JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
63


__ADS_3

Rania bangun setelah mendengar gedoran pintu begitu kerasnya dari luar. Tubuh Rania yang remuk dan kedinginan karena tidak mengenakan selimut.


"Ada apa ini, mereka menganggu saja!" umpat Rania segera beranjak dari ranjang, mengambil pakaiannya yang bercecer dilantai lalu Ia kenakan karena tak mungkin Rania membuka pintu dalam keadaan polos tak mengenakan sehelai benang, bisa bisa dirinya diminta jatah lagi.


Rania berjalan mendekati pintu, Ia merasa heran kenapa harus mengedor pintu padahal pintunya saja tidak dikunci.


Rania membuka pintunya, melihat pria muda menatap aneh ke arahnya.


"Ada apa pagi pagi sudah mengedor pintu!" sentak Rania terlihat kesal.


"Apa yang kau katakan Nona, bukankah seharusnya aku yang bertanya bagaimana bisa kau berada disini tanpa membayar dulu!" ucap pria ikut kesal.


"Aku sudah membayar semalam!"


"Membayar? Dengan siapa?" pria itu terlihat keheranan.


"Semalam aku datang ada pria tua didepan yang memberikan aku kunci dan dia mengatakan aku bisa menginap 7 malam disini." jelas Rania namun malah membuat pria itu tertawa.


"Jadi kau ditipu oleh pria tua itu?"


"Ditipu? Tidak mungkin, bukankah dia pemilik hotel ini?"


Pria itu kembali tertawa, "Kau bodoh sekali, dia menginap dua hari dikamar ini dan waktunya sudah habis sejak semalam, dia hanya pengujung yang semalam membantuku menjaga hotel."


Rania melotot tak percaya, lagi lagi Ia kena tipu oleh seorang pria tua, sungguh sial, sangat sial bisa bisanya dia...


"Jadi sebaiknya kau bersiap untuk pergi dari sini Nona." usir pria itu.


"Tidak, aku akan membayar untuk menginap dihotel ini!" ucap Rania.


"Baikalah, satu malam 100ribu jadi berapa malam kau akan menginap?" tanya Pria itu.


Rania ingat jika Ia masih memiliki uang 200ribu, bisa Ia gunakan untuk membayar hotel, setidaknya Ia memiliki tempat tinggal sementara sambil Ia memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


Rania masuk kedalam untuk mengambil tas slingbag miliknya dimana ada banyak barang berharga yang bisa Ia jual untuk hidup.


"Mana tas ku, kenapa tidak ada." gumam Rania, mencari ke segala tempat dan hanya melihat kopernya saja.


"Sial, apa pria tua itu juga mengambil tasku!" Rania mulai panik, Ia terus mencari namun tidak menemukan tasnya hingga akhirnya Rania pasrah dan menyerah.


"Bagaimana Nona? Aku tidak bisa menunggu lebih lama dari ini, pekerjaan ku masih banyak." teriak Pria itu dari pintu.

__ADS_1


Dengan langkah pelan dan wajah pucat, Rania menghampiri pria itu, "Ma maafkan aku, tapi tasku hilang sepertinya dicuri."


Pria itu memutar bola matanya, Ia merasa sudah jengah mendengar ucapan para pengujung hotel jika diminta uang menginap.


"Jika memang seperti itu lebih baik kau segera pergi dari sini!" usir pria itu lalu pergi meninggalkan Rania.


Rania mengejar pria itu dan menahan tangannya, "Kumohon, jangan usir aku dari sini. Aku sudah tidak memiliki apapun lagi dan aku juga tidak tahu harus kemana."


Pria itu berdecak, "Itu urusanmu Nona."


"Ku mohon, aku bisa melakukan apapun untukmu!"


Pria itu menghela nafas panjang, Ia melihat Rania dari atas sampai bawah, "Jika kau ingin tinggal disini kau harus bekerja."


"Bekerja apa?"


"Tentu saja membersihkan tempat ini, memangnya pekerjaan apa yang kau inginkan?" sentak pria itu yang langsung diangguki oleh Rania.


