JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
22


__ADS_3

Amina merasakan jantungnya berdegup sangat kencang saat Alka menyentuh kulit tangannya. Ia menunduk tak berani menatap Alka hingga Alka melepaskan tangannya.


"Aku hanya memperingatkan mu, jangan berani menggodaku lagi atau kau akan tahu akibatnya." bisik Alka ditelinga Amina membuat Amina merinding seketika.


"Ba baik pak, kalau begitu saya keluar dulu." Amina mengambil peralatan kebersihan miliknya dan hendak keluar namun suara Alka lagi lagi menghentikan langkahnya,


"Memang pekerjaanmu sudah selesai?"


Amina mengangguk karena sebenarnya ruangan Alka masih bersih, tidak ada debu seperti yang Alka katakan tadi.


"Ck, tetap bersihkan lagi." perintah Alka.


Amina memberanikan diri mendongak menatap Alka, "Tapi ruangan ini sudah sangat bersih pak."


"Kau membantah?"


Amina menggelengkan kepalanya, "Biasanya ruangan ini dibersihkan saat Bapak ada diluar jadi-"


"Kau mengusirku dari ruangan ku sendiri?" tuduh Alka membuat Amina semakin panik.


"Tidak bukan begitu pak jangan salah paham."


Alka tersenyum geli melihat wajah khawatir Amina, Ia kembali duduk di kursinya.


"Lanjutkan saja aku tidak akan melihat ke arahmu lagi."


Amina menghela nafas panjang, Ia benar benar bingung dengan sikap Alka yang berubah ubah, tadi Alka menuduhnya dan sekarang Alka terlihat tenang seolah tidak ada masalah apapun.


Amina kembali melanjutkan pekerjaannya, sesekali Alka masih melirik sambil tersenyum tipis melihat Amina sangat hati hati saat bekerja agar tidak terlihat menggodanya.


Pintu terbuka, terlihat Juan memasuki ruangan Alka sambil membawa sebuah berkas namun Alka tahu jika ada maksud lain hingga Juan memasuki ruangannya padahal Ia tidak memanggil.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" suara Juan membuat Alka dan Amina menatap ke arahnya.


"Bukankah seharusnya ruangan ini dibersihkan pagi dan malam saat bosnya tidak ada diruangan? Bagaimana kalau bos kita terkena debu dan sesak nafas?"


Amina kembali panik setelah mendengar ucapan Juan, Ia sudah tahu jam untuk membersihkan ruangan Alka memang pagi dan malam namun Alka tadi yang meminta melakukan ini.


"Maafkan saya Pak, saya hanya di minta oleh pak Alka."


Juan tersenyum, Ia meletakan berkas di meja Alka dan bisa melihat Alka menatapnya sangat tajam.


"Ah jadi begitu, ya sudah lanjutkan saja jika Tuan yang meminta dari pada nanti kau dipecat!"


Amina mengangguk, melanjutkan pekerjaan tanpa mengusik Juan dan Alka.


Juan menatap Alka sambil tersenyum tengil "Pasti menyenangkan sekali ya Tuan." goda Juan.


"Aku belum meminta berkas ini, untuk apa kau memberikannya sekarang?" Alka masih menatap Juan tajam.


"Saya sudah menyelesaikannya lebih awal jadi saya bawa kesini."

__ADS_1


"Ya sudah kembali keruanganmu sana!" usir Alka.


"Apa Tuan tidak membutuhkan bantuan saya agar saya bisa tetap berada disini?" Mata Juan menatap ke arah Amina membuat Alka paham apa maksud Juan.


"Segera kembali keruanganmu atau kau ku pecat!"


Juan tertawa renyah, "Baiklah Tuan."


Juan segera berbalik keluar dari ruangan Alka sebelum menutup pintu Ia sempat bersiul ke arah Amina membuat Alka sangat geram.


"Sudah selesai pak." Amina mendekati meja Alka.


"Kau yakin sudah bersih semua?"


Amina mengangguk, sangat yakin jika ruangan ini sudah bersih.


"Ya sudah, aku akan memanggilmu lagi jika ada sesuatu yang ku butuhkan."


Amina kembali mengangguk dan segera keluar dari ruangan Alka membawa peralatan kerjanya.


"Apa pelayannya hanya aku? Kenapa hanya aku yang akan dipanggil." gumam Amina merasa heran.


