
Juan dan Lily memasuki kamarnya. Juan langsung saja berbaring diranjang sementara Lily memilih mandi terlebih dahulu.
"Apa tidak ada kasur angin?" tanya Lily setelah keluar dari kamar mandi.
"Aku sudah bertanya pada penjaga Villa dan dia mengatakan jika tidak ada."
Lily berdecak, "Villa macam apa ini, kenapa masih buka setelah ada kasus bunuh diri seperti itu." gumam Lily terlihat sedikit kesal.
"Maafkan aku karena mengajakmu ke tempat seperti ini." ucap Juan terlihat merasa bersalah membuat Lily tak enak.
"Tidak, jangan meminta maaf."
"Berbaringlah disini, aku tidak akan melakukan apapun." ucap Juan sambil menepuk nepuk sampingnya yang kosong.
Lily mengangguk, Ia berbaring disamping Juan, rasanya sangat nikmat berbaring seperti ini setelah menempuh perjalanan berjam jam dengan posisi duduk.
"Apa kau sering kesini?" tanya Lily yang kini sudah menghadap ke arah Juan.
"Aku baru pertama kali kesini. apa kau tahu ini liburan pertamaku." akui Juan.
"Bagaimana bisa seperti itu? Bukankah uang mu sangat banyak?"
Juan menggelengkan kepalanya, "Aku bekerja sebagai asisten bos, mana bisa berlibur seperti ini."
Lily tersenyum, "Setidaknya kau ikut sukses bersama bosmu."
Juan ikut tersenyum, "Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sering berlibur?"
Lily menggelengkan kepalanya, "Aku tidak pernah punya uang untuk ikut study tour sewaktu sekolah maupun kuliah."
Juan menghela nafas panjang, mendadak Ia merasa tak enak pada Lily karena bertanya hal sensitif seperti ini.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu..." Juan bahkan tak mampu melanjutkan ucapannya.
"Tidak apa, aku tidak akan sedih karena hal semacam ini."
"Baiklah karena ini liburan pertama kita jadi kita buat banyak momen yang tak akan pernah terlupakan." ucap Juan yang langsung diangguki oleh Lily.
Mereka tersenyum memandang satu sama lain hingga Lily lebih dulu memutuskan pandangan mata mereka karena tak tahan berpandangan dengan Juan.
Juan mendekati wajah Lily hingga kini wajah mereka tak berjarak dan tanpa mengatakan apapun Juan langsung mencium bibir Lily.
******* kecil hingga Lily membuka akses agar Juan lebih masuk ke dalam bibir Lily.
Beberapa menit hingga akhirnya Juan melepaskan ciumannya.
"Maaf, aku tidak bisa menahan diri."
Lily menggelengkan kepalanya, "Aku tidur sekarang ya?" ucap Lily lalu berbalik memunggungi Juan tanpa menunggu jawaban dari Juan.
__ADS_1
Juan menarik tubuh Lily ke dalam pelukannya, "Baiklah mari kita tidur bersama."
Tidak ada penolakan dari Lily membuat Juan melanjutkan posisi mereka hingga akhirnya Juan sendiri yang tak tahan terlalu menempel dengan Lily tanpa melakukan apapun.
"Kenapa dibawah sana terasa mengganjal." gumam Lily.
Juan akhirnya melepaskan Lily, Ia benar benar sudah tak tahan lagi.
"Tidurlah," ucap Juan.
Lily mengangguk dengan posisi masih memunggungi Juan.
"Sial!" desis Juan lalu beranjak dari ranjang dan memasuki kamar mandi.
"Ada apa dengannya?" heran Lily menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
Lily menunggu Juan tak kunjung keluar, Ia penasaran dengan apa yang dilakukan Juan didalam sana.
"Apa dia pingsan? Kenapa lama sekali?" batin Lily.
Lily beranjak dari ranjang, berniat mengetuk pintu kamar mandi namun belum sempat mengetuk, pintu kamar mandi sudah lebih dulu terbuka.
"Apa yang kau lakukan didalam?" tanya Lily dengan mata polosnya.
"Sesuatu yang menyenangkan." balas Juan membuat Lily kebingungan karena tak mengerti maksud ucapan Juan.
Juan kembali berbaring diikuti oleh Lily.
