
Amina baru selesai mandi, Ia segera berbaring diranjang.
Hari ini terasa sangat panjang dan melelahkan untuk Amina namun juga sekaligus hari yang membahagiakan karena pada akhirnya Ia tak harus memendam perasaannya sendirian.
Ya Alka melamarnya, dengan begitu perasaannya pun terbalas, Alka juga memiliki perasaan untuknya.
Amina memandangi jari manisnya dimana terdapat cincin pemberian Alka.
Ia tersenyum, "Kalau aja Ibu masih ada, pasti Ibu seneng deh." gumam Amina lalu memeluk tangannya.
"Kira kira Nyonya Wina sama Tuan Karsa bakal ngrestuin nggak ya kalau Mas Alka mau nikahin aku?" gumam Amina lagi.
Mendadak Amina sedih mengingat jika Mama Alka tidak terlalu baik padanya.
"Kalau sampai nggak direstuin, mungkin memang aku sama Mas Alka nggak berjodoh."
Amina menghela nafas panjang sebelum akhirnya Ia terlelap.
Pagi ini seperti pagi biasanya, Amina bersiap untuk kuliah.
Saat sampai digang masuk, Amina melihat tidak ada mobil Alka terparkir disana.
Amina mengerutkan keningnya heran, "Kok tumben mas nggak jemput."
Amina mengambil ponselnya, Ia ingin memesan ojek online karena takut Alka tak datang menjemput dan belum sempat Amina memesan, suara klakson mobil terdengar.
Amina mengerutkan keningnya kala melihat mobil yang dipakai mobil baru yang Alka beli saat dirinya dirumah sakit bukan mobil yang biasa digunakan oleh Alka.
Segera Amina memasuki mobil dan baru tahu jika yang menjemputnya Juan bukan Alka.
"Selamat pagi Nona."
"Mas Alka mana?" tanya Amina tak mengubris sapaan Juan.
Juan terdiam cukup lama sebelum akhirnya Ia menjawab, "Tuan sedang sibuk Nona."
"Sepagi ini?"
Juan mengangguk namun Amina masih tak percaya,
"Aku tahu kau pasti bohong!"
"Ampun Nona, bukan saya tapi Tuan yang meminta saya berbohong!" ucap Juan sambil memperlihatkan kedua jarinya.
"Lalu kemana mas Alka?"
"Tuan sakit jadi meminta saya untuk mengantar Nona."
Amina terkejut sekaligus khawatir, "Aku tidak mau ke kampus, kita ke kantor saja."
"Untuk apa ke kantor Nona?" heran Juan.
"Tentu saja untuk merawat mas Alka."
Juan malah tersenyum geli, "Tuan Alka tidak menginap dikantor, Tuan pulang kerumah barunya."
Amina tercengang, Ia tak tahu jika Alka memiliki rumah baru, Ia pikir Alka tinggal dikantor karena tidak memiliki tempat tinggal dikota ini.
__ADS_1
"Ya sudah antar aku kesana."
"Tidak bisa Nona, Tuan pasti akan marah jika saya mengantar Nona kesana karena Tuan ingin Nona kuliah dulu sebelum kesana."
"Tapi aku ingin-"
"Lebih baik Nona berangkat kuliah lebih dulu dari pada nanti Tuan malah marah lagipula ini hari kedua Nona kuliah, tidak mungkin Nona absen."
Amina menghela nafas panjang, sepertinya Ia harus pergi ke kampus dulu sebelum kerumah Alka.
"Nanti jika kuliah Nona selesai, saya Antar kerumah Tuan." bujuk Juan.
"Baiklah, aku ikut saja apa katamu."
Juan tersenyum dan segera mengemudikan mobilnya menuju kampus Amina.
"Tuan berpesan Nona tidak boleh nakal dan membuat pria lain menyukai Nona." ucap Juan yang langsung membuat Amina tertawa.
"Baiklah, aku akan belajar dengan baik dan tidak akan nakal katakan padanya seperti itu." ucap Amina lalu keluar dari mobil.
Juan berdecak, "Mereka sama sama punya ponsel tapi malah menjadikanku telepati."
Juan segera melajukan mobilnya kembali ke kantor sebelum Ia terlambat dan mendapatkan omelan.
Baru sampai kantor, ponselnya sudah berdering panggilan dari Alka.
"Bagaimana?" suara Alka dari dalam telepon.
"Saya sudah mengantar Nona dengan selamat Tuan."
