JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
75


__ADS_3

Alka merasa kesal karena Amina tidak memberitahu dirinya siapa yang sudah berani meminta Amina untuk mengatakan padanya tentang kenaikan gaji.


"Apa kau yakin masih ingin menyelamatkan temanmu itu?"


Wajah Amina terlihat pucat takut namun Alka tak peduli karena Ia harus tahu siapa orangnya agar bisa memberi pelajaran dan tidak seenaknya memerintah istrinya seperti itu.


"Tidak ada siapapun mas, sudahlah jangan dibahas lagi, aku juga cuma bertanya sama sekali tidak ada maksud lain?" Amina masih membela, tidak mau mengatakan pada Alka.


"Yakin nggak mau ngasih tahu?"


Amina terlihat menunduk, "Oke, biar aku cari sendiri." kata Alka yang langsung membuat Amina panik.


"Mas jangan ya..." pinta Amina dengan tatapan memohon.


"kenapa nggak boleh?"


"Karena Aku tahu mas pasti mau pecat dia kan?"


Alka menghembuskan nafas kasar, apa yang Amina katakan sama dengan apa yang ingin dia pikirkan.


"Mass... Jangan yaa." pinta Amina dengan tatapan puppy eyes membuat Alka luluh.


Alka merangkul Amina lalu mengecup bibirnya, "Nggak usah ngerayu!"


Amina tersenyum, Ia memang berniat merayu Alka agar tidak tahu siapa yang sudah memintanya mengatakan itu Alka.


"Nggak usah dibahas lagi ya mas, Aku janji nggak bakal nurut lagi kalau disuruh sama orang masalah kayak gini."


Alka ikut tersenyum, "Bener nih."


Amina menganggukan kepalanya penuh keyakinan membuat Alka akhirnya diam, tidak lagi memaksa Amina untuk mengatakan.


Namun bukan Alka jika menyerah begitu saja, setelah Amina pulang, Alka meminta Juan untuk memeriksa cctv karena Alka ingin tahu siapa yang Amina temui sebelum sampai keruangannya.


"Sepertinya wanita ini yang Tuan cari." Juan memberikan ponselnya yang berisi rekaman cctv yang baru saja Ia dapatkan diruangan satpam.


"Sejak Nona memasuki kantor, terlihat hanya wanita itu yang mendekati Nona Tuan." jelas Juan.


Alka terdiam memperhatikan wanita bertubuh gemuk yang terlihat sedang berbicara dengan istrinya itu.


"Aku yakin pasti dia yang sudah meminta istriku untuk mengatakan padaku masalah kenaikan gaji."


Juan mengangguk setuju, "Bawa wanita itu kemari!" pinta Alka yang langsung diangguki oleh Juan.


Tak berapa lama, Juan kembali memasuki ruangan Alka bersama wanita itu.


"Siapa namamu?" tanya Juan.


"Saya Yani pak, bagian cleaning service." balas Yani terdengar sopan dan ramah.


"Sudah berapa lama kamu bekerja disini?"


"Hampir 10 tahun pak, sejak perusahaan ini berdiri."


Alka mengangguk, "Sudah cukup lama ya, tapi bagaimana bisa kau tidak tahu tentang peraturan perusahaan ini?"

__ADS_1


Yani mengerutkan keningnya bingung, tak mengerti apa yang dimaksud oleh Alka.


"Kau tahu jika gaji akan selalu naik setiap awal tahun?"


Yani mengangguk, kini Ia mulai mengerti tentang persoalan yang terjadi hingga Ia dipanggil keruangan bos besar.


Pasti tentang kenaikan gaji yang Ia pinta pada Amina.


"Saya tahu pak."


"Jika kau sudah tahu kenapa kau meminta pada istriku untuk menaikan gaji?"


Deg... Jantung Yani serasa berloncatan, tangannya gemetar apalagi melihat tatapan Alka yang menusuk matanya.


"Sa saya hanya bercanda pak." ucap Yani dengan bibir bergetar.


"Apa kau yakin hanya bercanda?"


Yani mengangguk, "Mana mungkin saya meminta Amina eh Nona Amina untuk menaikan gaji."


"Tapi aku tidak percaya!" kata Alka membuat Yani semakin ketakutan.


"Saya mengatakan yang sebenarnya pak, saya hanya bercanda."


Alka diam sejenak sebelum akhirnya Ia kembali mengatakan, "Jika hal seperti ini terjadi lagi, aku tidak segan segan untuk memecatmu!"


