Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 20 : Membuka Lembaran Baru.


__ADS_3

Setelah berbulan-bulan larut dalam kesedihan, perlahan Mesha mulai bangkit dari keterpurukannya. Senyum mulai menghiasi bibirnya lagi. Orang tuanya menyarankan Mesha agar bergaul dengan orang-orang seusianya. Gadis itu mulai disibukkan dengan beberapa kegiatan pemuda di desanya. Meskipun keinginannya belajar di bangku kuliah masih ada, tetapi ia merasa ragu dengan status yang kini disandangnya. Ya, siapa yang suka dengan status janda? Walaupun janda kembang misalnya?


"Bapak sudah menghubungi kawan lama bapak yang bekerja di kelurahan. Nanti, kamu tinggal temui dia saja, Nduk." Suatu sore Bagas memang mengusulkan putri satu-satunya itu untuk bekerja. meskipun hanya untuk membuat Mesha tidak terus-terusan berada di rumah.


"Tapi, Pak ... Echa masih pengen kuliah," sahut Mesha.


"Kerja sambil kuliah, bisa kok. Lagian, untuk apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya cuma jadi ibu rumah tangga, ya to?" Bagas masih bersikukuh dengan pendapatnya.


"Sudah, Nduk. Turuti saja bapakmu, toh ndak ada ruginya kalo kamu kerja dan dapat uang sendiri," timpal Mayang.


Mesha sudah tidak bisa lagi membantah perkataan kedua orang tuanya.


"Ya, besok Echa datang ke kelurahan." Mesha menutup pembicaraan, lalu pergi ke teras belakang.


***


Mesha memandangi ikan-ikan berwarna perak dan keemasan yang berenang ke sana ke mari. Gadis berambut hitam itu berkali-kali menghela napas. Sejenak ia teringat akan pertemuan pertamanya dengan Giyan di dekat kolam ikan itu. Ia tersenyum lalu secepat kilat ekspresi wajahnya berubah menjadi sedih.


"Pasti enak jadi kamu ya, ikan. Cuma renang ke sana, ke mari, makan, dan menggembul. Gak perlu memikirkan apapun." Tangan Mesha mulai mengaduk-aduk air kolam di hadapannya. Sejuknya air, membuat perasaannya lebih baik.


Tatapan Mesha terhenti saat melihat untaian manik-manik yang melingkar di pergelangan tangannya. Perlahan ia mengangkat tangannya, dan mengusap lembut biji-biji manik.


"Zay, apa aku harus tetap mencarimu?" gumamnya pada diri sendiri.


***


Keesokan harinya, Mesha sudah rapi dengan setelan kemeja berwarna pastel dan celana hitam. Ia menyampirkan tas, lalu berjalan keluar kamar.


"Sarapan dulu, Cha. Bapak bilang nanti mau nganterin kamu ke kantor kelurahan dulu." Mayang berbicara dengan suara keras dari ruang makan saat melihat putrinya keluar dari kamar.


"Iya, Bu," jawab Mesha sambil menarik kursi di ruang makan untuk dirinya sendiri.


Tidak ada suara di ruang makan tersebut. Hanya dentingan sendok berbenturan dengan piring yang terdengar dari sana. Seolah-olah setiap orang di ruang itu khusyu' dengan makanan yang ada dihadapan masing-masing.


Setelah menyelesaikan sarapan, Bagas memanasi motornya di teras rumah. Kemudian ia masuk lagi ke dalam rumah untuk mengambil tas dan memberitahu Mesha, putrinya, untuk segera berangkat.

__ADS_1


Sesampainya di kelurahan, Mesha turun dari bocengan motor sang ayah. mengecup punggung tangan laki-laki paruh baya itu, lalu berjalan masuk ke kantor saat ayahnya pergi.


Belum ada siapa pun di sana. Mesha memutuskan untuk melihat-lihat sekeliling. Dari kejauhan, seorang laki-laki muda mengamatinya lalu menghampirinya.


"Selamat pagi, Mbak. Ada keperluan apa ya?"


Mesha tersentak saat mendengar suara bariton di belakangnya. Ia menolehkan wajahnya. Di sana berdiri laki-laki yang terlihat berwibawa, tetapi melihat dari wajahnya seperti tidak terlalu jauh paut usia antara pria tesebut dengan Mesha.


