
Tengah malam Amina terbangun, merasakan perutnya lapar dan tenggorokannya kering. Amina ingat jika Ia belum makan malam.
Amina beranjak dari ranjang, berjalan ke dapur untuk makan malam. Amina membuka kulkas melihat ada lauk sisa. Ia mengambil lauk sisa lalu menghangatkannya. Setelah siap, Amina membawa makan malamnya keluar, Amina suka makan malam dibelakang rumah sambil duduk di gazebo dekat kolam renang.
"Lampunya masih menyala." gumam Amina melihat ke atas kamar Alka, terlihat masih menyala. "Apa belum tidur?"
Amina menggelengkan kepalanya, mencoba tidak peduli seperti biasanya.
Hubungan Amina dan Alka hanya sebatas bisnis dan kini semuanya sudah berakhir, Amina tidak akan membawa perasaannya jika menyangkut tentang Alka.
Selesai makan, Amina hendak kembali ke kamarnya. Saat melangkah sedikit lebar, Ia merasakan nyeri dibawah sana membuatnya meringgis.
"Ck, rasanya sangat menyakitkan seperti ini tapi kenapa banyak wanita yang menyukai hal seperti itu?" gumam Amina merasa heran.
Amina memasuki kamar, berbaring diranjangnya dan kembali terlelap setelah perutnya sudah terisi.
Sementara dikamar atas, Alka masih belum bisa memejamkan matanya. pikirannya melayang, masih memikirkan permainan hari ini dengan Amina. Entah mengapa gadis itu sangat berbeda. Biasanya Alka langsung melupakan siapa saja gadis yang baru Ia kencani namun tidak Amina. Rasa Amina sangat melekat membuatnya menginginkan lagi.
"Sial, kenapa aku harus memikirkan gadis sekolah itu!" umpat Alka pada dirinya sendiri.
Alka memaksa untuk memejamkan matanya, Ia tidak ingin besok terlambat ke kantor hanya karena memikirkan gadis yang bukan miliknya itu, hingga Ia pun terlelap dengan sendirinya.
...****************...
Pagi ini seperti pagi biasanya, Amina bangun diawal untuk membantu ibunya menyiapkan sarapan.
"Besok setelah aku lulus, aku yang akan bekerja. Ibu tidak perlu bekerja lagi." ucap Amina pada Surti.
Surti tersenyum, "Ibu masih kuat untuk bekerja, tidak perlu memikirkan apapun."
Amina berdecak, "Tidak Bu, kesehatan Ibu sudah menurun. Aku tidak akan membiarkan Ibu bekerja lagi." kata Amina.
"Baiklah terserah putriku saja." balas Surti menyerah, Ia tidak akan menang melawan putrinya karena sifat Amina sangat keras kepala. Seperti saat Amina tahu jika dirinya sakit, Amina kekeh ikut tinggal bersamanya disini untuk membantu pekerjaannya padahal seharusnya Amina lebih fokus pada sekolahnya bukan malah membantunya mencari uang.
Amina mulai menyiapkan makanan dimeja makan karena sebentar lagi semua orang turun untuk sarapan.
Dan benar saja, saat Ia sedang menuangkan susu digelas, Alka turun pertama kali dan langsung duduk disamping Amina membuat Amina gugup.
__ADS_1
Alka terlihat memandanginya namun Amina pura pura tak melihat, fokus dengan gelasnya.
"Apa tidak ada menu lain?" tanya Alka melihat hanya nasi goreng dan roti bakar yang ada dimeja makan.
"Tuan ingin makan apa?" tanya Amina yang akhirnya menatap ke arah Alka.
"Aku ingin..." mata nakal Alka memandang ke arah dada Amina membuat Amina mengerti maksud Alka.
Beruntung Wina dan Karsa sudah turun jadi Amina memiliki alasan untuk meninggalkan meja makan.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Wina pada Alka yang masih bisa didengar oleh Amina meskipun Ia sudah berjalan ke belakang.
"Aku tidak tersenyum, wajahku memang seperti ini." balas Alka kembali acuh.
"Apa kau ada acara malam ini? Jika tidak ikutlah dengan Papa dan mama." ajak Karsa pada Alka.
"Kemana?"
