JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
62


__ADS_3

Dengan raut wajah kecewa dan marah, Rania kembali melangkahkan kakinya meninggalkan keempat pria yang masih menertawakannya.


Rania menyesal benar benar menyesal, Jika saja Ia menurunkan egonya, menerima pemberian Amina mungkin Ia tak akan mengalami hal seperti ini.


Langkah kaki Rania terhenti kala melihat hotel murah dipinggir jalan.


Rania melihat uang 200ribu yang baru Ia dapatkan.


Dengan penuh keyakinan, Ia memberanikan diri memasuki hotel itu.


"Satu malam." ucap Rania pada pria tua yang berjaga dihotel.


"Kau sendirian nona?" tanya pria itu.


Rania mengangguk, "Berapa?"


"Apa kau ingin kamar gratis Nona?" tanya pria itu menatap Rania dengan tatapan nakal.


Rania jengah, Ia tahu maksud dari pria tua itu.


"Aku tidak ingin melakukan apapun, aku hanya ingin istirahat."


"Baiklah jika kau tidak mau bayar 100ribu untuk satu malam tapi jika kau mau, kau bisa menginap dikamar ini sampai beberapa malam."


Rania tertarik, tentu saja tertarik mendengar tawaran dari pria itu.


"Satu kali main untuk satu minggu, bagaimana?" tanya Rania tak ingin tertipu lagi seperti tadi.


"Baiklah Nona."


Pria itu membawa Rania memasuki kamar, Rania yang sudah kelelahan langsung tertidur pulas setelah bermain satu ronde dengan pria tua itu.


"Dasar gadis bodoh." ucap Pria itu tersenyum tengil lalu keluar meninggalkan Rania yang terlelap dalam keadaan polos tak mengenakan sehelai benang pun.


...****************...


Pagi ini Amina terbangun lebih dulu namun masih belum bisa bergerak karena Alka memeluk tubuhnya dengan erat.


"Mass..." keluh Amina yang akhirnya membuat Alka melepaskan pelukannya.


"Sudah pagi, aku mau bantuin Mama bikin sarapan dulu mas." ucap Amina yang langsung diangguki oleh Alka.


Alka kembali terlelap setelah melepaskan Amina. Segera Amina bersiap untuk turun ke bawah.


Amina membuka pintu dan terkejut melihat Wina sudah berdiri didepan pintu kamarnya.


"Alka didalam?"


"Iy-" Belum selesai Amina menjawab, Wina melewati Amina memasuki kamar Amina dan langsung memukuli Alka menggunakan tangan.


"Dasar anak nakal, ngapain kamu tidur disini! Nggak sabaran udah tau belum sah!" omel Wina sambil terus memukuli Alka.


"Ampun mah... Ampuunnn!" teriak Alka yang akhirnya bergegas bangun.


"Ngapain kamu tidur disini!" sentak Wina melotot tajam ke arah Alka.

__ADS_1


"Cuma tidur Ma, nggak ngapa ngapain sumpah!" ucap Alka sambil mengacungkan dua jarinya namun Wina terlihat tak percaya.


"Bener kok Ma, kami cuma tidur nggak ngapa ngapain." Amina ikut menjelaskan membuat Alka menghela nafas lega.


"Pokoknya jangan sampai mau di apa apain sama Alka sebelum dinikahi ya Amina."


"Iya Ma." Amina menunduk menurut.


Wina segera pergi meninggalkan kamar Amina.


"Mas sih semalem dibilangin ngeyel." Amina menyalahkan Alka.


"Harus diajuin nih nikahnya, nunggu 2 hari lagi lama!" keluh Alka.


"Nggak bisa maju mas, kan pesennya udah tanggal segitu."


"Bisalah, kita ijab dulu aja resepsinya ikut tanggal yang udah dipesen."


Amina menggelengkan kepalanya tak percaya, "Seenaknya mas aja lah."


Amina keluar meninggalkan Alka.


Ia turun ke dapur dengan perasaan campur aduk. Antara malu dan takut saat bertemu dengan Wina apalagi mendengar Wina mengomel meskipun Amina tahu omelan Wina ditunjukan untuk Alka.


"Bantuin apa Ma?" Amina menawarkan diri.


"Nggak usah sayang, udah mau selesai juga orang cuma bikin roti bakar." suara Wina terdengar lembut membuat Amina bernafas lega karena Wina tak marah padanya.


