
Alka menghentikan mobilnya didepan rumahnya, setelah mendapatkan telepon dari Wina untuk kembali kerumah, Alka kembali membawa Amina pulang kerumah.
Beruntung mereka masih diresort, belum pulang jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk perjalanan kembali kerumah Wina.
Alka dan Amina disambut ramah oleh Karsa sementara Wina duduk diruang tamu, juga menunggu mereka.
"Duduklah." ajak Karsa yang langsung dituruti Alka dan Amina.
"Apa Mama sudah merestui hubungan kami?" Alka langsung pada intinya.
"Apa tidak ada basa basi lain sebelum menanyakan itu?" Wina terlihat kesal.
Alka tersenyum, "Aku sudah tidak sabar mendengarnya, aku harap Papa berhasil merayu Mama." kata Alka lalu mengedipkan mata ke arah Karsa.
"Dengarkan apa kata Mama mu." Karsa menatap Alka sombong seolah telah berhasil merayu Wina.
"Menikahlah, tapi jangan tunda punya anak!" pinta Wina yang langsung membuat Alka tersenyum senang sementara Amina terlihat masih menunduk, tak berani menatap Wina.
"Apa kau tidak senang Amina?" tanya Wina.
Amina akhirnya mendongak, menatap Wina dan memaksakan senyum, "Saya senang Nyonya."
"Jangan panggil aku Nyonya lagi karena aku bukan Nyonya mu, panggil Aku ma ehem Mama mulai sekarang." kata Wina sambil memutar bola matanya seolah Ia gugup.
Alka dan Karsa tersenyum melihat tingkah Wina.
Amina awalnya ragu namun akhirnya Amina menjawab, "Baiklah Ma..."
"Aku akan mempersiapkan pernikahan kalian seminggu lagi. Mulai hari ini Amina berada disini karena besok Amina menemani Mama mengurus segala keperluan resepsi." pinta Wina.
Amina terlihat takut namun Alka menganggukan kepalanya, seolah mengatakan jika semua akan baik baik saja.
"Baiklah, aku harus kembali malam ini karena besok ada meeting pagi." kata Alka bergegas untuk pergi.
"Mas..." gumam Amina seolah tak ingin Alka pergi.
"Antar Alka keluar Amina." pinta Wina seolah mengerti apa yang Amina rasakan saat ini.
Amina mengangguk, mengantar Alka sampai didepan rumah.
"Mas, aku takut berada disini, bagaimana kalau nyonya-"
"Shuuttt... Jangan katakan apapun. Percaya padaku. Mama tidak akan berbuat jahat padamu."
"Tapi mas..." Amina terlihat ragu.
"Percaya padaku, semua akan baik baik saja." Kata Alka lalu mengelus kepala Amina.
Amina tertunduk lesu, Ia tentu tak bisa melawan Alka.
"Besok sore aku akan pulang kesini, aku ingin fokus pada pernikahan kita." kata Alka yang akhirnya membuat Amina lega.
"Aku akan menunggumu pulang mas." kata Amina penuh harap.
Alka tersenyum lalu mengecup kening Amina.
"Hati hati dijalan mas." kata Amina yang langsung diangguki oleh Alka.
Alka segera masuk dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah.
__ADS_1
Setelah mobil Alka tak terlihat lagi, Amina masuk kerumah.
Awalnya Amina ragu untuk masuk namun akhirnya Ia kini sudah berada didalam.
Amina melihat Wina masih duduk disofa sementara Karsa sudah tidak ada.
Jantung Amina berdegup kencang dan tangannya sedikit bergetar mengingat beberapa jam yang lalu Wina sempat mengatakan hal buruk padanya, rasanya tidak mungkin jika Wina berubah menjadi baik.
"Apa kau sudah makan malam?"
Amina menganggukan kepalanya, "Sudah Nyo- eh Ma..." Amina melihat respon Wina saat Ia memanggil Mama namun Wina terlihat biasa saja, tidak marah.
"Kalau begitu istirahatlah, kita mulai besok pagi."
Amina mengangguk paham, Ia segera berjalan menuju kamarnya yang dulu namun ucapan Wina menghentikan langkahnya, "Mau kemana?"
"Saya mau ke kamar."
"Disana hanya ada kamar pembantu, kamarmu diatas. Pakai kamar tamu." pinta Wina membuat Amina melonggo tak percaya.
