
Dengan tangan bergetar, Amina mulai menyuapi Alka. Kali pertamanya Amina menyuapi makan karena sebelumnya Amina belum pernah menyuapi makan siapapun.
"Rasanya sakit sekali." keluh Alka disela sela makan.
"Tapi Bapak harus tetap makan."
"Mau bagaimana lagi, jika pun aku makan harus merepotkanmu seperti ini."
Amina tersenyum, "Tidak masalah pak, selama saya bisa saya akan membantu bapak melakukan apapun."
"Apapun?" Alka menatap Amina.
Amina mengangguk, "Ya apapun pak."
Alka tersenyum nakal, "Baiklah kalau begitu."
Amina masih menyuapi Alka hingga pintu tiba tiba terbuka membuat Amina terkejut dan hampir menjatuhkan mangkuknya.
Juan, asisten pribadi Alka terlihat memasuki ruangan dengan kening terkerut melihat apa yang Amina lakukan diruangan Alka.
"Wow, ada apa ini? Kenapa bisa ada bayi besar disini." goda Juan menatap Alka dengan senyuman menyebalkan.
Amina tertunduk malu, Ia berniat pergi dari sana karena merasa tak enak dengan Juan namun Alka menahan tangannya.
Alka menatap Amina seolah meminta agar gadis itu tetap disana.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Alka dengan tatapan tak suka.
"Hanya ingin memberikan berkas ini Tuan." Juan menyodorkan sebuah map dimeja Alka.
"Ya sudah sana keluar!" sentak Alka.
"Baiklah saya juga tidak ingin menganggu orang yang sedang jatuh cinta." kata Juan membuat Alka kesal dan langsung melemparkan pulpen hingga mengenai kepala Juan.
"Astaga kenapa Tuan galak sekali." Juan memeganggi kepalanya yang sakit terkena pulpen.
"Keluarlah atau sepatuku yang akan melayang di kepalamu!"
Juan bergindik ngeri segera berlari keluar. Juan menutup pintu, tersenyum melihatnya Tuannya akhir akhir ini sangat bahagia. Mengingat sebelum bertemu Amina, Tuannya sangat menyedihkan. Menjalin hubungan dengan Sarah yang bahkan selalu menolak lamaran Alka berkali kali.
Dan sekarang melihat Alka sudah move on dan membuka hati untuk Amina membuat Juan ikut senang.
"Yah, meskipun aku setiap malam harus pulang jalan kaki karena Tuan lebih memilih mengantar Amina, tidak masalah yang penting Tuan bahagia."
Sementara didalam ruangan Alka, Amina malah menjadi gugup setelah mendengar ucapan Juan baru saja. Juan mengatakan tidak ingin menganggu orang yang jatuh cinta, Amina merasa dirinya tidak memperlihatkan jika sedang jatuh cinta pada Alka meskipun Amina akui Ia memang menyukai Alka namun Amina berusaha untuk menutupi perasaannya itu dan setelah Juan mengatakan hal itu membuat Amina takut ketahuan menyukai Alka.
"Sudah habis pak." Amina memperlihatkan mamgkuknya yang sudah kosong pada Alka.
"Ck, rasanya masih kurang."
"Bapak mau dibelikan lagi?"
"Tidak perlu, buatkan aku kopi saja."
Amina mengangguk, segera ke pantry untuk membuatkan kopi.
__ADS_1
"Nah ini anaknya." suara Siska kembali terdengar membuat Amina bersiap jengah karena tahu Siska pasti akan membuat masalah lagi dengannya.
Amina tak mengubris, berjalan melewati Siska dan langsung membuatkan kopi.
"Lo godain pak Alka ya?" tanya Siska sengit.
Amina hanya menggelengkan kepalanya, Ia tidak ingin membuang suaranya hanya karena meladeni ucapan Siska yang tidak penting.
Siska yang geram pun menjambak rambut Amina, "Kalau orang nanya itu dijawab, Lo bisu?"
Amina meringgis kesakitan,
"Eh Sis, jangan kasar dong." suara temannya yang berada di pantry merasa kasihan melihat perlakuan kasar Siska pada Amina.
Siska pun melepaskan rambut Amina, masih menatap Amina tajam.
Setelah selesai membuat kopi, Amina berbalik dan membalas tatapan Siska.
"Kenapa emang kalau aku godain pak Alka?"
"Sok cantik Lo!" umpat Siska.
"Emang aku cantik kan? apa mungkin kamu iri ya sama aku gara gara aku yang diminta jadi cleaning service pribadi Pak Alka bukan kamu." Ejek Amina membuat Siska semakin geram dan ingin menampar Amina namun sayang Amina dengan cepat menangkap tangan Siska hingga tangan Siska tidak mengenai wajahnya.
