JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
72


__ADS_3

Pagi ini Alka menunggu kedatangan guru stir mobil Amina. Alka penasaran seperti apa wajah wanita itu yang membuat istrinya cemburu.


Ya semalam Amina sudah mengakui pada Alka jika awalnya Amina cemburu karena Alka memilih guru wanita cantik, Amina pikir Alka sudah mengenal wanita bernama Jane itu padahal Alka belum mengenal sama sekali.


"Kak Jane..." panggil Amina yang menunggu didepan rumah bersama Alka.


Jane yang baru saja memasuki gerbang rumah, tersenyum ke arah Amina juga pria yang ada disamping Amina, Jane belum mengenalnya.


"Apa kau sudah siap?" tanya Jane.


Amina mengangguk, "Sangat siap, ayo kita mulai."


Jane mengangguk, Ia sempat menatap ke arah Alka penuh kagum.


"Dia suamiku Kak." Amina tak ingin Jane menyukai Alka, melihat tatapan Jane pada Alka sangat aneh.


"Oh, jadi dia yang memesan guru perempuan ditempatku?"


Alka mengangguk, "Ya karena aku tidak suka istriku dekat dengan pria lain jadi mohon bantuannya." Alka merangkul Amina membuat Jane menjadi sungkan hingga akhirnya Ia mengangguk setuju.


"Baiklah, aku pastikan Amina akan segera bisa mengemudikan mobil."


Alka tersenyum, "Terima kasih."


Setelah itu Amina dan Jane memasuki mobil, Alka juga memasuki mobilnya dan segera melaju ke kantor.


"Sudah berapa lama kau menikah?" tanya Jane terlihat penasaran.


"Baru beberapa hari yang lalu."


"Wow, pengantin baru." Jane tampak terkejut.


Amina tersenyum, "Ya kami memang masih pengantin baru." ungkap Amina merasa aneh dengan pertanyaan Jane.


Amina merasa Jane menyukai suaminya.


Hampir 2 jam Amina mengemudikan mobilnya di jalanan.


"Kau pintar sekali, baru kemarin aku memgajarimu dan sekarang sudah bisa." puji Jane.


Amina tersenyum, "Berkat Kak Jane, aku jadi bisa naik mobil sendiri."


Jane tertawa, "Bukan aku tapi kamu sendiri."


Brakkk... Suara keras beserta goncangan mengejutkan Amina dan Jane.


"Kak, apa aku menabrak sesuatu?" Amina terlihat takut.


"Tidak, justru mungkin kau yang ditabrak." balas Jane lalu keluar dari mobil.


"Hey apa kau gila!" teriak Jane pada pria yang mengemudikan mobil dibelakang Jane.


Amina ikut keluar, melihat body belakang mobilnya penyok karena tertabrak.


"Kalian yang gila, kenapa berhenti mendadak!" teriak pria itu tak mau kalah.


Mata Jane melotot tak percaya, "Bukankah disini sudah ada tulisan jika kami sedang belajar, bagaimana bisa kau menabrak mobil kami!"


"Tulisan kecil seperti itu mana ada yang bisa melihat!"

__ADS_1


"Kau saja yang buta!"


Amina yang ketakutan dan panik memilih menghindari pertengkaran dan menelepon Alka."


Beruntungnya Alka datang begitu kilat, saat Jane dan pria itu masih bertengkar, Alka sudah datang bersama Juan.


"Dia berhenti mendadak, aku terkejut dan tak bisa menghentikan mobilku!"


"Tidak, dia bohong. kami tidak berhenti mendadak." protes Jane.


"Iya mas, aku tidak menghentikan mobilku secara mendadak." Amina ikut membela diri.


Alka melihat raut wajah takut Amina, segera Ia merangkul Amina agar Amina merasa tenang bersamanya.


"Urus masalah ini dan bawa mobilnya pulang." perintah Alka pada Juan.


Juan mengangguk paham, Alka segera mengajak Amina memasuki mobilnya.


"Aku benar benar tidak berhenti mendadak." kata Amina lagi meyakinkan Alka.


"Aku percaya padamu sayang, sudah jangan pikirkan lagi biar masalah ini di urus Juan."


Amina mengangguk, meski Alka mengatakan hal yang bisa membuatnya tenang tapi tetap saja Amina masih khawatir dan takut.


Sementara itu, Juan bersama Jane masih menghadapi kekolotan pria yang tidak mau mengakui kesalahannya itu.


"Aku tidak mau tanggung jawab!" ucap pria itu lagi.


"Apa kau punya Sim?" tanya Juan tenang.


"Sim? Untuk apa kau bertanya? Memang kau polisi?"


Pria itu melihat Juan dari atas sampai bawah, pakaian Juan yang rapi membuatnya sedikit takut jika Juan benar benar polisi.


"Kau bercanda? Kau pasti bohong!"


"Untuk apa aku berbohong padamu. Lebih baik sekarang keluarkan sim mu, aku ingin lihat." pinta Juan.


"Ada didalam mobil, biarkan aku mengambilnya." pria itu ingin memasuki mobilnya namun Juan menahannya.


"Berikan ponselmu." pinta Juan.


"Untuk apa? Tidak mau!"


Juan tersenyum, "Untuk jaminan kau tidak akan kabur."


Pria itu tertawa hambar, "Aku tidak kabur, aku hanya ingin mengambil dompet!"


Juan tertawa sinis, dompet mana yang akan diambil oleh pria itu sementara disaku belakang celana pria itu terlihat ada dompet, Juan sangat yakin jika pria didepannya itu penipu.


Sekali sentakan, Ponsel pria itu kini sudah berada ditangan Juan.


"Cepat ambil sim mu, aku akan menunggu disana." kata Juan meninggalkan pria itu, berjalan mendekati Jane.


"Kau baik baik saja?" tanya Juan pada Jane.


Bukannya menjawab, Jane malah menatap Juan lama seolah terpesona dengan ketampanan Juan.


"Halo, apa kau mendengarku?" tanya Juan sambil mengayunkan telapak tangannya didepan Jane.

__ADS_1


"Eh, maaf." balas Jane terkejut merasa ketahuan sedang menatap Juan kagum.


"Nggak bosnya, nggak anak buahnya, good looking semua!" batin Jane.


"Sepertinya banyak penipu, kau harus mulai hati hati sekarang."


Jane mengangguk setuju, "Jelas jelas dia yang menabrak tapi kami yang disalahkan."


Pria itu kembali keluar, berjalan ke arah Jane dan Juan.


"Dompetku tertinggal, sekarang berikan ponselku."


Juan tersenyum sinis, "Jika kau tidak memberikan sim mu, aku juga tidak akan memberikan ponsel ini. Anggap ini sebagai jaminan." kata Juan lalu mengeluarkan kartu nama miliknya.


Juan memberikan kartu nama pada pria itu, "Hubungi aku jika kau ingin bertanggung jawab dan mengambil ponselmu." kata Juan yang langsung membuat pria itu marah tak terima.


Pria itu bahkan ingin memukul Juan namun sayang Juan lebih dulu menangkis pukulan pria itu dan sekali gerakan, Juan bisa melemahkan pria itu hingga tersungkur dilantai.


"Ingat, jangan main main dengan kami, kau tidak tahu mobil siapa yang kau tabrak ini? Mobil istri seorang direktur, jika kau tidak ingin mendapatkan masalah sebaiknya kau segera tanggung jawab!" ucap Juan lalu mengajak Jane memasuki mobil, meninggalkan Pria itu.


"Sial, baru akan mendapatkan mangsa bodoh malah gagal!" umpat pria itu setelah mobil yang Ia tabrak melaju meninggalkannya.


Sementara didalam mobil, Jane terlihat kagum pada Juan.


"Kau hebat sekali, bisa membuat pria itu ketakutan!"


Juan tersenyum, "Bukan hal yang sulit, sangat mudah dilakukan."


"Jadi kau asisten suaminya Amina?"


Juan mengangguk,


"Hebat." puji Jane lagi.


"Kau ingin diantar kemana?" tanya Juan.


"Motorku ada dirumahnya Tuanmu, kau bisa mengantarku kesana."


Juan mengangguk paham, "Kita akan melewati bengkel, apa tidak masalah jika kita mampir sebentar?"


Jane mengangguk, "Tidak masalah."


"Aku justru senang bisa berlama lama denganmu pria tampan." batin Jane senang.


Juan dan Jane mulai akrab, mereka menunggu mobil diservice sambil membicarakan banyak hal.


Setelah selesai, mereka kembali ke mobil dan Juan mengantar Jane mengambil motornya.


"Apa kau sudah beristri?" tanya Jane pada Juan saat mereka sudah sampai dirumah Alka.


Juan menggelengkan kepalanya, "Aku belum menikah."


Jane tersenyum senang, Ia merasa ada kesempatan untuk mendekati Juan.


"Tapi aku sudah memiliki tunangan."


Seketika senyum dibibir Jane pudar setelah mendengar pengakuan Juan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2