
Alka melihat ke arah jam tangannya, sudah pukul 6 petang, waktunya Ia bersiap untuk pulang mengingat hari ini Ia harus pulang kerumah orangtuanya.
Alka baru saja beranjak namun mendengar suara pintu diketuk membuat Alka kembali duduk.
Salah satu karyawan yang sudah lama tak Ia lihat berjalan mendekat ke arahnya.
"Sore pak." sapa karyawan itu yang tak lain adalah Kaka pria yang pernah melecehkan Amina.
Ya Kaka baru saja sembuh setelah dirawat dirumah sakit dan Ia sudah bekerja sejak pagi tadi.
"Ada apa?" Alka terlihat malas menatap Kaka.
"Saya hanya ingin mengkonfirmasi, apakah benar Bapak memecat saya?"
"Ya, mulai besok kamu tidak usah kembali bekerja disini."
"Salah saya apa pak?" raut wajah Kaka terlihat melas, "Saya memang izin tidak berangkat beberapa minggu ini tapi saya memberikan surat keterangan dari rumah sakit jika saya sedang sakit kan pak."
"Aku memecatmu bukan karena itu."
"Lalu karena apa pak?"
"Karena kau sudah berani melecehkan calon istriku!"
Kaka terkejut tak mengerti maksud ucapan Alka, calon istri yang mana yang dimaksud oleh Alka. Ia saja tak mengenal calon istri Alka.
"Maksud Bapak apa? saya bahkan tidak mengenal calon istr-"
"Amina, yang sebentar lagi akan menikah denganku!"
Lagi lagi Kaka dibuat terkejut oleh pengakuan Alka.
Amina, gadis yang menolaknya itu ternyata sekarang menjadi calon istri Alka pikir Kaka masih dibuat tak percaya.
"Jangan percaya dengan omong kosongnya pak, saya tidak melecehkannya tapi dia yang menfitnah saya." ungkap Kaka yang membuat Alka geram dan mengepalkan tangannya. Rasanya Alka ingin menghajar Kaka saat ini juga.
"Apa kita perlu membuka cctv untuk membuktikan kebenaran ucapanmu itu?"
Jantung Kaka berdegup kencang dan wajahnya pun menjadi pucat mendengar ucapan Alka.
"Bukankah disekitar sana ada cctvnya? Aku benar benar penasaran apa yang sudah kau lakukan pada calon istriku!"
Kaka bergindik ngeri, Ia tak bisa membayangkan jika Alka tahu bisa habis riwayatnya saat ini juga.
"Baiklah pak, saya terima keputusan Bapak memecat saya."
Alka tertawa, "Ada apa dengan mu? Bukankah kau tadi ingin protes, kenapa sekarang tiba tiba menerima keputusanku."
__ADS_1
Kaka diam, tak menjawab ucapan Alka, Ia berbalik memilih pergi dari ruangan Alka.
Setelah Kaka keluar, Alka mengambil ponselnya untuk menghubungi anak buahnya.
"Aku ingin kau memberi pelajaran untuknya sekali lagi." pinta Alka lalu mengakhiri panggilan.
Alka tersenyum puas, Ia tidak akan mengotori tangannya untuk menghajar Kaka jadi Ia memilih ini.
Rasanya Alka masih belum puas melihat Kaka sembuh dan bisa berkeliaran bebas seperti ini.
Sementara itu diluar, Kaka tak henti hentinya mengumpat karena pemecatan dirinya.
"Sudah mencari pekerjaan susah sekarang malah aku dipecat, semua karena Amina! Aku benar benar akan membalas perbuatan gadis itu!"
"Dia pasti mengadu pada Alka, mentang mentang kekasih bos, dia bisa memperlakukan aku seperti ini!" umpat Kaka dengan nada kesal.
Kaka berjalan pelan menuju kosnya, sebelum sampai dikos, Kaka mendapatkan ide bagus untuk membalas Amina.
"Bukankah rumah kontrakan Amina tak jauh dari sini? Ah iya aku akan datang kesana untuk membalasnya, lagipula dia tinggal sendirian." Kaka tersenyum jahat, Ia berbalik untuk pergi ke kontrakan Amina.
Sampai dikontrakan Amina, Kaka mengetuk pintu berkali kali namun tidak ada jawaban dari Amina, bahkan pintunya pun tidak kunjung dibuka.
