JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
68


__ADS_3

Siang ini cuaca sangat panas, Rania keluar dari rumah mungil yang baru Ia beli semalam. Ia berniat mencari minuman di minimarket terdekat.


Rania menyusuri jalanan dengan perasaan senang karena akhirnya Ia sudah memiliki tempat tinggal dan juga uang yang cukup untuk hidup selama beberapa bulan kedepan.


"Rasanya sudah lama aku tidak jajan sebanyak ini." gumam Rania tersenyum senang, membawa sekeranjang snack yang Ia ambil ke kasir untuk dibayar.


Sampai dikasir, Rania melihat staff kasir yang bertugas menatapnya dengan tatapan aneh.


Seperti curiga jika Rania mengambil sesuatu.


"Gue punya duit!" sentak Rania memperlihatkan isi dompetnya yang penuh dengan uang membuat kasir itu menunduk dan segera menscan semua yang diambil oleh Rania.


"Totalnya 250 ribu kak."


Rania mengambil 3 lembar uang ratusan, "Kembaliannya ambil aja!'"


"Nggak kak, saya nggak mau terlibat." ucap Kasir itu tetap mengembalikan uang Rania.


Rania menatap staff kasir itu dengan tatapan heran, tak mengerti apa maksud dari ucapannya.


"Serah deh, kasih duit nggak mau!" kata Rania lalu pergi dari minimarket.


"Lagian duit hasil curian, siapa juga yang mau." omel kasir itu saat Rania sudah keluar.


Kasir itu sempat memotret Rania lalu dikirimkan pada seseorang.


Sementara Rania berjalan kembali kerumahnya. Ia sempat menengok ke belakang beberapa kali karena merasa ada yang mengikutinya.


"Ck, masih siang gini masa ada orang jahat!" gumam Rania.


Rania terus berjalan hingga akhirnya Ia sampai dirumah.


Rania meletakan belajaannya dimeja, Ia merasa lapar, memilih membuat Mie rebus dan es coklat kesukaannya.


"Ck, enak banget ya kalau hidup punya banyak cuan!" gumamnya sambil tersenyum senang.


Mie rebus dan es coklat siap dinikmati, Rania segera duduk untuk makan. Namun baru ingin menyuapkan makanan, Rania mendengar suara bel berbunyi.


"Ck, siapa sih ganggu aja!"


Rania beranjak dari meja makan, berjalan mendekati pintu dan saat dibuka...


Ada 3 pria tampan berbadan kekar yang berdiri didepan rumahnya.


"Apa benar ini rumah Nona Rania?" tanya salah satu pria pada Rania.


Rania mengangguk, "Ada apa?"

__ADS_1


"Kami dari pihak kepolisian ingin membawa anda karena anda terlibat kasus pencurian dirumah Nyonya Asih."


Mata Rania membulat tak percaya, tanpa mengatakan apapun lagi, Rania ingin menutup pintu namun sayangnya pintunya ditahan oleh ketiga polisi itu.


Salah satu pria mendekat dan langsung memborgol Rania.


"Pak, jangan tangkap saya! Saya tidak mencuri!" teriak Rania sambil melawan.


"Katakan nanti dikantor polisi jadi sebaiknya kau menurut!"


"Tidak pak, saya tidak mau ikut!"


Polisi itu memaksa, menyeret Rania ke dalam mobil.


Rania yang kini sudah berada didalam mobil hanya bisa menangis, tak menyangka jika Ia ketahuan dan tak menyangka jika Mamanya tega melaporkan dirinya ke polisi.


Sampai dikantor polisi, Rania mulai di introgasi oleh beberapa polisi namun Rania masih berusaha mengelak dan mengatakan jika Ia bukan pencuri.


"Jika kau lihat rekaman cctv ini, apa kau masih bisa mengelak lagi?" salah seorang polisi memberikan ponselnya agar Rania bisa melihat.


Mata Rania kembali membulat tak percaya jika dikamar Mamanya ada cctv.


Sejak kapan mamanya memasang cctv? Kenapa dirinya tak tahu? Pikirnya.


"Bagaimana? Apa kau masih mau mengatakan jika itu bukan kau? Lalu siapa?"


Rania menundukan kepalanya, tak berani menjawab apalagi melihat ke arah polisi yang sedang mengintrogasinya.


Rania menggelengkan kepalanya, "Tidak pak, saya tidak mau!"


"Apa kau ingin membela diri lagi?" polisi itu terlihat jengah.


