Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 64 : Perasaan yang Tersi(k)sa


__ADS_3

Getaran di saku celana, membuat Zayan yang baru saja memarkirkan motor, merogoh dan menarik keluar benda kotak yang bergetar tadi. Setelah melepas helm, ia berbicara di ponsel.


"Jadi, aku gak perlu ke kampus, nih, Man?"


"Ya, aku ke kantormu saja, sekalian ngajak Yuyum jalan-jalan. Di kotamu."


"Baik, aku tunggu."


Senyum menghiasi bibir Zayan setelah menutup pembicaraannya tadi. Ia ikut berbahagia saat tahu teman baiknya sudah selangkah lebih dekat dengan seorang gadis. Laki-laki itu menganggukkan kepala saat ada seseorang rekan kerjanya berjalan melewatinya.


Hari ini, akan menjadi hari yang berbeda dari biasanya. Zayan harus mengurus pembuatan kartu SIM-nya dan kembali bekerja nanti siang. Saat ini, ia hanya akan meminta ijin kepada manajernya, untuk meninggalkan kantor beberapa jam.


Mata Zayan memandangi warung makan milik Zulkifli saat melewatinya, menuju kantor Satpas. Gadis yang diharapkan untuk dilihatnya, tidak ada. Meski warung sudah terlihat ramai oleh pelanggan. Desir aneh merayapi rongga dada laki-laki itu saat ia melihat motor matik yang baru saja berpapasan dengannya. Ingin rasanya menoleh, tetapi ia sadar sedang melaju di jalan raya.


"Apa itu tadi Indy?" gumam Zayan.


Di depan warung, Mesha baru saja turun dari motornya. Ia melepas helm, lalu bergegas masuk. Menemui Sri.


"Baru datang, Nduk?"


"Ya, Bu." Mesha mengulurkan tangan, menyalami, lalu mengecup punggung tangan Sri dengan hormat.


"Kalau belum makan sarapan, makan dulu."


"Sudah, Bu. Oh iya, saya nanti jam sepuluhan, keluar ya, Bu? Mau antar teman berangkat ke luar kota."


"Ya, ndak apa-apa."


Setelah berbicara dengan Sri, Mesha masuk ke bilik kecil di sebelah dapur. Meletakkan tasnya, lalu memakai celemek. Kemudian, ia mulai melayani pelanggan warung.


Di kantor samsat, Zayan duduk di ruang tunggu. Ia melirik pada arloji di tangannya. Tepat pukul sembilan, namanya dipanggil untuk mengambil kartu SIM-nya yang sudah jadi. Ia terheran-heran, di tempat ini, pelayanan administrasi sangat cepat. Sepertinya, semua pegawai di tempat tersebut bekerja secara profesional.


Parkiran bawah tanah Kantor Swarga Bentala, terlihat sepi saat Zayan kembali. Hanya terlihat seorang petugas kebersihan yang membawa beberapa kantong sampah di tangannya. Laki-laki itu pun mengangguk sopan saat berpapasan dengan Zayan. Beberapa menit kemudian, pria muda itu sudah duduk di balik meja kerjanya. Menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda.

__ADS_1


Saat jam makan siang, Zayan memutuskan untuk berjalan menuju rumah makan terdekat. Ia ingin menikmati makan siang di warung makan milik Zulkifli. Sekaligus, ia ingin menemui atau sekadar melihat gadis yang akhir-akhir ini membuat hatinya kalut.


Warung sudah mulai dipadati pelanggan, tetapi Zayan tidak melihat gadis yang ia harapkan untuk bertemu.


Sri tersenyum saat melihat kedatangan Zayan. Sebuah nampan penuh berisi makanan dan minuman, ada di tangan perempuan paruh baya tersebut.


Zayan memutuskan untuk membantu Sri saat pelanggan makin ramai berdatangan. Ia cepat-cepat menyelesaikan makan siangnya.


"Jangan, Mas! Biar saya saja. Nanti Masnya capek, loh."


"Gak kok, Bu. Gak apa-apa, itung-itung untuk membakar kalori makan siang saya, tadi."


"Nduk Indy lagi keluar, jadi saya sendirian. Katanya mau kembali saat jam makan siang. Tapi ini kok dia belum datang."


"Saya bantu sampai Mbak Indy datang, Bu."


Sri merasa sungkan, tetapi ia juga tidak bisa menolak kebaikan laki-laki muda di hadapannya.