"Sebaiknya aku menyusup lewat pintu belakang saja." ucap Kaka.
Dengan keahlian yang Ia miliki, Kaka akhirnya bisa membuka pintu belakang rumah Amina.
"MALINGGGG ADA MALINGG!"
Kaka terkejut benar benar terkejut mendengar teriakan yang membuat banyak orang kampung berdatangan itu.
"Hey kamu mau maling ya!"
Kaka menggelengkan kepalanya, wajahnya sudah pucat saat ini, "Enggak pak, saya-"
Belum sempat Kaka menjelaskan, orang orang itu menghajar Kaka hingga babak belur setelah babak belur, Kaka tidak dibawa kerumah sakit melainkan dibawa ke kantor polisi.
"Sudah tahu rumahnya kosong tapi berani masuk, apa namanya kalau bukan maling!"
Kaka terkejut, tak tahu jika Amina tidak berada dirumah, Ia pikir Amina tidak berani membuka pintu karena tahu yang datang adalah dirinya.
"Tapi saya bukan maling Pak, yang ngontrak disana itu teman saya dikantor. Dia nggak berangkat hari ini jadi saya kesana untuk menjenguk." Kaka mencari pembelaan didepan polisi.
"Kalau memang benar kamu kesana mau menjenguk, kenapa harus merusak pintu belakang?" selidik polisi.
"Rencananya saya ingin membuat surprise pak."
"Alah alasan saja kamu, bilang saja mau maling atau jangan jangan kamu malah berniat jahat sama mbak Amina!" tuduh bapak pemilik kontrakan yang merasa kesal karena Kaka merusak pintu rumahnya.
__ADS_1
"Tidak pak saya tidak-"
"Kalau penjahat ngaku bisa bisa penjara penuh!"
"Udah pak langsung masukin sel saja!" teriak orang orang yang membawa Kaka ke kantor polisi.
Kaka tertunduk lesu, tak menyangka semua akan berakhir seperti ini. padahal Ia sudah membayangkan akan mengajak Amina bersenang senang namun malah menjadi kesialan untuknya.
Kaka akhirnya diproses secara hukum karena dirinya memang bersalah sudah merusak pintu rumah dan diam diam menyelinap.
Melihat itu, membuat Anak buah Alka yang sedari tadi mengikuti Kaka pun bisa tersenyum puas.
Ia segera menghubungi Alka jika pekerjaanya sudah selesai.
"Bagus, aku akan mentransfer bayaranmu sekarang." suara Alka yang membuat anak buahnya tersenyum puas.
Saat ini Alka baru setengah perjalanan menuju rumahnya, Ia sangat senang mendapatkan kabar bahagia dari anak buahnya.
"Dia benar benar pria yang mengerikan." gumam Alka setelah mendengar penjelasan dari anak buahnya jika Kaka berniat menyelinap masuk kerumah.
"Beruntung aku sudah membawa pergi Amina, jika tidak... Aku benar benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada calon istriku!"
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya Alka sampai dirumah.
Kepulangannya hanya disambut oleh Wina karena memang ini sudah tengah malam.
"Amina sudah tidur, mama suruh tidur dikamar tamu." kata Wina pada Alka.
Alka tersenyum, "Mama nggak tidur?"
"Nungguin kamu katanya mau pulang. Tadinya Amina yang mau nunggu tapi Mama suruh dia tidur soalnya seharian Mama ajak muter muter, kasihan capek." jelas Wina.
Alka kembali tersenyum lalu memeluk Wina, "Makasih ya Ma.."
Wina hanya menghela nafas panjang,
"Makasih Mama udah mau menerima Amina." ucap Alka lagi.
"Sudah sana buruan istirahat, besok bangun pagi buat fitting baju." kata Wina merasa gugup saat Alka memeluk dan berterima kasih padanya.
Alka melepaskan pelukannya, Ia tersenyum memandang raut wajah Mamanya.
Alka segera naik ke kamarnya sementara Wina masih berdiri ditempatnya memandangi pungung Alka. setelah sekian lama akhirnya Wina bisa kembali melihat putranya itu jatuh cinta.
"Semoga pilihanmu tepat kali ini."
Bersambung...
__ADS_1