
Keduanya sudah berada didalam mobil, Alka dan Amina sama sama diam, sibuk dengan pikiran mereka masing masing hingga Alka mendengar suara dengkuran halus milik Amina.
Alka menatap Amina dan melihat gadis itu sudah terlelap.
Alka mengambil jaket yang ada kursi belakang, Ia gunakan jaket itu untuk menyelimuti Amina.
"Tidurlah yang nyenyak, jangan pikirkan apapun lagi." gumam Alka sambil mengelus pipi Amina. Tidak cukup hanya mengelus, Alka bahkan berani mencium pipi Amina, seperti kata pepatah Alka mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Nyatanya tidak hanya cantik yang membuatku tertarik padamu namun juga kebaikan hatimu." gumam Alka lalu tersenyum.
Alka kembali ke tempatnya, Ia ikut memejamkan mata, terlelap bersama Amina.
Entah berapa jam mereka terlelap hingga lelap keduanya terganggu oleh sirine ambulance yang baru saja datang kerumah sakit.
"Jam berapa? Masih gelap?" gumam Amina mengambil ponsel dalam tas untuk melihat jam.
"Masih jam 3 pagi, tidur lagi saja." pinta Alka dengan mata terpejam, sepertinya Alka masih mengantuk.
"Tapi saya ingin ke tempat Ibu." suara Amina serak khas bangun tidur.
"Masih gelap Amina, tidurlah lagi."
Amina akhirnya mengangguk karena Ia juga masih mengantuk.
Dan keduanya kembali dikejutkan oleh suara Alarm ponsel yang berbunyi tepat pukul 5 pagi.
"Apa kau selalu bangun sepagi ini?" mata Alka terlihat masih mengantuk.
Amina mengangguk, "Maaf ya pak menganggu." Amina merasa tak enak karena suara alarm ponselnya menganggu tidur Alka.
"Tidak masalah, lagipula sudah waktunya kita bangun."
"Saya mau keruangan Ibu dulu, siapa tahu Ibu sudah sadar." kata Amina dengan semangatnya.
Alka menahan tangan Amina, "Apa tidak sebaiknya kau pulang dulu? Mandi dan ganti baju."
Amina melihat bajunya masih baju seragam cleaning service yang Ia pakai kemarin, sepertinya ucapan Alka benar, mungkin seharusnya Ia pulang lebih dulu.
__ADS_1
"Kemarin aku sudah mengatakan pada suster yang berjaga diruang ICU agar saat Bik Surti Sadar langsung menghubungiku, sampai sekarang masih belum ada yang menghubungiku jadi mungkin Bik Surti masih belum sadar."
"Sebaiknya kau pulang dulu, mandi, ganti baju dan sarapan agar kau kuat menjaga Ibumu seharian nanti." pinta Alka yang akhirnya diangguki Amina.
"Aku antar sekarang." Alka langsung menyalakam mobil dan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
Sampai digang rumah Amina, Alka pun ikut turun menemani Amina kerumah kontrakannya. Kali ini tidak ada penolakan ataupun protes dari Amina, padahal biasanya Amina akan melarang Alka turun dan ikut bersamanya jika keadaan gang rumah Amina sedang sepi.
Amina membuka pintu rumah, Ia segera masuk dan tak lupa mempersilahkan Alka masuk, "Silahkan masuk dulu pak."
Alka mengangguk, Ia langsung duduk disalah satu kursi lusuh yang ada diruang tamu sederhana kontrakan Amina.
Tanpa menawarinya lebih dulu, Amina keluar dari dapur terlihat sudah segar seperti habis mandi dan berganti kaos model sabrina, berjalan mendekati Alka dengan membawa secangkir kopi hangat untuknya.
"Tidak perlu repot membuatkan kopi."
"Hanya kopi pak." Amina meletakan kopi dimeja, Ia sedikit menunduk hingga membuat belahan gunung kembarnya terlihat apalagi saat ini rambut Amina dikuncir, membuat leher mulusnya pun terlihat dengan jelas.
"Sial, apa dia berusaha menggodaku?" umpat Alka dalam hatinya.
"Bapak ingin dibuatkan sarapan?" tawar Amina.
