
Hari berganti hari, Amina kembali terbiasa bersama Alka lagi.
Apalagi Alka selalu bersikap baik dan lembut padanya.
Padahal tadinya Amina pindah kesini karena ingin menghindari Alka namun sekarang Ia malah kembali terbiasa bersama Alka lagi.
Setiap hari Alka mengantarnya pulang bahkan sering mampir kerumah dan makan malam bersama seadanya dirumah kontrakannya.
"Apa mungkin Den Alka suka sama kamu nduk?" satu pertanyaan yang keluar dari mulut Surti saat Alka baru saja pulang setelah mereka makan malam bersama.
"Tidak mungkin Bu, bukankah Pak Alka sudah memiliki kekasih? Mungkin karena kita pernah bekerja disana jadi Pak Alka baik dengan kita." balas Amina.
Surti terdiam cukup lama, Ia merasa tatapan Alka pada putrinya sangat aneh, tidak terlihat seperti atasan dan bawahan melainkan tatapannya terlihat seperti pria yang sangat mencintai wanitanya.
"Kamu suka sama Den Alka Nduk?"
Amina tentu saja terkejut mendengar Ibunya bertanya seperti itu.
"Tidak Bu, tentu saja tidak." elak Amina terlihat gugup.
Surti tersenyum, "Boleh kok suka tapi jangan terlalu berharap ya nduk takut malah sakit hati."
Amina mengangguk, "Iya bu, Mina juga sadar diri."
Setelah cukup lama Amina mengobrol dengan Ibunya, Ia akhirnya memasuki kamar untuk istirahat.
Amina berbaring diranjang tapi belum bisa memejamkan matanya.
Pikirannya melayang memikirkan Alka yang begitu baik padanya akhir akhir ini.
"Mungkin karena Kasihan padaku yang pernah ditipu oleh Rania jadi dia sangat baik padaku, ya pasti karena itu." gumam Amina meyakinkan dirinya sendiri karena Amina tidak ingin berharap lebih pada Alka.
...****************...
Hari ini Amina berangkat pagi karena pergantian shift dan Ia mendapatkan shift pagi.
Tepat pukul 6 pagi, Amina sudah sampai dikantor dan bersiap untuk bekerja.
Amina segera memgambil peralatan kerja dan memasuki ruangan Alka yang masih sepi dan kosong karena Alka belum datang.
Setelah Amina menyelesaikan pekerjaannya, barulah Alka datang.
Alka langsung tersenyum padanya dan Amina pun membalas senyuman Alka.
"Sudah ganti shift pagi ya?"
Amina mengangguk, "Bapak mau dibuatkan kopi?"
"Boleh, tapi.yang enak seperti biasanya."
Amina tersenyum, ingat beberapa hari yang lalu pernah membuatkan kopi pahit untuk Alka.
__ADS_1
Amina segera keluar dari ruangan Alka, berjalan menuju pantry yang kini sudah dipenuhi oleh teman temannya yang istirahat disana.
"Nah ini orangnya datang." ucap salah seorang rekan Amina membuat semua orang yang ada dipantry menatap ke arah Amina.
Amina mengerutkan keningnya heran, Ia merasa tak memiliki masalah dengan teman temannya.
Siska cleaning service tercantik berjalan mendekati Amina, "Lo pacaran sama Pak Alka?"
Amina tentu saja terkejut dengan pertanyaan Siska, segera Amina menggelengkan kepalanya.
"Ck, nggak usah bohong, semalam gue lihat Lo naik mobilnya pak Alka."
Deg... Jantung Amina serasa mau copot mendengar ucapan Siska. Bagaimana bisa Siska melihat dirinya menaiki mobil Pak Alka padahal Ia pulang paling akhir dan dijalanan pun terlihat sangat sepi.
"Ngaku deh Lo! Atau jangan jangan Lo jadi lacurnya Pak Alka ya?"
Dada Amina semakin sesak mendengar ucapan Siska yang semakin memojokan dirinya.
"Dari pada kamu nuduh aku kayak gitu mendingan sekarang kamu ikut aku ke ruangan Pak Alka, kita tanya aja sama Pak Alka hubungan aku sama Pak Alka tidak seperti yang kamu tuduhkan!" balas Amina berani membuat Siska terkejut.
"Sialan Lo!''
"Ayo kita ke ruangan Pak Alka sekalian aku ngantar kopi." ajak Amina membuat mata Siska melotot tak percaya.
"Udah sana ikut aja sama Amina biar tahu beneran pacaran apa nggak." celetuk salah seorang yang ada disana.
Siska melotot ke arah orang itu, menghentakan kakinya kesal lalu berjalan keluar pantry membuat Amina bernafas lega.
"Enggak kok, mana mau sih pak Alka sama aku."
Orang itu mengangguk setuju, "Iyalah, mestinya Pak Alka nyari cewek yang standar sosialnya sama kayak dia bukan kayak kita."
Amina tersenyum kecut, segera membuatkan kopi untuk Alka karena Ia yakin pasti Alka sudah menunggu kopinya.
Amina memasuki ruangan Alka kembali dan benar saja Alka langsung menatap heran ke arahnya, "Kok lama bikin kopinya?"
"Jalannya macet pak." canda Amina sambil tersenyum membuat Alka tertawa.
"Kalau tidak ada pekerjaan diluar, tolong bantu bersihkan ruangan itu." pinta Alka sambil menunjuk sebuah pintu yang belum pernah Amina masuki.
"Itu ruangan apa pak?"
"Hanya tempat untuk istirahat, bersihkan saja aku ingin menggunakan tempat itu mulai sekarang."
Amina mengangguk paham, Ia segera memasuki ruangan itu dan terkejut ternyata ruangan itu mirip kamar. Ada sebuah ranjang, lemari, sofa dan juga kamar mandi.
Amina baru tahu jika dikantor ada ruang pribadi seperti ini.
"Bagaimana?" suara Alka terdengar tepat dibelakang Amina berdiri membuat Amina terkejut dan langsung menghindari Alka.
"Bersihkan dan masukan barang barang yang ada dikoper itu ke dalam lemari, mungkin aku akan sering menginap disini mulai sekarang." perintah Alka.
__ADS_1
"Baik pak,"
Tak menunggu lama, Amina segera memasuki ruangan karena jujur terlalu dekat dengan Alka membuat jantungnya berdegup kencang dan gugup.
Alka tersenyum, rasanya senang sekali mengoda Amina, membuat kedua pipi Amina merona malu dan itu terlihat sangat mengemaskan dimatanya.
Alka belum beranjak dari tempatnya berdiri, Ia masih memandangi Amina yang sudah mulai membersihkan ranjang. Alka tahu jika Amina saat ini gugup karena Ia pandangi sedari tadi namun Alka memang sengaja melakukan itu, entah mengapa ini sangat menyenangkan untuk Alka hingga suara deheman seseorang dibelakangnya membuat Alka terkejut.
Alka berbalik dan langsung memasang wajah malas kala melihat Juan yang berdiri dibelakangnya.
"Apakah menyenangkan Tuan?" goda Juan.
Alka tak mengubris ucapan Juan, Ia melewati Juan dan kembali duduk dikursinya, "Apa yang kau lakukan disini?"
Juan tersenyum, "Apa Tuan lupa jika sekarang kita meeting?"
Alka berdecak karena Ia lupa hari ini ada jadwal meeting penting.
"Semua orang sudah menunggu diruang meeting dan Tuan malah asyik memandangi gadis itu."
"Aku hanya ingin melihat pekerjaannya bukan memandangi, berhentilah sok tahu!" kesal Alka.
Juan terkikik geli mendengar Alka begitu pandai menyangkal.
"Baiklah Tuan mari kita keruang meeting sekarang." ajak Juan.
Alka mengangguk, berjalan lebih dulu melewati Juan menuju ruang meeting.
Alka pikir meeting pagi ini akan segera berakhir namun ternyata banyak hal yang harus dibahas hingga sore hari Alka baru selesai meeting.
"Sial, aku tak sadar ini sudah sore pantas saja perutku sangat lapar, aku belum makan siang." umpat Alka berjalan memasuki ruangannya.
Alka menghubungi bagian pantry agar memanggilkan Amina untuknya, Alka ingin Amina membelikan makanan untuknya.
"Amina belum kembali lagi sedari tadi setelah mengantar kopi Bapak."
Alka mengerutkan keningnya heran mendengar jawaban bagian pantry yang Ia hubungi.
Dan mata Alka langsung tertuju keruang pribadinya, Ia segera beranjak dari duduknya berjalan membuka pintu ruang pribadinya.
Alka langsung mengulas senyuman indahnya saat Ia melihat Amina berbaring diranjangnya dengan mata terpejam.
Alka melihat seluruh ruangan sudah bersih dan rapi.
Alka mengambil selimut lalu menyelimuti tubuh Amina, Ia memandangi wajah Amina,
"Bagaimana bisa kau begitu cantik bahkan saat terlelap seperti ini." gumam Alka lalu tersenyum.
Bersambung...
Komen yukk komenn biar tambah semangat nulis hehe
__ADS_1