Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
BAB 10 : Awal Mula.


__ADS_3

Mesha bergegas menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Seorang laki-laki yang tidak dikenalinya berdiri di depan pintu.


"Siapa ya?" tanya Mesha.


"Eh, itu Mbak, saya diutus keluarga pak Wiryawan ...." jawab laki-laki itu sopan.


"Kalo gitu masuk dulu, Mas. Saya panggil ibu saya dulu."


Mesha membuka pintu depan lebih lebar, mempersilakan laki-laki itu masuk, dan ia segera memanggil ibunya.


Di ruang tengah, Mayang masih sibuk mengecek tulisannya di buku. Mesha perlahan mendekati ibunya.


"Bu, ada tamu katanya utusan dari pak Wiryawan."


Mayang mendongakkan kepala dengan wajah penuh tanya.


"Ya, bentar Nduk."


Tak berapa lama kemudian, Mayang berdiri dan berjalan menuju ruang tamu, menemui laki-laki tadi.


"Saya Tyo, Bu. Saya salah satu asisten rumah tangga di rumah pak Wiryawan, dan kebetulan diutus keluarga pak Wiryawan untuk mengirimkan beberapa barang, Bu. Sebentar saya ambilkan di mobil."


Mayang mengangguk sopan mendengar perkataan laki-laki itu.


Beberapa saat kemudian, laki-laki itu sudah kembali membawa beberapa kotak dan menumpuknya di atas meja.


"Sebenarnya, ini ... ada beberapa tanda cinta dari mas Giyan buat calon istrinya, Bu ...." kemudian laki-laki itu mengulurkan kotak berwarna biru berpita silver. Mayang menatap kotak itu dengan bingung.


"Nduk ... Mesha ... sini sebentar, Nduk!" Mayang menaikkan volume suaranya memanggil Mesha yang terpekur di ruang tengah.


Tak berapa lama, Mesha sudah duduk di samping ibunya.


"Ada apa, Bu?" tanya Mesha.


"Ini, kata mas Tyo, le Giyan ada nitip sesuatu buat kamu," tutur Mayang seraya mengangkat kotak besar tadi.


"Ah, apa ini, Mas?" tanya Mesha.


"Buka aja, Mbak."


Mesha membuka pelan-pelan kotak itu, kemudian ia terkejut. Satu set kain brokat premium berwarna marun yang begitu indah dan kain jariknya. Dan satu kotak kecil berisi aksesoris pelengkap.


"Lhah, lhah! Uapikeeeee ... tadinya ibu mau sewa kebaya aja buat acara lamaran, lha kok malah le Giyan, sudah siapkan! Yowes, kalo gitu, kita langsung ke penjahit nanti sore, Nduk Cha!"


Mesha mengangguk.


"Baik, Bu. Karena amanat dari keluarga bapak sudah saya sampaikan, saya mohon pamit dulu."


"Ah, iya ... iya Mas Tyo, makasih yo ... sampaikan salam saya buat keluarga pak Wiryawan."


"Nggih ... nggih, pamit dulu, pareeeeng!"


Mayang dan Mesha mengantarkan Tyo sampai di teras sebagai bentuk penghormatan untuk keluarga Wiryawan.


"Bejo kamu, Nduk. Calon suamimu itu loman sama kamu!" ucap Mayang saat mereka berdua sudah masuk ke dalam rumah kembali.

__ADS_1


"Hmmmm ...." Mesha mengiyakan dengan malas.


Sore harinya, saat Bagas pulang dari kantor, Mayang dan Mesha berpamitan untuk pergi ke penjahit langganan Mayang di ujung kampung. Mereka berdua berjalan bersama sambil menikmati udara sore.


Setelah pejahit mengukur Mesha, Mayang cepat-cepat berbicara.


"Mbakyu Tutik, jadi dalam tiga hari bisa to?"


"Weleh ... aku ndak janji lho, Jeng. Tapi aku usahakan. Lho kok tiga hari? cepet banget ini lho, apa ada acara khusus?"


"Ada lah pokoknya!" Mayang melengkungkan senyumnya sembari mengerling Mesha yang sudah duduk melihat-lihat majalah.


"Pokoknya to, Mbakyu, aku mau kok, nambah bayarannya. Ndak masalah, yang penting tiga hari sudah jadi."


"Iya, jangan khawatir. Kalo sudah jadi, aku langsung antar ke rumah! Tenang aja!"


"Wesss ... cucok, Mbakyu!"


Setelah beberapa lama berdiskusi, akhirnya Mayang dan Mesha berpamitan. Mereka berdua terdiam sepanjang perjalanan. Mesha masih sibuk memikirkan, apakah pilihannya kali ini tidak salah?


Sementara itu, di rumah, Bagas dan Giyan sudah duduk mengobrol santai.


"Tuh, dah pada pulang," ujar Bagas di sela-sela obrolan mereka, ketika melihat Mesha dan Mayang sudah berjalan di teras.


"Wahhh, ada tamu rupanya!" sapa Mayang, ketika memasuki ruang tamu.


Giyan berdiri dan menyalami Mayang dengan takzim, seraya melirik Mesha.