Amina membantu menuangkan susu dan menyiapkan dimeja makan sementara para pria belum bergabung dimeja makan.


"Minta maaf kenapa Ma?" tanya Amina.


"Maaf karena Mama sudah salah paham gara gara percaya sama Rania." Wina terlihat menyesal.


"Nggak apa apa Ma, lagian emang bener kan yang di bilang Rania. Amina memang gitu..." ucap Amina dengan suara pelan dan langsung menundukan kepalanya.


Wina mendekati Amina dan langsung mengelus kepala Amina, "Kamu nglakuin itu karena terpaksa jadi Mama bisa ngerti." kata Wina yang akhirnya membuat Amina tersenyum.


"Terima kasih Ma."


"Wah wah ada apa ini pagi pagi udah elus elusan." suara Karsa terdengar mendekat.


"Papa apa sih, ganggu aja!"


"Ampun Ma, ampun... Alka mana?" tanya Karsa melihat Alka sendiri yang belum turun.


"Biar Amina panggilkan."


Amina segera ke kamar Alka, tak melihat Alka disana namun mendengar suara gemericik air yang menandakan jika Alka sedang mandi.


Pintu kamar mandi terbuka, melihat Alka keluar hanya terlilit handuk membuat Amina menutup matanya.


"Kenapa harus menutup mata? Bukankah kau sudah pernah melihatnya?" geli Alka.


"Papa dan Mama udah siap buat sarapan, Mas ditungguin." ucap Amina masih menutup matanya.

__ADS_1


Alka yang gemas menghampiri Amina, lalu memeluknya membuat Amina menjerit, "Mas..."


Amina membuka matanya, melihat wajah Alka sudah sangat dekat dengan wajahnya.


Cup cup cup... tiga kecupan mendarat di pipi kanan ,kiri serta kening Amina dan saat Alka ingin mencium bibir Amina...


"ALKAAAAAA ... BURUAN TURUN." suara teriakan Wina mengema hingga terdengar seluruh rumah.


Amina tertawa sedangkan Alka terlihat kesal. Amina melepaskan pelukan Alka dan segera kabur keluar.


"Buruan turun mas." ucap Amina sambil berlari.


Alka berdecak, lagi lagi Ia gagal mencium bibir Amina.


Selesai bersiap Alka segera turun kebawah dimana semua orang memandang ke arahnya dengan tatapan menusuk.


"Ma ... Pa... Dua hari lama banget bisa nggak kalau ijabnya hari ini aja?" tanya Alka dengan santainya.


"Kamu gila, semua udah dipesen buat dua hari mana bisa!"


"Bisa kok nanti Alka urus sendiri jadi besok pas hari H tinggal resepsi aja." Alka masih terlihat santai, Amina hanya bisa menggelegkan kepalanya tak percaya.


"Terserah kamu saja!" balas Wina judes.


"Lagian Mama sih cuma tidur aja langsung sensi!"


"Gimana nggak sensi Pa, Alka tidur dikamarnya Amina." adu Wina pada Karsa.


"Tapi Alka nggak ngapa ngapain kok Pa, serius!"


"Tetap aja nggak boleh Alka."


"Papa kok nggak belain Alka, kita sama sama pria Pa!"


"Justru karena kita sama sama pria, Papa jadi tahu apa yang kamu pikirkan.'' balas Karsa santai.


Alka menghela nafas panjang, "Tapi Alka boleh kan kalau ijab kabulnya hari ini?"


Baik Wina maupun Karsa mengangguk membuat Alka tersenyum senang.


"Yeahh kita nikah hari ini Baby." ucap Alka lalu memberi kecupan di pipi Amina membuat Wina dan Karsa melotot tak percaya.


"Bener bener anak ini." Wina ingin memukul lengan Alka namun terhenti kala mendengar suara bel pintu berbunyi.


"Siapa pagi pagi kesini." gumam Wina segera berdiri untuk membuka pintu.


"Alkaaa..." suara Wina kembali terdengar.


Alka berdiri dan segera menghampiri Mamanya. Alka terkejut melihat Juan datang kerumahnya.


"Ngapain kamu? Bukannya kamu cuti?"


Seketika Juan menangis didepan Alka. "Saya nggak jadi nikah Tuan."


Bukannya ikut sedih, Alka malah tersenyum senang, "Bagus dong, kalau begitu kamu bisa urus buat ijab saya hari ini!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2