Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 77 : Mencari Jalan


__ADS_3

Sebuah gumpalan asap hitam, berkumpul di hadapan Zayan. Kemudian berubah, menjadi berwujud seperti manusia. Dengan wajah pucat dan pakaian serba hitam, sosok itu tertawa.


"Kamu, manusia, bisa apa untuk melawanku?" Kalimat laki-laki itu, berhasil membuat Bagas ketar-ketir.


"Bagaimana ini, Le?"


"Bapak, ibu dan Echa, tenang. Makhluk itu tidak akan bisa menyentuh kita saat ini." Zayan berusaha menenangkan keluarga itu.


"Kamu mau mengambil calon pengantinku? Jangan mimpi di siang bolong!"


Caraka menjentikkan jarinya untuk meluncurkan sihir jahat ke arah Zayan. Namun, ia terkejut saat sebuah perisai tiba-tiba muncul melingkupi manusia-manusia tadi.


"Kakek?" gumam Caraka. Ia menoleh ke sana ke mari, mencari sosok yang ratusan tahun tidak pernah ia jumpa. Namun, kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana selain keempat manusia tadi.


Caraka pun tertawa.


"Jadi, begini kah yang dilakukan, Kakek? Aku ndak heran, ia sudah diperbudak oleh makhluk rendahan bernama manusia itu."


"Jangan samakan Kakek Nirwasita dengan dirimu! Beliau lebih mulia ketimbang makhluk sepertimu, yang hanya mementingkan keegoisan tetapi tidak sadar diri." Zayan berkata lantang, menyangkal Caraka. Ia tidak suka dengan kalimat yang diucapkan makhluk tadi.


Sosok dengan pakaian serba hitam itu mendengkus marah. Ia kembali meluncurkan serangan sihir untuk memecah perisai keperakan yang melindungi manusia di depannya. Mesha ketakutan, ia memejamkan mata. Namun dalam hatinya, ia berdoa, meminta pertolongan Yang Maha Kuasa.


Dengan mencurahkan segala kekuatannya, Caraka terus berusaha menerobos perisai gaib tadi. Hanya Zayan dan dirinya yang bisa melihat pendar perisai itu.


Zayan juga berusaha merapal doa yang ia ingat, sekenanya. Ketika perisai tadi mulai menipis, sebuah bola cahaya, melesat masuk. Mematahkan sihir pemecah perisai milik Caraka.


Sosok kakek berwajah teduh dengan rambut dan pakaian serba putih, melayang, tak jauh dari Caraka.


"Sudah, Le. Tolong, hentikan itu!" Nirwasita meminta Caraka dengan nada suara yang lembut.


Caraka menoleh ke sumber suara. Ia mengenalinya.


"Ini bukan urusan, Kakek!" sanggah Caraka.


Dengan terpaksa, Nirwasita memanggil tongkat saktinya. Menembakkan energi ke arah Caraka, hingga makhluk itu terpental keluar.


Bagas dan Mayang, kini kebingungan, saat melihat sosok Nirwasita.


"Le, siapa dia?" tanya Bagas pada Zayan.


"Itu kakek Nirwasita, Pak. Teman kakek saya."


Di luar rumah, Caraka dan Nirwasita beradu kesaktian. Saling menyerang dan menembakkan sihir. Awalnya, keduanya imbang. Namun, akhirnya, Caraka mulai terpojok. Ia pun pergi, melesat terbang lalu hilang di udara.

__ADS_1


Nirwasita berjalan melayang masuk ke dalam rumah. Perisai gaib tadi sudah terbuka.


"Aku ndak bisa berlama-lama menampakkan diri di depan manusia banyak. Butuh banyak energi untuk hal ini. Untuk sementara ini, kalian aman. Aku akan membuat pagar gaib sementara, agar anak itu tidak bisa masuk saat kembali ke sini."


Setelah mengatakan hal tadi, Nirwasita kembali berubah menjadi bola cahaya, lalu melesat pergi.


Bagas dan Mayang, terduduk, mereka berdua, melosot, lemas.


"Bapak dan Ibu, tidak apa-apa?"


"Ya, Le. Ini kedua kalinya kami melihat makhluk serba hitam itu."


"Itulah makhluk yang Echa lihat sejak kecil, Pak."


"Ya, Nduk. Bapak paham sekarang. Kamu ndak kenapa-napa to, Cha?"


Zayan berpamitan, setelah memastikan, Echa dan keluarganya baik-baik saja.


Sesampainya di rumah, Zayan menemui Mbahkungnya di kamar, yang ternyata, sedang berbicara dengan teman beda alamnya.


"Aku akan membawa Zayan untuk sedikit berlatih di tempatku. Aku sudah pernah mengajaknya, dan ndak akan memakan waktu yang lama.


"Bukankah jika satu hari di sana, sama dengan satu bulan di dunia manusia?"


