JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
57


__ADS_3

Tidur Amina terusik kala ada yang menyentuh pipinya. Amina pikir hanya mimpi namun semakin lama semakin nyata dan rasanya pun semakin geli.


Amina membuka matanya, melihat Alka berada didepannya saat ini.


"Mimpi apa ini." gumam Amina dengan suara serak khas bangun tidur.


Amina kembali memejamkan matanya, Ia masih mengantuk namun rasa geli itu kembali terasa membuat Amina akhirnya bangun.


"Mas..." Amina terkejut karena Ia tak bermimpi, Alka benar benar berada disampingnya saat ini.


"Aku tahu sedang menganggu tidurmu, tapi aku sangat merindukanmu, maafkan aku." ucap Alka lalu mencium Amina memberikan gesekan sedikit hingga Amina paham apa yang membuatnya merasakan geli sedari tadi. Bulu bulu lembut didagu Alka yang membuatnya merasakan geli.


"Kenapa mas bisa disini? Bagaimana kalau Mama dan Papa masuk?"


Alka tersenyum, "Aku akan segera keluar setelah rasa rinduku hilang."


Amina ikut tersenyum, rayuan Alka benar benar maut membuatnya luluh seketika.


"Bagaimana hari ini? Apa menyenangkan?"


Amina mengangguk, "Mama sangat baik, aku masih tak menyangka." akui Amina.


Alka kembali tersenyum, "Kamu hanya belum mengenal Mama saja, jika sudah akrab kamu pasti bisa merasakan kasih sayang Mama yang tulus." ucap Alka yang membuatnya kembali teringat beberapa tahun yang lalu saat Ia menjalin kasih dengan Sarah.


Awalnya Wina tak setuju Alka bersama Sarah melihat keluarga Sarah yang berantakan waktu itu namun karena Alka mencintai Sarah membuat Wina luluh hingga akhirnya merestui hubungan Alka dan Sarah.


Wina mulai menerima Sarah dan menyayanggi Sarah layaknya anak kandung hingga Wina dibuat kecewa saat Sarah menolak lamaran Alka dan memilih karirnya.


Setelah itu Wina ingin Alka putus saja namun karena Alka masih mencintai Sarah akhirnya Wina membiarkan hubungan mereka berlanjut.


Wina tak lagi memperdulikan Sarah, puncaknya saat lamaran Alka kembali ditolak membuat Wina sangat murka dan benar benar tak merestui Alka. Itulah sebabnya Wina ingin mencarikan jodoh untuk Alka karena mungkin Wina merasa Alka tidak bisa mencari pasangan yang tepat.


"Mas... malah melamun." sentak Amina membuat bayang bayang Sarah menghilang.


"Mikirin apa?" tanya Amina penasaran.


"Mikirin mantan eh mikirin kamu." Alka salah bicara membuat raut wajah Amina mendadak berubah.


"Mikirin kamu, engga mikirin siapa siapa." ucap Alka lagi namun sepertinya Amina sudah tidak percaya.


Hoaammm, Amina menguap hingga mengeluarkan suara.


"Ngantuk nih mas, aku tidur lagi ya." pamit Amina langsung memejamkan matanya tanpa menunggu persetujuan dari Alka.


Alka menepuk nepuk bibirnya, "Dasar bodoh." umpatnya dalam hati.


Alka menciumi Amina yang sudah memejamkan mata meskipun Alka tahu Amina belum tidur, Amina mungkin kesal padanya jadi memilih pura pura tidur.


Puas menciumi Amina, Alka memberi ciuman terakhir dijidat Amina, cukup lama setelah itu Ia berbisik, "Love you more sayangku Amina."


Amina yang tak bisa menahan diri, tersenyum mendengar bisikan maut Alka.


"Pura pura tidur." cibir Alka.


Amina membuka matanya, "Biar Mas lebih puas melamun mikirin mantan jadi aku pura pura tidur saja." ungkap Amina terdengar kesal.

__ADS_1


Alka tertawa, "Maaf sayang, nggak bermaksud buat bohong, jujur aku memang baru aja kepikiran sama Sarah." akui Alka.


"Oh jadi namanya Sarah," Sindir Amina, nadanya terdengar julid membuat Alka lagi lagi tertawa geli.


Alka akhirnya menjelaskan pada Amina tentang Sarah yang membuatnya melamun.


"Jangan jadi seperti Sarah ya, jangan ngecewain Mama." pinta Alka yang langsung diangguki oleh Amina.


Rasa kesal Amina mendadak hilang setelah mendengar pengakuan Alka tentang Sarah.