"Ke acara temannya Papa, disana ada banyak gadis cantik yang mungkin mengantri untuk kau nikahi." balas Wina tersenyum penuh harap.
Alka menaruh gelas susu yang baru setengah Ia minum, tanpa mengatakan apapun Alka segera berdiri dan pergi meninggalkan meja makan.
"Sudahlah, mungkin Alka memang belum siap menikah. Biarkan saja dia memilih sendiri calon istrinya." kata Karsa menenangkan Istrinya.
"Memilih sendiri? Apa Papa tidak melihat, putra kita sudah melamar pilihannya berkali kali dan dia ditolak, Mama hanya tidak ingin Alka kecewa jika Sarah tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan lagi pula Sarah bukan berasal dari orang terpandang, Mama tidak suka!" ungkap Wina yang hanya membuat Karsa menghela nafas panjang.
Sementara itu diluar, Alka menutup pintu mobilnya dengan kasar. Masih pagi dan moodnya sudah buruk. Alka tidak suka jika orangtuanya membahas masalah pernikahan karena membuatnya ingat akan lamarannya yang ditolak oleh Sarah.
Alka melajukan mobilnya, baru saja mobilnya keluar dari gerbang rumahnya, Alka melihat Amina berjalan sendirian.
"Ck, apa dia akan jalan kaki sampai sekolahan? Kenapa tidak memesan taksi." omel Alka langsung menghentikan mobilnya tepat disamping Amina berjalan.
Alka membuka kaca mobilnya dan langsung melihat raut terkejut sekaligus gugup Amina,
"Masuklah, ku antar kau sampai sekolahan."
"Tidak Tuan, saya biasanya naik bus didepan sana." tolak Amina.
__ADS_1
Alka tidak mengatakan apapun lagi, Ia langsung menutup kaca mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kencang.
"Ada apa dengannya? Apa dia marah?" gumam Amina melanjutkan langkah kakinya tidak ingin terlalu memperdulikan Alka.
Dan didalam mobil Alka tak henti hentinya merutuki dirinya sendiri. Menyesal karena berniat memberi tumpangan namun malah ditolak.
"Dasar gadis menyebalkan, tidak ada yang menolak tawaranku selama ini tapi gadis itu... Arghh sial, untuk apa aku memperdulikan gadis itu, biarkan saja dia jalan kaki sampai sekolahan, aku tidak akan peduli lagi!"
Sampai dikantor, Alka masih saja kesal dan melampiaskan pada Juan asistennya. Hanya kesalahan sepele, Juan langsung mendapat omelan.
"Apa Tuan sedang ada masalah?" tanya Juan akhirnya merasa kesal karena sedari tadi mendapatkan omelan dari Alka.
"Masalahku karena kau tidak bekerja dengan baik!"
"Apa Tuan menginginkan gadis itu lagi?"
"Apa maksudmu?"
"Gadis yang kemarin bersama Tuan, apa Tuan menginginkan lagi?"
Alka tertawa, "Apa kau bercanda? Aku tidak akan mengulang dengan gadis yang sama!"
Juan langsung tersenyum lebar, "Benarkah Tuan? Jika seperti itu bolehkan saya mendekati gadis itu Tuan? saya tidak masalah meskipun gadis itu bekas Tuan."
"APA KAU GILA!" Alka terlihat marah dan tak terima.
"Saya tidak gila Tuan, saya serius."
"Ambil saja aku sudah tidak menginginkan lagi!" balas Alka berubah acuh.
Juan kembali tersenyum lebar, "Terima kasih Tuan, saya berjanji akan menjaga gadis itu dengan baik." kata Juan lalu berniat untuk keluar dari ruangan Alka.
"Tunggu, memang kau sudah tahu siapa gadis itu?"
"Saya pernah melihatnya beberapa kali, dia pernah bekerja di kafe milik teman saya. Banyak pria yang mengincarnya dulu, saya tidak menyangka dia akan berakhir ditangan Tuan." jelas Juan lalu keluar dari ruangan Alka.
"Banyak pria yang mengincarnya?" Alka tersenyum sinis, "Mereka hanya belum tahu betapa murahnya gadis itu hanya demi sebuah ponsel."
__ADS_1
Bersambung...