Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 55 : Tautan Perasaan


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini, Zayan tidak melihat Zulkifli di mana-mana. Sementara beberapa hari lagi, ia akan berhenti bekerja magang di kantor tersebut, guna menyelesaikan tugas akhir dari kampus. Rencananya, jika kantor Bentala Swarga Group tidak merekrutnya menjadi pegawai tetap, ia akan mendaftar kerja di kantor perusahaan milik teman ayahnya.


Zayan duduk di dapur, seperti menunggu seseorang. Secangkir kopi yang masih mengepulkan uap, ada di hadapannya. Seorang office boy muda, masuk ke ruangan tersebut.


"Permisi, Mas," ucap laki-laki itu kepada Zayan. Ia diam, seperti pura-pura tidak mendengar. Kejadian beberapa hari lalu, membuatnya harus lebih berhati-hati.


Zayan menghentikan langkah OB tadi dengan pertanyaannya. Setelah ia yakin, laki-laki tadi adalah manusia.


"Maaf Mas, saya kira tadi ... oh, iya. Beberapa hari ini, Pak Zul gak kelihatan. Kenapa?"


"Oh, itu ... Pak Zul sedang renovasi warungnya, Mas."


"Oh, begitu. Terima kasih."


Laki-laki berseragam tadi, pamit keluar, setelah menjawab pertanyaan Zayan.


Dalam pikiran Zayan, muncul sebuah keinginan untuk mengunjungi Zulkifli setelah pulang kerja. Namun, karena ada sebuah proyek besar. Ia malah harus kerja lembur.


Tepat pukul sembilan malam, Zayan sudah berjalan menuju sebuah tempat. Warung milik Zulkifli. Sesampainya di sana, warung masih gelap dan berantakan. Beberapa meter dari tempat itu, ada sebuah angkringan yang masih ramai. Laki-laki muda dengan jaket hitam trucker andalannya itu, mampir.


"Tadinya, aku curiga, Pak Zulkifli dapat uang haram. Buat renovasi warung dan rumahnya. Ternyata itu uang peninggalan putrinya, Lastri ...."


Baru saja Zayan duduk di bangku panjang angkringan itu, ia sudah mendengar sesuatu yang tidak mengenakkan. Kemudian, ia memesan minuman setelah pemilik angkringan tersebut menyambut kedatangannya. Sontak, orang-orang di situ, menoleh ke satu arah.


"Masnya bukan orang sini?" tanya salah seorang laki-laki dengan pakaian batik berlengan pendek.


"Iya, saya tinggal di pinggiran kota. Tapi saya bekerja di Bentala Swarga Group." Zayan menjawab pertanyaan orang tadi sambil berdiri untuk mengambil sebuah piring kecil untuk makanan ringan.


"Oh, kantor yang besar itu. Tetangga saya ada yang kerja di sana. Zulkifli namanya."


"Pak Zul?"


"Wah, Masnya kenal?"


Zayan mengangguk. Kemudian obrolan beralih ke topik lain setelah itu.


Zayan mengerling pada arloji yang melingkar di tangannya. Hampir tengah malam. Setelah menghabiskan kopinya, ia pamit pada orang-orang di sana.

__ADS_1


"Baru pernah aku lihat, orang kantor sana mau nongkrong dan makan di tempat beginian. Orangnya juga enak diajak ngobrol," ungkap seseorang setelah Zayan pergi.


Di sisi lain, Zayan berjalan menuju ke pangkalan ojek terdekat. Seseorang laki-laki paruh baya, bersedia mengantarnya. Seperti biasa, tukang ojek tersebut mengajaknya mengobrol untuk mengusir sepi.


Setelah membayar beberapa lembar uang kepada tukang ojek, Zayan berjalan menuju teras. Melepas sepatu dan jaketnya, lalu menenteng barang-barang tersebut, masuk ke dalam rumah.


Beberapa lampu sudah dipadamkan. Kursi goyang tempat biasanya Mbahkung duduk, kosong. Zayan berjalan mengendap-endap, mengintip kamar Arsyanendra yang diterangi lampu tidur.


Zayan membetulkan selimut orang tua tersebut. Memandang dengan penuh kasih sayang pada wajah yang sudah berkeriput tersebut.


Seperti merasakan kehadiran seseorang, Arsyanendra terbangun.


"Baru pulang, Le?"


"Iya, Mbahkung. Maaf kalo Zay sudah membuat Mbahkung, bangun."


