
Amina memasuki kampus dengan jantung yang masih berdegup kencang.
Alka, pria itu benar benar membuatnya gila.
"Hey..." seseorang menepuk bahu Amina dari belakang membuat Amina terkejut dan berbalik melihat siapa itu.
Seorang pria tampan yang mungkin seumuran dengan Amina, tersenyum menatap Amina.
"Lo baru ya?"
Amina mengangguk,
"Pantas kelihatan bingung."
Amina tersenyum malu, tak sadar jika raut wajahnya memperjelas jika dirinya sedang kebingungan saat ini.
"Mau tanya Kak ruangan dosen sebelah mana ya?"
"Jangan panggil gue kak, panggil Brian aja."
Amina mengangguk setuju, "Jadi dimana ruangan dosennya?"
"Ikutin gue." ajak Brian berjalan lebih dulu didepan Amina.
Amina pun menurut dan mengikuti langkah kaki Brian hingga mereka sampai diruangan dosen.
"Lo udah bawa surat pendaftaran?" tanya Brian saat mereka sampai.
"Sudah, ini..." Amina menunjukan beberapa lembar kertas pemberian Alka.
"Nah itu kasih sama Bu Gladis, dia disebelah sana yang pakai kaca mata rambutnya pendek." Brian menunjuk ke arah Dosen yang dimaksud.
Amina mengangguk paham, "Makasih ya udah bantuin."
Brian mengangguk, Ia menahan lengan Amina saat Amina akan masuk keruang dosen, "Nama Lo?"
"Amina, panggil aku Amina." ucap Amina lalu memasuki ruang dosen.
Brian memandangi punggung Amina yang berjalan menjauh, Ia segera mengeluarkan senyum smirknya, "Mangsa baru nih, keliatannya Dia masih lugu."
...****************...
Amina mengikuti langkah kaki Bu Gladis menuju kelasnya,
"Kenapa mau jadi guru?" tanya Bu Gladis pada Amina.
"Saya menyukai belajar dan juga anak anak." ungkap Amina tak menyangka jika Alka mendaftarkan di jurusan yang tepat.
Amina bahkan tidak tahu bagaimana bisa Alka mengetahui jika Ia ingin menjadi guru.
"Sangat bagus, semoga beruntung dengan kelasmu." ucap Bu Gladis mempersilahkan Amina memasuki salah satu kelas.
Setelah memperkenalkan diri, Amina segera duduk disalah satu bangku kosong dan siapa sangka disebelah bangku kosong itu adalah Brian pria yang memberitahunya ruang dosen.
"Kita bertemu lagi." ucap Brian.
Amina hanya tersenyum, mendadak Ia jadi ingat akan pesan Alka, tidak boleh nakal dan jangan sampai ada pria yang menyukaimu, sangat mengelikan namun Amina suka.
__ADS_1
"Kau juga ingin jadi guru?" tanya Brian mendekatkan bangkunya.
Amina mengangguk,
"Aku juga, kita sehati." celetuk Brian.
Lagi lagi Amina hanya tersenyum.
Kelas pertama dimulai, Amina sangat menikmati belajarnya hari ini.
Berkat Alka Ia bisa berada disini, menikmati suasana seperti ini lagi. Berkat Alka yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin.
Setelah mengikuti 3 kelas, tepat pukul 12 siang Amina bergegas pulang. sebelum keluar dari kampus, Amina mengganti pakaiannya dengan seragam Cleaning service agar bisa segera berangkat kerja.
"Hey Amina..." Panggil Brian lagi saat Amina keluar dari gerbang kampus.
Amina berbalik, menatap Brian keheranan.
"Makan siang bareng yukk." ajak Brian.
Amina menggelengkan kepalanya, "Enggak bisa, maaf." tolak Amina dengan halus dan segera berbalik untuk pergi namun Brian malah menahan tangannya membuat Amina tak nyaman dan menyentak tangan Brian.
"Kenapa nggak bisa? Buru buru banget pulang ya?" tanya Brian lagi sedikit memaksa.
Amina mengangguk, Ia memakai jaket jadi Brian tak tahu jika Ia memakai seragam cleaning service.
"Ayolah, bentar aja." ajak Brian lagi masih memaksa.
"Aku beneran nggak bisa, maaf." ucap Amina lalu pergi meninggalkan Brian menuju halte bus.
Tinnnnn....
"Sejak kapan dia disitu?" batin Amina segera memasuki mobil Alka.