Amina kembali ke pantry untuk istirahat sebentar, Ia melihat teman temannya bersiap untuk pulang. Jam shift pagi sudah berakhir jadi sudah waktunya mereka pulang.


"Na bantuin gue dong." ucap kaka salah satu rekan Amina yang satu shift dengannya. Pria muda paling tampan diantara para cleaning service lainnya.


"Bantuin apa Ka?"


Meskipun Amina tahu itu bukan bagiannya namun Amina tidak pernah menolak jika ada temannya yang meminta bantuan itulah sebabnya rekan kerja Amina banyak yang memanfaatkan Amina agar membantu mereka.


"Lo bersihin bagian luar aja biar gue yang bagian dalam." kata Kaka saat mereka sudah berada di toilet bagian atas.


"Siap."


Amina segera mengepel lantai toilet bagian luar,


"Lo udah punya pacar Na?" tanya Kaka saat keduanya sedang bekerja.


Amina menggelengkan kepalanya karena selama ini Ia memang tidak pernah menjalin hubungan spesial dengan siapapun.


"Serius? Cewek secantik Lo nggak punya pacar?" Kaka terlihat tak percaya bahkan meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mendekati Amina.


"Nggak cantik kok biasa aja, masih banyak yang lebih cantik dari aku."


Kaka menggelengkan kepalanya tak setuju dengan ucapan Amina, "Lo cantik, gue aja naksir." Kaka tersenyum menyerigai.


Amina tentu saja terkejut dengan pengakuan Kaka, "Tapi aku nggak ada minat buat pacaran."


Kaka berdecak, "Jaman sekarang nggak masalah nggak perlu pacaran buat..."


"Buat apa?" Amina tak mengerti maksud Kaka.

__ADS_1


Kaka tidak menjawab, Ia tersenyum menyerigai dan semakin mendekati Amina bahkan memojokan Amina.


"Lo masih perawan nggak?"


Deg... Satu pertanyaan yang terdengar menghantam kepala Amina.


"Ck, kalau Lo diem artinya enggak kan?" tebak Kaka.


"Aku udah selesai, mau siap siap buat balik." Amina mencoba keluar dari kungkungan Kaka namun Kaka tidak membiarkan Amina keluar.


"Ntar malem main yuk, ke kosan gue."


Amina memberanikan diri menatap Kaka karena ucapan Kaka semakin terdengar melecehkannya.


"Minggir, aku mau keluar!"


"Ck, nggak usah sok jual mahal gitu lah sama Gue," Kaka terlihat ingin menyentuh pipi Amina namun Amina langsung menyentak tangan Kaka.


"Jangan kurang ajar!"


Kaka tertawa, "Dasar Lo, udah nggak perawan aja sok jual mahal!"


"Kamu nggak tahu apa apa!" Amina hampir menangis.


"Ya kalau Lo masih perawan buktiin dong, coba main sama gue biar gue percaya kalau Lo memang masih perawan." kata Kaka sambil tersenyum menyerigai.


"Nggak ada untungnya buat aku, sekarang baiknya kamu minggir aku mau keluar!"


"Gimana kalau gue nggak mau?"


Kaka kembali ingin menyentuh Amina namun gagal karena lagi lagi Amina menyentak tangan Kaka.


"Jangan kurang ajar atau aku akan teriak!" ancam Amina.


"Teriak aja, Lo pikir ada yang percaya sama anak baru kayak Lo?"


Amina benar benar ingin menangis saat ini juga, Kaka sangat kurang ajar sedari tadi mencoba menyentuh dirinya beruntung tangan Amina cekatan jadi Kaka tidak sampai menyentuhnya.


Amina yang sudah sangat marah akhirnya menginjak kaki Kaka membuat Kaka mengaduh sakit dan kesempatan Amina buat kabur.


Namun saat Amina hendak keluar, Kaka mencekal lengan Amina dan langsung menyeretnya kembali ke pojokan.


"Sialan, cewek murahan aja sok jual mahal."


Kaka menangkup dagu Amina dan berniat mencium Amina meskipun Amina memberontak meminta Kaka melepaskannya.


Sedikit lagi dan Kaka berhasil menyentuh bibir Amina namun suara pintu yang terbuka kasar membuat Kaka kembali gagal mencium Amina.


"Sial!" desis Kaka namun akhirnya Ia terkejut melihat siapa yang berdiri di pintu begitu juga dengan Amina yang ikut terkejut.


"Pak..."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2