JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
82


__ADS_3

Pagi ini Alka mengantar Amina ke klinik terdekat untuk memeriksa jika Amina benar benar hamil.


Alka hanya gosok gigi dan mencuci muka, tidak mandi karena tak ingin istrinya mual jika mereka berdekatan.


"Mas aneh deh, aku ngerasa kayak ada yang ngikutin." ucap Amina melihat ke arah belakang ada beberapa motor yang mengikuti mobilnya dan Alka.


Alka melirik ke spion, "Sayang kamu percaya kan sama aku?" tanya Alka yang langsung diangguki oleh Amina.


"Kalau percaya nggak perlu khawatir tentang apapun bahkan jika sampai mereka culik kamu atau bawa kamu pergi, aku pasti akan nolongin kamu." kata Alka.


Wajah Amina berubah pucat, "Lah kok serem mas, diculik segala."


Alka tersenyum, "Karena Brian itu bukan orang sembarangan, Ia melakukan apapun demi mencapai keinginannya."


"Mas aku takut." ucap Amina.


"Nggak perlu takut sayang, selama kamu percaya aku bisa melindungi kamu, kamu akan tetap baik baik saja." ucapan romantis Alka yang langsung membuat Amina meleleh.


"Iya deh percaya."


Sesampainya di klinik, Alka dan Amina segera memasuki klinik itu.


Dokter yang berjaga menyarankan agar Amina melakukan usg untuk melihat apakah memang benar hamil.


"Wah selamat, ada calon baby diperut istrinya." ucap dokter itu sambil memperlihatkan ke arah layar usg.


"Jadi istri saya beneran hamil kan dok?" tanya Alka dengan raut wajah senang.


"Iya selamat ... Kandungannya berusia 3 minggu masih rentan jadi harus lebih hati hati, jaga pola makan dan jangan terlalu banyak pikiran." ucap dokter itu pada Amina.


Setelah mendapatkan vitamin dan beberapa obat untuk meredakan mual, Alka dan Amina segera keluar dari klinik.


Alka melihat sudah tidak ada yang mengikuti mobilnya lagi.


"Mas kok diem sih? Nggak seneng ya lihat aku hamil?" tanya Amina melihat raut wajah Alka yang berubah.


"Seneng lah sayang, seneng banget malahan. Aku cuma lagi kepikiran sesuatu."


"Kepikiran apa mas?" tanya Amina penasaran.


"Ada lah pokoknya."


Amina memanyunkan bibirnya, "Gitu kan udah mulai rahasian sama bininya."


Sontak Alka tertawa, "Bukan apa apa yank, serius deh."


Keduanya sampai dirumah sudah ditunggu oleh Wina dan Karsa.


"Kalian dari mana? Pagi gini udah dari luar aja?" tanya Wina penasaran.


"Habis periksa Ma."


"Gimana? Amina sakit apa?" Wina memperlihatkan raut wajah cemasnya.

__ADS_1


"Dokternya bilang...." Alka menghentikan ucapannya dan raut wajahnya berubah sedih.


"Dokternya bilang apa?"


"Dokternya tadi bilang..." lagi lagi Alka kembali diam membuat Karsa dan Wina kesal karena Alka tak melanjutkan ucapannya.


"Mas...jangan kayak gitulah." protes Amina merasa tak tega Alka usil dengan kedua mertuanya.


"Amina hamil Ma..." ucap Alka lalu tersenyum senang.


Wina dan Karsa memperlihatkan kebahagiaan mereka, tak menyangka jika Amina akan hamil secepat ini.


"Ingat Alka, mulai sekarang kamu harus lebih ketat jagain Amina mengingat kemarin ada orang yang berniat jahat sama Amina."


"Iya ma... Tenang aja semua akan baik baik saja." ucap Alka.


Ponsel yang dibawa Karsa berdering mengejutkan mereka yang sedang berkumpul.


Karsa menerima panggilan itu diluar dan Karsa kembali masuk dengan raut wajah sedih.


"Ma, kita harus pulang sekarang." ajak Karsa.


"Ada apa Pa?"


"Ibu Marsi meninggal, kita harus pulang Ma." ajak Karsa yang langsung diangguki oleh Wina.


Ibu Marsi, tetangga baik keluarga Karsa.


"Sebenarnya Mama masih pengen disini tapi ya sudahlah, kita pulang sekarang." ajak Wina.