"Baiklah, apapun asal aku bisa tinggal disini."


"Tapi bukan kamar itu, ambil barang barangmu dan ikut aku!" ajak pria itu.


Rania bergegas mengambil kopernya, setelah itu Ia mengikuti langkah kaki pria itu yang berjalan menuju belakang hotel.


Rania melotot tak percaya, "Aku tidur dimana?"


"Jika kau ingin tidur bersihkan saja ranjang itu untuk tidur!" ucap pria itu dengan nada kesal.


"Apa tidak ada tempat lain?" Rania terlihat jijik dan ragu untuk memasuki gudang.


"Jika tidak mau ya sudah, keluar dari sini sekarang!"


"Baiklah baiklah." Rania terpaksa menerima karena tidak ada pilihan lain, "Lalu apa yang bisa kukerjakan?"


"Cukup bersihkan kamar yang baru dipakai pelanggan."


Rania mengangguk mengerti, jika hanya membersihkan kamar, Ia juga bisa.


Rania memasuki gudang yang sekarang akan menjadi tempat tinggalnya.


"Ck, sial sekali hidupku sekarang. Sudah digilir ramai ramai masih melayani pria tua brengsek yang merampas tasku, astaga... seharusnya aku bisa cari tempat lain yang lebih layak dengan menjual ponsel dan perhiasan ku yang ada ditas itu," sesal Rania.

__ADS_1


Rania mulai membersihkan gudangnya hingga terlihat rapi dan bersih hingga layak ditinggali, "Setidaknya aku bisa tinggal disini sambil mencari pekerjaan," gumam Rania.


Rania segera keluar dari kamar setelah mendengar teriakan dari pria pemilik hotel.


"Kamar 207 sudah check out, bersihkan sekarang!"


Rania mengangguk dan segera pergi ke kamar yang dimaksud. Betapa terkejutnya Rania saat melihat kamar yang baru saja dipakai terlihat kotor dan berantakan. Sampah berceceran dimana mana.


Rania mulai membersihkan kamar itu meskipun saat ini Ia merasa sangat lelah dan lapar karena sejak kemarin Ia belum makan.


"Ambil makanan ini." pria pemilik hotel mengulurkan nasi bungkus untuk Rania.


"Terima kasih."


Setelah selesai membersihkan 3 kamar, Rania pergi mandi dan kembali ke gudang tempat Ia tidur.


Rania membuka nasi bungkus yang belum sempat Ia makan.


Hanya berisi nasi, oseng buncis dan tempe goreng. Tidak ada lauk ikan goreng kesukaannya.


Karena lapar, Rania akhinya menikmati makan seadanya itu dengan perasaan teriris.


Biasanya jika dirumah, Ia tak pernah melakukan apapun karena ada asisten rumah tangga yang akan membersihkan kamarnya juga memasak untuknya.


Biasanya jika dirumah, Rania tidak akan memakan tempe goreng yang gosong seperti ini, Pasti akan minta ikan goreng atau steak daging.


"Apa aku ini bukan anak Mama, kenapa Mama tega mengusirku seperti ini." gumam Rania sambil menangis.


Rania sudah menghabiskan makanannya, Ia juga sudah tak menangis lagi.


Saat ini Rania duduk di pinggir ranjanh dan terlihat merenung sedih.


"Kenapa hidupku bisa menyedihkan seperti ini?" gumam Rania, "Papa yang tidak pernah dirumah, Mama yang pelit bahkan tega mengusirku, teman temanku pun menghilang saat melihat aku susah dan juga Aldo? Pria brengsek yang juga sudah meninggalkan aku."


Rania menghela nafas panjang, "Apa ini dosaku karena sudah jahat pada Amina waktu itu?" seketika Rania menggelengkan kepalanya, "Tidak mungkin, tapi..."


Rania terlihat ragu untuk mengakui kesalahannya.


"Apa aku minta maaf saja pada Amina? Siapa tahu Keluarga Mas Alka mengizinkan aku tinggal disana." ucap Rania lalu tersenyum mengembang merasa jika itu memang ide yang sangat bagus.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komennn


__ADS_2