JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
34


__ADS_3

Seharian berada dikantor membuat Alka tak tenang apalagi tidak ada Amina. pikirannya melayang, masih mengingat kejadian pagi tadi saat Ia mencium dan menyentuh Amina tanpa ada penolakan dari Amina.


Ya tentu saja Amina tidak menolak karena Amina yang menggodanya lebih dulu.


"Kopinya pak." Siska salah satu cleaning service yang menggantikan tugas Amina tampak meletakan kopi dimeja kerjanya.


Alka berdecak, "Aku tidak ingin kopi buatanmu, belikan saja dikafe sebelah." pinta Alka lalu memberikan satu lembar uang ratusan pada Siska.


"Ta tapi pak-"


Alka menatap tajam ke arah Siska yang langsung membuat Siska takut dan mengambil uangnya lalu pergi meninggalkan ruangan Alka.


Siska sudah berada diluar ruangan Alka, Ia berdecak dan menghentakan kakinya merasa kesal karena kopi buatannya ditolak oleh Alka, "Dasar nyebelin, apa sih bagusnya Amina sampai nolak gue kayak gitu! Cantik enggak, dekil iya!" umpat Siska sambil berjalan keluar kantor.


Alka baru saja selesai meeting, Ia kembali keruangannya diikuti oleh Juan.


"Apa kau sudah mengantar makan siang kerumah sakit?" tanya Alka memastikan.


"Sudah Tuan, saya bahkan memberikan sendiri untuk nona cantik-" ucapan Juan terhenti kala Alka menatap tajam ke arahnya.


"Apa masih ada meeting lagi?"


"Masih ada satu pertemuan lagi pukul 4 sore nanti Tuan."


"Apa tidak bisa di undur?"


"Tidak Tuan."


Alka berdecak, Ia tidak bisa datang lebih cepat kerumah sakit hari ini.


Sementara dirumah sakit, Amina tersenyum senang saat mendengar dari suster jika Ibunya sudah sadar.


Amina segera memasuki ruang ICU,


"Ingat, hanya 15 menit setelah itu biarkan pasien istirahat." kata suster yang berjaga disana yang langsung diangguki oleh Amina.


"Ibu..." bibir Amina bergetar kala melihat kedua mata ibunya terbuka namun ibunya terlihat lemas tak berdaya.


"Amina sayang... Maafkan ibu." ucap Surti dengan suara lemah dan berbata.


Amina menggelengkan kepalanya, Ia segera mengenggam salah satu tangan ibunya, "Ibu, jangan katakan itu, Ibu sama sekali tidak bersalah atas apapun, jangan meminta maaf lagi."


"Pasti biayanya sangat besar, maafkan ibu." ucap Surti lagi.


"Ibu jangan khawatirkan masalah biaya, Pak Alka mau membantu kita. Pak Alka yang sudah membayar biaya rumah sakitnya, nanti Amina hanya perlu mencicil setiap bulannya, Ibu tidak perlu memikirkan itu, Ibu harus cepat sembuh." ungkap Amina yang akhirnya membuat Surti tersenyum lega.


Sebenarnya, Surti sudah mengetahui penyakitnya sejak masih bekerja dirumah Alka namun Ia hanya mengatakan pada Amina jika Ia hanya sakit asam lambung, Surti tidak ingin putrinya putus sekolah karena waktu itu Amina pernah mengatakan jika Ia siap putus sekolah dan bekerja menggantikan dirinya.


Surti tidak rela jika Amina sampai putus sekolah hanya karena dirinya maka dari itu Surti nekat menyembunyikan penyakitnya dan siapa sangka penyakitnya malah bertambah parah sekarang.


"Waktu bertemunya selesai, silahkan keluar. Biarkan pasien istirahat." ucap Suster pada Amina.


Amina menatap suster itu dengan tatapan memohon, "Biarkan aku disini 10 menit lagi sus."

__ADS_1


"Tolong patuhi peraturan rumah sakit ini!" ucap Suster itu terdengar galak.


"Baiklah." Amina mengangguk lemas, Ia sempat mencium punggung tangan Ibunya sebelum keluar dari ruang ICU.


"Apa saya nanti boleh masuk lagi Sus?" tanya Amina.


"Satu hari hanya diperbolehkan sekali!"


Amina bertambah lemas, Ia keluar dari ruang ICU dengan wajah cemberut.


"Kenapa harus ada peraturan seperti itu, dasar menyebalkan!"


Amina duduk dibangku yang ada disana, seharian berada disini rasanya membosankan apalagi tidak ada Alka disini.


"Kenapa aku malah memikirkan pak Alka, dasar tidak waras!" batin Amina mengumpati dirinya.


Sore hari, Amina pulang kerumah untuk mandi sekalian makan malam. Beruntung jarak antara rumah dan rumah sakit tidak terlalu jauh jadi Ia tidak harus mengeluarkan ongkos untuk naik ojek.


