JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
43


__ADS_3

Amina kembali keruangan Alka membawa piring dan nasi bungkus yang Ia baru saja Ia beli diluar. Ia memasuki ruangan Alka melihat ada Juan disana. Juan menatap ke arah Amina dengan senyum tengil seperti biasa lalu Ia keluar dari ruangan Alka.


"Apa kau sudah makan?" tanya Alka yang langsung digelengi oleh Amina.


Alka berdecak, "Dan kau hanya membeli 1 bungkus?"


Amina menganggukan kepalanya, "Saya belum lapar pak."


"Ini sudah jam makan siang, bagaimana bisa kau mengatakan tidak lapar!"


Amina hanya tersenyum, segera menyiapkan nasi dipiring lalu menyodorkan pada Alka.


"Silahkan dimakan pak."


"Kita makan berdua!"


Amina terkejut dengan permintaan Alka, "Ta tapi pak-"


"Jangan membantah, kita makan berdua atau aku tidak akan memakannya!"


Amina akhirnya mengangguk, meskipun dia belum lapar harus tetap menuruti permintaan Alka.


Kini mereka makan sepiring berdua disofa yang ada diruangan Alka.


"Ternyata rasanya lebih enak makan berdua seperti ini." gumam Alka.


Amina hanya tersenyum dan melanjutkan makannya.


Selesai makan, Amina membereskan peralatan makannya dan bersiap umtuk membersihkan ruangan Alka.


"Apa Bapak yakin jika saya tidak boleh membersihkan ruangan dalam?" tanya Amina memastikan.


"Tidak perlu, nanti sore saja."


"Baiklah pak."


Amina menurut, Ia keluar dari ruangan Alka karena pekerjaannya sudah selesai. Niatnya ingin membantu pekerjaan temannya yang lain tapi sepertinya Alka tidak membiarkan Ia berada diluar.


Baru saja Amina bersiap membantu Siska membersihkan kaca, Ia sudah mendapatkan panggilan dari Alka.


Amina menatap Siska sebelum pergi, tidak ada komentar apapun dari Siska padahal biasanya Siska selalu nyiyir padanya namun sejak kemarin Siska hanya diam saja.


Amina segera pergi meninggalkan Siska dengan perasaan heran, tak tahu apa yang membuat Siska diam seribu kata seperti itu.


Setelah Amina pergi, Juan terlihat mendekati Siska, "Nah harusnya seperti itu jika kau masih ingin bekerja disini." Juan tersenyum sinis lalu pergi melewati Siska.


Siska hanya bisa mengepalkan tangannya sambil menatap tajam ke arah Juan, Ia ingat kemarin saat ketahuan membully Amina, Juan marah padanya dan ingin memecatnya hingga membuat Ia menangis dan berlutut agar Juan tak memecatnya.


Juan akhirnya luluh, memberi Siska kesempatan asal Siska tidak lagi membully Amina.

__ADS_1


Dan seperti ini lah Siska sekarang, hanya diam tidak lagi mengomentari Amina meskipun bibirnya gatal ingin mengatai Amina.


Sementara itu, Amina baru saja masuk dan langsung mendapatkan pelototan tajam dari Amina.


"Tadi pekerjaan saya sudah selesai, Bapak hanya diam saja jadi saya keluar untuk mencari pekerjaan lain." jelas Amina.


"Jika aku diam seharusnya kau juga ikut diam, duduk disana tidak malah keluar tanpa seizinku!"


"Tapi pak, saya disini untuk bekerja!" bantah Amina.


"Aku ini bosnya, aku yang mengaturmu dan kau harus menuruti perintahku!"


Amina menghela nafas panjang, jika saja Ia kuliah tidak mendapatkan bantuan dari Alka mungkin Ia akan resign saat ini juga.


"Sekarang saya harus melakukan apa pak?"


"Duduk disana," Alka menunjuk ke arah sofa.


Amina mengangguk, menuruti perintah Alka untuk duduk. Hanya duduk dan tidak ada yang Amina kerjakan tentu saja membuat Amina bosan.


Alka berdiri dari duduknya, seperti bersiap untuk keluar dari ruangan, "Aku harus meeting sebentar, jangan kemana mana dan tetap disini." ucap Alka lalu meninggalkan Amina.