Rania mengangguk, "Ya pak, saya melakukan itu karena terpaksa. Mama mengusir saya dan saya tidak memiliki uang sepeserpun bahkan untuk makan jadi saya terpaksa mencuri uang Mama untuk biaya hidup." jelas Rania.


"Apapun yang kau alami, Mencuri bukanlah pilihan yang tepat karena itu masuk tindakan kriminal jadi lebih baik kau terima saja jika sekarang harus tinggal disini!"


"Tidak, pokoknya saya tidak mau!"


Kedua polisi kembali menyeret Rania dan memasukan ke dalam sel tahanan.


"SAYA TIDAK MENCURI PAK, LEPASKAN SAYA!" teriak Rania dengan suara keras namun sayangnya tidak digubris oleh para polisi.


"Heh bisa diem nggak Lo!" suara seseorang terdengar dibelakang Rania.


Rania berbalik, melihat seorang wanita yang mengenakan seragam tahanan satu sel dengannya.


"Sekali lagi Lo teriak, gue sumpel mulut Lo! Ganggu orang lagi tidur aja!" ucapnya membuat Rania bergindik takut.

__ADS_1


Rania tak lagi berteriak, Ia memilih duduk sambil menangis tanpa suara. Matanya menatap ke arah luar sel, berharap rasa belas kasihan dari para polisi yang sedari tadi lewat.


Tuk ... Tuk... Tuk...


Rania mendengar suara heels berjalan mendekat ke arahnya dan saat Rania mendongak, Ia melihat Asih berjalan mendekati sel tahanan.


"Ma ... Mama..." Rania tersenyum senang saat melihat Asih berbeda dengan Asih yang malah menunjukan raut wajah sinis.


"Mama kesini buat bebasin Rania kan? Mama mau ngajak Rania kembali kerumah?" tanya Rania penuh harap namun malah ditertawakan oleh Asih.


"Apa kamu berharap aku akan melakukan itu?"


Rania mengangguk, "Rania kan putri satu satunya Mama jadi tidak mungkin Mama tega sama Rania."


Asih kembali tertawa, "Tapi sayangnya aku tidak akan melakukan itu untukmu anak haram!"


Rania terkejut, sangat terkejut, tak mengerti dengan apa yang Mamanya ucapkan.


"Apa maksud Mama?"


"Berhenti memanggilku Mama, aku sudah muak mendengarnya!" ucap Asih dengan raut wajah marah.


Air mata Rania kembali mengalir mendengar ucapan Asih.


"Aku ini mandul jadi mana mungkin aku memiliki putri sepertimu!" ungkap Asih yang langsung membuat Rania menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Tidak mungkin Ma, tidak! Mama itu Mama ku!"


Asih kembali tersenyum sinis, "Jika saja kau tumbuh menjadi anak yang baik, mungkin aku akan menganggapmu putriku sendiri dan aku tidak akan membuka rahasia kelam yang menyakitkan ini tapi sayangnya, kau tumbuh jadi anak yang congkak bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu, sangat menjijikan!"


Rania tertunduk, "Jika aku bukan anak Mama, lalu aku anak siapa?"


Asih malah tertawa, "Mana ku tahu, kau tanya saja Sadam, kau ini anaknya bersama pelacur yang mana!"


Rania semakin tertekan, Benarkah Mama kandungnya pelacur seperti dirinya saat ini pikirnya.


"Waktu itu Sadam pulang membawa bayi dan itu kau, Sadam mengakui kesalahannya jika Ia sudah berselingkuh hingga lahir anak. Mama mu tidak mau merawat mu jadi aku dipaksa untuk merawatmu oleh Sadam." ungkap Asih yang membuat Rania semakin menangis.


"Kau tahu betapa sakitnya aku waktu itu?


Aku mencoba tidak memperdulikan rasa sakitku, aku menjalani hidupku seperti biasanya. Aku bahkan merawatmu dengan baik, menganggapmu sebagai putriku sendiri. Aku hanya berharap kau tumbuh menjadi gadis baik, tidak mengikuti jejak ibumu sebagai pelacur dan perusak rumah tangga orang namun kenyataannya, aku harus dibuat kecewa karena kau malah mengikuti jejak ibumu."


Kini Rania bisa menatap wajah Asih yang kecewa, sangat kecewa.


"Semoga disini bisa membuatmu sadar akan kesalahanmu dan jika kau ingin bebas, minta saja pada Papamu." kata Asih, tersenyum lalu berbalik meninggalkan Rania yang kini kembali menangis histeris.


Bersambung...

__ADS_1


Oke gays, part Rania sudah end... Kita lanjut ke part orang jahat yang lain hihi


Jan lupa like vote dan komen yaaa


__ADS_2