
Semua orang kini sudah berkumpul dimeja makan untuk makan malam. Seperti biasa, Amina mengisi piring Alka dengan nasi lengkap dengan sayur dan lauk.
Alka sedari tadi melirik ke arah Amina, mencari tahu ada apa dengan istrinya yang mendadak bersikap judes padanya.
Namun Amina seolah tidak memperdulikan tatapan Alka.
Alka makan malam dengan perasaan gelisah, Amina tidak pernah marah bahkan bersikap cuek padanya seperti ini membuat Alka penasaran apa yang terjadi pada Amina.
"Apa mungkin Mama menceritakan tentang Sarah pada Amina sehingga membuat Amina cemburu dan marah padanya?" batin Alka menatap ke arah Mamanya yang sedari tadi tak henti hentinya membicarakan banyak hal.
Selesai makan malam, mereka keruang tengah untuk mengobrol dan menonton televisi.
"Mina kalau capek istirahat saja." kata Wina melihat sudah satu jam mereka berada disana.
"Sebenarnya nggak capek Ma, cuma ada tugas dari dosen yang harus dikumpulin besok pagi."
"Ya sudah sana dikerjain dulu."
Amina mengangguk dan segera naik ke atas untuk mengerjakan tugas.
"Alka juga mau naik ya Ma... Pa..." pamit Alka beranjak dari duduknya namun Wina menahan lengan Alka.
"Mau kemana? duduk dulu disini!"
"Apalagi Ma?"
"Kamu apain si Amina?" tanya Wina dengan mata melotot.
Alka terkejut dengan pertanyaan Mamanya, "Di apain? Alka nggak ngapa ngapain, kami baik baik aja." balas Alka tak terima.
"Kalau baik kenapa Amina bisa nangis cerita sama Mama kalau kamu-"
"Ma... Udah jangan dibahas lagi." potong Karsa membuat Wina menghentikan ucapannya padahal Alka sangat penasaran.
"Sebenarnya ada apa Ma, Alka bener bener nggak paham dan nggak ngerti, Alka sama Amina nggak ada masalah apapun." ungkap Wina.
"Kamu memang sama saja, nggak peka sama perasaan istri, dahlah Pa, kita naik ke atas saja Pa." ajak Wina pada Karsa.
Wina dan Karsa segera naik ke kamar mereka, sementara Alka masih duduk disofa sambil kebingungan menerka nerka apa salahnya.
"Perasaan tadi pagi baik baik saja." gumam Alka lalu mengacak rambutnya.
Alka naik ke atas berniat membuka pintu namun ternyata pintunya dikunci dari dalam.
"Apa apaan ini, Amina... Buka pintunya!" teriak Alka sambil mengedor pintu.
Alka mengedor pintu berkali kali namun tidak dibuka oleh Amina.
Alka yang kesal akhirnya memilih tidur dikamar sebelah.
__ADS_1
"Salah gue apa sih, kenapa sampai ngunci pintu segala, ngeselin!" umpat Alka sambil membanting pintu kamar.
Alka berbaring, pikirannya melayang memikirkan apa salahnya, kenapa Amina sampai semarah itu padanya.
"Gue nggak ada salah apa apa anjir!" umpat Alka memukul mukul guling yang ada disana.
Alka yang kesal memilih untuk tidur saja, Ia berharap besok pagi Amina tidak marah padanya. Ini kali pertamanya Alka tidur sendirian setelah hampir sebulan Alka selalu bersama Amina.
Alka merasa sudah tidur cukup lama hingga tidurnya terusik saat mendengar suara orang bernyanyi.
Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun... Selamat ulang tahun Alka semoga panjang umur..
Alka membuka matanya, Ia melihat Amina dan kedua orangtuanya berdiri disamping ranjang sambil membawa kue ulang tahun.
Alka terdiam cukup lama, menyadarkan dirinya hingga Ia ingat jika hari ini tanggal 20, ulang tahunnya.
"Selamat ulang tahun mas Alka, maaf ya tadi udah jahat." kata Amina dengan suara lembut, duduk dipinggir ranjang agar Alka mudah saat meniup lilinnya.
