JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
35


__ADS_3

Amina turun dari mobil dan Alka langsung melajukan mobilnya meninggalkan parkiran rumah sakit.


Amina menghela nafas panjang, rasanya Amina tak rela jika Alka harus pulang sekarang namun mau bagaimanapun Ibu Wina sedang membutuhkan Alka saat ini.


"Sakit apa Nyonya?" batin Amina merasa sebelum Ia pergi dari rumah Alka, Wina terlihat sehat.


Sebelum Amina keluar dari mobil, Amina sempat menanyakan Wina sakit apa namun Alka tidak menjawab, Ia hanya mengatakan "Nanti aku akan meminta Juan mengantar mobil kesini agar bisa kau gunakan untuk istirahat dan jika kau butuh apapun katakan saja pada Juan." hanya itu yang Alka ucapkan sebelum Ia pergi.


"Semoga Bu Wina segera sembuh agar Pak Alka bisa segera kembali kesini." gumam Amina.


Amina merasa terdengar egois namun saat ini yang peduli dengan Ia dan Ibunya hanyalah Alka, jadi tidak masalah kan jika Ia bersikap sedikit egois?


Amina bergegas pulang, Ia ingin mandi dan berganti pakaian sebelum Ia bertemu dengan ibunya. Suster mengatakan jika 1hari 1kali jadi Ia akan gunakan kesempatan itu sebaik mungkin.


Amina kembali kerumah sakit setelah 1jam Ia pulang kerumah.


Amina terkejut saat ada pria yang menunggunya didepan ICU, bukan Alka melainkan Juan.


"Selamat Pagi Nona." sapa Juan ramah dan sopan.


Amina merasa tak enak saat Juan memanggilanya Nona, "Jangan memanggilku Nona, aku ini bawahanmu pak."


Juan tersenyum, "Nona memang bawahanku jika dikantor namun saat diluar Nona adalah kekasih dari Tuanku jadi sudah sepantasnya aku memanggil dengan sebutan Nona."


"Tidak, jangan panggil aku Nona lagi, panggil saja Amina lagipula aku bukan kekasih Pak Alka." protes Amina.


Juan kembali tersenyum, "Apa itu panggilan spesial dariku untuk Nona?" goda Juan membuat mata Amina melotot.


Juan tertawa, "Aku hanya bercanda Nona tidak perlu tegang seperti itu."


Amina berdecak, menatap Juan kesal.


"Ini kunci mobil untuk Nona." Juan mengulurkan kunci mobil Amina. "Mobilnya ada diparkiran jika Nona ingin istirahat, Tuan mengatakan untuk istirahat disana."


"Tapi sepertinya aku tidak membutuhkan mobil, bawa kembali saja. Aku bisa istirahat dimanapun." tolak Amina.


"Jika Nona tidak mau menggunakan mobilnya, Tuan bisa marah dan mungkin saya akan dipecat."


Amina terkejut, tak menyangkan jika Alka akan sekejam itu, "Baiklah, tunjukan padaku mobilnya."


Juan tersenyum, "Silahkan ikuti saya Nona."


Juan dan Amina berjalan menuju parkiran rumah sakit. Juan menghentikan langkahnya didepan mobil mewah dan terlihat masih baru.


"Apa ini mobil baru?" tanya Amina menatap Juan curiga, ditambah lagi masih belum ada plat mobilnya.


Juan mengangguk, "Sepertinya Tuan akan sering membeli mobil baru karena Tuan akan berada disini cukup lama." ungkap Juan.


Amina menghela nafas lega, "Syukurlah, pak Alka tidak membeli mobil ini karena aku."


"Kalau begitu saya permisi Nona, jika membutuhkan apapun langsung panggil saya saja Nona."

__ADS_1


Amina mengangguk, "Terima kasih atas bantuannya."


Juan ikut mengangguk lalu pergi meninggalkan Amina.


"Tidak hanya cantik, dia juga baik pantas saja Tuan sangat menyukai gadis itu tidak peduli dengan perbedaan usia." Gumam Juan lalu tersenyum.


Amina menatapi mobil baru didepannya, Ia memberanikan diri memasuki mobil itu dan memang benar benar masih baru karena masih banyak yang tersegel.


"Bagus sekali, rasanya aku juga ingin memiliki yang seperti ini suatu hari nanti." gumam Amina lalu tertawa.


Amina keluar dari mobil setelah puas berada didalam mobil baru milik Alka. Amina segera memasuki ruang ICU untuk bertemu dengan Ibunya.