"Ingat pesan Mama Alka!"


"Iya Ma... Iya ingat terus." balas Alka yang saat ini mengantar orangtuanya sampai didepan rumah.


"jaga diri baik baik, Mama akan sering kesini setelah ini."


"Iya Ma... Amina tunggu ya."


Wina mengangguk dan Karsa segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Alka.


"Mas yakin mau ngantor?" tanya Amina saat Alka baru saja selesai mandi dan bersiap ke kantor.


"Iya dong sayang, kalau kamu nggak lemes berangkat kuliah aja nggak apa apa." kata Alka membuat Amina sedikit terkejut.


Karena Alka tak melarangnya, Amina pun berangkat kuliah meskipun Ia akan terlambat di kelas pertama.


Amina mengemudikan mobilnya pelan pelan dan sangat berhati hati.


Hingga Amina dikejutkan oleh suara yang cukup keras didepan mobilnya.


Brakkk... Seseorang jatuh tepat didepan mobilnya.


"Aku nabrak orang? Nggak mungkin kan aku nabrak orang." ucap Amina sangat panik dan takut.

__ADS_1


Amina belum keluar dari mobilnya, Ia mendial nomor Alka.


"Mas aku nabrak orang." ucap Amina dengan bibir bergetar.


Tuk... Tuk... Tuk... Kaca mobil Amina diketuk oleh beberapa pria yang baru saja datang untuk menolong orang yang sudah Ia tabrak.


"Keluar mbak, tanggung jawab!" teriak orang orang yang ada diluar.


Amina menarik nafas lalu mengeluarkannya, "Tenang Amina, tenang. Semua pasti baik baik aja." gumam Amina lalu segera keluar dari mobil.


Amina melihat ada tiga pria dan seorang pria yang jatuh tersungkur tepat didepan mobilnya.


"Maaf mas, saya benar benar nggak tahu, sebentar lagi suami saya-"


"Nggak bisa gitu dong mbak, harus tanggung jawab." potong salah satu pria yang ada disana.


"Saya tanggung jawab mas, saya bawa kerumah sakit sekarang." ucap Amina.


"Mbak sudah punya sim?" tanya pria lain yang ada disana.


Amina menggelengkan kepalanya, "Belum mas."


"Wah kalau kayak gini kita bawa ke kantor polisi saja."


"Ja jangan mas!" Amina mulai ketakutan.


"Udah mbak, biar polisi yang menyelesaikan kasusnya." kata pria itu mengambil alih kemudi mobil Amina sementara Amina dipaksa masuk dikursi belakang.


"Mas itu yang jatuh nggak dibawa kerumah sakit dulu?" tanya Amina mulai curiga jika yang membawanya ini bukan warga sekitar.


"Udah mbak, biarin aja dia disana dulu yang penting mbak ikut kita dulu." kata ketiga pria itu lalu tertawa keras.


Deg... Jantung Amina berdegup sangat kencang, Ia sangat yakin jika Ia diculik saat ini.


"Tenang Amina, tenang. Mas Alka pasti akan datang menolongmu." batin Amina menenangkan dirinya.


Dan benar saja, mobil yang Amina tumpangi nyatanya tidak ke kantor polisi melainkan kesebuah gudang kosong yang tak terpakai.


Amina menuruti ketiga pria yang menyuruhnya keluar itu, Ia sama sekali tidak melawan karena Amina tak ingin terjadi sesuatu dengan kandungannya.


"Tumben nih si bos dapat mangsa anteng gini, biasanya langsung teriak teriak minta tolong." celetuk salah satu pria.


"Udahlah nggak usah banyak bacot yang penting kita dapat uang." sahut pria lainnya.


Amina dibawa masuk ke gudang dan Amina langsung mencium bau anyir darah segar.


"Wah lihat siapa yang datang?" suara seorang pria yang sangat Amina kenali.


Amina menatap ke arah pria itu dan terkejut melihat disamping pria itu ada seorang gadis yang terikat dengan kaki berdarah bekas goresan pisau, mungkin itu asal bau anyir yang Amina rasakan saat memasuki gudang.


Gadis itu terlihat lemas menatap ke arah Amina.


"Haloo baby, kau juga ingin ikut bermain bersama kami?" pria itu berjalan mendekati Amina.

__ADS_1


Amina berjalan mundur, merasa ketakutan "Brian... Kau pshyco?"


Bersambung...


__ADS_2