JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
30


__ADS_3

Alka menghentikan mobilnya tepat didepan gang masuk kontrakan Amina.


Alka ingin ikut turun namun seperti biasa Amina melarang Alka ikut turun.


"Sudah malam pak, saya tidak enak jika ada tetangga yang melihat."


Alka berdecak, "Aku hanya ingin mengantar sampai depan rumah."


"Tetap saja pak, saya tidak enak jika ada yang meli-"


"Apa ada pria yang kau sukai disini?" tuduh Alka.


Amina langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak pak, bukan karena itu saya hanya tidak ingin ada yang meli-"


"Alasan! Kau takut pria yang kau sukai menghindarimu kan!" potong Alka terdengar posesif.


Amina hanya bisa menghela nafas panjang, sungguh Ia tak mengerti dengan sikap Alka yang seperti itu padanya.


Amina hanya tidak ingin tetangganya melihat Ia pulang larut diantar pria, Pasti akan menjadi gosip heboh karena kawasan yang Amina tinggali memang kawasan orang yang suka bergosip.


Alka nekat turun dari mobil dan mengikuti langkah Amina.


Amina hanya bisa pasrah, Ia tak lagi melarang Alka karena percuma Ia melarang toh Alka juga tak akan mendengarkannya.


"Bapak sekalian mau menginap?" tawar Amina dengan nada kesal.


"Apa boleh? Jika boleh tentu saja aku mau!"


"Ya boleh saja tapi jangan terkejut jika besok pagi kita dibawa ke kantor kelurahan dan di adili disana!"


Alka tertawa, "Sepertinya menyenangkan, ayo kita coba!"


Amina melotot tak percaya, rasanya percuma menyindir Alka jika jawabannya seperti itu.


"Saya masuk dulu pak, terserah Bapak mau pulang atau masih ingin disini. Terima kasih sudah mengantar saya!" ucap Amina lalu memasuki rumah dan tak lupa mengunci pintunya.


"Dasar bos gila!" omel Amina.


Amina meletakan tasnya dikursi, melihat rumah begitu sepi, Ia segera mencari keberadaan Ibunya.


Amina membuka pintu kamar ibunya, melihat Ibunya sudah terlelap diranjang, Amina pun tersenyum lega.


"Ibu pasti kecapekan, tumben nggak nungguin Amina." gumam Amina berjalan mendekati Ibunya lalu menarik selimut agar menutupi tubuh Ibunya.


Amina segera keluar dari kamar karena tak ingin mengusik lelap ibunya.


Amina bergegas mandi karena Ia ingin segera istirahat.


Selesai mandi, Amina membuka laci meja riasnya, Ia mengambil paper bag berisi iphone yang Ia berikan pada Rania waktu itu.


"Ck, aku bahkan tidak menggunakan barang mahal seperti ini." gumam Amina lalu mengembalikan ponsel itu dilaci meja riasnya.


Amina segera berbaring menatap langit langit kamarnya, "Apa pak Alka sudah sampai dikantor?"

__ADS_1


Seketika Amina berdecak, "Untuk apa pula aku memikirkan pria mesum itu!" omel Amina pada dirinya sendiri.


Amina segera memejamkan mata karena besok Ia harus berangkat shift pagi lagi.


Rasanya baru sejenak Amina terlelap namun lelapnya terusik kala Ia mendengar suara batuk ibunya.


Amina bergegas bangun dan segera memasuki kamar ibunya.


"Ibu nggak apa apa?" tanya Amina mengambil air minum digelas yang Ia siapkan setiap malam dikamar ibunya.


"Maaf ya ibu ganggu kamu tidur, uhuk uhuk."


Amina menggelengkan kepalanya, "Enggak ganggu kok Bu,"


"Maaf tadi Ibu tidur dulu, udah ngantuk banget. Kamu pulang jam berapa tadi?"


"Jam 9 Bu, ada lembur soalnya."


Surti tersenyum, "Bosnya ganti Den Alka jadi lembur terus sekarang." Goda Surti membuat Amina tersipu malu.


"Udahlah, Ibu istirahat nggak usah ngomongin yang aneh aneh lagi."


"Tapi kamu seneng kan nduk?"


"Seneng apaan sih Bu, orang dia aja ngeselin banget jadi bos!" omel Amina.


"Ngeselin gimana?"


"Ya nyuruh nyuruh Amina terus, Amina nggak boleh ngerjain kerjaan lain suruh bersihin ruangan dia terus padahal udah bersih."