"Haaa? Jadi tadi Alka cuma dikerjain?" tanya Alka yang kini sudah sadar.
Amina mengangguk dan tersenyum diikuti oleh tawa kecil kedua orangtuanya.
"Ngeselin emang!"
Alka yang kesal langsung menciumi pipi Amina dengan gemas.
"Salah sendiri ngeselin!"
"Ya maaf, kan ceritanya mau surprise." akui Amina.
"Udah udah, sekarang make a wish trus tiup lilinnya." pinta Wina.
Alka menutup matanya lalu berdoa dan setelah itu, semua lilin yang tertancap mati dengan satu tiupan.
"Yeayyy, nggak nyangka anak Mama udah setua ini." Wina mencium pipi Alka lalu memeluknya.
"Mama apa sih, udah gede masih dicium!" protes Alka.
Wina menoyor jidat Alka, "Mentang mentang udah punya bini, nggak mau dicium sama Mama!"
Alka tersenyum, "Iya dong nanti kalau Amina cemburu gimana?"
Amina langsung saja memukul paha Alka, "Nggak bakal cemburu mas, kecuali kalau sama cewek lain jelas aku cemburu dan marah." ungkap Amina.
"Mana mungkin aku sama cewek lain sama kamu aja sudah bahagia banget." rayu Alka yang kembali mendapatkan toyoran dari Wina.
"Udahlah Ma, kita keluar aja, kasian tuh Alka sudah nggak tahan." ajak Karsa.
Wina mengangguk setuju, "Karena kamu udah gede jadi Mama sama Papa nggak kasih kado." kata Wina sebelum akhirnya Ia keluar dari kamar.
__ADS_1
Kini tinggalah, Amina dan Alka yang masih ada dikamar. Alka memandangi Amina membuat Amina jadi salah tingkah.
"Mas maaf ya, Mina belum beli kado. Nggak tahu kalau mas ulang tahun. Baru tahu tadi pas Mama bilang kesini karena Mas mau ulang tahun jadi nggak ada persiapan apapun. Itu aja kuenya yang beliin Bik Narti." jelas Amina panjang lebar.
Alka tersenyum, Ia menarik tubuh Amina agar lebih dekat.
"Kamu tahu nggak, tahun ini aku ulang tahun dapat kado yang spesial banget dari Tuhan."
Amina mengerutkan keningnya tak mengerti, "Kado apa emang mas?"
"Kamu... Kado spesial di ulang tahun ku kali ini."
Pipi Amina seketika merona merah mendengar ucapan Alka.
"Jadi aku nggak butuh kado barang, yang aku butuhin kamu tetap disamping aku, nemenin aku sampai kapanpun." kata Alka lagi.
Amina memeluk Alka, ternyata bukan hanya dirinya yang bersyukur memiliki Alka namun Alka pun bersyukur memiliki dirinya.
"Terima kasih mas."
"Eittsss tunggu dulu..." Alka melepaskan pelukan Amina.
"Aku mau ngasih hukuman sama istri aku yang udah berani nakal ini!"
"Aku nggak nakal mas..."
"Siapa suruh tadi ngerjain aku, bikin aku kepikiran!" protes Alka.
Amina tersenyum lebar, "Maaf mas kan mau ngasih surprise."
"Nggak ada maaf, sekarang waktunya kasih hukuman."
Alka kini sudah membawa Amina berbaring dan Ia berada diatas Amina.
"Ngasih hukuman kok yang enak enak." cibir Amina.
"Iya emang enak tapi sampai pagi." Bisik Alka.
Amina melotot tak percaya, "Mas..."
Belum sempat Amina protes, Alka sudah memulai permainan panasnya.
Dan benar Alka mengajak Amina bermain hingga pagi hari.
"Gila kamu mas." omel Amina, tubuhnya lemas dan remuk karena Alka mengajaknya berbagai gaya.
Alka tersenyum lalu mengecup kening Amina, "Anggap aja ini kadonya." kata Alka lalu berbaring siap untuk kembali tidur sementara Amina memilih bangun karena sudah pukul 5 pagi dan Ia harus bersiap pergi ke kampus.
Bersambung...
__ADS_1