Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 40 : Perseteruan Batin


__ADS_3

"Kutukan? Kutukan apa maksudmu?" Sakha mengalihkan pandangan dari album foto di tangannya .


"Itu ... rumor yang kudengar dari tetangga. Tentang perempuan ... eh, calon istrimu."


"Coba, ceritakan detailnya!"


Sang fotografer menceritakan tentang apa yang di dengarnya saat ada dua klien datang ke tempatnya. Kebetulan, mereka adalah tetangga tak jauh dari Mesha tinggal. Seorang ibu dan anak yang juga akan mengadakan hajatan.


Sakha mengangguk-angguk saat temannya itu berkisah. Terkadang, laki-laki itu mengernyitkan dahi.


"Jadi?"


"Jadi! Tetap jadi! Sejujurnya, aku belum percaya hal-hal semacam itu. Sejenis takhayul. Tidak akan terjadi apa-apa. Tenang saja!" Sakha berkata dengan tegas. Benar-benar tidak ada keraguan sama sekali di hati laki-laki tersebut.


"Ya sudah. Kalau begitu, jadwal pemotretan minggu depan, jam tujuh pagi, kamu harus sampai di sini. Kita akan cari tempat yang bagus bersama-sama."


"Oke."


***


Sakha baru saja memarkirkan motornya di depan rumah, saat ia melihat sebuah bayangan hitam berkelebat. Laki-laki itu mengerjapkan kedua mata. Ia pikir, itu hanya halusinasi saja. Namun, lagi-lagi, sosok seorang laki-laki dengan baju serba hitam berdiri di kejauhan. Menatap dengan sorot mata yang tajam.


Tepukan lembut di bahu membuat Sakha terkejut lalu menoleh.


"Kenapa duduk lama di motor, Le? Ngeliatin apa?"


"Eh, Ibu. Itu ... tadi ada orang berdiri di bawah pohon beringin itu. Ibu lihat?"


Ningsih hanya menggelengkan kepala, menjawab pertanyaan putranya.


Tak mau memperpanjang dugaan, Sakha tersenyum, mengulurkan tangan. Menyalami, lalu mengecup punggung tangan Ningsih dengan hormat.


"Paling Sakha cuma salah lihat, Bu. Oh iya, bagaimana? Dek Mesha sudah pilih warna kain, Bu?" Sakha turun dari motornya lalu berjalan menuju rumah. Sementara Ningsih mengikuti di belakang.

__ADS_1


"Sudah. Bagus pilihannya. Oh iya, kamu juga disuruh fitting bareng setelah nanti pakain Genduk jadi."


"Ya, Bu. Ibu juga sudah pilih kain buat sarimbit?"


"Emmm ... apa ndak apa-apa, Le? Ini ndak berlebihan to?"


Sakha duduk merosot di sofa ruang tamu, setelah masuk ke rumah. Ningsih tetap berdiri menatapnya dengan pandangan khawatir.


"Berlebihan bagaimana sih, Bu? Itu kan hari spesial Sakha. Semua harus merasakan istimewanya hari itu tanpa terkecuali." Sakha menyanggah perkataan perempuan paruh baya tersebut dengan lembut.


"Apa tabunganmu cukup? Nanti kalau habis, sesudah nikah, gimana kamu biayain keluargamu?"


Sakha tersenyum, ia menarik lembut tangan ibunya. Menepuk-nepuk perlahan di punggung tangan.


"Ibu gak perlu khawatirkan apa-apa. Ya? Percaya saja sama Sakha. Semua sudah diperhitungkan matang-matang."


Mendengar kalimat dari mulut Sakha, Ningsih terenyuh. Kedua matanya mulai berair.


"Harusnya ibu yang ngurus ini semua, Le. Ini kewajiban terakhir ibu sebagai orang tua." Ningsih berusaha menahan keharuan dan air matanya. Ia memalingkan wajah ke arah lain. "Kamu mau dibikinkan minum?" lanjutnya mengalihkan topik pembicaraan.


Sakha memandangi punggung ibunya yang berjalan menjauh. Ada perasaan yang campur-aduk di dadanya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Ia hanya ingin, saat hari itu tiba, Ibunya harus menjadi orang yang paling bahagia. Karena selama ini, perempuan itu sudah bekerja keras untuk membesarkannya dan Yumna.


