
Mood Alka masih saja buruk, ditambah lagi tiba tiba Ia tidak menyukai senyum sumringah Juan siang ini.
"Pergilah makan siang sendiri, aku sedang tidak ingin makan siang bersama mu!" kata Alka.
"Apa Tuan yakin ingin makan siang sendiri?"
Alka mengangguk,
"Apa Tuan sedang marah?"
"Untuk apa aku marah, aku tidak masalah jika kau menyukai gadis itu, aku benar benar tidak akan marah."
"Tapi Tuan... Bukankah saat ini kita sedang tidak membicarakan gadis itu? Apa Tuan cemburu jika saya-"
"Tutup mulutmu, ambil saja dia dan segera keluar atau kau kupecat!" sentak Alka.
Juan malah tersenyum geli dan segera keluar dari ruangan Alka.
"Apa dia benar pernah bekerja di cafe? Cafe mana? Setahuku dia selalu pulang tepat waktu untuk membantu ibunya." gumam Alka memikirkan ucapan Juan.
"Sial, untuk apa aku memikirkan gadis itu, biarkan saja apapun yang ingin dia lakukan!" umpat Alka kembali membuka layar laptopnya.
Baru sebentar Alka melihat layar laptop, perutnya sudah keroncongan. Alka lapar karena memang ini jam makan siang dan Alka belum makan siang.
Alka menutup laptopnya, berniat untuk makan siang diluar sendirian.
Alka melajukan mobilnya mencari restoran terdekat namun entah apa yang Alka pikirkan, mobilnya malah berhenti tepat didepan sekolah Amina.
"Sial, kenapa aku bisa berada disini!" umpat Alka lalu kembali melajukan mobilnya.
Baru ingin berbelok, Alka melihat Amina keluar dari gerbang sekolahan. Alka kembali menghentikan mobilnya, Ia melirik ke arah jam tangannya, "Jam 2, jadi dia kalau pulang sekolah jam 2." gumam Alka.
Alka yang masih penasaran dengan Amina, Ia mengikuti Amina.
Amina tidak kemanapun apalagi bekerja di kafe. Alka mengikuti Amina dan melihat gadis itu langsung pulang kerumah.
"Sial, apa aku sudah ditipu oleh Juan!" omel Alka lagi.
Krucuk... Krucuk... Suara perut Alka semakin keras terdengar.
"Dan untuk apa aku mengikuti gadis itu, bukankah seharusnya aku makan siang!" omel Alka lagi pada dirinya sendiri.
Karena tak tahu akan makan siang dimana, Alka akhirnya memilih masuk ke gerbang rumahnya, Ia ingin makan siang dirumah kali ini.
"Tumben kamu pulang jam segini?" tanya Wina terkejut melihat putranya sudah pulang padahal ini masih siang.
"Mau makan siang."
"Makan siang dirumah?" Wina menatap Alka curiga.
"Barangku ada yang tertinggal jadi aku pulang untuk mengambilnya sekalian makan siang karena aku belum makan siang." ungkap Alka tidak ingin Mama nya curiga jika Ia sudah membuntuti Amina.
__ADS_1
"Ya sudah sana, minta sama Bik Surti. Mama mau berangkat arisan dulu. Sudah ditunggu sama temen temen Mama." kata Wina yang langsung diangguki Alka.
Alka menghela nafas lega karena selamat dari Mamanya. Jika saja Mamanya tahu kalau dirinya mengikuti Amina, habislah dia dan pasti akan mendapatkan omelan Mamanya.
Alka berjalan ke dapur, Ia melihat Amina berada disana.
"Siapkan makan siang untukku."
Amina yang baru meneguk minuman langsung saja tersedak saat melihat Alka dibelakangnya.
"Tuan sudah pulang?" tanya Amina dengan mata membulat.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh pulang siang?" sinis Alka.
Amina menggeleng, "Saya akan menyiapkan sekarang Tuan." kata Amina.
Amina yang masih mengenakan seragam sekolah langsung menyiapkan makan siang untuk Alka. Beruntung Ibunya sudah memasak, Amina hanya perlu menghangatkan saja.
Amina meletakan piring berisi lauk pauk di meja dimana Alka sudah menunggunya disana.
Pandangan mata Alka sedari tadi tertuju pada Amina. Dari atas hingga bawah, entah mengapa mengingatkan Alka pada permainan panas mereka.
