
Orang orang dikantor saat ini terlihat mengerubungi Juan dan gadis anak baru yang kini menjauh dari Juan dengan tangan menyilang digunung kembarnya.
"Dasar psikopat, bagaimana bisa kau berjalan tak melihat dan membuat milik ku jatuh ke mulutmu, kau pasti sengaja!" ucap Gadis itu terlihat emosi membuat orang orang menatap jijik ke arah Juan.
"Hey tutup mulutmu, kau pikir siapa yang menabrakmu? Kau jalan tidak menggunakan mata!" Juan tak mau kalah.
Gadis itu melotot masih tak terima, "Kau yang menabrakku, jelas jelas-" ucapan Gadis itu terpotong saat Juan berteriak sangat keras,
"KALIAN SEMUA KEMBALI BEKERJA ATAU KU PECAT SATU PERSATU!" ancam Juan pada orang orang yang masih melihat jijik ke arahnya.
Orang orang yang ada disana pun bubar meninggalkan Juan dan Gadis baru itu. Sementara gadis itu mendadak pucat setelah tahu jika Juan bukan orang sembarangan dikantor ini.
"Kau, ikut keruanganku!" perintah Juan sambil menunjuk ke arah gadis itu.
Dengan tangan gemetar, gadis itu mengikuti langkah Juan memasuki ruangan.
Juan duduk dan melihat ke arah gadis yang kini berdiri menunduk tak berani menatap ke arah Juan.
Gadis yang mengenakan seragam hitam putih, sudah pasti jika gadis itu masih anak baru.
"Kau baru disini?"
Gadis itu mengangguk,
"Dan kau tidak tahu siapa aku?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya,
"Kau sangat mempermalukanku!" ungkap Juan yang akhirnya membuat gadis itu mendongak dan menatap Juan penuh protes.
"Karena Bapak yang salah dan membuat ehem milik saya mengenai bibir bapak, itu sudah termasuk pelecehan!"
Juan memijat kepalanya, Ia segera berdiri mendekati gadis itu,
"Coba kita praktekan kembali agar tahu siapa yang salah."
Gadis itu langsung saja menyilangkan tangannya menutupi dada.
Juan memutar bola matanya malas, Ia kembali mempraktekan cara jalannya hingga membuat gadis itu paham bukan Juan yang menabraknya melainkan Gadis itu sendiri.
"Sekarang bagaimana? Siapa yang menggoda siapa?" sinis Juan.
Gadis itu menunduk, merasa salah menunduh.
"Lagipula dada datar seperti telur dadar, tidak akan membuat orang bernafsu melihatnya apalagi sengaja ingin-"
"Stop pak!" potong gadis itu tak terima.
"Berhenti menghina saya, saya akui memang salah sudah menuduh Bapak. Saya minta maaf tapi bapak tidak harus menghina saya seperti itu!!" ucap Gadis itu dengan nada marah.
"Baiklah, kembalilah bekerja jika begitu!"
Gadis itu segera keluar dari ruangan Juan tanpa mengatakan apapun lagi.
"Arghhh sial!" Juan memukuli bibirnya. Ingatannya masih jelas terasa saat gunung kembar kenyal gadis itu menempel di bibirnya.
"Benar benar penggoda!"
Jam pulang, Juan melajukan mobilnya keluar dari kantor.
__ADS_1
Ia melihat gadis yang menabraknya siang tadi berdiri dihalte.
Entah bisikan setan dari mana, Juan menghentikan mobilnya tepat didepan gadis itu berdiri.
"Masuk!" perintah Juan pada gadis itu.
Gadis itu hanya melengos saat mengetahui jika Juan yang berada didalam mobil.
"Masuk atau ku pecat!" ancam Juan membuat gadis itu melotot tak terima hingga akhirnya Ia masuk ke mobil Juan.
"Apa lagi sekarang pak?" protes gadis itu tak terima.
"Aku memintamu masuk dan kau tidak mau jadi aku mencari cara lain agar kau mau masuk." balas Juan santai lalu melajukan mobilnya.
"Saya tidak mau berurusan dengan Bapak lagi."
Juan menatap gadis itu tak percaya, "Kau pikir aku mau berurusan dengan mu!" kesal Juan.
"Aku hanya ingin... Ingin minta maaf karena sudah menghinamu tadi."
"Terlambat, saya sudah terlanjur sakit hati."
