
Alka tersenyum puas setelah berhasil mengirimkan video Rania yang sedang check in ke hotel bersama seorang pria tua pada Mama Rania.
Pagi tadi Alka mendapatkan video cctv Rania yang sudah beberapa kali masuk ke hotel dengan pria yang berbeda. Alka memang sengaja menyelidiki Rania mengingat perbuatan Rania sewaktu diresort membuatnya kesal.
"Kau menuduh Amina menjual diri padahal kau sendiri yang menjual diri, sekarang rasakan pembalasan dariku!" umpat Alka melihat video yang Ia kirimkan sudah dilihat oleh tantenya.
Alka meletakan ponselnya, Ia merasa lega karena kejujuran Amina yang malah membuat kedua orangtuanya semakin menerima Amina.
Padahal tadinya Alka sempat takut jika Amina jujur dan membuat kedua orangtuanya membatalkan pernikahan, namun ketakutannya tidak terjadi sama sekali.
Alka berbaring diranjangnya, Mendadak Ia tersenyum mengingat beberapa hari lagi Ia akan menikah dengan Amina.
Ya menikah dengan Amina, gadis yang pernah menawarkan diri padanya dan menolak tawarannya saat Alka menginginkannya lagi.
Alka masih tersenyum, rasanya tak percaya jika pelabuhan terakhirnya adalah Amina mengingat sebelumnya Ia sangat mencintai Sarah dan begitu mengharapkan Sarah namun siapa sangka kedatangan Amina bisa membuat Sarah pergi dari hatinya.
"Ku harap Sarah juga mendapatkan kebahagiaan yang sama sepertiku." gumam Alka lalu memejamkan matanya.
Sementara itu, kini Rania masih merasakan ketakutan yang luar biasa melihat amarah Asih padanya.
"Da dari mana Mama mendapatkan ini?" tanya Rania lagi.
"Nggak penting dari mana Mama bisa dapat video ini, Kamu benar benar sudah membuat Mama malu Rania!"
"Itu tidak seperti yang Mama pikirkan!" Rania membela diri.
"Apa Mama bodoh? jelas jelas ini rekaman cctv dihotel yang kau datangi bersama pria yang berbeda, apa kau tidak merasa jijik dengan dirimu sendiri?" Sentak Asih membuat Rania terdiam.
"Mama benar benar malu!" Asih menatap Rania kecewa.
"Apa yang Rania lakukan juga karena Mama!"
Asih masih menatap Rania tak percaya, "Kau menyalahkan Mama?"
"Karena Mama pelit, tidak mau membelikan barang yang Rania mau, Rania malu Ma... Rania malu didepan teman teman Rania!"
Plakk... Satu lagi tamparan mendarat di pipi Rania.
"Itu karena kamu salah memilih pergaulan, kalau saja kamu berteman dengan orang yang biasa, kamu tidak akan merasa kurang!"
"Rania nggak mau Ma!" Rania terlihat jijik mendengar Asih mengatakan berteman dengan orang biasa.
"Mama selalu perhitungan itu karena Mama nggak mau kamu jadi anak manja yang bisanya cuma minta minta, tapi ternyata kamu malah milih jadi perempuan murahan yang cuma merusak masa depan kamu!"
Rania diam, tak lagi membantah ucapan Asih.
Asih berjalan mendekati lemari milik Rania, Ia mengambil koper dan memasukan semua baju Rania ke dalam koper.
__ADS_1
"Apa yang Mama lakukan?" Rania kembali mendekati Mamanya dan menghentikan tangan Asih yang masih sibuk memasukan baju Rania ke dalam koper.
"Mama mau usir kamu, bukannya kamu sudah tidak butuh Mama lagi?"
Rania melotot tak percaya, "Apa Mama gila? Rania bakal bilang sama Papa!"
"Ya sudah sana bilang biar Papa kamu tahu seperti apa kelakuan putrinya ini!"
Rania menggelengkan kepalanya, "Ma... Please, jangan usir Rania." mohon Rania dengan mata berlinang.
Asih seolah tak memperdulikan permohona Rania, tetap memasukan baju Rania hingga habis.
"Sekarang pergilah!" Asih mendorong koper, memberikan pada Rania.
"Ma... Maafin Rania." mohon Rania lagi berharap Asih berubah pikiran.