Amina baru saja selesai makan, Ia bersiap untuk kembali kerumah sakit dan saat membuka pintu rumah, Amina dikejutkan oleh kedatangan Alka.


"Pak Alka..."


"Aku mencarimu dirumah sakit tapi kau malah tidak ada." ucap Alka yang langsung membuat Amina tersipu malu karena merasa dicari oleh Alka.


"Ayo makan malam bersama." ajak Alka memperlihatkan plastik bertuliskan nama merek ayam goreng ternama.


"Ta tapi pak-" Amina menghentikan ucapannya.


"Tidak pak, silahkan masuk." Amina membuka pintunya lebih lebar agar Alka bisa masuk kerumahnya.


Tadinya Amina ingin menolak tawaran makan malam dari Alka karena Ia baru saja makan namun Amina merasa tak enak dan akhirnya Ia memutuskan untuk makan malam bersama Alka.


Selesai makan malam, keduanya kembali kerumah sakit.


"Ibu sudah sadar." ucap Amina saat keduanya sedang berada didalam mobil.


Alka tampak tersenyum senang, "Aku senang mendengarnya."


"Tadi aku hanya diperbolehkan bicara dengan Ibu hanya 15 menit, suster disana sangat menyebalkan!" keluh Amina.


Alka tersenyum lalu mengelus bahu Amina, "Bersabarlah sedikit lagi, jika Bik Surti sudah dipindah keruang perawatan, kau bisa menemaninya setiap detik."


Amina menghela nafas panjang, rasanya Ia sudah tidak sabar ingin terus dekat dengan Ibunya.


Keduanya pun sampai dirumah sakit, Amina dan Alka segera memasuki rumah sakit.


Tak terduga, Alka meminta suster untuk bertemu dengan Bik surti.


Awalnya Suster yang berjaga tidak mengizinkan namun setelah Alka bernegoisasi cukup lama akhirnya Suster mengizinkan Alka memasuki ICU.


"Untuk apa Pak Alka ingin bertemu Ibu?" heran Amina melihat Alka sudah memasuki ICU sebelum Ia sempat bertanya.


Amina menunggu diluar, 5 menit, 10 menit hingga 15 menit, Alka belum keluar juga.

__ADS_1


"Apa yang mereka bicarakan?" gumam Amina masih memandangi pintu ICU yang tertutup.


Amina melihat ke arah jam tangannya, sudah hampir 20 menit dan Alka masih juga belum keluar, "Apa apaan ini, kenapa Pak Alka boleh berada disana lebih dari 20 menit?" protes Amina lalu bangkit dari duduknya dan berniat mengungkapkan kekesalannya pada Suster.


Saat Amina ingin membuka pintu bersamaan dengan Alka yang keluar dari ICU.


"Mau ngapain?" tanya Alka menatap Amina heran.


"Mau masuk, mau protes sama suster. Kenapa Pak Alka boleh lebih dari 15 menit sementara aku tidak!"


Alka tersenyum, "Sudahlah, biarkan Ibu istirahat." Alka merangkul Amina lalu mengelus pundaknya. Amina sedikit heran saat Alka menyebut Ibu padahal biasanya Alka menggunakan embel embel Bik Surti atau tidak Ibumu.


"Ta tapi pak-"


"Jangan membantah, lebih baik kita segera ke mobil untuk istirahat." Ajak Alka.


Amina hanya bisa menghela nafas panjang dan menuruti Alka padahal Ia ingin sekali bertemu dengan Ibunya.


"Apa yang bapak Bicarakan dengan Ibu?" tanya Amina penasaran.


"Tidak ada, aku hanya ingin melihatnya saja." Alka mengambil 2 selimut dikursi belakang untuk


Dirinya dan Amina.


Amina menatap Alka tak percaya, rasanya tidak mungkin jika Alka tidak mengatakan apapun.


"Ada apa dengan tatapanmu itu? Aku tidak mengatakan apapun yang buruk tentangmu." kata Alka lalu tertawa.


Amina hanya diam, Ia tahu jika Alka tidak mungkin menceritakan padanya.


Keduanya menghabiskan waktu untuk mengobrol hingga tak sadar jika kantuk menyerang dan keduanya terlelap bersama.


Paginya, keduanya bangun dikejutkan oleh suara ponsel Alka yang berdering.


"Mama..." gumam Alka saat melihat layar ponselnya. Alka segera menerima panggilan dari Mamanya.


Amina hanya diam memperhatikan Alka.


"Iya Ma, ada apa?"


Alka terlihat sangat terkejut, entah apa yang Mamanya bicarakan, Amina bahkan tidak bisa mendengar.


"Alka pulang sekarang Ma."


Suara Alka terlihat panik membuat Amina ikut khawatir.


"Ada apa pak?"


"Mama masuk rumah sakit, aku harus pulang sekarang!"


Bersambung...


Komen yukk komeennn hehe

__ADS_1


__ADS_2