
Amina menatap ke arah Alka tak percaya setelah mendengar Alka memintanya untuk menemani makan siang padahal sebelumnya Juan sukarela ingin menemani Alka namun Alka malah mengusir Juan.
"Duduk dan temaniku makan!" suara Alka kembali terdengar, kali ini Alka sudah duduk disofa lalu menepuk nepuk sofa disampingnya agar Amina ikut duduk disana.
"Ta tapi pak..." Amina terdengar gugup.
"Tapi apa?"
"Saya masih banyak pekerjaan diluar," ucap Amina mencari alasan karena Amina merasa aneh dengan sikap Alka.
Alka berdecak, "Aku ini bosnya, tidak perlu memikirkan pekerjaan diluar!" ucap Alka.
"Ta tapi pak..."
"Cepat duduklah, aku sudah sangat lapar!"
Amina menghembuskan nafas panjang, mau tak mau Ia akhirnya menuruti permintaan Alka meskipun sejujurnya Ia tak mau.
"Saya ambilkan piring dan sendok dulu ya pak." kata Amina mengingat nasi padangnya hanya dibungkus dengan kertas.
"Ya sudah, jangan lama lama!" pinta Alka yang langsung diangguki oleh Amina.
Segera Amina pergi ke pantry untuk mengambil peralatan makan sekaligus gelas.
"Lo nggak di apa apain?" tanya Riska saat Amina berada di pantry.
Amina menggelengkan kepalanya pelan,
"Gila, kok bisa?" Riska terlihat tak percaya.
"Aku nggak tahu." balas Amina lalu pergi melewati Riska yang masih menatapnya tak percaya.
Amina kembali berjalan menuju ruangan Alka dan kali ini Ia bertemu dengan Raka.
"Aman kan?"
"Aman pak."
Raka tersenyum lega, "Baguslah, kerja baik baik disana jangan bikin bos kita marah lagi."
"Baik pak." balas Amina lalu melewati Raka.
Kini Amina sudah kembali ke ruangan Alka dimana Alka sudah menunggunya.
"Lama!" keluh Alka masih seperti biasa.
"Maaf pak." Amina meletakan piringnya dimeja dan segera menyiapkan nasi padangnya.
Amina menyodorkan nasi padang yang sudah siap dimakan, "Silahkan pak."
Alka mengangguk, "Kau juga makanlah."
"Baik pak."
Amina kini sudah duduk disamping Alka, Ia sedikit menjauh agar tidak terlalu menempel dengan Alka.
Makam siang kali ini terasa tidak nikmat meskipun Amina penyuka nasi padang. Sedari tadi jantungnya berdegup kencang membuat Amina merasa tak nyaman.
__ADS_1
"Apa kau senang bekerja disini?" tanya Alka disela sela makan.
"Dimanapun saya merasa senang pak."
"Benarkah? Kenapa kau keluar dari rumahku jika kau merasa senang dimanapun." cibir Alka.
"Saya hanya ingin Ibu saya berhenti bekerja karena sudah waktunya Ibu saya istirahat." balas Amina sopan.
"Tapi kenapa harus mencari pekerjaan sejauh ini?" tanya Alka.
Amina terdiam, "Karena saya ingin melupakan hari itu, hari dimana saya menghabiskan waktu dengan Bapak, saya ingin melupakannya, saya ingin menjaga perasaan saya agar tidak jatuh cinta dengan Bapak." batin Amina.
"Sudahlah, pertanyaanku tidak penting. habiskan makananmu." ucap Alka merasa kesal karena Amina tak segera menjawab.
Selesai makan, Amina membereskan peralatan makan dan pamit keluar dari ruangan Alka.
Amina menghela nafas lega setelah berada diluar ruangan.
"Ck, bagaimana sekarang... Aku harus mulai terbiasa lagi dekat dengannya tanpa harus membawa perasaan." keluh Amina sambil berjalan ke pantry untuk mencuci peralatan makan yang baru saja digunakan.
Dan Juan yang mulutnya sudah gatal ingin menggoda Alka pun terlihat memasuki ruangan Alka dengan senyuman nakal.
"Tuan terlihat cerah siang ini." cibir Juan.
Alka menghela nafas panjang, matanya menatap Juan dengan tatapan malas, "Apa pekerjaanmu sudah selesai?"
"Tentu saja belum pak." balas Juan cengengesan.