"Mas tahu saya sudah pulang?" tanya Amina terlihat heran.
"Kenapa? Kalau nggak tahu biar kamu bisa lebih lama sama cowok yang tadi?" sinis Alka.
Amina tercekat, tak menyangka Alka melihat Ia bersama Brian didepan tadi.
"Itu itu namanya Brian, dia temen sekelas tadi dia ngajakin buat makan siang tapi langsung saya to-"
"Nggak peduli namanya siapa, nggak nanya!"
Amina akhirnya memilih diam, melihat Alka marah lebih baik Ia diam dari pada menjelaskan membuat Alka semakin marah.
Alka melajukan mobilnya, langsung menuju kantor.
"Buatkan kopi dan segera bawa ke ruangan." pinta Alka lalu keluar mobil lebih dulu.
Amina hanya menghela nafas panjang, mungkin setelah ini harinya akan sedikit berat apalagi melihat Alka marah seperti itu.
Amina masuk ke pantry melihat Siska ada disana namun Amina merasa aneh karena Siska hanya diam saja padahal biasanya Siska mencibirnya.
Amina membawa secangkir kopi keruangan Alka dimana Alka sudah menunggunya disana.
"Jangan masuk ke ruangan itu!" pinta Alka sambil menunjuk ke ruang pribadinya.
__ADS_1
"Baik pak."
Alka menatap Amina dengan tatapan kesal namun gadis itu memilih menunduk tak berani membalas tatapan Alka.
"Saya belikan makan siang dulu ya pak?"
"Kau ingin menghindari ku huh? Setelah bertemu dengan pria lain kau mulai menghindariku?" tuduh Alka dengan tatapan sinis.
Amina terlihat panik, "Bukan begitu pak, saya tidak-"
"Sana pergilah jika tidak ingin melihatku!" usir Alka.
Amina terdiam sejenak sebelum akhirnya Ia keluar dari ruangan membuat Alka melongo tak percaya karena Amina benar benar pergi dari ruangannya.
Amina berjalan keluar kantor untuk membeli makanan, tak sengaja berpapasan dengan Juan yang hendak masuk.
Juan menatapnya cengar cengir membuat Amina bingung.
"Apa nona menerimanya?" tanya Juan menatap jari Amina namun Ia mengerutkan keningnya heran karena jari Amina tidak ada sesuatu yang Ia cari.
"Apa maksudmu pak?" tanya Amina.
"Oh tidak, saya masuk dulu nona." Juan berjalan melewati Amina membuat Amina semakin bingung.
"Sebenarnya ada apa dengannya?" batin Amina menatap heran punggung Juan.
Amina bergegas membelikan makan siang sebelum Alka semakin marah padanya.
Sementara Juan bergegas keruangan Alka, melihat Alka duduk dengan wajah bertekuk lutut sudah dipastikan jika Alka sedang dalam mood yang buruk.
"Ditolak lagi Tuan?"
Alka langsung menatap Juan dengan tajam, "Kau pikir aku sejelek itu sampai ditolak berkali kali!" ketus Alka.
"Maaf Tuan, bukan begitu maksud saya."
"Aku belum mengatakan pada Amina."
"Kenapa Tuan? Saya sudah mendekor ruangan itu sejak subuh tadi dan Tuan membatalkan begitu saja?" Juan terlihat kesal karena Ia bangun sangat pagi untuk membantu mendekorasi ruang pribadi Alka.
Rencananya Alka ingin menggunakan ruang pribadinya untuk memberi kejutan lamaran romantis.
"Aku tidak membatalkan, aku hanya ingin menunda saja."
"Kenapa Tuan ingin menunda? Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Juan mulai kepo.
"Aku hanya kesal saja melihat dia digoda pria lain dan juga bisa bisanya dia membiarkan pria itu menyentuh lengannya, dasar menyebalkan!" umpat Alka membuat Juan menahan geli agar tidak tertawa didepan Alka.
"Jadi Tuan sedang cemburu?"
"Tidak, aku hanya kesal saja!"
Juan memutar bola matanya malas, Ia tahu jika saat ini Alka sedang cemburu.
"Kalau saran saya Tuan, lebih baik Tuan segera melamar Nona dengan begitu Tuan sudah mengikatnya, Ia tidak akan mungkin bisa berpaling dari Tuan."
Alka terdiam, memikirkan ucapan Juan hingga akhirnya Ia tersenyum, "Ya kau benar, aku harus mengikatnya sebelum Ia kabur lagi."
__ADS_1
Bersambung....