"Ah, itu ... Pak Lurah belum datang ya, Mas?" sahut Mesha dengan senyum manis melengkung di bibirnya.


"Mungkin sebentar lagi beliau datang. Ada kepentingan apa ya, Mbak?"


"Saya ada keperluan dengan beliau, Mas."


"Kalau begitu, silakan duduk dulu, Mbak!"


Laki-laki itu mempersilakan Mesha duduk di ruang tamu bagian depan dari kantor tersebut.


Memang benar adanya, beberapa menit kemudian, sebuah mobil berwarna hitam, masuk ke pelataran kantor kelurahan dan parkir mulus di sudut tempat parkir. Seorang pria paruh baya berseragam khaki turun dari mobil tersebut menenteng sebuah tas kerja berwarna hitam yang lebar.


Mesha mengangguk. Gadis itu memberikan jeda waktu sebentar, agar laki-laki yang baru saja datang tersebut duduk di kursi kerjanya.


Mesha mengetuk pintu ruang kerja Lurah dengan sopan. Laki-laki yang sudah duduk di ruangan itu, mendongakkan kepala lalu tersenyum


"Masuk!" perintah pria tersebut.


Mesha mengulurkan tangan sambil tersenyum, yang kemudian disambut oleh laki-laki di hadapannya.


"Mbak Mesha, Ya? Silakan duduk!"


Mesha mengangguk, lalu duduk di tempat yang sudah ditunjuk.


"Saya Sutrisno, lurah yang menjabat di sini. Bapakmu sudah meneleponku tadi malam. Kebetulan memang ada lowongan kerja di sini, tadinya dipegang sementara oleh seseorang, tetapi saat kamu nanti di sini. Kamu yang akan ambil alih pekerjaan itu."


Sutrisno menyangkat gagang intercom, lalu menekan sebuah angka. Tak berapa lama kemudian, ia berbicara di sambungan telepon intra ruangan tersebut.

__ADS_1


Tak berapa lama, laki-laki muda yang dilihat Mesha tadi. mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan. Pria itu tersenyum kepada Mesha.


"Nah Mbak Mesha, ini Mas Sakha. Dia yang pegang bagian administrasi kantor sementara, menggantikan Bu Norma yang sudah pensiun. Nah karena Mbak Mesha sudah di sini, pekerjaan itu sekarang jadi tanggung jawabmu."


Mesha mengangguk setelah mendengar penjelasan Sutrisno.


"Silakan kembali ke tempat kerja masing-masing, Mas Sakha alan menunjukkan tempatmu, Mbak Mesha."


Mesha pamit undur diri, keluar dari ruangan mengikuti Sakha ke tempat ia nantinya bekerja.


Para pegawai kantor kelurahan Karangsoka sudah mulai berdatangan. Beberapa di antaranya, penasaran saat melihat kehadiran Mesha di ruangan tempat kerja mereka. Dengan sigap Sakha memperkenalkan gadis itu sebagai pegawai baru saat semua pegawai sudah tiba.


"Wah, penggantinya Bu Norma masih muda dan cantik!" seru salah seorang di antara mereka.


"Iya, walah ... walah, ini yang masih senggel bakal rajin kerja nih," timpal lainnya.


"Hush, jangan gitu, nanti malah nggak betah dia kalo digituin," komentar lain terdengar.


Mesha hanya tersenyum menanggapi semua celotehan rekan-rekan kerjanya.


"Jangan diambil hati, Mbak Mesha. Orang-orang di sini memang lambe-nya nggak bisa direm. Oh iya, kenalkan, aku Risa. Marisa, tuh tempat dudukku." Seorang gadis menghampiri Mesha lalu menunjuk ke arah meja di belakang tempat Mesha duduk.


"Oh ... i—iya, Mbak Risa."


Sakha menghampiri meja Mesha dengan membawa beberapa map di tangannya.


"Mbak, ini beberapa berkas yang nantinya akan jadi tanggung jawab Mbak Mesha." Laki-laki berlalu setelah meletakkan tumpukan map tadi di meja Mesha.


Mesha mengernyitkan dahinya memandangi map-map di hadapannya.


"Ta—tapi, Mas ... maaf, bisa kasih tahu saya apa saja yang harus saya tulis atau kerjakan degan map-map ini?"


Perkataan Mesha menghentikan langkah Sakha. Kemudian ia berbalik, lalu tersenyum.


"Oke, nanti saya ajari, Mbak."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2