
Ningsih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Kedatangan Mesha, membuatnyaa tidak sanggup menahan haru. Mantan menantunya itu dipeluknya dengan erat.
"Gusti Allah Nduk! Kamu sehat, to? Bapak dan ibumu piye? sehat semua? Ibu selalu nunggu kamu ke sini, lho, Nduk!"
Mesha menangis, rasa bersalah, rindu dan kebahagiaan bercampur aduk di hatinya.
"Apa saya pantas to, Bu? Setelah kejadian itu ...."
Ningsih melepaskan pelukannya.
"Kenapa ndak pantes? Itu bukan salahmu, Nduk. Jodoh, pati, rejeki itu rahasia Tuhan. Semua juga berjalan atas kehendakNya. Ibu malah menyesal ndak bisa menahan dan menghiburmu. Saat itu, yang paling sedih dan menderita itu, ya kamu, to?"
Mesha menunduk dalam, menghapus air matanya. Kemudian, ia mengangkat kepalanya, tersenyum pada Ningsih.
"Maturnuwun, Bu. Saya bahagia sekali, masih diterima di keluarga ini."
"Wes to. Pintu rumah ini, selalu terbuka lebar untukmu. Oh, iya. Kemarin gimana kuenya? Suka?"
"Suka, Bu. Enak banget!"
Yumna tiba-tiba menubruk ibunya, berakting merajuk.
"Heemmm, gitu, ya? Mbak Mesha datang, Yuyum dicuekin!"
Ningsih tertawa, menepuk lembut pundak putrinya.
"Lha ibu kan tiap hari ketemu kamu. Kalo sama Nduk Mesha kan baru kali ini. Mbokyao ndak usah meri to, Cah ayu!"
"Oh, iya, Bu. Ibunya Mas Karman tadi kirim salam, nanti malam kayaknya mau mampir."
"Oh, gitu? Kalo begitu, ibu kudu masak to, Yum?"
"Gak usah, Bu. Nanti Yuyum pesen aja. Oh, iya. Pesen di warung tempat Mbak Sha kerja aja, enak-enak makanannya, Bu."
"Oh, yowes. Aman kalo gitu."
"Yuyum ganti baju dulu, ibu kangen-kangenan sama Mbak Sha dulu sana, dadah!"
Yumna berjalan melenggang menuju kamarnya. Sementara Ningsih dan Mesha mulai mengobrol kembali.
"Ya gitu itu, udah mau rabi, masih aja bermanja-manja sama ibunya. Oh, iya, sekarang kamu kerja di warung, Nduk? Kenapa ndak meneruskan kuliah aja?"
"Itu ... saya gak nyaman, Bu. Sudah besar ngerepotin orang tua. Ilmu kan bisa didapatkan di mana saja."
__ADS_1
"Wah, gitu, to? Memangnya kamu ndak mau sekolah tinggi-tinggi, Nduk?"
Mesha tersenyum getir, lalu menggeleng. Keinginannya untuk mengenyam bangku kuliah, sudah pupus sejak lama. Ia tidak ingin menyalahkan siapa pun atau apa pun. Keputusan menikah muda juga dia yang ambil sendiri. Meski semua tidak berjalan semestinya.
Mesha terdiam, terapi dalam hatinya, ia ingin menanyakan suatu hal, agar ia merasa lega atas prasangkanya selama ini.
"Ibu, maafkan saya ... apa ibu gak benci sama saya?"
Ningsih terkejut dengan pertanyaan dari perempuan yang duduk di hadapannya.
"Kan ibu sudah bilang tadi, Nduk. Meminta maaf untuk apa? Kamu ndak salah, kok."
"Tetapi, Bu ... seandainya dulu Ibu gak setuju Mas Sakha menikahi saya, pasti ceritanya akan lain."
Ningsih menunduk, ia menarik kedua tangan Mesha lembut, menenggelamkannya dalam genggaman tangannya.
"Kamu tahu, Nduk? Kebahagiaan orang tua terletak pada kebahagiaan anak-anaknya. Banyak kisah-kisah mahsyur yang menceritakan tentang perjuangan orang tua untuk anak-anaknya. Bahkan seandainya ibu Malin Kundang tahu bahwa doanya terkabul begitu saja, dia ndak akan mau mengucap sumpah atau kutukan itu. Memiliki anak, artinya siap dengan segala resiko. Anak laki-lakiku, memilihmu sebagai pendampingnya, dia bahagia saat itu. Terus, kenapa ibu harus menolak permintaan itu?"