"Jika belum segera selesaikan, aku tidak ingin kau bekerja lambat atau kau ingin ku pecat!" ancam Alka yang malah membuat Juan tertawa.
"Jadi siapapun yang bekerja dengan lambat akan dipecat pak?" tanya Juan memastikan.
"Saya tadi melihat Amina membersihkan kaca dan terlihat santai sekali, apa kita perlu memecatnya pak?"
Alka langsung menatap Juan tajam, "Sialan, kau ingin menggodaku huh!"
Juan tertawa, "Tidak pak, saya hanya ingin melaporkan saja."
"Tidak mungkin, dia sangat cekatan tidak mungkin dia seperti itu!" bela Alka.
"Ah jadi dia sangat cekatan saat diranjang, pantas saja Bap-"
Juan tidak melanjutkan ucapannya, Ia berlari keluar sambil tertawa saat melihat Alka melepas sepatunya dan ingin melemparkan padanya.
"Sialan, dia selalu saja menggodaku!" umpat Alka memakai kembali sepatunya.
Alka kembali fokus menatap layar laptopnya namun entah mengapa pikirannya tidak bisa fokus. Rasanya Ia ingin melihat Amina lagi.
Alka mengangkat ganggang telepon untuk menelepon Raka, "Suruh Amina membawakan air minum untuk ku!" pinta Alka lalu mengakhiri panggilan.
Tak berapa lama, Amina datang membawa gelas kosong.
"Bukankah disana sudah ada minuman pak?" tanya Amina menunjuk ke arah dispenser air minum.
"Tapi tidak ada gelasnya, kau ingin aku meminum dari sana?"
Amina tersenyum geli saat melihat memang tidak ada gelas disana.
__ADS_1
"Saya sudah membawakan gelasnya pak."
Alka mengangguk, entah mengapa melihat senyuman Amina membuatnya gugup.
"Bapak ingin air hangat atau air dingin?"
"Air susu."
Amina terkejut mendengar permintaan Alka,
"Sudah lama aku tidak minum susu hangat buatanmu." jelas Alka tidak ingin Amina salah paham.
Amina kembali tersenyum, hampir saja Ia salah paham dengan maksud Alka.
"Tapi dipantry tidak ada susu pak."
"Ya sudah ambilkan air putih saja."
Amina mengangguk dan berjalan menuju dispenser air minum. Saat Amina sedang mengambil air minum, Alka malah menghampiri dan berdiri disampingnya yang langsung membuat Amina gugup.
Amina memberikan gelas berisi air pada Alka lalu berniat untuk segera pergi namun Alka menahan lengannya.
"Mau kemana? Pekerjaanmu belum selesai!"
Alka menghabiskan air minumnya lalu memberikan gelas yang sudah kosong pada Amina.
"Setelah ini kembali kesini, bersihkan ruangan ini karena masih banyak debu yang menempel."
"Baik pak."
Amina segera keluar setelah Alka melepaskan lengannya.
"Kenapa menyenangkan sekali, tidak rugi aku membeli kantor ini." ucap Alka tersenyum senang.
Dan kali ini Alka bekerja sambil sesekali melirik ke arah Amina yang sedang membersihkan ruangannya.
"Dasar penggoda!" batin Alka saat tak sengaja melihat Amina membungkuk dan memperlihatkan pantat seksinya, membuat Alka ingat akan hari itu dimana Ia menguasai tubuh Amina seharian.
"Apa dia selalu seperti itu? Apa banyak pria yang melihatnya seperti itu." batin Alka lagi merasa kesal.
"Apa kau selalu seperti itu?" tanya Alka akhirnya.
"Maksud Bapak apa?" Amina tak mengerti dengan ucapan Alka.
"Membungkuk dan memperlihatkan bokong tipismu itu, kau sengaja menggodaku ya?" tuduh Alka mulai mendekati Amina.
Amina tentu saja terkejut karena tidak ada niat untuk menggoda Alka sama sekali, "Tidak pak, saya tidak-"
"Jika tidak kenapa kau harus membungkuk didepanku hah!" ucap Alka terdengar galak.
Amina menundukan kepalanya saat Alka sudah berada didepannya.
"Jangan berani menggoda ku atau aku akan..."
Alka menyentuh lembut tangan Amina membuat Amina merinding seketika.
"Ja jangan pak."
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komenn