Masih segar dalam ingatan Sakha saat sang ayah pergi untuk selamanya-lamanya karena kecelakaan. Beberapa hari mereka bertahan dengan uang seadanya. Meski banyak laki-laki yang ingin meminang sang ibu. Perempuan tangguh itu, dengan tegas menolak. Sempat berkeliling menjajakan berbagai kue tradisional untuk menambah biaya sekolah anak-anak.


Kala itu, Sakha juga diam-diam mengambil pekerjaan paruh waktu setelah pulang sekolah. Pekerjaan apa saja. Bahkan membantu orang menjemur padi, dilakoninya. Ia tidak meminta apa pun pada ibunya. Karena ia tahu betul keadaan ekonomi mereka. Uang hasil kerja sambilan tersebut, ia kumpulkan untuk keperluan sekolahnya sendiri.


Sakha memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang perkuliahan, kala itu. Meskipun, Ningsih bersikeras menyuruhnya untuk mendaftar. Laki-laki itu mengalah, untuk Yumna. Ia sadar, setelah kepergian ayahnya, ia harus seperti sang ayah. Melindungi, mengayomi kedua perempuan yang ia cintai. Banyak gadis yang mendambakannya, tetapi ia acuh tak acuh.


Dering ponsel di meja, membuyarkan lamunan Sakha. Ia menjawab panggilan tersebut, lalu berbicara dengan seseorang.


"Jadi di gedung itu full jadwal? Duh! Bagaimana ini?" keluh Sakha, masih berbicara di sambungan telepon."


"Opsi lainnya, seperti biasa, bikin tarup di rumah salah satu mempelai. Biasanya di mempelai wanita. Kalau diijinkan, kita akan terjunkan tim untuk survei." Seseorang berbicara di seberang.

__ADS_1


Sakha menutup panggilan telepon, setelah menyetujui semua saran temannya yang menangani acara sakral nantinya. Itu artinya, ia juga harus menelepon Mesha. Mulai hari itu, ia sudah tidak diperkenankan bertemu. Seperti tradisi pingitan pada umumnya. Kecuali jika ada hal yang penting yang mengharuskan kedua calon bertemu.


Nada sambung masih terdengar dari seberang. Sakha khawatir, ia mengganggu istirahat kekasihnya. Setelah beberapa kali mencoba lagi, akhirnya Mesha mengangkat panggilan.


"Apa aku mengganggu, Dek?" tanyanya begitu mendengar suara jawaban di seberang.


"Gak, Mas. Aku baru beres-beres tadi di ruang tamu sama bapak, sama ibu. Jadi, gak denger ada telepon."


Sakha menyampaikan apa yang ia diskusikan tadi dengan beberapa temannya.


"Minggu depan jam tujuh pagi untuk photoshoot terus ada orang yang mau datang ke rumahku, Mas?"


"Ya, Dek. Kalau semisal keluargamu keberatan karena acara sebelumya ...."


Sejenak kedua insan itu terdiam. Sakha khawatir perkataannya bakal menyinggung perasaan Mesha.


"Nanti aku bicarakan dulu sama bapak, sama ibu, Mas."


"Oh, iya. Iya, Dek. Kalau semisal keberatan. Nanti acaranya di rumahku saja gak apa-apa."


"Iya, Mas. Aku tanya dulu."


Sakha tersenyum. Merasa lega setelah mendengar suara Mesha. Meski beberapa waktu sebelumnya, mereka sudah berjalan bersama. Hal-hal yang berhubungan dengan perempuan itu, selalu menghangatkan hati laki-laki tersebut.


***


Di pinggir jalan, tepat di bawah sebuah pohon yang rindang. Sesosok laki-laki, menggeram jengkel. Ia hanya bisa memiliki perempuan yang begitu diinginkannya, setelah perempuan itu melepaskan perisainya. Ia mengutuki sesuatu yang hal yang menghalanginya untuk bisa mendekati gadis tersebut.


Ia hanya bisa menyentuh dari jauh. Lewat embusan angin atau memandangi paras ayu tersebut. Jika memungkinkan, ia akan membuat perempuan tersebut menjadi sama sepertinya. Namun, kutukan itu bisa terlaksana jika sudah tidak ada laki-laki yang menginginkan perempuan tersebut.


Laki-laki berpakaian serba hitam itu pun jengkel saat mengingat ada seorang anak laki-laki yang mungkin menyadari keberadaannya. Kemudian membuat batas, untuknya.


"Tunggu saja! Aku akan berusaha keras untuk membinasakan semua laki-laki yang berusaha mengambil pengantinku!" teriaknya, membuat beberapa makhluk lain di situ, terkejut.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2