JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
44


__ADS_3

Amina menatap Alka tak percaya apalagi saat ini Alka membawa bucket bunga juga kotak beludru kecil yang berisi dua cincin.


Ruangan ini juga didekor sangat cantik, banyak bunga bertaburan juga tulisan Will you marry me di dinding.


Alka semakin mendekat membuat jantung Amina berdegup sangat kencang.


"Marry me Amina." Alka kini berlutut didepan nya.


Amina tentu saja terkejut dan merasa tak enak dengan Alka berlutut seperti itu.


"Pak, bangun. Jangan seperti ini."


Alka malah tersenyum, "Aku tidak akan bangun sebelum kau menjawab."


Amina diam, Ia terlihat berfikir.


"Aku harap jawabnya tidak mengecewakan." ucap Alka merasa sedikit trauma karena pernah ditolak berkali kali oleh Sarah.


"Bukankah Bapak sudah memiliki gadis yang disukai?"


"Ya, aku memang sudah memiliki dan gadis itu sekarang berdiri didepanku." jawab Alka dengan suara lantang.


Deg, jantung Amina memompa sangat cepat, ditambah lagi wajahnya terasa panas, sudah dipastikan jika pipinya memerah saat ini.


"Apa orangtua Bapak akan merestui hubungan kita?"


Alka berdecak, "Itu urusanku, jangan pikirkan itu sebaiknya kau jawab saja!" Alka terlihat tak sabar.


Amina akhirnya mengangguk, "Saya mau pak."


Alka langsung tersenyum girang, Ia berdiri dan menyematkan cincin itu dijari manis Amina.


"Be mine." ucapnya lalu memeluk Amina.


Tanpa disadari Amina meneteskan air matanya.


"Kenapa menangis?" tanya Alka saat melepaskan pelukannya dan melihat Amina menangis.


"Saya tidak menyangka jika Bapak melamar saya."


Alka berdecak, "Apa kau akan terus memanggilku bapak?"


Amina malah tersenyum geli, "Ini masih dikantor, tentu saja saya harus memanggil itu."


"Panggil aku mas atau sayang mulai sekarang!" pinta Alka dengan nada memaksa.


"Baiklah Mas, tapi saat ada orang lain aku akan tetap memanggil Bapak."


Lagi lagi Alka berdecak, "Apa kau malu huh!"


"Tidak, aku hanya masih sungkan jika ada yang tahu."


"Kau terlalu memikirkan orang lain,"


Amina hanya tersenyum, Ia memandangi cincin indah yang baru saja diberikan oleh Alka.


"Kita akan segera menikah setelah aku mendapatkan restu dari orangtuaku."


Amina mengangguk, "Tapi saya masih kuliah pak eh mas." Amina tersenyum geli sendiri karena masih salah memanggil Alka.


"Tidak masalah selama tidak menganggu tugasmu sebagai istri." ucap Alka sambil tersenyum nakal membuat Amina menelan ludahnya.


Amina cukup tahu apa yang dimaksud oleh Alka.


"Baiklah Pak,"


"Aku akan segera mengajakmu kembali kerumah untuk meminta restu,"


Amina terlihat menunduk, "Saya takut mas."


"Apa yang kau takutkan?" Alka bisa melihat raut wajah Amina terlihat cemas.

__ADS_1


"Saya takut orangtua Mas tidak merestui hubungan kita."


Alka kembali berdecak, "Dapat restu atau tidak kita akan tetap menikah."


Amina menggelengkan kepalanya tak setuju, "Jangan mas."


"Aku tidak butuh pendapatmu, yang terpenting sekarang kau sudah menerimaku dan kita akan segera menikah." ucap Alka dengan mantap.


Amina hanya bisa mengangguk lesu, Ia cukup tahu jika Alka orang yang keras dan tidak bisa dibantah.


Krucukk.... Krucukk ...


Alka menatap Amina lalu tertawa, "Apa kau lapar?"


Amina kembali menunduk, Ia malu karena ketahuan jika sedang lapar.


"Ayo kita cari makanan sayang." ajak Alka merangkul Amina.


"Tapi ini masih sore mas."


"Memang kenapa?"


"Kita tunggu sampai makan malam, saya masih bisa menahannya."


Alka berdecak, "Tidak, sebaiknya kita makan sekarang."


Alka mempererat rangkulannya dan mengajak Amina keluar.


"Mas, tunggu." Amina melepaskan rangkulan Alka.


"Ada apa lagi?"


"Lebih baik saya atau mas berjalan lebih dulu, jangan seperti ini saya tidak enak kalau ada karyawan lain yang melihat."