"Kau sudah ditunggu sejak tadi!" kata Suster yang berjaga dengan wajah judes.


Amina hanya mengangguk, mencoba mengabaikan suster yang menyebalkan itu.


"Ibu..." Amina tersenyum senang saat melihat Ibunya, Ia segera duduk dikursi pinggir ranjang agar Ia lebih dekat dengan Ibunya.


Surti hanya tersenyum, tidak menjawab sapaan putrinya.


"Ibu kenapa bertambah pucat? Apa yang sakit biar Mina panggilkan dokter."


Amina terlihat sangat khawatir melihat keadaan ibunya yang semakin pucat dan sangat lemas.


Surti kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Ibu baik baik saja." Suara Surti terdengar sangat pelan dan lemah membuat Amina semakin sedih.


"Ibu cepet sembuh ya, Mina kangen masakan Ibu." Amina mengambil tangan Ibunya lalu Ia cium dan genggam erat.


Amina menatap Surti dengan tatapan terkejut, "Ada apa Bu?"


"Sewaktu waktu Ibu pergi sudah ada yang menjaga kamu." ucap Surti lagi yang membuat Amina semakin bingung tak mengerti apa maksud Ibunya.


"Maksud Ibu apa? Jangan tinggalin Amina ya? Amina nggak mau sendirian." mata Amina sudah memerah menahan tangis.


Surti hanya diam saja, tak lagi menjawab Amina. Keduanya hanya memandang satu sama lain hingga waktu Amina habis.


"Sudah waktunya keluar."


Amina menghela nafas panjang, Ia masih ingin bersama Ibunya namun Ia tahu suster didepannya tidak akan membiarkan dirinya berada disini lebih lama.


Amina kembali mencium punggung tangan Ibunya lalu segera keluar.


Baru sampai dipintu, Amina mendengar teriakan Suster yang ada didalam.


"Astaga, pasien kejang. Segera panggil dokter."


Amina mendengar itu dan kembali masuk. betapa terkejutnya Amina melihat Ibunya kembali kritis.


Ia ingin mendekat namun Suster melarang, hingga dokter datang dan memeriksa Ibunya.


Tiiiiiiitttttttt.... Titttttttt.... Garis lurus dilayar monitor membuat Amina menggelengkan kepalanya tak percaya.

__ADS_1


"Tidak.... Tidak mungkin." Amina membegap mulutnya sendiri dan Ia pun menangis


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin." ucapan Dokter yang membuat tangis Amina semakin pecah.


...****************...


Setelah menempuh 3jam perjalanan darat, akhirnya Alka sampai dirumah.


Dan betapa terkejutnya Alka melihat Wina, Mamanya yang membuka pintu, terlihat sehat bahkan tersenyum lebar ke arahnya.


"Ma, katanya dirumah sakit?" raut wajah khawatir Alka berubah kesal apalagi saat Wina tertawa puas.


"Akhirnya kamu pulang juga,"


"Mama bohongin Alka?"


Wina mengangguk, "Terpaksa, kalau nggak gini kamu nggak akan pulang kan?"


"Astaga Ma!" Alka kesal dan langsung duduk disofa.


"Eh Mas Alka sudah pulang." suara seorang gadis membuat Alka menatap ke arah gadis itu.


"Ini Friska, anak temennya Mama." Wina mengedipkan mata pada Alka membuat Alka memutar bola matanya malas.


Ia buru buru pulang bahkan tidak sempat mandi karena sangat khawatir mendengar Mamanya berada dirumah sakit namun yang Ia lihat sekarang malah seperti ini.


Tertipu, Alka benar benar tertipu.


"Niatnya Mama bawa Friska kemari itu mau-" ucapan Wina terhenti saat ponsel Alka berbunyi.


Alka melihat layar ponselnya dan ternyata Juan yang menghubunginya.


Alka segera menerima panggilan dari Juan.


"APA?!"


Alka terkejut, berdiri dan segera keluar tak peduli dengan teriakan Wina yang memanggilnya.


Wina tak menyerah, Ia akhirnya menahan tangan Alka lagi.


"Mau kemana? Kamu baru saja pulang!" protes Wina.


"Tapi Alka harus pergi lagi Ma, ada hal penting."


"Nggak, kamu nggak boleh pergi lagi!"


"Kalau Alka nggak pergi sekarang, masa depan Alka hancur Ma!"


Wina akhirnya melepaskan lengan Alka dan membiarkan Alka pergi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2