JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
52


__ADS_3

Setelah beberapa hari berada diluar kota untuk perjalanan bisnis. Hari ini Karsa tiba dirumah. Ia ingin menghabiskan waktu untuk istirahat dirumah bersama istrinya.


KUBILANG TIDAK!


Suara keras Wina istrinya mengejutkan Karsa yang sedang menikmati cemilan pisang goreng buatan istrinya.


Karsa beranjak dari duduknya, Ia segera keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi.


Karsa melihat mobil Alka, menandakan jika Alka pulang hari ini.


"Ada apa Ma?" tanya Karsa merangkul pundak istrinya.


"Papa lihat, Alka membawa pulang perempuan." ucap Wina dengan emosi memburu.


"Bagus Ma, bukankah itu yang selama ini Mama inginkan." ucap Karsa pada istrinya.


"Tapi lihat siapa perempuan itu!" Wina menunjuk ke arah Amina dan barulah Karsa sadar jika Alka pulang bersama Amina, anak dari Bik Surti mantan asisten rumah tangganya.


"Amina..." gumam Karsa.


"Pa, Ma... Ayo masuk biar Alka jelaskan semuanya." ajak Alka.


"Tidak, Mama tidak akan mendengar apapun. Jika kau datang ingin mengatakan hubunganmu dengan gadis ini, tidak Alka, Mama tidak akan mendengar apapun."


"Ma... Please."


"Cukup Sarah Alka, jangan mencari gadis yang tidak sesuai dengan keluarga kita!" ucap Wina yang membuat Amina merasa sangat sakit hati. Mata Amina mulai berkaca, ingin menangis saat itu juga namun Ia tahan, Ia harus menahan diri agar tidak terlihat lemah.


"Ma... Beri Amina kesempatan untuk membuktikan jika Amina terbaik untuk Alka." pinta Alka sedikit memohon.


"TIDAK, KU BILANG TIDAK!" teriak Wina lalu pergi masuk kerumah.


"Pa..." Alka menatap Karsa dengan tatapan memohon.


Karsa menghela nafas panjang, "Kalian pulanglah lebih dulu, biar Papa yang bicara dengan Mama mu."


"Tapi Papa merestui kami kan?" tanya Alka penuh harap.


Karsa memandang Amina sejenak lalu Ia tersenyum dan mengangguk,


"Terima kasih Pa... Terima kasih banyak." ucap Alka lalu mencium punggung tangan Karsa.


Alka mengajak Amina memasuki mobil sementara Karsa masuk kerumah dan langsung mencari keberadaan istrinya.


Karsa sampai didepan pintu kamar, Ia membuka pintu namun sayang malah terkunci membuat Karsa terpaksa mengetuk pintu kamar, "Ma... Buka Ma, Papa mau bicara." ucap Karsa namun tak mendapat sahutan dari Wina.


Karsa tak menyerah, Ia mencoba memanggil sekali lagi dan masih tidak mendapat respon dari Wina.


Karsa menghela nafas panjang, Ia akhirnya menyerah, tak lagi mengetuk pintu. mungkin Wina membutuhkan waktu untuk berfikir dan menenangkan diri pikir Karsa.


Sementara didalam mobil, Amina hanya diam saja tak mengatakan apapun pada Alka.


"Aku tahu kau pasti sakit hati karena sikap Mama, tapi aku minta bersabarlah sedikit lagi. Aku ingin kita sama sama berjuang sampai akhir."


Amina menghela nafas panjang, "Lalu bagaimana jika Mama tetap tidak memberi restu?"

__ADS_1


"Kita akan tetap menikah meskipun tanpa restu Mama."


Amina menggelengkan kepalanya tak setuju, "Aku tidak mau mas, aku akan bersabar menunggu restu dari Mama."


Alka tersenyum lega, "Aku harap kamu tidak berubah sayang." ucap Alka sambil mengelus kepala Amina.


Alka menghentikan mobilnya disebuah resort untuk makan sekaligus istirahat.


"Apa mas akan menginap?" tanya Amina saat keduanya sedang bersantai, duduk sambil menikmati cemilan dan minuman hangat.


"Bagaimana jika kita menginap?" Alka meminta persetujuan dari Amina padahal biasanya Ia akan memutuskan sendiri.


"Terserah mas saja."


"Oke kita menginap." Alka tersenyum memperlihatkan gigi rapinya.


"Perjalanan jauh, mas pasti kelelahan." ungkap Amina.


"Lalu apa kau akan memijitku jika aku kelelahan?"


"TIDAK!" balas Amina tegas yang membuat Alka langsung tertawa.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa."


Amian tersenyum, Ia merasa banyak hal yang berubah dari Alka.


Alka sering bersikap lembut dan jarang memaksanya lagi.


"Mas, bagaimana kalau kita benar benar tidak mendapatkan restu Mama?" tanya Amina kembali khawatir.


"Apa kau masih khawatir?" tanya Alka.


Amina mengangguk,


"Tidak perlu mengkhawatirkan apapun, semua akan berjalan seperti apa yang kita inginkan."


Amina terdiam cukup lama sebelum akhirnya Ia bertanya, "Kenapa Mas mau menikahi ku? Padahal masih banyak gadis diluar sana yang lebih baik dan lebih memiliki segalanya dariku."


"Karena aku mencintamu, entah sejak kapan aku merasakan itu."


Pipi Amina langsung saja merona mendengar ucapan Alka membuat Alka tertawa.


"Apa kau akan selalu bersikap mengemaskan seperti ini?" Alka mencubit pipi Amina yang memerah.


"Aku tidak terbiasa mendengar ini jadi..."


"Baiklah, aku akan membuatmu terbiasa dalam segala hal bersamaku."


Amina tersenyum, Ia bahagia ya Ia sangat bahagia saat ini bersama Alka.


"Mas Alka..." Suara seseorang membuat keduanya berbalik dan melihat ke arah suara.


"Rania...." Alka dan Amian mengucap bersamaan. Rania segera menundukan kepalanya, tak lagi menatap Rania yang pernah menipunya.


"Mas ngapain kesini sama.... Anak pembantu ini?" tanya Rania dengan nada menghina.

__ADS_1


"Apapun yang mas lakuin nggak ada urusannya sama kamu!" ketus Alka.


"Jangan jangan kalian pacaran ya?" tebak Rania.


Baik Alka maupun Amina hanya diam, tak menjawab ucapan Rania.


Rania bahkan melihat cincin yang melingkar dijari manis Amina.


"Mas waras kan? Serius sama Ini? astaga mas, kalau mau cari jodoh kenapa nggak cari yang standar sih." ucap Rania sambil tertawa.


"Shut up Rania!" Alka mulai terpancing emosi, "Lebih baik kamu pergi!"


Rania hanya mengendikan bahunya, masih tak mau pergi.


"Memang kalau sama aku kenapa Ran?" tanya Amina menatap Rania dengan tatapan kesal.


"Masih nanya? Lo sadar nggak kalau Lo anak pembantu?" ejek Rania.


Amina tersenyum, "Lebih baik aku anak pembantu tapi apa adanya dari pada kamu, anak orang kaya mau apa apa tapi harus nipu orang." balas Amina tak mau kalah.


Alka tersenyum senang melihat keberanian Amina.


"Maksud Lo apa!" Rania emosi dan tak terima karena saat ini Rania sedang bersama kekasihnya, Ia tak mau kalah didepan Amina.


"Ponsel kamu yang aku jatuhin itu bukan iphone kan? Tapi kamu minta iphone, apa namanya kalau bukan nipu?"


Wajah Rania mulai memerah, Ia merasa sedang di kuliti oleh Amina saat ini.


"Ponsel gue emang Iphone."


"Tante belum pernah beliin kamu ponsel Iphone Ran, apa aku harus telepon tante buat tanya ponsel kamu apa?" Alka ikut membantu Amina.


"Mas Alka!" Rania menatap Alka kesal karena tak mau membantunya.


"Bener apa yang mereka katakan yank? Kamu nipu?" kekasih Rania menatap curiga.


"Apa kamu lebih percaya mereka dari pada aku?" Rania masih membela diri.


"Aku ada buktinya kok." ucap Amina mengeluarkan sesuatu didalam tasnya.


Secarik kertas lusuh dimana ada tulisan tangan Rania yang menuliskan nama mereka ponsel yang waktu itu diminta oleh Rania.


Amina memberikan kertas itu pada pacar Rania, "Ini tulisan tangan Rania, waktu itu aku nggak tahu nama ponsel Rania jadi dia nulis itu."


"Gila kamu." umpat Pacar Rania lalu meninggalkan Rania begitu saja.


Rania terlihat panik, Ia menatap tajam ke arah Alka dan Amina.


"Kalian bener bener jahat, lihat saja aku bakal bales perbuatan kalian!" ancam Rania lalu pergi mengejar kekasihnya.


Alka tertawa, "Lah dia sendiri yang jahat, nggak nyadar malah nuduh orang lain."


Sementara Amina terlihat mengatur nafasnya, Ia tak menyangka bisa berani melawan Rania seperti tadi.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yaaa


__ADS_2