"Bagi makhluk seperti kami, waktu hanyalah ilusi. Jika kami terikat dengan waktu. Niscaya, kami ndak berumur panjang seperti ini."


Nirwasita melambaikan tangan saat melihat Zayan membuka pintu kamar Arsyanendra.


"Aku sudah menunggumu. Bersiap-siaplah, aku akan membawamu ke pondokku lagi, Le, Zay!"


Arsyanendra mengangguk, isyarat bahwa dia mengijinkan.


Tanpa bertanya atau membantah, Zayan cepat-cepat ke kamarnya. Melepas jaket dan meletakkan tasnya. Tanpa mengganti baju, ia segera menunaikan ibadah. Kemudian, kembali ke kamar Arsyanendra.


Nirwasita memegang pergelangan tangan Zayan. Dalam sekejap, mereka berdua sudah berpindah dimensi. Berjalan perlahan di lorong bercahaya.


Setelah berjalan beberapa saat, Zayan melihat pondok kayu yang dulu pernah ia kunjungi. Sekarang, bunga-bunga yang bermekaran di halaman depannya, berbeda warna.


Nirwasita melepaskan tangan Zayan. Sejurus kemudian, ia memejamkan mata. Tangan kanannya teracung ke udara. Tiba-tiba, berkas cahaya yang panjang, menyorot hingga ke telapak tangannya. Tangan itu menggenggam berkas cahaya yang lama-lama memadat. Menjadi terlihat seperti pedang Cahaya. Kemudian, laki-laki itu membuka mata.


"Energiku telah habis banyak saat pertarungan tadi. Begitu pula dengan Caraka. Hanya saja, karena usianya yang muda. Ia pulih dengan cepat dan mungkin akan berusaha untuk masuk ke dalam rumah tadi dan membawa calon pengantinnya."


"Lalu, apa yang harus aku lakukan, Kek?"

__ADS_1


Nirwasita memberikan benda bersinar yang ia tangkap tadi ke Zayan. Benda itu memendek, lalu hilang, masuk ke telapak tangan laki-laki muda tersebut.


"Ratusan tahun, aku mengembangkan kemampuanku, untuk sihir putih. Membuat pedang cahaya ini. Sekarang, kamu lebih membutuhkan ini, Le."


"Ya, Kek. Aku menerimanya, terima kasih."


Nirwasita meminta Zayan untuk duduk di bangku yang ada di depan pondoknya.


"Yang kudengar, kamu mendapatkan amalan dari gurumu. Boleh aku tahu?"


Zayan mengangguk, lalu memaparkan amalan apa yang sedang ia jalani.


"Itu cukup bagus. Aku akan menambahi sedikit untuk perlindunganmu jika anak itu menyerangmu kembali. Pertama-tama, pejamkan matamu, panggil pedang tadi dengan panggilan lewat hatimu."


Zayan melakukan apa yang diminta Nirwasita. Kemudian, cahaya berpendar dari telapak tangannya. Perlahan memanjang, lalu menyerupai pedang.


Nirwasita bangkit dari duduknya.


"Sekarang, coba serang aku dengan benda itu!"


"Tapi, Kek ... ini kan ... bagaimana kalau ...."


Nirwasita tersenyum.


"Tak perlu menghawatirkanku. Benda itu ciptaanku, dia ndak akan melukaiku."


Zayan menyerang Nirwasita dengan gerakan-gerakan seperti silat tongkat yang pernah ia pelajari dulu di pesantren. Nirwasita melawannya dengan tongkat sakti miliknya.


Gerakan kedua makhluk tadi, sekilas terlihat seperti tarian, begitu anggun. Namun pada dasarnya, itu adalah gerakan ilmu bela diri.


Suasana menjadi gelap di sekitar pondok milik Nirwasita. Ia menyuruh Zayan untuk beristirahat. Itu pertanda malam di alam tersebut.


"Jadi, di sini juga ada malam hari, Kek?"


"Tentu saja, Le. Makhluk seperti kami juga butuh istirahat seperti manusia." Nirwasita terkekeh. Kemudian, ia menjetikkan jari, pendar-pendar kecil cahaya, muncul dari ujung jarinya. Kemudian meluncur ke benda-benda berbentuk bulat yang tergantung di beberapa tempat di pondoknya.


Sekejap, pondok kecil nan sederhana itu sudah diterangi benda-benda yang sekilas seperti lampu di dunia manusia.


Nirwasita mengajak Zayan masuk ke dalam bilik yang terlihat kecil. Namun, saat membuka pintunya. Di dalamnya terlihat begitu luas. Sebuah ruang dengan ornamen dan furnitur serba kayu. Ada ranjang besar di tengah ruangan tersebut.


"Beristirahatlah dulu, Le! Waktu akan berjalan cepat di alam ini."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2