
Setelah menghabiskan beberapa waktu untuk berlatih di dunia antah-berantah, Zayan mulai menguasai beberapa ilmu kanuragan yang tidak pernah ia dapatkan di dunia manusia. Nirwasita tersenyum saat melihat perkembangan cucu kawannya tersebut. Ia melambaikan tangan, berisyarat agar Zayan berhenti latihan.
"Kurasa, semuanya sudah cukup. Aku akan mengembalikanmu ke alammu, Le."
"Kakek yakin?"
Nirwasita terkekeh.
Beberapa saat kemudian, Zayan sudah sampai kembali di kamarnya. Tidak ada yang berubah. Ia merasa telah pergi begitu lama dari sana. Pintu kamarnya diketuk, lalu muncul wajah ramah sang kakek, Arsyanendra.
"Sudah berapa lama Zay pergi, Mbahkung?"
"Baru beberapa jam, Le."
"Apa? Bukankah hitungan kedua alam gak begitu?"
Nirwasita muncul di antar kedua laki-laki beda generasi itu.
"Aku sudah bilang, bagi kami, waktu hanya ilusi. Mau dipercepat atau diperlambat. Aku bisa mengaturnya."
"Sungguh canggih, Kek! Mengalahkan teknologi manusia," kelakar Zayan.
Nirwasita tertawa.
Semenjak kepulangannya dari alam lain, Zayan mulai mengatur strategi. Ia akan menikahi Mesha dan berusaha mematahkan kutukan yang ditanggung perempuan itu bertahun-tahun.
Saat akhir pekan, Zayan kembali datang ke rumah Mesha. Mengabarkan, bahwa Minggu malam, keluarganya akan bertamu. Membawa pinangan, tentu saja.
"Kamu yakin, Le?" Bagas masih belum percaya dengan kalimat yang dilontarkan Zayan.
"Ya, Pak. Tidak perlu menyiapkan apa pun, saya sudah mengatur semuanya."
"Kenapa mendadak sekali? Kami belum persiapkan apa pun."
"Saya sudah bilang tadi, Bu. Tidak perlu khawatir tentang apa pun. Nanti saya yang siapkan semuanya."
Tidak ada bedanya dengan, Mesha, perempuan itu pun terkejut dengan hal yang baru saja dibicarakan Zayan. Namun melihat keteguhan di mata laki-laki itu, ia paham. Semua sudah direncanakan dengan matang olehnya.
Mesha mengantar kepulangan Zayan sampai depan rumah. Sore itu, langit masih cerah.
"Mas Zay yakin dengan ini semua? Gimana dengan Bapak dan Ibu?"
"Kamu gak usah cemas, aku sudah bilang, semua akan baik-baik saja." Zayan menuliskan sesuatu di ponsel yang baru saja ia ambil dari saku. "Sebentar lagi, dekorasi dan yang urus makanan buat besok malam akan datang ke sini. Tolong aku untuk membuat mereka bekerja dengan baik ya?"
Mesha makin terkejut. Ia baru tahu bahwa laki-laki di hadapannya itu sungguh luar biasa dan penuh perhitungan.
__ADS_1
"Ini benar-benar gila!"
"Ya, Cha. Aku memang gila karenamu."
Mesha tertawa. Hal itu membuat Zayan sangat bahagia.
Beberapa saat sebelum Zayan datang ke rumah Mesha. Ia menelepon ibu dan ayahnya untuk datang ke kota kecil itu.
"Jangan becanda kamu, Le!" Terdengar suara sang ibu terkejut dengan apa yang Zayan katakan.
"Zay gak bercanda, Bu. Bapak dan Ibu datang saja. Zay sudah atur dan siapkan semuanya. Kebaya ibu sudah sampai, kan?"
"Aish! Ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Ya, kami berangkat ke sana sore ini juga!"
Arsyanendra mengamati langit sore hari ini. Zayan belum pulang. Nirwasita mewujud di sisinya.
"Jadi, ini awalnya untuk mengakhiri semuanya?"
"Ya, semoga semua akan berakhir seperti yang diharapkan. Aku juga sudah lelah dengan kelakuan cucuku, Caraka."
"Apa ndak apa-apa?"
"Biarkan saja, apa pun yang terjadi."
Di tempat lain, Yumna tertawa bahagia setelah seseorang meneleponnya. Hingga Ningsih sang ibu mengerutkan dahi. Ia mengulurkan tangan, menyentuh kening putrinya.
"Ibu apaan sih?"
"Serem, tiba-tiba ketawa seperti itu."
"Yuyum seneng, Bu. Ibu juga akan seneng kalo denger berita ini."
"Apa memangnya?"