"Bukan sesuatu menyenangkan seperti..." Juan menghentikan ucapannya, Ia malah menatap Lily yang sedetik kemudian menjadi salah tingkah karena tatapannya.
"Tidak, jangan sekarang." batin Juan. "Ini liburan pertama yang menyenangkan untuk kita, aku tidak ingin merusak semua hanya karena tidak bisa menahan diri." batin Juan lagi.
"Ck, sudahlah... Aku tidur saja!" Lily terlihat kesal karena Juan tak kunjung menjawab rasa penasaran Lily.
Satu detik, dua detik... Lily menunggu Juan kembali memeluknya namun Juan tak kunjung memeluknya dan saat Lily berbalik ternyata Juan sudah terlelap.
Lily tersenyum, kini akhirnya Ia bisa memandangi wajah Juan tanpa merasa malu karena Juan tengah terlelap.
"Dia sangat tampan."
"Siapa yang tampan?" Suara Juan terdengar bersamaan dengan mata Juan yang terbuka.
Lily yang terkejut dan malu langsung saja berbalik kembali memunggungi Juan.
"Siapa yang tampan?" tanya Juan tepat ditelinga Lily.
"Tidak tahu, aku tidak mengatakan apapun!"
Juan tertawa, kembali menarik Lily ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Kau tidak mau mengakuinya hmm..."
"Aku benar benar tidak mengatakan apapun, aduh geli geli hahaha." Lily tertawa merasakan geli saat Juan mengesekan dagu berbulunya dileher Lily.
Tak terasa sudah dan keduanya belum sempat tidur karena asyik bercanda.
...****************...
Pagi ini Asih bangun lebih awal dari biasanya. Beberapa hari yang lalu Wina mengatakan jika Alka akan segera menikah. Kabar gembira yang langsung disambut baik oleh Asih.
Hari ini Asih ingin membantu kakaknya mempersiapkan segala sesuatu karena besok adalah acara pernikahan Alka.
Selesai merias wajahnya, Asih berniat mengambil cincin berliannya karena Ia ingin memakainya hari ini.
Dan betapa terkejutnya Asih saat membuka brangkas miliknya dan melihat tidak ada apapun disana.
"Apa apaan ini! dimana semua uang dan perhiasanku!" Asih meraba raba dan tidak ada apapun disana, benar benar kosong.
Asih langsung saja berteriak memanggil dua asisten rumah tangganya.
"Apa kalian mencuri?" tuduh Asih yang langsung membuat kedua asisten rumah tangganya ketakutan.
"Sumpah Nyonya, kami tidak mencuri." ucap keduanya bersamaan dengan wajah pucat.
Asih menatap kedua asistennya, mereka terlihat jujur tidak bohong.
"Nyonya, bukankah kamar ini dipasang cctv? Nyonya bisa melihatnya jika masih tidak percaya dengan kami." kata salah satu asisten yang membuat Asih ingat jika Ia memiliki cctv.
Asih segera membuka laptopnya untuk melihat siapa yang telah mencuri perhiasannya.
"Nona Rania." kedua Asisten itu terkejut melihat ternyata Rania pelakunya.
"Anak ini benar benar."
Asih mengambil ponsel untuk menghubungi pengacaranya, "Aku memiliki sesuatu yang harus kau bawa ke kantor polisi, akan ku kirimkan sekarang." kata Asih lalu mengakhiri panggilan.
"Apa Nyonya ingin melaporkan Nona ke kantor polisi?" tanya salah satu asisten.
"Ya, gadis itu harus diberi pelajaran. Benar benar membuat malu!"
"Tapi Nyonya, bukankah Nona Rania itu putri Nyonya?" tanyanya lagi, mengingat beberapa hari yang lalu Asih juga mengusir Rania pergi.
"Bukan, dia bukan putriku!"
Kedua asisten itu terkejut mendengar pengakuan Asih. Tak ingin memperpanjang masalah lagi, Kedua asisten itu segera kembali ke bawah.
"Kau lihat Sadam, putri mu yang sombong itu akan ku masukan penjara saat ini juga!" Ucap Asih lalu tersenyum puas karena berhasil membalaskan rasa sakit hati yang Ia derita selama ini.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komenn