Amina langsung menggelengkan kepalanya, "Nggak mungkin Bu, lagian Pak Alka kan udah punya pacar."


"Ya siapa tahu kan. kalau Ibu terserah kamu. Siapapun yang kamu pilih selama kamu bahagia, Ibu pasti merestui."


Amina berdecak, "Kok malah bahas kayak gini sih Bu, Amina masih kecil masih belum cukup umur buat ngomongin kayak gini." ungkap Amina sambil tertawa.


"Kamu mau janji nggak sama Ibu?"


"Janji apa lagi Bu?"


"Kalau sampai Ibu nggak ada, kamu harus tetap semangat dan kamu harus lanjutin cita cita kamu buat kuliah."


"Ibu..." Mata Amina memerah, ingin menangis mendengar ibunya mengatakan itu padanya.


"Nggak boleh ngomong gitu ah, Ibu harus sehat biar bisa nemenin Amina terus."


Surti kembali tersenyum, "Ibu sudah tua nak, sewaktu waktu ibu bisa pergi."


Amina memeluk Ibunya, "Ibu nggak boleh ngomong aneh aneh dulu ya, pokoknya Ibu harus sehat biar bisa nemenin Amina."


Surti akhirnya mengangguk, "Sekarang kamu tidur, besok harus kerja kan?"


Amina mengangguk, "Mau tidur disini saja sama Ibu."

__ADS_1


"Nggak boleh, Ibu lagi batuk sayang, nanti kamu ketularan gimana?"


"Nggak apa apa yang penting bisa tidur sambil meluk Ibu."


"Tetep nggak boleh, udah sana balik kamar."


Amina memanyunkan bibirnya, "Iya deh Iya, nanti kalau ada yang sakit, Ibu teriak panggil Amina pasti Amina segera datang."


Surti tersenyum, menatap putrinya yang masih enggan keluar dari kamarnya, "Makasih nak sudah mau sayang ibu bahkan mengorbankan cita citamu hanya demi merawat Ibu."


Amina berdecak, "Mulai kan ngomong aneh lagi, udah ah Amina keluar sekarang." ucap Amina lalu pergi meninggalkan kamar ibunya.


Pagi ini terasa spesial untuk Amina karena bukan hari spesial namun ibunya memasak menu spesial untuknya.


Balado udang kesukaan Amina.


Biasanya Surti memasak balado udang saat Amina ulang tahun.


"Kok tumben Bu?" tanya Amina keheranan.


"Ibu pengen masakin ini soalnya Ibu nggak tahu besok masih ada apa nggak pas kamu ulang tahun."


Lagi lagi Amina berdecak mendengar ucapan Ibunya, "Apa Ibu udah bosen ya hidup sama Amina?"


"Enggak bosen sayang, Ibu bahagia hidup sama kamu tapi ibu sadar mungkin waktu Ibu nggak akan lama lagi."


"IBU!" tanpa sadar Amina membentak Surti.


"Tolong jangan ngomong kayak gitu lagi, Amina beneran belum siap ditinggalin sama Ibu!"


Surti tersenyum lalu mengelus rambut Amina, "Ibu nggak ninggalin kamu, Ibu masih disini nemenin Kamu."


"Iya tapi Ibu jangan ngomongin masalah itu lagi ya." pinta Amina yang langsung diangguki oleh Surti.


Amina pun segera berangkat setelah sarapan bersama ibunya.


Biasanya Amina meletakan ponsel jadulnya diloker namun entah mengapa hari ini Amina ingin membawa ponselnya kerja.


Amina memasukan ponselnya ke dalam saku dan mulai bekerja.


"Kopinya manis, kayak yang bikin." goda Alka menyeruput kopi buatan Amina.


Amina hanya tersenyum, "Bapak kembali ke kamar saja biarkan saya membersihkan ruangan ini lebih dulu." pinta Amina yang langsung diangguki Alka.


Alka berbalik ingin kembali ke ruang pribadinya namun langkahnya terhenti kala mendengar suara ponsel berdering dan saat Alka berbalik, Ia melihat Amina menerima panggilan dari ponselnya.


"Iya Budhe..." suara Amina terdengar ramah hingga Amina tak lagi bersuara dan malah menjatuhkan ponselnya.


"Nggak... Nggak mungkin...Ibu." Amina berlari keluar dari ruangan Alka tanpa mengatakan apapun pada Alka.


Alka tak tahu apa yang terjadi namun Ia segera ikut berlari keluar menyusul Amina meskipun saat ini Alka masih mengenakan piyama tidur.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komenn


__ADS_2