
Alka menatap tajam ke arah pria yang baru saja memanggil Amina.
Pria yang baru siang tadi Ia lihat didepan kampus sedang menahan lengan Amina saat Amina berjalan keluar kampus, pria yang tak lain adalah Brian.
"Yeahh, kita bertemu lagi." Dengan santainya Brian duduk disamping Amina, tak memperdulikan Alka yang masih menatap tajam ke arahnya.
Amina tersenyum kikkuk, jujur Ia tak tahu apa yang harus dia lakukan.
disatu sisi Ia melihat Alka sangat marah disisi lain Brian teman kampus yang sudah membantunya pagi tadi, Amina benar benar tak tahu harus bersikap bagaimana saat ini.
"Tadi aku ingin mengajakmu makan siang dan kau bilang sibuk tapi kita malah bertemu disini." celetuk Brian sama sekali tidak sungkan ataupun mengubris keberadaan Alka.
Alka yang merasa geram akhirnya membuka suara, "Apa kau tidak malu?"
Brian menatap Alka keheranan, "Siapa kau, maaf aku bahkan tidak melihat jika Amina bersama dengan orang lain karena aku terlalu fokus dengan Amina."
"Dia ini ca-"
"Aku suaminya." potong Alka sebelum Amina menyelesaikan ucapannya.
"Suami? Kau sudah memiliki suami?" tanya Brian pada Amina, memastikan.
Amina mengangguk, meskipun dirinya belum menikah namun lebih baik saat ini Ia menuruti ucapan Alka melihat mood Alka sedang buruk saat ini.
"Astaga, kau bahkan tidak bilang jika sudah memiliki suami, maafkan aku." kata Brian terlihat malu dan merasa bersalah.
"Janga berani mendekati istriku lagi atau kau akan ku laporkan ke polisi!" ancam Alka yang langsung diangguki Brian.
Brian segera pindah ke tempat lain, mencari tempat duduk yang sedikit jauh dari Amina.
Setelah Brian pergi, keduanya melanjutkan makan baksonya.
Alka menyodorkan sambal yang tadi Ia jauhkan dari Amina, "Kau bilang sambalnya kurang kan? Tambah 5 sendok mungkin rasanya akan lebih nikmat."
Amina menghela nafas panjang, mendengar ucapan Alka sudah dipastikan jika Alka sangat marah saat ini.
Amina menuruti Alka, menambahkan 5 sendok sambal ke baksonya. Ia tak takut jika perutnya akan meledak toh dirinya juga sangat doyan sambal dan selama ini Ia baik baik saja saat makan banyak sambal.
Melihat Amina benar benar menuangkan 5 sendok sambal tentu membuat Alka semakin kesal.
Alka menukar baksonya dengan bakso Amina, "Apa kau ingin mati? Bisa bisanya kau menuruti ucapanku!"
Amina kembali menghela nafas panjang, "Jika tidak dituruti nanti Mas semakin marah, lagipula saya juga sudah biasa makan sambal." ungkap Amina ingin kembali merebut baksonya namun Alka menahan mangkuknya.
"Makan milik ku dan aku akan pesan lagi." Alka berdiri dan kembali memesan bakso sementara Amina yang sudah kelaparan pun langsung melahap bakso milik Alka yang tidak pedas sama sekali.
Alka kembali, matanya masih menatap tajam Amina.
__ADS_1
"Aku tidak menggodanya, aku sama sekali tidak mendekatinya. Dia yang membantuku mencari ruangan dosen dan setelah itu dia merasa aku ini temannya." jelas Amina tak ingin Alka salah paham.
"Mulai besok jika ada yang mendekatimu, kau harus mengatakan jika sudah menikah." pinta Alka.
"Baiklah."
Pesanan bakso Alka pun datang dan akhirnya mereka bisa makan dengan tenang.
Selesai makan bakso, Amina dan Alka kembali ke kantor untuk mengambil barang barang Amina yang tertinggal disana.
"Lusa kita akan kerumahku untuk meminta restu, setelah itu aku akan menikah." kata Alka.
Amina mengangguk, Ia tak menyangka jika Alka benar benar serius padanya dan ingin menikah secepat itu.
Tadinya Amina pikir mereka akan bertunangan lebih dulu hingga Amina sarjana namun ternyata, Alka langsung mengajaknya menikah.
"Pikirkan saja kau ingin pernikahan yang seperti apa, aku akan mempersiapkan untukmu." kata Alka lagi.
"Pernikahan seperti apa?" Amina terlihat tak mengerti.
"Biasanya wanita ingin pesta pernikahan yang mewah dan mengenakan gaun princess, apa kau tidak ingin seperti itu?" tanya Alka.
Amina menggelengkan kepalanya, Jujur Ia tak pernah memikirkan konsep pernikahan yang mewah seperti itu. Ia cukup menyadari kondisi ekonominya sulit jadi Ia tak pernah berangan angan lebih untuk masalah pernikahan. cukup acara sederhana yang penting sah dimata agama dan negara.
"Saya tidak pernah memikirkan konsep pernikahan seperti itu mas, menurut saja bisa sah di mata Agama dan negara saja sudah cukup."
Sebelum dengan Amina maupun Sarah, Alka sempat dekat dengan beberapa gadis, menjalin hubungan serius, mereka selalu ingin pernikahan yang mewah maka dari itu Alka cukup terkejut dengan permintaan sederhana Amina.
"Apa kau yakin ingin pernikahan hanya seperti itu?"
Amina mengangguk lalu tersenyum membuat Alka langsung menghentikan mobilnya. Entah mengapa Ia merasa gemas melihat Amina saat ini, rasa kesalnya pada Amina pun ikut hilang.
"Kok berhenti disini mas?"
"Aku ingin memelukmu."
Tanpa menunggu persetujuan dari Amina, Alka menarik lengan Amina agar mendekat dan Ia langsung memeluk Amina.
"Hmm, nyaman sekali." gumam Alka.
Amina tersenyum, Ia ikut memeluk Alka dan menikmatinya.
Cukup lama mereka berpelukan hingga Alka melepaskan pelukannya.
Alka menatap wajah Amina, mengelus pipi Amina. Awalnya Ia hanya mencium pipi dan bibir Amina namun semakin lama, Alka malah ******* bibir Amina.
Tidak ada perlawanan dari Amina. Amina terlihat menerima setiap perlakuan Alka.
__ADS_1
"Manis, kenapa bibirmu sangat manis?" puji Alka sambil mengusapi bibir Amina.
"Saya tidak tahu."
"Apa kau memberi gula di bibirmu?"
Amina tertawa geli, "Mana bisa seperti itu."
"Aku masih ingin menciumnya." pinta Alka dengan suara serak, terdengar seksi ditelinga Amina.
Amina hanya mengangguk dan Alka kembali mencium bibir Amina.
Semakin lama, semakin memburu tangan Alka pun mulai nakal mengerayangi tubuh Amina.
Tok tok tok... Suara ketukan mobil mengejutkan keduanya.
"Woy jangan mesum disini!" teriak beberapa orang diluar.
"Kita digrebek mas." Amina terlihat pucat dan ketakutan.
Alka berdecak, "Sial, menganggu saja."
Alka keluar dari mobil, melihat ada 3 pria yang kini mengelilinginya.
"Jangan mesum disini!" kata salah seorang pria terlihat marah dan kesal.
"Memang siapa yang mesum?" Alka santai menanggapi ketiga pria itu.
"Kau berciuman dengan gadis yang ada didalam!"
Alka berdecak, "Apa kalian butuh uang?"
Ketiga pria itu terlihat diam.
Alka segera membuka dompetnya lalu memberikan masing masing 2 lembar uang ratusan.
"Jangan pernah menganggu privasi orang selama orang itu tidak menganggu kalian," ucap Alka lalu kembali memasuki mobil.
"Mas diapain sama mereka?" tanya Amina dengan raut wajah khawatir.
"Nggak di apa apain, hanya beberapa orang yang butuh uang."
Alka memandang Amina sejenak, Ia ingin kembali mencium Amina namun melihat raut khawatir Amina membuat Alka mengurungkan niatnya.
"Menyebalkan!" umpat Alka lalu kembali melajukan mobilnya.
Bersambung...
__ADS_1
Jgn lupa like vote dan komeen yaa