Mesha terisak, terharu. Ia kagum akan luasnya hati perempuan paruh baya di hadapannya. Bibirnya kelu, lama.
"Ndak ada seorang ibu yang rela kehilangan anaknya secepat itu, Nduk. Tetapi, anak-anak pun, dari awal hanyalah titipan Tuhan. Kapan pun Tuhan akan mengambilnya, seorang ibu harus siap. Sakha lebih disayang sama Tuhan, makanya dia cepet-cepet diambil. Dan jangan pernah salahkan dirimu atas tragedi itu, Cah Ayu. Itu sudah diatur, olehNya."
Mesha mengangkat wajahnya.
Ningsih tersenyum, menepuk-nepuk lembut tangan dalam genggamannya.
"Malam ini, nginep di sini ya, Nduk?"
"Tapi ... saya belum ijin bapak sama ibu, Bu."
"Nanti aku teleponke Bulek, Mbak Sha." Yumna baru saja keluar dari kamarnya. Terlihat segar dengan baju rumahannya.
"Oh, iya. Sekalian pesanke makan malam. Tole Karman dan ibunya jadi mampir to, Nduk?"
"Eh, iya, Bu. Sudah jalan ke sini, katanya. Nanti biar aku sama Mbak Sha keluar ambil makanannya, Bu. Motoran."
"Oh, gitu. Yowes, kalo begitu, ibu beres-beres dulu. Kamu temeni Mbakmu itu, Nduk."
"Siap, Kanjeng NdoroJuragan Ibu!"
Ningsih tertawa kecil. "Apaan to, kamu?"
Di sebuah rumah sederhana di pinggir kota, Tiga orang laki-laki dan seorang perempuan, duduk di ruang tamu dengan mimik yang serius.
__ADS_1
"Zayan yakin, Bu, Pak. Semua akan baik-baik saja." Zayan menunduk, meminta pengertian dari kedua orang tuanya.
"Kalo kamu juga kena, apa kamu tahu to, Le? Sekali ini saja, tolong nurut sama ibumu, Le. Yo?"
"Tapi, Bu ...."
Arsyanendra sudah muak dan lelah, laki-laki berusia senja itu bangkit dari duduknya. Kemudian pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Ia merasa kecewa dengan putrinya. Namun, ia merasa bahwa ia hanya kakek dari cucunya, Zayan. Ibunya lebih berhak dari siapa pun.
Kesunyian tercipta setelah Arsyanendra pergi, Kartika tahu betul gestur bapaknya. Ia pun memilih menghentikan omelannya.
"Sudahlah, istirahat sana! Ibu juga capek!"
Zayan tertunduk makin dalam, hatinya terluka. Harapannya menyerpih. Ia tidak tahu lagi, apa ia masih mau meneruskan keinginannya.
Nirwasita hadir di kamar Arsyanendra. Ia mendengar pembicaraan manusia-manusia tadi.
"Aku ndak tahu lagi ... keras kepalanya Kartika belum luntur."
"Ya memang wajar, orang tua selalu menginginkan kebaikan untuk anaknya, to?"
Arsyanendra menghela napas.
"Aku ndak suka cucuku harus menjalani sesuatu dengan keterpaksaan. Tapi, kamu yakin rencana itu akan berhasil?"
"Aku ndak yakin sepenuhnya. Tetapi, bagaimana kita tahu kalau ndak mencobanya?"
"Aku juga ndak mau nyawa Zayan jadi taruhannya."
Nirwasita terdiam, lalu tersenyum.
"Ndak, Zayan ndak akan kenapa-kenapa, aku akan berusaha, bahkan jika aku harus binasa."
"Maafkan aku yang ndak berdaya ini, saudaraku."
"Dari awal, aku sudah berhutang nyawa padamu. Kali ini, biarkan aku membayarnya."
"Tolong, jangan binasa!"
Nirwasita tersenyum pada teman lain alamnya tersebut. Tidak ada makhluk di jagatnya yang pernah berkata seperti itu. Ia tidak salah memilih kawan.
Malam makin larut ketika Zayan merebahkan tubuhnya ke ranjang. Ia mengingat momen-momen kedekatannya dengan Mesha tadi siang. Hatinya yang menghangat dan tawa perempuan yang dicintainya.
"Tuhan, sekali ini, maafkan hamba. Karena melawan ibu ... hamba akan membuktikan bahwa, Echa adalah perempuan baik-baik yang terjebak kemalangan."
__ADS_1
Bersambung ....