Yani mengangguk, "Baik pak, maafkan saya."


"Kembalilah bekerja!"


Yani keluar dari ruangan Alka dalam keadaan marah, "Sial, Amina benar benar keterlaluan, apa yang Ia katakan pada Pak Alka hingga Pak Alka hampir memecatku? Dasar gadis sombong, mentang mentang sudah menikah dengan bos bisa memperlakukan ku seperti ini!" umpat Yani segera kembali ke pantry.


"Apa Tuan yakin jika Yani berkata jujur?"


Alka menggelengkan kepalanya, "Dia berbohong."


"Lalu kenapa Tuan melepaskannya?"


"Aku tidak melepaskannya, aku hanya memberi kesempatan untuknya." balas Alka yang langsung diangguki oleh Juan.


...****************...


Rutinitas sore hari Amina memasak makan malam, mandi tak lupa merias diri hingga terlihat cantik dan menunggu Alka pulang.


Namun sudah pukul 8 malam namun Alka belum juga pulang.


Hingga Alka mendengar suara klakson mobil yang langsung membuatnya keluar untuk membuka gerbang rumah.


"Wah, cantiknya istriku!" puji Alka saat keluar mobil dan langsung mencium Amina.


"Mas, masih diluar." Amina mengingatkan.


"Kenapa? Nggak apa apa kan?" Alka semakin semangat menciumi pipi Amina.


"Nanti kalau ada yang lihat." protes Amina.

__ADS_1


Alka tertawa, "Biarin aja, biar pengen."


Amina memukul lengan Alka, "Udah sana mandi dulu, mas bau tau!"


"Mandiin." suara Alka terdengar manja membuat Amina tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.


"Enggak mau, mandi sendiri." Amina kabur dari Alka, memasuki rumah lebih dulu.


Amina menyiapkan makan malam saat Alka masih mandi.


"Sayang ponsel kamu bunyi nih dari tadi." kata Alka yang baru saja turun sudah terlihat segar.


Alka memberikan ponsel Amina.


"Nomor siapa ini? Kenapa telepon sebanyak ini?" heran Amina melihat nomor baru yang menghubunginya beberapa kali.


"Diangkat aja, siapa tahu penting."


Amina mengangguk, saat ponselnya berdering, Amina menerima panggilan itu dan Ia juga menyalakan loudspeaker agar Alka ikut mendengar suara si penelepon.


"Heh Amina, Lo itu kebangetan ya jadi orang!" suara si penelepon terdengar marah membuat Amina terkejut namun Alka meminta Amina tetap tenang, berbicara seolah tidak ada dirinya.


"Siapa ini?" tanya Amina.


"Gue Yani, ngomong apa Lo tadi sama Pak Alka? Mentang mentang udah jadi bininya ya jadi seenaknya Lo!


Gara gara Lo gue hampir dipecat!" ucap Yani membuat Amina melotot dan menatap ke arah Alka penuh protes.


Alka memberi kode pada Amina agar tenang dan melanjutkan teleponnya.


"Tapi aku nggak ngomong apa apa kok Mbak." Amina membela diri.


"Alah nggak usah munafik Lo, gue tahu Lo itu cuma baik didepan tapi dibelakang Lo itu asli orang jahat."


Mata Amina berkaca mendengar ucapan Yani yang menyakiti hatinya.


"Mentang mentang istri bos jangan seenaknya Lo!"


Alka yang geram dan tak bisa menahan diri lagi akhirnya merebut ponsel Amina,


"Kamu dipecat, mulai besok jangan datang untuk bekerja!" ucap Alka lalu mengakhiri panggilan Yani.


"Mas..." Amina menatap Alka penuh protes.


"Kenapa? Masih mau belain dia lagi? orang nggak tahu diri kayak gitu masih mau kamu belain?"


Amina tertunduk, Ia akhirnya tak bisa menahan diri lagi untuk tidak menangis.


Alka berdecak, Nafsu makannya hilang seketika mendengar ucapan Yani, melihat istrinya menangis seperti ini.


"Salah satu tanggung jawab seorang suami adalah melindungi istrinya, suka atau tidak, aku akan tetap melakukan apapun untuk melindungi istriku." ucap Alka lalu beranjak dari meja makan pergi meninggalkan Amina yang semakin terisak.


Bersambung...


Jan lupa like vote dan komeenn

__ADS_1


__ADS_2