Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
BAB 9 : Menata Hati.


__ADS_3

Pagi ini Mesha masih tergolek malas di ranjangnya. Beberapa saat kemudian, Mayang mengetuk pintu kamar putrinya itu. Meski Mesha mendengar ketukan di pintu kamarnya, Mesha enggan membuka pintu. Mayang yang tidak sabar menunggu putrinya segera menerobos masuk.


"Gusti Pengeran! Anak gadis kok kebluk kayak gini to ... matahari udah nongol daritadi, Genduk yang satu ini malah masih sembunyi! Ayo siap-siap! Ikut ibu!"


"Bentar, Bu. Echa masih mau merem bentaaaarrrr lagi," jawab Mesha dengan malas, menarik selimut kembali menutupi wajahnya.


Mayang menarik selimut Mesha.


"Hiiissshhh! Ayo bangun, besok kalo udah jadi istri le Giyan, jangan gini lho Nduk, bikin malu ibu."


Mesha beringsut bangun dengan ogah-ogahan.


"Lamaran aja belum jelas, udah ngomongin masalah istri, Bu ...." ucap Mesha sambil mengusap wajahnya frustasi.


"Wis ... wis! Ndak usah ngebantah ibu terus! Sekarang mandi, ganti baju yang bagus, ikut ibu!"


Mesha menutup mulutnya yang berkali-kali masih menguap, lalu mengangguk menuruti permintaan ibunya.


Beberapa menit kemudian, Mesha sudah rapi dan wangi. Ia memakai blus berwarna kalem selutut, dengan celana jeans berwarna gelap. Ia mengikat rambutnya ke belakang. Memulaskan sedikit bedak tabur dan lipgloss. Kemudian ia menyambar tas slempang andalannya, dan keluar kamar.


Mayang sudah duduk menunggu di sofa ruang tengah.


"Sudah siap, Nduk?"


Mesha mengangguk.


Ibu dan anak itu kemudian berjalan keluar rumah. Mayang mengunci pintu dan menyelipkan kuncinya di bawah pot bunga.


"Kita mau ke mana sih, Bu?"


"Ke pasar, cari barang-barang untuk keperluan acara lamaranmu, Nduk."


"Ooohhh ...."


Tak berapa lama, mereka berdua sampai di pasar. Mayang begitu cekatan berburu barang, sedangkan Mesha, mengekor di belakangnya dengan ogah-ogahan, sambil sesekali menghela nafas berat.


Beberapa jam berputar-putar di pasar, mereka berdua sudah menenteng beberapa barang dan pulang.


Setelah sampai di rumah, Mesha meletakkan barang-barang yang di bawanya di meja, dan membanting tubuhnya ke sofa.


"Huft! Capek!" serunya pelan-pelan.


Sementara ibunya, Mayang, berjalan terus menuju ke dapur.


Tak berapa lama, Mayang berjalan mendekati Mesha yang masih duduk merosot di sofa, dengan membawa sebuah bungkusan.


"Apa itu, Bu?" tanya Mesha ketika ibunya mulai membongkar bungkusan tadi di hadapannya.


"Oh ini ... buat perawatan wajah dan tubuh, Nduk, ada masker wajah, lulur, dan ...."

__ADS_1


"Buat apa, Bu?"


"Buat perawatan lah, Nduk!"


"Ibu mau perawatan?"


"Ya ndak to! Ini semua buat kamu!"


Mesha memutar bola matanya.


"Ribet banget sih, Bu?"


"Lho, kamu kan bentar lagi nikah. Kamu perlu menjaga tubuhmu untuk suamimu, to?"


Mesha mengernyitkan dahi saat melihat botol sabun sirih tergeletak bersama barang-barang tadi.


"Harus pake ini juga, Bu?" tanya Mesha sembari membaca cara pakai di balik kemasan botol.


Mayang mengangguk sambil tersenyum simpul, Mesha melotot.


"Harus banget, Bu?" tanya Mesha masih setengah ragu.


"Lho, kesehatan dan kebersihan daerah 'itu' juga perlu dirawat, jadi, suamimu nanti bakal betah terus sama kamu, Nduk," jawab Mayang setengah berbisik.


Mesha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah sini, ibu bantu pake lulur ya?"


"Ndak apa-apa, malu to sama ibu?"


"Bukan begitu, Bu ...."


Mesha merasa jengah, ia tidak terbiasa dengan semua ini, perawatan? Boro-boro! Baginya, hanya mencuci muka dengan sabun khusus cuci muka saja, sudah cukup. Untuk tubuhnya pun, cukup dengan mandi yang bersih dan memakai lotion beberapa saat setelah mandi.