"Mbak Mesha bakal menikah lagi, Bu!"
"Alhamdulillah!"
Mata Ningsih berkaca-kaca, mendengar berita tersebut. Ia ikut bahagia saat tahu mantan menantunya akan melepas masa lajang. Namun, ia teringat tentang apa yang melekat pada perempuan itu.
"Tapi ... Nduk, Yuyum ... bagaimana dengan nasib suaminya nanti setelah menikah?"
"Ibu gak tahu? Calon suaminya sekarang, bukan laki-laki sembarangan."
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Dia laki-laki waskita yang mungkin bisa melepaskan Mbak Mesha dari penderitaan itu."
"Ah, syukurlah! Ibu juga akan berdoa, biar lancar semuanya."
"Amin!"
Keesokan harinya, semua sudah tertata rapi. Dekorasi bernuansa sederhana, beberapa makanan yang sudah dikirimkan. Mesha tidak bisa menahan keharuannya. Ia masih ragu, apakah keputusannya menerima ini akan berujung duka atau bahagia. Namun, ia terus mencoba menguatkan diri.
Beberapa saat kemudian, beberapa mobil berhenti di depan rumah Mesha. Sang empunya rumah, segera keluar menyambut orang-orang yang baru saja datang menumpang mobil-mobil tadi.
Mesha mengintip dari balik jendela, ia merasa heran.
"Mas Zay bilang mau bawa orang tuanya, itu kenapa kayak bawa orang se-RT?" gumam Mesha, sambil tersenyum sendiri.
"Apa senyum-senyum gitu? Jahat, ih! Kenapa aku malah gak dikabari?"
Mesha tertegun dengan suara yang ia kenali, perempuan itu menolehkan kepala, ke arah sumber suara. Di sana, ia melihat dua gadis berdiri berdampingan, mereka melebarkan senyuman.
Mesha merasa bersalah kepada sahabat karibnya itu, Zafia. Bagaimana bisa ia melupakan gadis yang menjadi kawan baiknya itu bertahun-tahun lamanya. Perempuan itu, berlari menghambur ke arah kedua gadis tadi. Memeluk salah satunya.
"Maafin aku, Fia. Sungguh ... bukan maksudku ...."
"Gak apa-apa, Sha. Untungnya Yuyum cerita ke aku lewat telepon kemarin. Aku jadi sempet pulang. Ya, demi melihat hari istimewamu. Jangan nangis, Sha. Sayang riasanmu, nanti mbleber, lho!"
Yumna tersenyum melihat adegan di hadapannya, ia mengusap lembut lengan Mesha yang berbalut kebaya.
"Makasih, ya, Yum!" Mesha menoleh ke arah Yumna dengan senyuman.
Yumna dan Zafia, memang buru-buru turun dari mobil tadi. Kedua gadis itu masuk ke dalam rumah lewat pintu samping. Mendapati Mesha yang sedang asik mengintip luar rumah.
"Gak usah ngintip-ngintip tadi sebenernya, Mbak. Ntar kan bisa lihat sepuasnya!" celetuk Yumna.
"Ah, kamu, Yum!"
Setelah rombongan Zayan masuk ke dalam rumah. Acara segera dimulai. Beberapa tetua keluarga menyarankan agar kedua calon pengantin lebih baik diikat dulu dengan pernikahan syiri. Meskipun, resepsi akan digelar seminggu sesudahnya.
"Apa gak terburu-buru? Nanti dikira ada apa-apa dengan Nduk Mesha." Bagas menyela. Namun, Arsyanendra malah tertawa.
"Yang nikah itu mereka, orang lain mau komentar apa juga biarkan saja, Le. Bukankah hal baik lebih baik diwujudkan dengan cepat?" Arsyanendra menyanggah perkataan calon besan anaknya tadi.
"Maaf, jika Zayan menyela pembicaraan orang tua. Zayan tidak keberatan dengan hal tersebut. Dan siap menanggung semua persiapan acaranya minggu depan. Sekarang, tergantung pada calon istri saya, Dek Mesha. Apa ia setuju dengan hal ini."
Sekarang, semua mata tertuju pada perempuan yang duduk diapit oleh Zafia dan Yumna. Ia menunduk dalam, sekejap. Kemudian, dengan mengatupkan bibir menahan tangis haru. Mesha menganggukkan kepala.
"Jadi? Tunggu apalagi? Bukankah di sini juga ada Pak Kyai?" Arsyanendra tertawa ringan, melontarkan apa yang dipikirkannya sejak lama.
__ADS_1
Sekonyong-konyong, suara gemuruh petir terdengar dari luar rumah. Walaupun, cuaca sedari tadi terang benderang.