
Mesha berteriak-teriak dalam tidurnya. Bagas dan Mayang berjalan cepat mendatangi kamar putrinya. Saat masuk, mereka melihat anak perempuannya menangis, terduduk di ranjang.
"Ada apa, Nduk? Mimpi buruk lagi?" tanya Mayang, sambil mengelus rambut putrinya. Mesha mengangguk.
"Echa ... Echa takut, Bu."
"Takut? Sama siapa?"
Mesha menceritakan detail dari laki-laki yang ia lihat di mimpinya dan di rumah Sri beberapa waktu yang lalu. Namun, Mayang dan Bagas memintanya untuk tidak memikirkan hal itu. Itu hanya mimpi. Bunga tidur.
Saat mereka berdua sudah kembali ke kamar sendiri, kedua suami-istri itu terdiam. Mereka memikirkan sesuatu.
"Pak, ibu jadi ingat jaman dulu waktu Echa masih kecil."
"Bapak juga berpikir seperti itu, Bu."
"Apa makhluk itu mulai mengganggu anak kita lagi? Padahal sudah sekian lama, kenapa sekarang seperti itu lagi?"
"Entahlah, Bu. Bapak sudah mengantuk, mau tidur duluan. Besok masih masuk kerja."
Keesokan harinya, Mesha sudah bangun lebih pagi. Ia menyiapkan sarapan untuk kedua orang tuanya. Mereka kebingungan saat bangun.
"Wah, ada apa nih?" celetuk Mayang.
"Gak apa-apa, kok, Bu. Echa bangun terlalu pagi, bingung mau ngapain."
"Owalah."
Tepat pukul enam, Mesha berpamitan kepada orang tuanya. Ia berkendara menuju warung Sri. Membantu perempuan itu menata dagangannya. Sementara Sri memasak di dapur warung. Setelah direnovasi, warung menjadi lebih luas. Ada dapur yang tidak terlalu besar, tetapi bisa berfungsi dengan baik. Hal itu memudahkan Sri untuk menyetok kembali makanan atau lauk yang sudah habis.
Mesha baru saja menyelesaikan pekerjaannya membersihkan meja. Ia mendengar suara seorang laki-laki menguluk salam. Laki-laki itu terkejut saat melihat dirinya. Seperti pernah mengenalnya.
"Mau sarapan, Mas? Pesan apa?"
Zayan mencuri-curi pandang pada gadis yang berdiri di hadapannya. Ia merasa benar-benar familiar dengan perempuan itu.
"Makan, Mbak. Pakai lauk telur saja."
"Oh, iya. Tunggu sebentar, Mas."
Mesha datang membawa pesanan saat Zayan melepas jaketnya. Ia meletakkan makanan di hadapan laki-laki tersebut. Matanya menangkap sebuah benda yang menyembul dari lengan baju panjang pria itu. Dadanya bergemuruh. Yakin bahwa ia mengenali benda itu.
"Eh, Mas Zay. Tumben sarapan di sini?"
__ADS_1
"Iya, Bu. Mbahkung sedang pergi berziarah. Jadi, saya gak sarapan bareng di rumah."
"Oh, begitu."
Mesha mundur perlahan saat mendengar Sri menyebut nama itu. Kini ia yakin benar, laki-laki di hadapannya adalah laki-laki yang selama ini ia cari. Ia bahagia, melihat Zayan tumbuh dewasa menjadi laki-laki ganteng dan berkharisma. Tepat seperti apa yang selama ini ia bayangkan.
Mesha terus memegangi dadanya sendiri. Ia menahan perasaannya. Sadar bahwa ia telah kehilangan suami dua kali. Bahkan kini ia takut jika mendekati laki-laki lagi, laki-laki itu akan celaka seperti yang sudah-sudah. Tangisannya teredam oleh kedua tangannya yang menutupi mulut.
Sri melihat gelagat aneh Mesha. Ia mendekati perempuan muda tersebut.
"Nduk, kamu ndak apa-apa?"
Mesha tergeragap. Cepat-cepat ia menghapus air mata di kedua mata dan pipinya. Kemudian tersenyum.
"Gak apa-apa, Bu. Gak ada apa-apa. Cuma ...."
"Kalau kurang sehat, istirahat saja, Nduk. Aku mau menyelesaikan masakanku."
Setelah Sri pergi ke dapur. Mesha terus memandangi Zayan yang sedang menikmati makanan di piringnya. Dalam hati, ingin rasanya ia duduk di hadapan pria itu, lalu membuka identitasnya dan menemaninya sepanjang laki-laki itu menyantap makanannya. Namun, bayangan-bayangan mimpi buruk mencegahnya.