"Sabar Alka, sabar... Jangan melakukan hal bodoh disaat seperti ini." batin Alka lagi.
"Pak..." Amina masih menunggu jawaban Alka.
"Buatkan saja apapun,"
Amina mengangguk dan segera kembali ke dapur.
Alka berdecak, "Sial, aku sulit menahan diri jika seperti ini!" umpat Alka mengelus miliknya yang sudah bangun, "Tidurlah lagi, aku tidak akan melakukan apapun pagi ini." gumam Alka.
"Pak..." Amina terlihat kembali ke ruang tamu.
"Bisa minta tolong, saya tidak bisa memasang gas." pinta Amina dengan mata puppy eyes membuat Alka gemas.
Alka mengangguk dan ikut pergi ke dapur Amina, "Biasanya Ibu yang memasang gasnya."
__ADS_1
Alka hanya diam, segera memasangkan gas agar kompor bisa menyala.
"Bapak duduk disana saja, menemani saya masak." pinta Amina tangannya menempel dipunggung Alka saat Alka selesai memasang gas.
Alka geram, benar benar geram dan tak tahan lagi, Ia segera membawa Amina ke pojokan dan menghimpitnya, wajah Amina terlihat terkejut dan langsung pucat namun Alka tak peduli, Alka mencium bibir Amina ********** perlahan, tangannya pun tak bisa diam, mulai menjelajahi tubuh Amina hingga sampai digunung kembar Amina, memberi remasan pelan membuat Amina mengeluarkan suara kenikmatannya.
Alka melepaskan ciumannya, tangannya terangkat untuk mengelus pipi lembut Amina, "Jangan menggodaku lagi, aku sedang tidak ingin melakukan disaat seperti ini."
Amina hanya menunduk, tak berani menatap apalagi menjawab ucapan Alka.
Alka segera membawa Amina ke dalam pelukannya agar gadis itu merasa tenang.
"Jangan memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin kau lakukan." ucap Alka melepaskan pelukannya, menatap Amina sejenak lalu pergi meninggalkan Amina yang masih tertunduk.
Amina mendongak saat Alka berjalan meninggalkannya, menatap punggung Alka yang berjalan menjauh, "Aku juga tidak ingin melakukannya, tapi aku harus membalas kebaikan bapak."
Setelah kejadian itu, baik Alka maupun Amina lebih banyak diam.
Keduanya baru selesai sarapan, Mereka bersiap untuk kembali ke rumah sakit dan kali ini Amina sudah mengganti bajunya, tidak lagi memakai baju yang memperlihatkan leher dan pundaknya, Amina mengenakan kemeja panjang dan celana jeans. Padahal Alka sudah bersiap untuk mengomeli Amina jika Amina masih mengenakan baju haram itu namun rupanya, baju haram itu Amina pakai hanya untuk menggoda Alka.
"Aku harus ke kantor, ada meeting penting hari ini. Mungkin aku akan datang lagi nanti malam." ucap Alka saat mereka sudah sampai dirumah sakit.
Amina mengangguk, "Jika Bapak sibuk, tidak perlu repot datang kemari, Bapak juga butuh istirahat."
Alka berdecak, "Apa kau akan tidur didepan ICU sendirian nanti malam?"
Amina terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya, jujur Amina takut sendirian berada disini saat malam hari.
"Nanti malam aku akan datang, jangan ada penolakan lagi. Aku benar benar tidak suka dengan gadis pembangkang!" ucap Alka yang akhirnya diangguki oleh Amina.
Amina segera keluar dari mobil Alka, Amina masih berdiri melihat mobil Alka berjalan meninggalkan rumah sakit.
Amina menghela nafas panjang, Ia benar benar tak mengerti kenapa Alka bersikap baik padanya. Amina tak ingin terlalu percaya diri dan menganggap Alka menyukainya karena rasanya tidak mungkin mengingat Alka sudah memiliki kekasih.
"Aku bahkan sudah menawarkan diri, menggodanya meskipun sejujurnya aku takut, aku masih takut dengan sentuhannya yang membuat milik ku sakit, namun dia malah menolak ku. sebenarnya apa yang dia inginkan?"
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komennn