"Ndak kok, Le. Sudah makan?"


Zayan mengangguk.


"Ya sudah, istirahat sana."


Di sebuah rumah kayu nan sederhana, seorang perempuan paruh baya terisak. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


"Ibu, ibu kenapa?" tanya Mesha saat melihat Sri menangis di sisi lain ranjang.


"Aku mimpi ketemu Lastri, Nduk. Dia cantik banget, gendong bayi yang lucu. Gusti ... kangen banget rasanya.


Mesha meraih tangan perempuan yang duduk di sebelahnya. Menepuk-nepuk lembut punggung tangan yang mulai mengeriput dimakan usia.


"Bagaimana kalau besok kita ziarah ke makam Mbak Lasti, Bu? Kita buka warung agak siangan, gitu?"


Sri mengangguk, masih terisak.


"Tapi, aku sudah pesan makanan buat bancakan, Nduk."


Sudah terlanjur bangun, Mesha beringsut turun dari ranjang. Seperti ada yang menggerakkan hatinya, ia bersimpuh dalam balutan mukena. Rasa rindu pada bapak dan ibunya makin membuncah, tetapi takut akan membuat beban lebih besar, ia belum sanggup pulang.

__ADS_1


Keesokan harinya, setelah Zulkifli berangkat kerja membawa beberapa kardus makanan. Mesha menyampirkan kerudungnya, menggandeng lengan Sri. Kedua perempuan itu berjalan menuju sebuah pemakaman umum.


Mesha merasa pemakaman itu terlalu jauh, ia khawatir jika perempuan yang berjalan bersamanya merasa lelah. Ia mengusulkan untuk memanggil tukang ojek. Namun, Sri menolak.


"Biar olahraga sedikit, Nduk."


Mesha membeli beberapa bungkus bunga untuk menaburi makam di sebuah warung tak jauh dari tempat tersebut. Ketika masuk ke area itu bersama Sri, ia terkejut. Sesosok gadis yang ia kenali, memandanginya. Seorang laki-laki, bersama gadis tersebut.


"Kamu mengenal mereka, Nduk?" tanya Sri.


"Iya, Bu. Salah satu dari mereka, saya kenal."


***


Ruang perkantoran Bentala Swarga Group masih sepi. Zulkifli meletakkan kardus yang ia bawa dari rumah di lantai tempat ia biasa bekerja. Ia meletakkan sebuah kardus juga di meja kerja Zayan. Tepat saat pria muda itu sampai di pintu masuk ruangan.


"Pak Zul? Sehat, Pak?" Ia menyalami Zulkifli dengan perasaan senang.


"Sehat, Mas. Oh, iya. Ini ... bancakan saya, habis renovasi rumah dan warung, Mas. Maaf, cuma sederhana."


"Wah, terima kasih. Sini, saya bantu, Pak!"


Setelah meletakkan tas dan jaketnya, Zayan membantu Zulkifli meletakkan kardus-kardus makanan itu di meja-meja rekan kerjanya. Beberapa dari mereka juga sudah sampai dan bahagia mendapatkan makanan ala kadarnya tersebut. Mengucapkan selamat dan doa untuk Zulkifli.


Zayan dan Zulkifli sudah duduk di dapur. Berhadapan. Pekerjaan kantornya sudah ia selesaikan kemarin malam saat lembur.


"Jadi, ini hari terakhir Mas Zay magang di kantor ini?"


"Ya, Pak. Kalau perusahaan gak merekrut pegawai, kemungkinan besar, saya sudah gak datang ke tempat ini lagi."


"Oalah, gitu, to. Ya, saya pengennya Mas Zay di sini aja, tapi kalau para bos ndak membolehkan. Ya sudah. Di mana pun nanti Mas Zay bekerja, saya harap dapat pekerjaan yang berkah dan jangan lupa sama saya, tentunya."


Zayan tersenyum. Baru beberapa hari ia mengenal sosok laki-laki di hadapannya, tetapi rasanya begitu berat pergi meninggalkan orang tersebut.


"Ya, Pak. Tentu saja, saya akan selalu mengingat pak Zul. Saya juga maunya ingin di sini saja. Semoga, saya diberi kesempatan itu."


Cukup lama kedua laki-laki berbeda generasi itu berbicara. Sampai seorang OB lain, memberitahu Zayan ada dua orang yang menunggunya di lobi.

__ADS_1


"Siapa, ya?" gumam Zayan.


Bersambung ....


__ADS_2