"Mas udah nggak cinta sama dia?" tanya Amina penasaran dengan perasaan Alka.


Alka menggelengkan kepalanya, "Kalau aku masih cinta sama dia, aku nggak mungkin sama kamu."


Pipi Amina langsung saja merona mendengar ucapan Alka.


"Perayu!"


Alka tertawa, "Seriusan sayang."


Amina terdiam, menatap Alka namun seketika menunduk kala Alka membalas tatapannya.


Tangan Alka terangkat, mengelus pipi Amina dan terakhir berhenti dibibir. Alka mengelus bibir Amina, mendekatkan bibirnya untuk mencium bibir Amina namun belum sempat bibir mereka menyatu...


"ALKAA... kembali ke kamar, tidur!" Teriakan Wina diluar kamar mengejutkan keduanya.


Alka dan Amina tertawa bersamaaan,


"Tuh kan... Mas sih!" ucap Amina sebal.


"Aku keluar dulu sayang." pamit Alka lalu mengecup kening Amina.


Alka berdiri, sebelum keluar Ia merapikan celana kolornya, mengelus si otong agar kembali tidur karena si otong baru saja bangun.


"Astaga mas!" Amina semakin terbahak melihat otong Alka yang berdiri tegak hingga mengecap dicelana kolornya.


"Suka gini dia kalau deket deket sama kamu, dasarnya nakal." kata Alka.


"ALKAAA..." Wina kembali berteriak.


"Iya Ma... Iya!"


Alka segera keluar setelah Otong kembali tidur. Didepan pintu sudah ada Wina yang menatapnya tajam.


Plak... Plak... Plak...


Wina memukuli lengan Alka.


"Dasar, nakal kamu ya bener bener deh!"


"Aduh, ampun Ma... Ampun."


Alka menghindar membuat Wina menghentikan pukulannya.


"Kalian itu belum nikah, ngapain kamu masuk ke kamar Amina!"

__ADS_1


"Cuma ngeliatin Amina tidur kok Ma, seriusan deh." ucap Alka sambil menunjukan dua jarinya.


Wina menatap Alka dengan tatapan menyelidik, Ia bahkan melihat ke arah otong Alka.


"Seriusan Ma, Alka nggak bohong." ucap Alka lagi meyakinkan Wina namun Wina masih memperhatikan celana kolor Alka.


Tidak basah dan tidak berdiri, berarti aman pikir Wina.


"Ya sudah tidur sana, awas saja sampai kamu masuk ke kamar Amina lagi."


"Iya deh Ma, iya."


Alka memasuki kamarnya, sebelum menutup pintu Alka melihat Wina masih berdiri disana seperti memastikan Alka benar benar masuk ke kamar.


"Set dah, sial amat baru aja mau kissing udah digangguin sama Mama."


Pagi harinya...


Alka dan Amina bersiap untuk fitting baju pengantin, keduanya berangkat sendiri tanpa ditemani oleh Wina.


"Maaf ya, tiba tiba Mama nggak enak badan." kata Wina yang memang merasakan tubuhnya lemas, kelelahan karena seharian kemarin Ia beraktifitas diluar.


"Mama sih, udah malem masih begadang nggak tidur." celetuk Alka.


"Gara gara kamu itu!" Wina melotot membuat Alka tertawa.


Alka dan Amina pun berangkat untuk fitting baju.


Kini tinggalah Wina dan Karsa yang berada dirumah.


"Budhe...Pakde..." suara Rania terdengar memasuki rumah.


"Rania, apa lagi ini?" tanya Wina saat Rania mengulurkan sekotak kue.


"Kue, dari Mama."


"Mama kamu itu bener bener deh, nggak bisa diem. Masak terus ya."


Rania mengangguk, "Tadi lihat mas Alka keluar sama..."


Wina tersenyum, "Iya mau fitting baju buat resepsi."


Rania tersenyum sinis, "Memang Budhe sudah yakin mau jadikan Amina menantu?"


Wina mengangguk, "Amina pilihan Alka, Budhe cuma mau Alka bahagia sama pilihanya."


"Andai Budhe sama Pakde tahu Amina itu anaknya gimana, pasti nggak bakal setuju."


Wina mengerutkan keningnya tak mengerti,


"Sebenarnya kamu itu mau ngomong apa Rania, dari kemarin ngomongnya gitu bikin penasaran." sahut Karsa terdengar kesal.


"Gini Budhe sama Pakde, Rania mau ngomong kalau Amina dulu pas disekolah terkenal, bukan karena terkenal pintar tapi terkenal sering jual diri."


Seketika Wina dan Karsa terkejut mendengar ucapan Rania.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2