"Lebih baik kamu pergi, Mama nggak mau lagi menampung anak yang bisanya cuma bikin malu keluarga!"
Rania akhirnya menangis, "Apa aku bukan anak Mama? kenapa Mama jahat sekali padaku!" protes Rania dengan isakan tangis.
"Apa masih kurang kasih sayang yang sudah Mama berikan untukmu? Tapi lihat apa yang sudah kau lakukan ini? Mempermalukan keluarga! Jika Papa tahu pasti Ia juga akan melakukan hal yang sama seperti ini!"
"Ma... Please, kasih kesempatan setidaknya sampai Papa pulang."
Asih tersenyum sinis, "Papa kamu pulang seminggu lagi dan Mama sudah tidak tahan melihatmu jadi lebih baik kamu pergi sekarang!"
"Pergi ke tempat Om om yang sudah membayar kamu sana, dasar menjijikan!" ucap Asih lalu pergi meninggalkan Rania.
"Apa aku ini bukan anaknya? kenapa dia tega sekali padaku." gumam Rania lalu membawa kopernya keluar dari rumah.
"Pasti ini ulah mas Alka!
Mas Alka benar benar jahat!" umpat Rania berniat kerumah Alka.
Asih berdiri dibalkon kamarnya, Ia memandangi Rania yang sudah keluar melewati gerbang rumah.
Asih mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya,
"Kamu sudah lihat bagaimana kelakuan putri haram kamu itu!" ucap Asih pada suaminya.
"Biarkan saja." balasnya santai membuat Asih geram.
"Kau sama saja dengan putrimu!"
"Jika sudah tidak ada yang ingin kau katakan aku tutup teleponnya!"
"Terserah, aku hanya ingin mengatakan jika aku sudah mengusir Rania pergi dari rumah!"
__ADS_1
"Apa kau gila?"
Asih tertawa, "Aku memang gila,"
"Brengsek, tidak hanya mandul ternyata kau juga kejam!" ucapnya.
"Masih beruntung aku mau merawat putri haram mu itu!"
"Terserah, jika sampai terjadi sesuatu-"
Asih mengakhiri panggilan sepihak karena Ia tidak mau mendengar ucapan menyakitkan dari suaminya itu.
Selama ini Ia sudah cukup menderita, Ia dinyatakan mandul sementara suaminya sibuk selingkuh dengan wanita lain hingga hamil dan parahnya lagi Asih diminta merawat selingkuhan suaminya yang tak lain adalah Rania.
"Aku benar benar sudah bersabar selama ini!" ucap Asih.
Rania baru sampai dirumah Alka, Ia memasuki gerbang rumah dengan menyeret koper.
Masih pukul 10 malam, Rania yakin jika orang dirumah Alka belum tidur.
Rania memencet bel berkali kali hingga akhirnya pintu terbuka.
Amina yang membuka pintu dan terkejut melihat Rania apalagi raut wajah Rania terlihat marah.
"Semua gara gara Elo!" Rania langsung menjambak rambut Amina.
Amina tidak diam saja, Ia melawan Rania hingga terjadi pertengkaran sengit yang membuat semua orang bangun.
"Astaga, Rania... Amina... Ada apa ini?" jerit Wina yang keluar lebih dulu disusul Karsa dan Alka.
Dengan geram, Alka melerai dan mendorong Rania hingga jatuh ke lantai.
"Dasar cewek gila!"
"Mas itu yang gila, gara gara mas kirim video itu aku jadi di usir sama mama!"
"Video? Diusir? Ada apa ini?" tanya Wina terlihat bingung.
"Iya Budhe semua gara gara Mas Alka sama cewek miskin ini!" Rania menunjuk ke arah Amina.
"Budhe beneran nggak ngerti apa salah Amina sama Alka." ucap Wina.
"Jadi Mama mau tahu? Ah iya mumpung semua ada disini kita lihat bareng bareng biar tahu yang suka jual diri itu Amina atau Rania." ucap Alka.
Rania mengumpati dirinya dalam hati, "Bodoh, harusnya gue nggak kesini!" batin Rania.
Alka mengambil ponselnya dan memperlihatkan video Rania yang membuat semua orang terkejut.
__ADS_1
"Astaga Rania, pantas saja kamu diusir sama Asih!"