
Karsa baru saja pulang dari rumah Pak RT, ada beberapa hal yang harus Ia urus disana. Ia langsung pergi ke dapur, membuka tudung saji dan melihat tidak ada apapun disana.
"Apa dia masih dikamar?" batin Karsa segera menghampiri Wina yang masih dikamar.
Karsa berdecak karena pintu kamar masih terkunci, "Ck, sudah hampir setengah hari dan dia masih tidak keluar!"
Karsa kembali ke dapur, Ia memasak sendiri untuk makan malamnya karena tahu mungkin Wina tak akan keluar semalaman.
Mie rebus andalan Karsa saat Wina tak memasak untuknya.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Karsa menghabiskan mie instannya. Selesai makan, Karsa pergi keruang kerjanya namun langkahnya terhenti kala melihat Wina keluar dari kamar.
"Mama lapar? mau dipesenin makanan?" tawar Karsa.
Wina mengabaikan Karsa, Ia bahkan tak menatap ke arah Karsa, melewatinya begitu saja.
Karsa berdecak, "Kau ini kesal dengan Alka lalu kenapa aku juga kena!" sentak Karsa membuat Wina menghentikan langkahnya.
"Karena Papa membela Alka, seharusnya Papa tidak membiarkan Alka bersama gadis itu!" Wina tak mau kalah.
"Karena itu pilihan Alka, Papa tidak akan melarang, tidak bisakah kita percaya pada pilihan Alka?"
Wina menggelengkan kepalanya, "Tidak Pa, Mama tidak mau Alka menikah dengan gadis dibawah standar kita, apa kata temen temen Mama kalau sampai mereka tahu Alka menikah dengan gadis biasa!"
"Astaga Ma... Ingat Ma... Sadar... jangan berkumpul dengan orang orang seperti itu. Apa Mama lupa jika Mama dulu juga orang yang sama seperti Amina?"
Wina terdiam, Ia ingat sungguh ingat. Ia dulu hanyalah seorang pembantu yang disukai oleh anak majikannya, Karsa.
Wina pun juga mengalami hal yang sama, ditentang oleh keluarga besar Karsa namun Karsa begitu ingin bersamanya dan memperjuangkan cinta mereka hingga kini mereka akhirnya bersama sampai sekarang.
"Mama berubah, dulu Mama orang baik yang selalu rendah hati, tidak pernah menghina siapapun tapi setelah Mama berkumpul dengan geng sosialita, Mama berubah.
Apa Mama tidak sadar?"
Wina terlihat menunduk, tak berani menatap Karsa seperti tadi.
Karsa mendekat, membawa Wina ke dalam pelukannya dan mengelus kepala Wina penuh sayang, "Alka putra satu satunya kita Ma... Selama ini dia tidak pernah merepotkan kita masalah apapun, Alka mandiri bahkan memiliki banyak perusahaan sendiri. Apapun yang dia pilih pasti yang terbaik untuknya, jadi please jangan membuatnya merasa sulit karena sikap Mama yang seperti ini."
Tes... Tes... Tes...
Air mata Wina berjatuhan membasahi baju Karsa.
"Mama orang jahat ya Pa, udah jadi orang jahat." ucap Wina dengan suara serak.
"Tidak Ma, masih belum terlambat untuk berubah menjadi lebih baik lagi.
Mulai sekarang, jangan lagi datang ke geng sosialita Mama, Papa nggak mau Mama ikut ikutan mereka, Papa mau Mama kayak dulu lagi, jadi istri yang baik dan selalu memikirkan keluarga."
Wina mengangguk, "Maafkan kesalahan Mama ya Pa."
__ADS_1
Karsa tersenyum, Ia mengangguk dan mempererat pelukannya.
Cukup lama mereka berpelukan hingga Wina melepaskan pelukannya lebih dulu, "Mama mau telepon Alka dan minta mereka kesini lagi."
Karsa mengangguk setuju, "Terima kasih Ma... Sudah mau mengerti."
...****************...
Lily baru saja selesai mandi, saat ini Ia hanya mengenakan dress satin pendek yang melekat dan begitu seksi. Rasanya sedikit gerah karena memang tidak ada Ac dikosnya.