Dan kini, ia harus memakai semua barang yang disodorkan ibunya. Mesha merasa agak kesal, tapi ia tidak ingin melukai hati ibunya.


"Ya, Bu. Nanti sore aja, pas mandi sore ya? Sekarang Echa pengen tidur sebentar, boleh kan, Bu?"


Mayang tersenyum.


"Ya sudah, sana, ke kamar. Istirahat, memang, kamu juga harus istirahat. Ibu mau masak, nanti kalo sudah lapar, kamu tinggal makan ya, Nduk ...."


Mesha sudah membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia menatap langit-langit, kemudian mengangkat tangannya yang memakai gelang manik.


"Zay, maafkan aku ... bahkan aku gak bisa menolak kemauan bapak dan ibuku, aku gak sanggup melukai hati mereka. Dan jika aku menolak, itu sama artinya aku juga bakal mempermalukan mereka," Mesha terhenti berkata-kata dan mulai mengusap bulir-bulir bening yang sudah mulai menggantung di ujung matanya.


Beberapa menit kemudian, Mesha sudah terlelap. Ia bermimpi, menyusuri sebuah hutan yang indah. Banyak tanaman buah dan bunga tumbuh. Suara kicau burung, dan gemericik air dari kejauhan.


"Di mana aku?" gumamnya.

__ADS_1


Mesha terus berjalan, dan terus berjalan. Hingga ia melihat sesosok laki-laki yang berdiri, membelakanginya.


Ia mendekat dan memperhatikan sosok itu. Satu hal yang mengejutkannya, ketika ia melihat sebuah gelang manik yang sama, melingkar di pergelangan laki-laki itu.


"Zay? Apa itu kamu?" tanya Mesha sambil terus mendekati laki-laki itu.


"Zay? Akhirnya aku menemukanmu!" Mesha mulai berlari mendekati sosok tadi.


Tapi tiba-tiba, bagai asap, sosok itu menghilang. Mesha memeluk udara kosong di depannya. Ia mulai terisak, menangisi kehilangannya.


Tiba-tiba, ada sulur tanaman mengikat kencang tubuhnya, Mesha meronta-ronta. Ia menangis, memanggil-manggil. Nama yang dia sebut, hanya Zay. Tapi sulur tanaman itu semakin erat menjeratnya. Tiba-tiba terdengar suara, seperti berasal dari sulur tanaman itu.


"Kamu adalah milikku!"


Mesha mulai meronta-ronta lagi. Tapi nihil, sulur itu malah semakin mengikat kencang!


"Nduk ... Nduk ... ini ibu, Nduk! Sayang ... bangun!"


Mesha merasakan sentuhan di pipinya. Mesha mulai membuka mata dan mengerjap. Air mata membanjiri wajah ayunya.


"Kamu ndak apa-apa to, Nduk?"


Mesha melihat ibunya duduk di tepi ranjang. kemudian Mesha beringsut duduk, dan mengangguk.


"Cuma mimpi aneh kok, Bu," tutur Mesha sambil mengusap air matanya.


"Oh ... ya udah, makan dulu yuk. Kamu tidur lama banget, ibu bangunkan beberapa kali, ndak bangun juga, ibu semakin khawatir waktu kamu teriak-teriak tadi. Kamu beneran ndak apa-apa kan, Nduk?"


Mesha mengangguk sembari tersenyum. Mayang mengusap bahu putrinya dengan lembut dan beranjak keluar kamar.


Beberapa menit kemudian, Mesha sudah duduk di ruang makan menyantap makan siang yang sudah sangat terlambat. Sedangkan Mayang, ia sedang duduk mencatat sesuatu, di meja ruang tengah.


Mesha sudah selesai makan, dan mencuci piring bekas makannya, lalu ia duduk di sebelah ibunya yang masih sibuk mencatat.


"Bu, Echa masih khawatir, Bu ... apa Mesha bisa jadi istri yang baik nanti buat mas Gi?"


Mayang berhenti menulis dan mendongakkan kepalanya, menatap Mesha.


"Ya kamu pokoknya, harus patuh sama suami, apa yang dia mau, kamu harus nurut, dan jangan membantah. Suwargo nunut, neraka katut! Jadi, apa yang kamu lakukan harus seijin suami, dan sesuai kemauan dia, Nduk."


Tiba-tiba terdengar ketukan keras di pintu depan.


"Biar Echa aja yang buka, Bu."


Mayang mengangguk.


Bersambung ....


*****

__ADS_1


Suwargo nunut, neroko katut : ke surga ikut, neraka pun terbawa. ( ungkapan jawa )


__ADS_2