
Dengan wajah kesal, Amina membawa bantalnya keluar kamar. Ia membuka kamar ibunya dan hendak tidur disana saja dari pada seranjang dengan Alka namun baru 5menit berbaring diranjang Ibunya, Amina malah menjadi sedih karena kembali mengingat Ibunya.
Akhirnya Amina keluar dari kamar Ibunya, Ia melihat dikursi tidak bisa digunakan untuk berbaring karena hanya ada dua kursi pendek bukan kursi panjang.
Dengan sangat terpaksa, Amina kembali lagi ke kamarnya. Ia menatap Alka yang sudah kembali terlelap diranjang sempitnya.
"Hanya tidur Amina, hanya tidur." gumam Amina lalu berbaring disamping Alka.
Baru saja berbaring, Alka sudah menarik tubuhnya agar mendekat dan memeluknya, "Mas jangan seperti ini." pinta Amina.
"Aku hanya ingin memeluk saja masa tidak boleh!" protes Alka dengan mata masih terpejam.
"Tidak boleh!" Amina melepaskan tangan Alka agar tidak memeluknya.
"Aku akan memaksa!"
Amina berdecak, Ia kembali bangun dan keluar kamar.
"Kenapa dia keluar lagi?" Alka tak terlihat tak suka, "Sudahlah, biarkan saja!" Alka kembali memejamkan mata karena Ia masih sangat mengantuk.
Sementara Amina tidur diruang tamu dengan beralaskan tikar. Sejak Alka mengatakan jika Ia mempunyai wanita pilihan, Amina memang berniat menghindari Alka karena Ia tak mau berharap lebih pada Alka yang hatinya sudah milik orang lain.
Amina kembali terlelap, hingga Ia tak sadar Alka kembali bangun untuk memindahkan dirinya ke ranjang.
Amina bangun setelah mendengar alarm ponselnya. Lagi lagi Ia merasakan berat karena ada sesuatu yang menopang tubuhnya.
"Ck, kenapa aku bisa tidur disini!" Amina bangun, sedikit kasar hingga membuat Alka yang memeluknya ikut bangun.
"Apa sudah pagi?" tanya Alka dengan suara serak khas bangun tidur.
"Kenapa saya bisa tidur disini lagi?" protes Amina.
"Aku sengaja memindahkan mu, kenapa mau marah?"
Amina hanya mendengus sebal, Ia lebih memilih bangun dan segera mandi dari pada harus bertengkar dengan Alka.
"Apa kau sudah mau bekerja?" tanya Alka melihat Amina kembali masuk dan sudah mengenakan seragam cleaning servicenya.
"Saya sudah tidak berangkat beberapa hari jadi mungkin akan berangkat sekarang."
Alka berdecak, "Kau masih mendapatkan cuti karena Ibumu baru saja meninggal kemarin."
"Tidak, lebih baik saya berangkat sekarang dari pada dirumah malah membuat saya mengingat Ibu."
"Baiklah kalau begitu, aku juga suka jika kau berangkat." Alka segera bangkit dan berjalan mendekati Amina yang sedang menyisir rambut.
"Ma mau apa?" mendadak Amina gugup karena Alka mendekatinya.
"Haduk." Bisik Alka ditelinga Amina membuat Amina merinding.
Amina mengambil handuk bersih dilemari lalu memberikan pada Alka,
"Mau mandi disini?"
__ADS_1
Alka mengangguk, "Mau ikut?"
Amina menggelengkan kepalanya, membalikan badan hingga tidak melihat Alka yang menertawakannya.
Selesai mandi, Alka melihat Amina kebingungan didapur. Segera Ia menghampiri Amina,
"Apa yang kau lakukan?"
"Sedang mencari sesuatu yang bisa dimasak tapi ternyata semua bahannya habis."
"Kita sarapan diluar saja."
Amina mengangguk setuju,
Keduanya segera berangkat, berjalan menuju mobil Alka yang diparkir dipinggir jalan raya.
Tetangga Amina terlihat menatap Amina dan Alka dengan tatapan menusuk, ada juga yang berbisik seperti tidak menyukai Amina.
"Lebih baik kau pindah saja, sepertinya disana bukan lingkungan yang bagus." pinta Alka.
Amina berdecak, "Mereka seperti itu karena Mas menginap!"
"Aku sudah minta izin pak Rt, apa salahnya?"