Lily keluar dari kamar mandi, Ia menyalakan kompor untuk menghangatkan lauk yang Ia beli diwarung depan.
Suit suit...
Lily merasa mendengar suara siulan seseorang, Ia berbalik dan terkejut melihat ada pria duduk diranjangnya, menatap nakal ke arahnya, pria yang tak lain adalah Juan, bosnya dikantor.
Aaa.... Lily menjerit dan kembali memasuki kamar mandi.
"Dasar pria gila! Apa yang dia lakukan disini dan bagaimana dia bisa masuk kesini!"
Lily merasa yakin jika Ia tadi sudah mengunci pintu depan tapi kenapa Juan bisa masuk ke kosnya.
Lily mengenakan jubah mandi untuk menutupi lekuk tubuhnya, Ia segera keluar dan menghampiri Juan yang masih duduk di ranjangnya.
"Pria gila, bagaimana kau bisa masuk kesini!"
"Mudah saja untuk ku, aku meminta kunci cadangan pada Ibu kosmu." balas Juan santai.
Benar benar tidak bisa dibiarkan,
"Mau kemana baby?" tanya Juan yang membuat Lily merasa mual mendengarnya.
"Tentu saja aku harus protes pada Ibu kosku, bagaimana bisa dia memberikan kunci cadangan pada pria gila sepertimu!"
Juan tersenyum, Ia menarik lengan Lily hingga Lily jatuh ke pangkuannya.
"Aaa... lepaskan aku!" teriak Lily.
Juan tak melepaskan Lily, Ia justru semakin mempererat pelukannya.
"Pria gila kurang ajar!" Lily memberontak namun percuma saja karena tenaga Juan lebih kuat dari tenaganya.
Lily akhirnya tenang, tidak lagi melawan Juan.
"Sudah hmm?" tanya Juan santai.
Juan akhirnya melepaskan Lily, "Mana makan malamku?" tanya Juan.
"Tidak ada apapun disini, lebih baik kau pulang!"
__ADS_1
"Aku tidak akan pulang sebelum makan malam."
"Kau benar benar gila dan tak tahu malu!"
Lily pergi ke dapur, Ia menyiapkan dua porsi makanan untuknya dan Juan.
Kali ini Lily akan mengalah agar Juan bisa segera keluar dari Kosnya.
Bersama Juan lama lama membuatnya gila, apalagi jantungnya sedari tadi berdegup sangat kencang.
"Ini masakanmu?"
"Tidak, aku membelinya di warung depan."
Juan berdecak, "Aku ingin makan masakanmu bukan makanan yang kau beli."
Lily menatap tajam Juan, "Setidaknya jangan merepotkan, sudah makan saja!"
"Tidak mau!"
"Astaga pak! Kau benar benar membuatku stres." kesal Lily.
"Stres dan jatuh cinta." ucap Juan lalu mengedipkan matanya.
Lily menggelengkan matanya tak percaya, "Pak, disini tidak ada bahan makanan yang bisa ku olah jadi bisakah kau pergi saja jika tidak mau makan?" Suara Lily dibuat selembut mungkin agar Juan mau mengerti.
Juan menunjuk ke arah Paper bag berisi sayuran dan daging mentah "Aku sudah membeli banyak bahan makanan untukmu, ayo masak sekarang!"
"Gila, kau benar benar merepotkan!"
Lily mengambil bahan makanan yang dibelikan oleh Juan. Ia membawa ke dapur dan memilih milih bahan untuk Ia olah. Beruntung Ia bisa memasak.
Lily memasak cap cay untuk Juan.
"Makan dan segera pergi!"
Juan mengangguk, Ia mencicipi masakan Lily lalu mengangguk senang, "Rasanya enak."
Juan makan dengan lahapnya, Lily yang melihat hanya bisa menggelengkan kepalanya, "Bapak tidak makan berapa hari?"
"Benar benar sesuai seleraku, aku sangat yakin sekarang."
Lily mengerutkan keningnya tak mengerti, Ia bertanya apa dan Juan menjawab apa.
"Yakin apa pak?"
"Yakin untuk menjadikanmu istri."
Bersambung...
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komenn