"Sebenarnya milikmu tidak sekecil itu, justru-"
"Stop Pak, jangan katakan lagi!" gadis itu kembali menyilangkan tangannya membuat Juan tersenyum geli.
"Baiklah, hutangku lunas, aku sudah minta maaf sekarang kau boleh keluar." ucap Juan menghentikan mobilnya dijalanan sepi.
"Jangan gila pak, disini sepi dan tidak ada bus lewat, bagaimana saya bisa pulang?" gadis itu kembali kesal.
"Jadi kau ingin aku mengantarmu pulang?"
Juan tersenyum nakal, "Baiklah tapi kau harus membayarku nanti."
"Astaga pak, seharusnya tadi Anda tidak menyuruhku masuk!" kesal gadis itu.
Keduanya sama sama diam,
"Dimana rumahmu?"
"Kos melati indah."
"Oh anak kos."
Gadis itu diam tak mengubris ucapan Juan.
"Siapa namamu?"
"Lily."
"Seperti nama bunga." celetuk Juan namun tak digubris gadis itu.
Mobil Juan berhenti didepan gerbang kos bertuliskan melati indah.
"Kos bebas?" Juan menatap Lily.
"Terpaksa karena hanya disini kos paling murah."
"Apa kau tidak takut jika ada pria yang masuk ke kamarmu?"
__ADS_1
"Takut atau tidak bukan urusan bapak." balas Lily judes, melepaskan seat beltnya dan berniat keluar namun Juan menahan tangannya.
"Hey kau belum membayarku!"
"Astaga pak, apa kau tidak kasihan padaku, aku ini hanya anak kos, tidak punya uang untuk membayar mu!" kesal Lily.
"Aku tidak meminta uang, bayar aku dengan cara lain." juan menatap ke arah tubuh Lily.
"Dasar pria mesum!" geram Lily ingin memukul Juan namun Juan menahan tangan Lily.
"Kau yang mesum, memang aku meminta apa?"
Lily menyentak tangan Juan agar melepaskan tangannya, "Pasti Bapak mencari kesempatan agar bisa tidur dengan saya kan?"
Juan malah tersenyum geli, "Kau benar benar mesum, padahal aku tidak menginginkan itu!"
Lily melotot tak percaya,
"Aku hanya ingin kau membayarku dengan makan malam."
Wajah Lily memerah bak kepiting rebus setelah mendengar ucapan Juan
"Apa kau selau salah paham seperti ini?" Juan tertawa geli.
Lily hanya mendengus sebal lalu keluar dari mobil Juan. Dengan senyuman lebar, Juan mengikuti langkah kaki Lily.
Juan sudah memasuki kos Lily, kos dua petak dimana petak depan untuk kamar tidur dan petak belakang untuk dapur mini dan kamar mandi.
"Kenapa? Mau menghina kos ini sempit dan jelek?" sentak Lily saat Juan melihat lihat kos yang Ia tinggali.
"Kau terlalu sensitif dan salah paham, lebih baik segera buatkan aku makan malam."
Lily hanya mendegus, Ia segera kedapur untuk membuatkan makan malam.
"Hanya ada mie instan goreng, aku tidak pernah makan makanan mewah!" ucap Lily menyodorkan sepiring mie goreng dan segelas susu hangat untuk Juan.
"Tidak masalah, aku bisa makan apapun termasuk memakanmu." Juan menatap Lily nakal.
"Ap apa kau kanibal?" wajah Lily langsung pucat ketakutan.
Juan tertawa, "Ya, makanlah agar kau lebih gemuk jadi aku bisa puas menikmati dagingmu."
"Dasar pria gila, pergi dari sini atau aku teriak."
Tawa Juan malah semakin keras, "Dasar bodoh, aku hanya bercanda!"
"Sialan!" Lily yang kesal memukuli lengan Juan.
Juan menangkap kedua tangan Lily, "Kau berani padaku?"
Lily hanya diam menunduk tak berani menatap Juan,
"Kenapa wajahmu memerah, apa kau jatuh cinta padaku?"
Lily melotot tak percaya, Ia menarik tangannya dan kembali memukuli Juan hingga Juan tertawa sampai terpingkal.
Bersambung...
Edisi Juan dulu yes sebelum nanti deg degan ngeliat Alka sama Amina minta restu hehe
__ADS_1