"Ck, tidak ada urusannya dengan mereka." Alka terlihat kesal.


"Tapi saya tidak ingin mereka tahu."


Amina menggelengkan kepalanya, "Kalau kita sudah menikah tidak masalah mereka tahu tapi sekarang, lebih baik jangan ada yang tahu dulu mas." pinta Amina dengan mata puppy eyes membuat Alka tak bisa berkutik dan akhirnya menuruti Amina.


"Baiklah baiklah, masuk ke mobil ku dan aku akan menyusul."


Amina terlihat senang karena Alka mau menurutinya, saking senangnya Amina sampai memeluk Alka membuat Alka ikut tersenyum.


"Eh..." Amina sadar apa yang baru saja Ia lakukan, Ia menjadi malu dan langsung keluar dari ruangan Alka.


Kini Amina sudah berada dimobil Alka, Ia menepuk nepuk kedua pipinya, "Dasar bodoh, apa yang kau lakukan!" Amina merasa kesal dengan dirinya sendiri.


Tak berapa lama, Alka menyusulnya memasuki mobil dan tersenyum manis pada Amina membuat Amina meleleh.


"Mau makan dimana sayang?" tanya Alka dengan suara lembut, benar benar membuat Amina gila.


Alka tertawa menatap Amina, "Kenapa pipi mu selalu merah seperti itu?"


Amina segera menutupi kedua pipinya dengan telapak tangan.


"Apa kau belum pernah memiliki kekasih?" tanya Alka.


Amina menggelengkan kepalanya,


"Pantas saja." gumam Alka sambil tertawa.


Alka segera melajukan mobilnya,


"Kalau mantan kekasih mas ada banyak ya?" tanya Amina ingin tahu.


"Tidak banyak, hanya beberapa."


"Pasti cantik cantik."


Alka tersenyum, "Tapi tidak ada yang mengalahkan kecantikan mu."

__ADS_1


Pipi Amina kembali merona.


"Kau benar benar mengemaskan." ucap Alka sambil mencubit pipi Amina.


"Seolah olah aku ini anak kecil!" omel Amina.


Alka tertawa, "Kau sudah berani mengomel padaku sekarang hmm." Alka kembali mencubit pipi Amina.


Amina akhirnya memilih diam dan pasrah, tak melakukan perlawanan hingga Alka bosan mencubit pipinya.


"Kenapa disini?" Alka menghentikan mobilnya disebuah restoran mewah.


"Karena aku ingin makan disini."


"Jangan disini mas." Amina menundukan kepalanya.


"Kenapa?"


Amina memperlihatkan bajunya yang masih mengenakan seragam cleaning service, tidak akan cocok jika berjalan dengan Alka yang rapi mengenakan seragam kantornya.


"Malu mas, cari ditempat lain aja ya?" pinta Amina dengan mata merayu yang membuat Alka luluh.


"Ya sudah, untuk kali ini aku mengalah tapi lain kali kita akan makan disini."


Amina mengangguk setuju,


Alka kembali melajukan mobilnya, Ia berhenti didepan warung bakso.


"Wah bakso..." Amina tersenyum senang membuat Alka ikut tersenyum.


"Kau juga suka bakso?"


"Makanan favorit." kata Amina sambil memperlihatkan gigi rapinya.


"Baiklah kita keluar sekarang." ajak Alka.


Amina dan Alka segera keluar dari mobil, kali ini Amina yang memesan makanan untuk mereka.


"Saya pikir mas nggak suka makan ditempat seperti ini." ucap Amina saat keduanya sedang menunggu pesanan.


"Karena aku orang kaya jadi kau berpikir seperti itu hmm?"


Amina mengangguk lalu tersenyum memperlihatkan gigi rapinya.


"Aku bisa makan di manapun selama makanannya enak,"


Amina tersenyum, "Syukurlah jadi kita bisa sering sering makan disini."


pesanan sudah datang, Amina bersiap membumbui baksonya dengan saus sambal.


"Sambalnya jangan terlalu banyak." larang Alka memindahkan mangkuk sambal agar jauh dari jangkauan Amina.


"Ck, baru 1 sendok mas, biasanya pakai 3 sendok."


Alka melotot tak percaya, "Kau gila!"


"kembalikan sambalku, rasanya pasti tidak enak jika hanya 1 sendok." keluh Amina.


"Tidak, 1 sendok cukup Amina!"


"Mas..." Amina kembali merayu Alka dengan mata puppy eyes.


"Ku bilang tid-"


"Amina..." suara seorang pria terdengar memanggil Amina membuat Alka berbalik menatap siapa pria itu.


"Hey Amina."


Wajah Amina seketika pucat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2