"Sial, sadarlah! Apa yang kau pikirkan." batin Alka.
"Semua sudah siap Tuan, saya akan ke belakang sekarang." kata Amina bersiap untuk meninggalkan meja makan.
"Tunggu."
Amina menghentikan langkahnya, Ia kembali mendekati Alka.
"Kafe? Tidak Tuan. Saya belum pernah bekerja dikafe."
"Ck sial, Juan menipuku." umpat Alka.
"Apa maksud Tuan, siapa yang sudah menipu Tuan?" tanya Amina menjadi penasaran.
"Tidak usah kepo, sana kembali ke belakang. Mengangguku saja!" omel Alka membuat mata Amina melotot.
Amina segera meninggalkan Alka, "Dasar menyebalkan, dia yang memanggilku tapi dia yang mengatakan aku penganggu!" omel Amina sambil berjalan kembali ke dapur.
Selesai makan siang, Alka kembali ke kantor. Ia segera meminta Juan untuk ke ruangannya.
"Kau menipuku!"
"Menipu apa Tuan?" Juan terlihat kebingungan.
"Kau bilang gadis itu pernah bekerja dikafe tapi ternyata tidak!"
Juan tersenyum geli, "Apa Tuan mencari tahu?"
"Apa yang kau katakan, aku tidak melakukan apapun!"
__ADS_1
"Lalu bagaimana bisa Tuan tahu jika gadis itu tidak bekerja dikafe?" tanya Juan masih dengan senyuman geli yang menyebalkan.
"Hanya feeling, ya hanya feelingku saja." ungkap Alka tidak ingin Juan tahu jika Ia baru saja mengikuti Amina.
"Ck, jika hanya feeling seharusnya Tuan tidak menyebutku penipu." protes Juan.
"Terserah kau saja, sekarang sebaiknya kau keluar sekarang. Aku muak melihatmu." umpat Alka.
"Baiklah Tuan, saya ingin pergi ke kafe tempat gadis itu bekerja untuk membeli kopi sekaligus-"
"Aku tidak peduli, sekarang keluarlah!"
Juan tertawa, Ia segera keluar dari ruangan Alka. Diluar pun Juan masih tertawa, merasa sudah berhasil mengerjai bosnya itu.
"Dasar, kenapa tidak mengatakan saja jika memang suka, Tuan terlalu gengsi." ucap Juan lalu kembali ke mejanya.
Jika biasanya Alka pulang larut namun tidak untuk hari ini. pukul 6 petang Alka sudah pulang kerumah. Entah mengapa Alka menjadi tidak betah berada dikantor.
Alka berharap yang membukakan pintu Amina namun ternyata malah Bik Surti.
"Aden sudah pulang." sapa Bik Surti.
Alka tersenyum, sedetik kemudian Ia celinggukan seperti sedang mencari seseorang.
"Tuan dan Nyonya nggak pulang malam ini, mereka bilang ada acara." kata Bik Surti.
Alka mengangguk, Ia sudah tahu jika orangtuanya sedang ada acara malam ini.
"Aden mau disiapin makan malam sekarang?" tawar Bik Surti.
"Ya, aku akan makan setelah mandi." balas Alka langsung berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Selesai mandi, Alka kembali turun ke bawah untuk makan malam. Dan lagi lagi yang menyiapkan Bik Surti bukan Amina.
Alka menatap pintu kamar Amina yang tertutup.
Bibir Alka sudah gatal ingin menanyakan keberadaan Amina namun Alka tahan. Alka tak ingin Bik Surti curiga.
Makan malam kali ini rasanya tidak seenak makan siang tadi, entah mengapa Alka juga tak tahu.
Selesai makan malam, Alka tak tahu apa yang harus Ia lakukan kali ini. Ia membuka laptopnya ingin menyibukan diri namun tetap saja rasanya tidak tenang.
Alka kembali turun ke bawah, dapur sudah sepi namun kamar Amina masih saja tertutup.
"Apa yang ku lakukan disini!" omel Alka pada dirinya sendiri.
Alka kembali naik, Ia mengambil sebatang rokok dan memilih menikmati di balkon kamarnya agar dirinya merasa tenang dan tidak gelisah lagi.
Baru sebentar duduk di balkon, Alka melihat Amina berjalan membawa buku dan duduk digazebo dekat kolam renang, Amina belajar disana.
Tanpa sadar senyum Alka seketika mengembang saat melihat Amina.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen...