JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
29


__ADS_3

Saat jam pulang, Amina benar benar sudah ditunggu oleh rekannya yang akan mengajaknya menjenguk Kaka.


"Maaf ya aku tetep nggak bisa ikut, aku harus segera pulang." Amina merasa tak enak akhirnya menolak lagi namun Ia tak memiliki pilihan lain, Amina benar benar belum siap bertemu dengan Kaka.


"Yah, udah ditungguin lho ini malah nggak jadi."


"Maaf ya."


"Ya udahlah, aku duluan kalau gitu." kata Teman Amina yang langsung diangguki Amina.


Kini Amina bisa bernafas lega karena Ia tak harus menjenguk Kaka.


Amina bergegas pulang, hari masih sore masih banyak orang dan kendaraan lewat membuat Amina tak takut berjalan sendirian.


Amina melihat ke belakang, tidak ada mobil yang mengikutinya, Ia pikir Alka akan mengikutinya dan memaksa mengantar pulang lagi namun sepertinya Alka masih sibuk dengan pekerjaan nya jadi tidak bisa mengantar Amina pulang.


"Lebih baik seperti ini dari pada diantar setiap hari malah membuatku berharap lebih pada Pak Alka." batin Amina terus melangkahkan kakinya.


Jarak kantor menuju rumah Amina tidak terlalu jauh bisa ditempuh dengan berjalan kaki.


Saat Amina sampai digang masuk, Amina mendengar klakson mobil dibelakangnya membuat Amina terkejut dan menghentikan langkahnya.


Amina berbalik dan ternyata itu mobil Alka.


Alka membuka kaca mobil dan menatapnya dingin, "Masuk!" pinta Alka.


Tak ingin membuat Alka kesal, Amina menuruti perintah Alka memasuki mobil Alka.


"Ada apa Pak?"


"Bukankah tadi aku mengatakan padamu untuk menungguku, kau malah nekat pulang tanpa berpamitan padaku!" Alka menatap Amina kesal.


"Ma maaf pak, tadi saya lihat Bapak sibuk lagipula jalanan masih ramai tidak akan ada lagi orang jahat seperti semalam."


"Aku tidak peduli jalanan ramai atau tidak, jika aku meminta kau harus menunggu, kau harus menungguku!"


"Baiklah pak, maafkan saya." Amina tertunduk lemas, Ia merasa seperti penjahat yang tertangkap.


Alka segera melajukan mobilnya membuat Amina terkejut, "Kita mau kemana pak?"


"Memberi hukuman untukmu!"


Amina menatap Alka tak percaya, hanya karena Ia pulang tak pamit saja membuatnya harus mendapatkan hukuman dan lagi hukuman seperti apa yang akan Alka berikan padanya?


Amina menyilangkan kedua tangannya tetap didada, "Pak... Jangan-"


"Kau pikir aku akan memperkosamu!" potong Alka heran melihat tingkah Amina.


Pipi Amina tersipu malu, akibat Ia sering menonton drama percintaan membuatnya berpikiran kotor, Ia pikir Alka akan mengajaknya kehotel lalu memberikan hukuman disana, oh tidak seharusnya kepala Amina dipukul keras agar pikirannya lebih waras.


"Saya tidak berpikiran seperti itu." elak Amina.


"Lalu kenapa kau menutupi dada kecilmu itu?"


"Haa kecil?" Amina menatap Alka tak terima.


"Memang kecil kan, seperti telur dadar." ejek Alka sambil tersenyum.


"Tidak kecil!" protes Amina.

__ADS_1


"Coba ku lihat jika memang tidak kecil."


Seketika pipi Amina memerah malu mendengar ucapan Alka.


"Dasar pak Alka mesum." omelnya membuat Alka tertawa puas.


"Jika kau tidak berani membukanya berarti memang kecil." celetuk Alka masih tidak ingin berhenti.


"Terserah pak Alka saja." Amina memalingkan wajahnya, menatap ke arah luar menyembunyikan raut wajah merah serta jantung yang berdegup kencang.


Alka masih tersenyum geli, entah mengapa menggoda Amina sangat menyenangkan.


Alka menghentikan mobilnya disebuah resort. restoran yang tidak hanya menyajikan makanan namun juga pemandangan indah juga kamar untuk menginap.


"Kenapa kita kesini pak?"


"Tentu saja untuk makan, apa kau lupa kau masih punya tanggung jawab."


"Tanggung jawab?" Amina tak mengerti apa yang Alka maksud.


"Kau harus menyuapiku makan malam jadi aku membawamu kesini, kita akan bersantai sambil menunggu makan malam tiba."


"Tapi pak, tangan Bapak terlihat sudah baik baik saja, Bapak bahkan bisa mengemudi sampai kesini."


"Aku menahannya sedari tadi, apa kau tidak mempercayaiku?" Alka mendengus sebal membuat Amina terdiam.


"Maaf pak, maksud saya bukan begitu."


"kalau memang kau ingin lepas tanggung jawab tidak masalah, ku antar pulang sekarang!"


"Eh jangan pak, saya mau kok iya saya mau." Amina akhirnya pasrah dengan permintaan Alka.


"Aku ingin susu hangat." pinta Alka sambil menatap dada Amina dengan tatapan nakal membuat Amina langsung menutup dadanya.


Pelayan wanita yang membawa buku menu pun tersenyum melihat tingkah Amina dan Alka.


"Dan jangan lupa pisang gorengnya." Alka tersenyum ke arah pelayan wanita itu.


"Dasar genit." batin Amina sebal.


"Nona mau pesan apa?" tawar pelayan wanita itu pada Amina.


"Aku teh hangat saja."


"Baiklah, tunggu sebentar saya siapkan pesanannya." pamit pelayan itu meninggalkan meja Alka dan Amina.


"Apa yang kau tutupi? Aku bahkan tidak akan tergoda." cibir Alka melihat Amina masih menutupi dada dengan kedua tangannya.


"Saya hanya ingin memeluk diri saya sendiri." balas Amina acuh.


Alka malah tertawa, "Memeluk telur dadarmu itu tidak akan terasa." ejek Alka.


"Berhenti mengejek milik saya Pak!" Amina akhirnya meluapkan kekesalannya.


"Aku tidak mengejek, memang benar kan?"


"Tentu saja tidak!"


"Coba kulihat."

__ADS_1


"Baiklah." Amina membuka 2 kancing paling atas membuat Alka melotot tak percaya.


Alka segera berdiri, melepas jasnya untuk menutupi bagian dada Amina.


"Kau gila, disini banyak pria. Mereka akan melihat ke arahmu!" sentak Alka.


Amina hanya mengedikan bahunya, "Mereka tidak akan tergoda dengan milik saya yang kecil ini pak." balas Amina santai.


"Dasar gila!" Alka tak habis pikir, tadinya Ia hanya bercanda namun Amina malah menanggapi serius.


Amina cuek, Ia kembali menutup kancing bajunya dan mengembalikan jas milik Alka.


Pesanan tiba, Alka dan Amina mulai menikmati minuman mereka.


Sesekali Alka melirik ke arah Amina yang masih acuh.


"Kau tidak suka minum susu?" tanya Alka asal karena bibirnya gatal jika hanya diam saja saat bersama Amina.


"Tidak, lagipula aku sudah memilikinya." entah apa yang merasuki Amina hingga mengucapkan hal seperti itu dengan santainya.


"Oh ya, seharusnya kau tetap minum susu agar lebih berisi." Alka tersenyum nakal.


Amina memutar bola matanya malas, kembali mengabaikan Alka.


"Kau mulai berani sekarang huh?"


Amina berdecak, "Bapak yang memulainya!"


"Bisakah kau tidak memanggilku Bapak saat sedang diluar?"


"Lalu aku harus memanggil apa? Om?" Amina tersenyum mengejek.


"Kau benar benar mulai berani ya." Alka berdiri dan mendekati Amina.


"Bapak mau apa?" Amina mulai takut.


Alka tersenyum nakal, "Mengajakmu ke kamar." Alka menunjuk ke arah penginapan.


Mata Amina melotot tak percaya, "Jangan gila pak."


Amina benar benar takut saat ini namun Alka malah tertawa.


"Wajahmu pucat, apa kau takut huh?"


"Kita pulang saja jika Bapak seperti itu." pinta Amina.


"Kita tidak akan pulang sebelum makan malam!"


"Ya sudah saya pulang sekarang naik taksi." Amina berdiri dan hendak pergi namun Alka menahan tangannya.


"Kita makan malam dulu setelah itu ku antar pulang."


Amina kembali duduk dan tersenyum penuh kemenangan.


"Sial, kenapa aku jadi kalah seperti ini." batin Alka kembali duduk ditempatnya.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komenn yaaa

__ADS_1


__ADS_2