuklah dan segera istirahat jangan lupa makan malam."
Lily kembali mengangguk, "Baiklah mas."
Lily keluar dari mobil dan Juan segera melajukan mobilnya meninggalkan kos Lily.
Sepanjang perjalanan Juan tak henti hentinya tersenyum geli mengingat ucapan Lily yang mengatakan jika Ia memiliki wanita lain.
"Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? Andai saja dia tahu betapa setianya aku, pasti dia bangga memiliki ku." ucap Juan dengan penuh percaya diri lalu kembali tersenyum.
__ADS_1
Sementara itu, Amina dan Alka terlihat sibuk dengan gadget mereka masing masing.
Amina yang sedang mencari fakultas dan Alka sibuk bermain game.
"Mas kalau disini bagus nggak?" tanya Amina memperlihatkan fakultas yang Ia temukan di sosial media.
Bukannya merespon, Alka masih saja sibuk melanjutkan gamenya.
"Mas coba lihat dulu." ucap Amina lagi.
"Hmm bentar sayang bentar." kata Alka masih fokus menatap layar ponselnya membuat Amina kesal.
Amina beranjak dari ranjang, Ia tahu bagaimana membuat suaminya berhenti main game.
Amina menguncir rambutnya tinggi, setelah itu Ia melepas baju nya satu persatu hingga polos dan terakhir Ia gunakan parfum yang wanginya bisa tercium oleh Alka dan membuat Alka menatap ke arahnya.
Mata Alka langsung saja melotot, "Sayang, aku lagi main game." keluh Alka, masih ingin menatap Amina namun gamenya sudah menunggu untuk dimainkan.
"Main aja mas, lagian aku juga nggak ngapa ngapain kan?" balas Amina santai lalu duduk disamping Alka membuat Alka merasa kegerahan dan langsung membuang ponselnya.
Kini Alka sudah berada diatas Amina.
"Sudah mulai nakal sekarang huh!"
Amina tersenyum, "Lagian mas sih, aku dicuekin."
"Ya kan lagi ngegame sayang, mana online lagi." keluh Alka yang memastikan jika dia sudah pasti kalah.
"Ya udah sana main lagi!"
"Main yang ini aja lebih enak." ucap Alka dengan tatapan nakal.
Baru ingin mencium, Amina menutupi bibirnya, "Sayang!" sentak Alka tak terima.
"Mas jawab dulu dong yang aku tanyain tadi."
"Emang tanya apa sayang? Nanti aja ya kalau yang ini sudah selesai." kata Alka hendak mencium leher Amina dan lagi lagi Amina menutupi lehernya.
"Tanya apa?" Alka mulai kesal.
Amina tersenyum puas, Ia mengambil ponselnya dan kembali memperlihatkan pada Alka, "Fakultas ini bagus nggak mas?"
"Cewek semua kok, nggak ada cowoknya. Paling cowoknya cuma dosen." jelas Amina karena Alka tak kunjung menjawab.
Alka akhirnya mengangguk, "Nanti biar aku minta Juan buat ngurus dan sekarang ada yang lebih penting dari itu."
"Apa mas?"
Alka tersenyum, Ia mengambil kedua tangan Amina dan menguncinya, "Sesuatu yang tidak bisa ditunda lagi."
Alka memulai permaianannya bersama Amina.
Permainan yang lebih mengasyikan dari pada game yang baru saja Ia mainkan.
Bersambung...
__ADS_1