Amina menatap ke arah Alka, Ia seolah tak percaya jika Pak RT mengizinkan Alka menemaninya dirinya mengingat RT dikomplek Amina sangat tegas dan galak dalam hal seperti ini.
"Bagaimana Mas bilang ke Pak RT sampai bisa di izinkan."
Alka berdehem, "Sebenarnya Budhe Parmi yang membantuku." Alka tersenyum memperlihatkan gigi rapinya.
"Jika kau sampai di usir aku akan mencarikan tempat tinggal yang layak untukmu." kata Alka.
"Tidak, aku akan tetap disana."
Alka menghela nafas panjang, "Kau ini memang ngeyel!"
Alka menghentikan mobilnya tepat didepan ruko dimana disana menjual bubur ayam.
"Apa kita akan makan disini?".
Alka mengangguk dan segera keluar dari mobil.
"Kenapa dia seperti itu? Apa dia marah?" Gumam Amina ikut keluar dari mobil dan langsung mengikuti Alka.
Keduanya sarapan dan hanya diam, tidak ada yang saling berbicara. Alka terlihat acuh dan sesekali memainkan ponselnya, tidak mengubris Amina sama sekali hingga mereka selesai makan buburnya.
"Apa mas marah?" tanya Amina saat keduanya kembali ke mobil.
"Tidak, untuk apa aku marah!" suara Alka terdengar sangat kesal.
"Baiklah jika tidak marah." Amina malah terlihat santai.
Sampai dikantor, Amina segera keluar dari mobil dan berjalan lebih dulu memasuki kantor meninggalkan Alka membuat Alka semakin kesal.
__ADS_1
"Gadis itu benar benar."
Alka ikut memasuki kantor yang masih sepi karena memang mereka berangkat sangat pagi.
Ia mencari keberadaan Amina dipantry, "Buatkan aku kopi." perintah Alka yang langsung diangguki oleh Amina.
Amina segera membuatkan Alka kopi, pintu Pantru terbuka, Ia pikir Alka kembali namun ternyata teman satu shift Amina yang sudah berangkat.
"Eh kok Mina udah berangkat?" heran nya melihat Amina sudah dipantry.
"Iya, nggak enak kalau libur lama lama."
"Ya kan kamu masih dapet cuti lagian kamu ini gadis spesialnya pak Alka, nggak masuk sebulan pasti nggak bakal kena omel apalagi dipecat." ucapnya dengan nada sedikit menyindir.
Amina hanya tersenyum mendengar ucapan temannya itu, "Aku nganter kopi dulu ya."
Amina bergegas keruangan Alka dengan pikiran kalut. Ia merasa teman temannya pasti salah paham karena Alka memeluknya kemarin.
"Pak Alka sudah memiliki wanita pilihan tapi mereka pasti menganggapku sebagai kekasih pak Alka. Benar benar menyebalkan!"
Amina memasuki ruangan Alka dan terlihat sepi tidak ada Alka disana.
Amina menatap ke arah pintu ruang pribadi Alka, "Pasti dia disana."
Amina berniat kembali ke pantry namun Alka keluar dari ruang pribadinya.
"Mau kemana?"
"Mau ke pantry pak."
"Tidak perlu kesana, sekarang bersihkan kamarku." pinta Alka membuka pintunya lebar dan mempersilahkan Amina masuk.
Amina menelan ludahnya, sedikit bergindik meskipun semalam mereka tidur bersama namun entah mengapa menatap Alka saat ini membuatnya takut.
"Saya ambil peralatan kebersihan dulu ya pak."
"Tidak perlu!"
Tak ingin membuat Alka marah, Amina akhirnya menuruti perintah Alka memasuki ruang pribadi Alka dan Ia terkejut melihat ruangan Alka.
"Apa Bapak ini bayi yang baru bisa berjalan dan membuka lemari?" tanya Amina dengan nada kesal.
"Kenapa? Aku bingung harus memakai baju yang mana jadi yang seperti itu." balas Alka santai.
Amina hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya melihat semua baju Alka yang ada dilemari keluar semua dan berjatuhan dilantai.
"Rapikan lagi ya." pinta Alka sambil mengelus kepala Amina lalu duduk dikursinya untuk menikmati kopi hangat buatan Amina.
Sementara Amina mulai memungguti baju baju Alka dengan bibir yang terus mengomel, "Bagimana bisa dia melakukan ini, seperti anak kecil saja."
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen yaa...
__ADS_1
Harusnya ini buat kemarin tp karna ketiduran jadi ya baru kerelease sekrng hehe