Mesha tidak berani keluar lagi sampai Zayan pergi dari warung. Meski laki-laki itu mengedar pandangan, mencari sosoknya.
"Kamu yakin ndak apa-apa, Nduk?" tanya Sri saat melihat ekspresi wajah Mesha.
"Gak apa-apa, Bu. Saya sehat."
"Nduk, bapakmu pesan beberapa makanan buat pesanan makan siang pegawai di kantornya."
"Diantar ke sana, Bu?"
"Ya, sejak kamu pulang itu. Kita juga menyediakan layanan pesan antar."
"Oh, gitu. Sebentar, Bu, saya selesaikan dulu ini. Nanti saya bantu bungkus juga."
Mesha berdiri canggung di lobi membawa beberapa bungkusan di kedua tangannya. Seorang satpam menghampirinya, menanyakan keperluannya datang ke sana.
"Ini, saya dari rumah makan. Bapak saya yang meminta saya untuk mengantarkan pesanan para pegawai, Pak."
"Oh, Bapak siapa?"
"Pak Zulkifli."
"Oalah, Pak Zul. Langsung naik ke dapur aja, Mbak."
__ADS_1
Satpam tadi memandangi Mesha yang berjalan naik menuju lantai atas.
"Itu anaknya Pak Zul? Cantik banget," gumam satpam tadi.
Sesampainya di lantai atas, Mesha berdiri di lorong. Ia bingung. Mencari seseorang yang bisa ia tanyai. Beberapa saat kemudian, ia melihat seorang perempuan muda keluar dari ruangan.
"Mbak, Maaf. Dapur sebelah mana, ya?"
"Mbak lurus aja ke sana, terus belok kiri. Paling ujung, itu dapurnya."
"Oh, begitu. Terima kasih, Mbak."
Mesha berjalan mantap ke arah yang ditunjuk perempuan tadi. Namun, ia melewati sebuah ruangan dengan pembatas kotak-kotak. Jantungnya berdegup kencang saat melihat wajah yang baru tadi pagi memporak-porandakan hatinya.
Sosok gadis yang duduk membelakangi Mesha dan duduk di hadapan laki-laki itu, membuatnya memalingkan wajah. Ia pikir, bukan hal mustahil jika pria seperti Zayan sudah memiliki kekasih atau bahkan istri. Mengingat ia juga sudah pernah menikah dua kali. Meski hatinya sakit, ia mencoba menahannya.
"Lho, Nduk. Udah sampai, to? Kenapa ndak telepon bapak saja?" Zulkifli mendekati Mesha dengan peralatan kerja masih di tangannya.
"Eh, itu, Pak ... takutnya Bapak lagi sibuk."
"Ndak, to. Ayok, bantu bapak bawa ke dapur."
"Ya, Pak."
Mesha mengeluarkan bungkusan-bungkusan makanan dari kantong plastik. Menumpuknya di meja dapur.
"Ditaruh sini saja, Pak?"
"Ya, Nduk. Biasanya mereka bakal datang ambil sendiri makanannya lalu membayarnya."
"Oh, iya, Pak. Ini daftar harga titipan ibu."
Setelah Mesha menata rapi makanan-makanan tadi, ia berpamitan pulang kembali ke warung.
"Terima kasih, Nduk." Ucapan terakhir Zulkifli saat perempuan itu keluar dari dapur.
Mesha memandangi tempat kerja Zayan yang kosong. Laki-laki itu entah ke mana.
"B*doh! Lagi pula, kenapa aku harus memikirkan laki-laki yang mungkin suami orang atau kekasih perempuan lain?" gerutu Mesha.
Keluar dari kantor Bentala Swarga group, Mesha melihat seorang gadis yang menghentikan taksi. Ia seperti mengenali perempuan tersebut. Namun, sosok itu sudah masuk ke dalam mobil.
"Itu seperti Grisa. Kenapa dia di sini? Apa ia bekerja di sini juga? Tapi seingatku, dia masih berkuliah. Ah, sudahlah!" gumam Mesha.
__ADS_1
Sesampainya di warung, Mesha membantu Sri yang sibuk melayani pelanggan yang makin ramai. Matanya menangkap sosok laki-laki berpakaian serba hitam saat memandang ke arah seberang jalan. Ia menggelengkan kepala.
Bersambung ....