Beberapa menit telah berlalu, Mesha baru saja datang. Tanpa melepas helm, ia buru-buru masuk ke warung. Merasa tidak enak telah pergi terlalu lama meninggalkan ibu angkatnya sibuk melayani pelaggan sendirian.


Mesha bergumam lirih, "Zay ...."


"Nduk, Ndy. Tolong Mas Zay dibantu! Kasian nanti kecapekan." Sri berseru dari seberang.


"Ya! Ya, Bu!"


Zayan menoleh ke arah di mana Mesha berdiri. Laki-laki itu tersenyum. Secara reflek, Mesha menutup kaca helmya. Menunduk, menyembunyikan wajahnya. Kedua pipi perempuan itu menghangat.


Pelanggan mulai sepi, beberapa menit sebelum jam makan siang Zayan, berakhir. Sri masih menahannya, menyajikan beberapa makanan ringan dan kopi hangat. Mesha pun terpaksa duduk di hadapan laki-laki tersebut. Menunduk.


"Terima kasih sudah membantu Ibu, Mas."


"Sama-sama. Apa gak cari pegawai tambahan saja? Kasian Bu Sri kalau kamu gak ada kayak tadi."

__ADS_1


"Mmm ... aku udah bilang sama ibu, tetapi ibu bilang gak perlu."


Zayan tersenyum melihat perempuan di hadapannya terus menunduk. Padahal gadis-gadis lain, biasanya akan berusaha menarik perhatian dirinya dengan tingkah yang aneh-aneh. Seperti rekan-rekan kerja perempuannya di kantor.


"Apa aku sangat menyeramkan? Atau sangat jelek sampai-sampai kamu terus tertunduk seperti itu? Atau jangan-jangan, kamu memang selalu menjaga pandangan dengan lawan jenis seperti ini? Kalau begitu, maafkan atas kelancangan mataku."


Mesha geragapan saat mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan Zayan.


"Itu ... bukan ... saya ...."


"Gak perlu sungkan, biasanya juga 'aku-kamu', kan?"


"Sa-eh, aku ... aku gak sealim yang kamu pikirkan. Hanya tertarik dengan gelang yang kamu pakai. Itu. Gak perlu meminta maaf."


Zayan menghapus senyum dari bibirnya. Ia terhenyak. Seolah-olah diingatkan bahwa ada gadis yang ingin ia temukan karena gelang tersebut.


"Oh, ini ...."


"Maaf, kalau pertanyaanku mengganggumu. Gak perlu dijawab, gak masalah."


"Ini ... gelang yang sama, dipakai oleh seorang gadis. Aku gak tahu alasan pastinya. Tapi Mbahkung yang menyuruhku untuk memakai gelang yang sama dengan gadis kecil itu. Aku lupa siapa nama gadis kecil itu. Yang aku ingat, aku dulu memanggilnya dengan nama 'Echa'."


Jantung Mesha berdetak sangat kencang saat laki-laki di hadapannya, menyebutkan nama panggilannya saat kecil. Perempuan itu memberanikan diri untuk bertanya sesuatu yang sedikit lebih lancang.


"Apa gadis kecil itu sangat penting bagimu? Apa yang akan kamu lakukan jika kamu menemukannya?" Mesha mengangkat wajahnya sejenak, memandang sekilas wajah tampan di hadapannya.


Zayan tersenyum, melipat kedua tangannya di dada. Menolehkan wajah ke arah lain.


"Gadis kecil itu ... bisa dikatakan, itu cinta pertamaku. Itu sangat aneh di waktu itu. Anak sekecil itu memikirkan lawan jenis dengan 'gak biasa'. Bukan, bukan seperti itu, dulu aku gak paham perasaan itu. Tapi setelah aku dewasa, aku baru tahu jika perasaan itu, seperti perasaan cinta seperti orang-orang dewasa lain gambarkan."


Mesha memegangi dadanya, menahan jantungnya tetap aman di posisinya. Takut benda yang tak seberapa besarnya itu terlempar keluar. Meski itu hal yang mustahil.


Seorang pelanggan datang, Mesha segera berdiri dan meminta ijin Zayan untuk pergi. Ia sudah tidak tahan lagi. Khawatir perasaannya membuat ia lupa daratan.

__ADS_1


"Tapi, belakangan ini, ada gadis lain yang terus menerus mengganggu pikiranku. Aku harus apa?" Kalimat terakhir Zayan lah yang membuat Mesha goyah. Perempuan itu berjalan sempoyongan.


Bersambung ....


__ADS_2