Amina menghentakan tangan Siska, "Nggak usah ngurusin urusan orang, urus aja hidup kamu sendiri. Keliatan banget kalau nggak bahagia." Amina tersenyum sinis, mengambil kopinya dan segera keluar meninggalkan pantry.
"Sialan, kalian lihat kan dia belagu banget sekarang!" umpat Siska pada teman temannya setelah Amina keluar.
"Tapi Amina bener sih Sis, ngapain sih kota ngurusin dia malah jadi keliatan kalau kita kurang kerjaan." celetuk salah satu teman Siska yang langsung membuat Siska melotot tajam ke arahnya.
"Gue masih nggak terima, Pak Alka lebih milih Amina dari pada Gue!"
"Sialan Lo, ngajak ribut gue hah!" Siska menghampiri temannya lalu menjambak rambut temannya.
"Eh Sis, lepasin jangan kasar."
"Iya nih, Lo sekarang kasar amat jadi cewek." temannya yang lain menahan tangan Siska agar melepaskan jambakan.
Karena tak ada yang membelanya, Siska akhirnya keluar dari Pantry dengan perasaan kesal dan marah.
Amina memasuki ruangan Alka, melihat Alka fokus menatap layar laptopnya. Amina meletakan cangkir kopi yang langsung diambil oleh Alka lalu diseruput hingga habis setengah.
Amina menatap Alka heran karena tadi Alka tidak kuat mengangkat sendok tapi sekarang malah bisa mengangkat cangkir kopi, aneh sekali batinnya.
"Kamu kenapa ngeliatin begitu?" tanya Alka membuat Amina tersadar dan langsung mengedipkan matanya berkali kali.
"Tidak pak, kalau begitu saya keluar dulu pak mau bantu bersih bersih diluar." pamit Amina.
"Tugas kamu itu disini, kenapa harus membantu yang diluar?" suara Alka menghentikan langkah Amina.
"Disini sudah selesai saya bersihkan pak, tidak ada lagi yang harus dibersihkan disini."
"Yang disitu belum." Alka menunjuk kamar pribadinya.
"Mulai sekarang kamu harus membersihkan kamar itu setiap hari."
__ADS_1
Amina mengangguk paham, "Baik Pak."
Amian bergegas memasuki kamar pribadi Alka, cukup terkejut karena kamar itu masih bersih dan rapi namun Alka memintanya untuk membersihkan.
"Bagian mana yang harus ku bersihkan." bingung Amina.
Amina akhirnya membersihkan ulang hingga selesai dan setelah itu Amina keluar dari kamar pribadi Alka. Amina tidak ingin sampai ketiduran lagi disana.
"Sudah selesai?" tanya Alka saat Amina keluar.
"Sudah pak."
"Belikan aku makan siang."
Amina menatap ke arah jam dinding, masih pukul 10 dan Alka sudah meminta makan siang.
"Bapak ingin makan apa?"
"Warteg,"
"Baik pak."
Amina bergegas ke warteg untuk membelikan makan siang Alka. Bersama Alka setiap hari membuatnya hafal dengan makanan kesukaan Alka.
Jika Alka meminta nasi padang, Alka ingin lauknya telur dadar dan sotong.
Namun jika Alka meminta makanan warteg, Alka memilih nasi rames dan telur balado.
Amina membawa pesanan Alka lengkap tak lupa peralatan makannya.
Amina sampai diruangan Alka dan mengembalikan uang sisa membeli makan siang yang diberikan Alka.
"Ambil untukmu."
"Tapi pak, setiap hari Bapak selalu memberikan uang kembalian pada saya." Amina merasa tak enak.
"Kenapa? Nggak mau?"
"Mau sih pak." Amina tersenyum dan langsung mengantongi uang kembalian, lumayan bisa Ia berikan pada ibunya untuk belanja sayur besok pagi pikir Amina.
"Silahkan makan pak."
Amina sudah menyiapkan makanan Alka.
"Kamu lupa?"
"Lupa?" Amina menatap Alka bingung.
"Aku kan tidak bisa makan sendiri, tanganku masih sakit tentu saja kamu harus menyuapiku!" alasan Alka.
"Ta tapi pak, tadi Bapak-"
"Nggak mau?" potong Alka dengan mata menatap Amina tajam membuat Amian pasrah dan akhirnya menyuapi Alka makan.
"Ck, padahal tadi sudah bisa mengambil gelas cangkir sendiri kenapa sekarang masih meminta disuapi!" batin Amina kesal.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaaa