
Pagi ini Amina berangkat ke kampus dari rumah Alka. Semalam Alka tidak memperbolehkannya pulang jadi Amina menginap disana.
"Nanti ada orang yang mengawasimu, jangan takut lagi," ucap Alka sebelum Amina keluar dari mobil.
Amina menganggukan kepalanya, "Terima kasih untuk baju barunya mas." ucap Amina karena pagi tadi Alka meminta Juan membelikan baju ganti untuk Amina ke kampus.
Alka tersenyum, mengelus kepala Amina lalu mencium keningnya, "Jangan nakal sayang."
Amina ikut tersenyum lalu keluar dari mobil Alka.
Amina berjalan memasuku gerbang kampus, Ia segera pergi ke kelas. Amina melihat sudah ada Brian disana.
"Pagi cantik." sapa Brian yang kini sudah duduk disamping Amina.
Amina hanya tersenyum menanggapi sapaan Brian. Seperti yang Alka katakan padanya jika Amina tidak boleh terlihat takut didepan Brian.
"Bajumu baru ya? Terlihat sangat cantik kau pakai."
"Bagaimana bisa dia tahu kalau bajuku baru," batin Amina.
"Nanti makan siang bareng yuk." ajak Brian sengaja menyentuh tangan Amina namun dengan cepat Amina menghindar.
"Maaf, biasanya aku makan bersama suamiku." tolak Amina.
Brian berdecak, "Anggap saja aku ini suamimu."
Amina hanya diam, beruntung dosen sudah memasuki kelas jadi Brian segera pindah dari sampingnya.
Selesai kelas, Amina buru buru pergi ke perpustakaan karena ingin menghindari Brian.
Satu jam lamanya Amina berada diperpustakaan namun tidak ada tanda tanda Brian menyusul dan itu membuat Amina tenang.
Amina beranjak dari perpustakaan, Ia ingin pergi ke toilet untuk buang air kecil.
"Toiletnya mampet, pergilah ke toilet samping gudang." ucap Cleaning Service yang sedang membersihkan toilet.
"Belakang gudang sebelah mana ya mbak?" tanya Amina dengan sopan karena Ia masih belum tahu tata letak dikampus ini.
"Lurus saja sampai pojokan."
Amina mengangguk paham, tak lupa mengucapkan terima kasih sebelum pergi.
Kini Amina sudah sampai didepan toilet, terlihat sepi dan sedikit menyeramkan. Hanya beberapa orang yang keluar masuk.
Amina segera masuk karena Ia sudah tidak tahan lagi. Selesai dengan hajatnya, Amina segera keluar dari toilet.
__ADS_1
Amina baru ingin kembali ke kelas namun mendengar suara aneh digudang samping toilet. Suaranya terdengar seperti rintihan membuat Amina penasaran dan ingin melihat suara siapa itu.
Amina memasuki gudang yang tidak berpintu itu karena pintunya sudah rusak. Ia berjalan mendekati ke arah suara hingga Amina terkejut melihat Brian sedang menindih seorang gadis dimatras tak terpakai. Amina yakin jika gadis itu juga salah satu mahasiswi dikampusnya.
"Pelankan suaramu baby." suara Brian terdengar disela sela permainan mereka.
Permainan yang tak asing untuk Amina karena Ia juga pernah melakukan bersama Alka.
"Ini sangat nikmat, rasanya aku ingin menjerit saat ini juga." ucap gadis yang berada dibawah Brian.
Gadis itu terlihat sangat menikmati, tidak merasakan sakit seperti yang Amina rasakan saat melakukan bersama Alka waktu itu.
Amina tak tahan melihat adegan yang membuat dirinya ikut berdesir itu.
"Gila, bagaimana bisa mereka melakukan itu dikampus." omel Amina sambil berlari menuju kelasnya, tak ingin Brian tahu jika Amina baru saja melihat adegan panas mereka.
Amina sudah berada dikelas, tak berapa lama Brian juga terlihat sudah masuk ke kelas. Pakaian Brian sudah rapi padahal saat Amina melihat digudang, Brian melepaskan celana panjangnya.
Brian tersenyum ke arah Amina dan langsung duduk disamping Amina, "Hey, aku mencarimu dimana mana, kau kemana?"
Amina tak menatap Brian karena jujur Ia merasa semakin takut dengan Brian.
"Aku tahu, kau pasti ke perpustakaan kan?" tebak Brian yang hanya diangguki oleh Amina.
"Dasar kutu buku." Brian baru ingin mengelus kepala Amina namun secepat mungkin Amina segera menghindar.
Dosen segera masuk dan Brian pun juga sudah pindah dari sampingnya.
Amina merasa tak tenang mengikuti kelasnya kali ini hingga akhirnya jam pulang tiba. Buru buru Amina keluar dari kelasnya.
"Amina tunggu!" suara Brian terdengar dibelakang membuat Amina semakin mempercepat langkahnya.
"Hey,.." Brian sudah berdiri didepan Amina, menghalangi jalan Amina.
"Minggir, aku harus segera pulang." pinta Amina karena Brian terus menghalangi jalannya hingga Amina tidak bisa lewat.
"Hey ada apa denganmu? Apa kau marah padaku?"
Amina menggelengkan kepalanya, "Aku hanya ingin segera pulang."
"Baiklah, ku antar kau pulang."
"Tidak, aku bisa pulang sendiri." kata Amina melewati Brian namun Brian malah menahan lengannya.
"Jangan sok jual mahal, Lo itu udah bekas masih sok jual mahal!" ucap Brian dengan nada menghina.
__ADS_1
Amina marah, sangat marah mendengar ucapan Brian, "Kalau aku udah bekas, ngapain kamu deket deket" Amina menyentak tangan Brian agar melepaskan lengannya.
Brian tersenyum nakal, "Gue penasaran aja gimana rasanya punya istri orang."
Amina melotot tak percaya, "Dasar gila!"
Amina berlari namun Brian kembali menahan lengannya, "Lepas atau aku teriak!" ancam Amina.
"Teriak aja kalau Lo pengen memperlakukan diri Lo sendiri." Brian terdengar meremehkan membuat Amina semakin geram.
Amina melihat orang orang disekelilingnya, tidak ada yang berniat menolongnya sama sekali, mereka bahkan terlihat tak peduli dengan Amina.
"Mas Alka bilang ada orang yang mengawasiku tapi mana?" batin Amina mencari cari disekitar namun tidak ada yang mendekat.
"Lo mau minta tolong sama mereka juga nggak bakal di tolongin, lo tahu kenapa?"
"Karena gue anak pemilik kampus jadi nggak ada yang berani sama gue." ucap Brian lalu tertawa puas.
Amina terkejut sangat terkejut dan tak tahu jika Brian adalah anak pemilik kampus. pantas saja tidak ada yang menolongnya saat ini.
"Ikut gue!" Brian menarik lengan Amina dan dengan cepat Amina menginjak kaki Brian membuat Brian kesakitan dan melepaskan lengan Amina, kesempatan Amina kabur dari Brian.
Amina berlari keluar kampus, Ia melihat Brian masih mengejarnya. Amina mempercepat langkah kakinya hingga keluar kampus dan melihat mobil Alka sudah terparkir didepan.
Alka keluar dari mobil dan segera Amina berlari ke pelukan Alka, meminta perlindungan Alka.
"Astaga Amina, kita terlihat seperti anak kecil, berlari dan saling mengejar." celetuk Brian tanpa merasa bersalah sudah membuat takut Amina.
"Apa yang kau lakukan pada istriku?" tanya Alka menatap tajam ke arah Brian.
Brian tertawa, "Melakukan apa? Aku tidak melakukan apapun, kami hanya bercanda dan Amina malah berlari, bukankah begitu Amina?" Brian mengedipkan matanya pada Amina.
Amina menatap Alka dan Ia menggelengkan kepalanya, meminta Alka tidak mempercayai ucapan Brian.
"Berhenti menganggu istriku jika tidak kau pasti akan menyesal!" ancam Alka lalu mengajak Amina memasuki mobil.
"Hey bro, aku tidak melakukan apapun, kami hanya bercanda biasa. Ayolah jangan terlalu posesif."
Setelah Amina memasuki mobil, Alka mendekati Brian dan
Bugh...
Satu pukulan mendarat di pipi Brian.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komeennn