"Udah daritadi, Le?" tanya Mayang sembari mengambil tempat duduk di sebelah Bagas.


"Lumayan, Bulek ...." jawab Giyan.


"Nduk, tolong bikinke teh buat masmu!" perintah Bagas, kepada putrinya.


"Gak, gak usah Paklek, saya ke sini cuma mau menyerahkan ini secara langsung kepada dek Mesha, sekalian bertanya tanggal lahir, nama lengkap dan nama orang tua," tutur Giyan sambil mengulurkan kotak kecil kepada Mesha.


"Loh apa lagi to, Le? Tadi aja mas Tyo udah bawa macem-macem."


"Itu ... biar kita bisa komunikasi, Bulek. Kan saya juga gak bisa tiap hari datang atau menemui dek Mesha, gak enak dilihat tetangga," jelas Giyan.


"Oh, ya ... ya ... buka aja langsung kalo gitu, Nduk," perintah Bagas.


Mesha tercengang, yang diberikan Giyan adalah sebuah ponsel keluaran terbaru. Kemudian ia menunjukkan pada Bagas dan Mayang, benda do tangannya.


"Le, apa ndak apa-apa terlalu mahal itu,"


"Gak apa-apa, Bulek. Selama saya mampu, apapun akan saya berikan kepada dek Mesya."


Mesha memutar bola matanya agak kesal, mendengar perkataan Giyan barusan. Ia sudah duduk di sebelah bapaknya.


"Itu, nomer saya sudah disimpan di situ, jadi kalo dek Mesha butuh apa-apa, bisa langsung ngomong ke saya."


Bukan pertamakalinya Mesha melihat atau memegang barang seperti itu. Tapi yang ada di tangannya saat ini, adalah model baru. Ia masih sedikit kebingungan memakainya.


"Ini apa, Mas?" tanya Mesha sembari menunjuk sebuah aplikasi berlambang balon percakapan di layar ponsel.

__ADS_1


"Oh, itu aplikasi mengobrol, aku juga udah nambahin id-ku di situ, kamu tinggal tulis text aja."


"Ooh ... " gumam Mesha.


"Ya sudah, Bulek, Paklek, Dek. Saya pamit dulu, sudah sore."


"Ah iya, iya. Maaf yo Le, kalo di sini cuma dianggurin," saut Mayang.


Giyan tersenyum.


"Yang penting tujuan saya datang ke sini, sudah terlaksana, Bulek."


Kemudian keluarga Bagas mengantarkan Giyan sampai ke depan rumah.


"Tuh, Nduk. Kurang apa le Giyan itu, kerjaannya bagus, ganteng, loman, baik, pinter. Kamu bener-bener beruntung!" kata Bagas meyakinkan putrinya.


Mesha terdiam. "Beruntung? Masa iya?" keluh Mesha dalam hati.


Malam harinya, ponsel Mesha berdering. Mesha buru-buru mengangkatnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Mesha tegas setelah saling berjawab salam.


"Gak apa-apa, Dek. Cuma gak tau kenapa, baru pisah sebentar, udah kangen."


Entah kenapa, bukan rasa bahagia yang menyelimuti hati Mesha, tapi perasaan bersalah.


"Dek? Kenapa diem? Apa Mas ganggu kamu?"


"Eh ... gak kok, Mas."


"Hmmm ... kita kan baru kenal sebentar, gak apa-apa kali ya, kalo kita berkenalan seperti ini?"


"Gak apa-apa kok, Mas."


"Mas mau tanya, Dek. Kesan pertama liat Mas, gimana?"


Ingin Mesha berkata sejujurnya, tapi tata krama dan unggah-ungguh yang diajarkan orangtuanya, menghentikannya. Ia memutuskan untuk menjawabnya dengan basa-basi.


"Emmm ... Mas Gi orangnya baik, ramah, sopan, terpelajar, dan ... ganteng."


Terdengar tawa bahagia dari seberang sana.


"Mas kira, mas nyebelin, makanya Dek Mesha malas berbicara dengan, Mas."


Dalam hatinya, Mesha ingin berkata, "Bukan, bukan kamu yang nyebelin, tapi nasibku ini! Kenapa harus menikah muda, dan pergi jauh! Sementara, aku harus mencari Zay."


Ah iya, Zay, mengingat nama itu, hati Mesha bagai teriris sembilu.


"Tuh kan, diem lagi. Males bicara sama, mas kan?"


"Bu .. bukan gitu, Mas. Cuma ...." sanggah Mesha.


"Gak apa-apa kok, mas bisa kok nunggu hatimu terbuka, dan membalas perasaan mas. Ya udah, udah malam, kamu istirahat dulu. Mas juga besok masih kerja."


"Hmmmm ...."

__ADS_1


Setelah menutup telepon, hati Mesha semakin tidak karuan. Inilah awalnya, saatnya mencoba melepas harapannya mencari Zay. Meski Mesha harus menanggung rasa sakit di hatinya. Ia tidak mau merasa bersalah pada Giyan, dan kedua orangtuanya, jika menolak semua ini. Mampukah Mesha melakukannya?


Bersambung ....


__ADS_2