Lagi lagi Amina hanya bisa menghela nafas panjang, "Aku tidak biasa hanya duduk seperti ini, tanganku sudah gatal harus bekerja tapi Pak Alka pasti akan marah jika aku keluar, dasar menyebalkan!"


Amina yang merasa bosan akhirnya memilih memainkan ponselnya, beruntung ponselnya Ia kantongi jadi bisa menemani dirinya saat suntuk seperti ini.


15 menit, 30 menit dan hampir 1 jam Alka belum kembali. Amina benar benar sangat bosan berada disini.


"Mau kemana?" Alka menatap tak suka.


"Cuma mau ke toilet pak." bohong Amina.


"Didalam ruangan ku ada toilet, kenapa harus keluar!"


"Tadi bapak melarang saya untuk-"


"Ah iya aku lupa." potong Alka sambil menepuk jidatnya.


"Ya sudah sana, segera kembali setelah selesai!"


"Baik Pak."


Amina akhirnya keluar, sebenarnya dia tidak ingin ke toilet namun karena terlanjur mengatakan ingin kesana akhirnya Amina pergi ke toilet.


Amina berada disalah satu toilet untuk buang air kecil. Saat Ia sudah selesai dan akan keluar Amina mendengar suara teman temannya diluar.


"Enak banget ya jadi Amina, kerjanya santai!"


Deg... Benar dugaan Amina selama ini, pasti teman temannya cemburu mengingat Alka memperlakukan dirinya berbeda dari yang lain.

__ADS_1


"Enak lah, jadi kesayangan bos gitu!"


"Modal cantik biar bisa ngerayu si bos!"


Amina mendengar cekikikan teman temannya,


"Eh udahlah, ngapain sih ngomongin Amina, ntar kayak denger pak Juan trus dipecat lagi kayak Siska."


Amina terkejut, Ia ingat kemarin saat Siska membully nya dan ketahuan Pak Juan. Amina tak menyangka jika Pak Juan setegas itu, pantas saja Siska hanya diam sekarang tidak membully nya lagi.


Amina menghela nafas panjang, posisinya saat ini sangat melelahkan. Ia hanya ingin bekerja biasa seperti teman temannya yang lain agar tidak menimbulkan kecemburuan seperti ini.


Amina kembali keruangan Alka, Ia melihat Alka sedang fokus menatap layar laptopnya.


"Pak, bolehkan saya mengatakan sesuatu?" tanya Amina dengan jantung berdegup kencang, takut jika Alka malah marah.


"Apa?" Alka menghentikan aktifitasnya dan menatap Amina.


"Saya ingin bekerja seperti teman saya yang lain pak, jangan dibedakan lagi."


Alka mengerutkan keningnya tak mengerti, "Jadi kau cemburu jika aku memperlakukan teman temanmu lebih baik darimu, kau ingin menjadi yang paling spesial dari yang lain?"


Amina melotot tak percaya mendengar Alka malah mengatakan itu padanya, "Bukan, bukan seperti itu pak!"


"Lalu apa mau mu?"


"Saya hanya ingin bekerja seperti teman teman saya yang lain, jika saya sudah selesai disini, saya bisa membantu teman teman saya diluar." jelas Amina.


Alka menghela nafas panjang, "Kau ini tugasnya hanya berada diruanganku, bagaimana bisa aku membiarkan mu keluar!"


"Tapi pak, hanya membersihkan ruangan ini sepertinya tidak perlu seharian berada disini."


"Apa kau ingin menjadi bos saja agar bisa mengaturku?"


Amina kembali melotot, "Bukan begitu pak, saya hanya ingin-"


Alka berdiri membuat Amina menghentikan ucapannya, "Sudahlah, kepalaku pusing. lebih baik kau memijat kepalaku dari pada protes seperti ini."


Alka berjalan mendekati Amina, "Aku tunggu dikamar." bisik Alka lalu memasuki ruang pribadinya.


Jantung Amina berdegup sangat kencang, Alka mengajak dirinya ke kamar membuat pikiran Amina kemana mana.


"Cepat kesini!" teriak Alka dari dalam.


Dengan langkah berat, Amina berjalan memasuki ruang pribadi Alka.


Dan betapa terkejutnya Amina saat melihat ruangan Alka yang berbeda dari biasanya.


"Amina, will you marry me."

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like vote dan komen


__ADS_2