"Apa kau mengatakan jika aku sakit?"
Terdengar suara decakan Alka,
"Maafkan saya Tuan." Ucap Juan sekali lagi.
"Biasanya dia pulang jam 12 siang, jangan lupa menjemputnya!"
"Baik Tuan."
"Aku khawatir dia akan digoda pria lain." keluh Alka.
"Tuan seharusnya menghubungi Nona,"
"Aku tidak punya nomer ponselnya." balas Alka lalu tertawa.
"Apa? Bagaimana bisa Tuan." Juan terkejut dan tak menyangka dengan pangakuan Alka.
"Yah, memang seperti itu kenyataannya. sudahlah aku tutup teleponnya, mau handle dulu masalah kantor dan jangan lupa jemput Amina."
"Baik Tuan."
Juan memasukan ponselnya setelah Alka selesai berbicara.
Ia tak sabar ingin masuk ke kantor, menggantikan tugas Alka menjadi bos dikantor.
Sementara itu dikampus, Amina begitu menikmati pelajaran yang diberikan oleh dosen hingga tak sadar seseorang memandanginya sedari tadi dari samping.
__ADS_1
Brian, tak henti hentinya menatap ke arah Amina penuh kagum hingga akhirnya Amina sadar jika Brian sedang melihat ke arahnya.
"Jam sudah selesai, kita lanjutkan besok." Dosen yang mengajar dikelas Amina kini sudah keluar dari kelas.
Brian beranjak dari bangkunya dan duduk disamping Amina.
"Hey..." sapa Brian.
Amina hanya tersenyum, Ia sudah berjanji pada dirinya jika mulai sekarang, Amina tidak akan merespon Brian lagi.
"Nggak ke kantin?" tanya Brian.
Amina menggelengkan kepalanya,
"Lo marah sama gue?"
Amina kembali menggelengkan kepalanya,
"Kemarin Lo ramah banget sama gue, kok sekarang engga?"
Amina menghela nafas panjang, "Suami aku ngelarang aku buat ngrespon cowok lain, maaf Bri." jelas Amina yang mengakui Alka sebagai suaminya meskipun mereka belum menikah.
Brian berdecak, "Disini juga banyak yang udah nikah tapi mereka masih mau temenan sama gue." Brian terlihat kesal.
"Itu mereka bukan aku jadi maaf ya Bri."
"Dari pertama ngeliat Lo kemarin, sejujurnya gue suka sama Lo." ungkap Brian membuat Amina terkejut karena tak menyangka Brian akan mengakui perasaannya secepat itu padanya.
"Tapi aku udah ada suami, maaf ya Bri."
"Sebenernya gue nggak apa apa sih kalau cuma jadi selingkuhan, semisal Elo nggak bahagia sama suami Lo."
"Gila!" umpat Amina lalu menggelengkan kepalanya. Amina berniat beranjak dari duduknya namun Brian malah menahan tangannya.
"Lepasin!" Amina melepaskan tangan Brian dengan kasar lalu Ia segera keluar dari kelas. Brian benar benar menakutkan.
Amina pergi ke toilet, Ia membasuh wajahnya berkali kali agar rasa cemasnya hilang. Setelah Amina merasa tenang, Amina kembali ke kelas. Beruntung sudah ada dosen jadi Ia tak perlu takut lagi dengan Brian.
Meskipun begitu, Brian masih saja menatap Amina dengan tatapan nakalnya.
Selesai kelas sudah waktunya jam pulang, Amina berlari keluar dari kelas. Sungguh Ia tak ingin bertemu lagi dengan Brian saat ini.
Amina sampai didepan gerbang dan tersenyum lega saat mobil yang menjemputnya sudah terparkir didepan.
Segera Amina memasuki mobil dimana sudah ada Juan disana.
"Nona baik baik saja?" Juan terlihat khawatir melihat wajah takut Amina.
"Apa ada yang menganggu Nona?" tanya Juan lagi.
Amina menggelengkan kepalanya, "Tidak, segera antar aku kerumah mas Alka."
Juan mengangguk paham, tanpa bertanya lagi Ia segera melajukan mobilnya menuju rumah Alka.
Amina sempat menatap ke gerbang dan melihat Brian yang menaiki motor menatap ke arah mobilnya masih dengan senyuman nakal membuat Amina kembali merasa cemas.
Amina sangat ketakutan saat ini.
__ADS_1
Bersambung...