Benar apa yang dikatakan oleh Alka, semua baik baik saja. tadinya Amina pikir jika tidak ada Alka, Ia akan disiksa dirumah ini namun ternyata...
"Tapi Ma..."
"Jangan membantah, segera naik."
"Baik Ma..."
Amina menurut, Ia pergi ke kamar atas untuk istirahat.
Amina membuka pintu kamar, tersenyum senang karena masih tak menyangka Ia tidur dikamar mewah ini.
Dunia memang benar benar berputar.
Amina berbaring diranjang empuk nan mahal, rasanya sangat nyaman.
"Enak sekali tidak seperti ranjang yang ada dikamar pembantu." gumam Amina lalu tertawa geli.
Amina segera terlelap karena Ia kelelahan hari ini dan matanya memang sudah mengantuk.
Sementara itu ditempat lain,
Lily menatap Juan tak percaya, baru beberapa hari mereka bertemu dan kenal namun Juan sudah melamarnya.
"Jangan bercanda pak, tidak lucu!" kata Lily menatap Juan kesal.
"Aku tidak bercanda, aku bahkan sudah membawa cincin untukmu." Juan mengeluarkan kotak beludru berisi cincin pernikahan.
"Apa bapak gila?"
"Kau bisa menganggapku seperti itu." Juan terlihat santai.
"Ini pernikahan pak, bukan untuk main main."
"Lah, siapa yang ingin bermain? Aku serius." Juan mulai kesal.
"Apa motivasi Bapak ingin menikahi saya?"
"Ada banyak tidak perlu kusebutkan!"
__ADS_1
"Katakan apa pak?"
"Astaga, jangan memanggilku Bapak, aku ini bukan bapak mu."
"Terserah saya mau panggil apa." Lily terdengar judes membuat Juan gemas.
Juan mencium bibir Lily, tanpa aba aba hingga Lily tak bisa melawan dan hanya bisa pasrah menerima ciuman Juan.
"Dasar mesum!" Lily memukuli Juan setelah Juan melepaskan ciumannya.
Juan tersenyum, "Menikahlah denganku agar kau tak mengatai ku mesum lagi."
Lily akhirnya diam, Ia memikirkan permintaan Juan, "Kalau saya tidak mau?"
"Aku akan memperkosamu sekarang hingga hamil dan kau akan menikah denganku!"
Lily menatap Juan tak percaya, "Dasar gila!"
"Jadi bagaimana?"
"Pak, saya baru saja lulus dan mendapatkan pekerjaan. Adik adik saya dikampung masih sekolah, saya harus membantu membiayai hidup mereka."
"Tidak masalah, kita bisa mentranfser uang untuk mereka setiap bulan."
Lily benar benar tak percaya dan tak menyangka, Juan memaksanya.
"Pak, saya masih kecil dan masih labil, belum siap menghadapi pernikahan."
Juan malah tertawa, "Tidak perlu takut, ada aku yang selalu menjagamu."
"Pak, dikantor masih banyak gadis yang lebih cantik dan siap menikah dengan Bapak jadi-"
"Jadi kau lebih memilih diperkosa dari pada menerima lamaranku?" Juan terdengar mengancam.
"Astaga pak, kenapa Bapak memaksa sekali!" Lily benar benar kesal.
"Terserah, jika kau tidak memilih sekarang aku akan..." Juan mulai membuka kancing bajunya membuat mata Lily melotot dan segera menjauh dari Juan.
"Baiklah baiklah saya mau!" teriak Lily sambil menatap Juan kesal.
"Baru kali ini ada orang melamar namun memaksa seperti Bapak!"
Juan tertawa, tak peduli dengan umpatan Lily. Ia berjalan mendekat dan langsung melingkarkan cincin dijari manis Lily.
"Pas dan terlihat cantik dijarimu." ucap Juan lalu mengedipkan mata kearah Lily.
"Aku akan mengurus pernikahan, mungkin seminggu lagi-"
"Seminggu pak? Tidak pak jangan secepat itu!"
Juan mengerutkan keningnya, "Kenapa?"
"Bapak bahkan belum kerumah untuk meminta restu pada orangtua saya."
"Oke besok kita kesana."
Lily masih menatap Juan tak percaya, "Gila benar benar gila!"
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komenn