Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 23 : Salah Paham.


__ADS_3

Mesha memungut beberapa bunga Kamboja putih yang terjatuh tak jauh dari gerbang pemakaman. Kemudian ia menyebarkan bunga-bunga tersebut di atas gundukan makam Giyan. Kunjungannya yang mendadak, membuat Mesha lupa membeli bunga untuk nyekar. Ia membetulkan kerudungnya yang melorot tertiup angin sore. Sejenak, gadis itu menundukkan kepala. Berdoa untuk jasad yang bersemayam di bawah tanah itu.


"Assalamualaikum, Mas Gi ... maaf baru bisa datang lagi. Aku sehat-sehat saja. Bapak, ibu ... semuanya. Tapi, sudah lama Grisa atau Bapak Wir atau ibu tidak menemuiku. Mungkin mereka sibuk, aku memakluminya ...."


Mesha terus berbicara, seolah-olah ia sedang berbicara dengan Giyan. Belum ada rasa cinta yang tumbuh di hati gadis itu untuk Giyan. Namun, Mesha terlihat nyaman berbicara seperti itu.


Hingga menjelang surup, Mesha baru pergi dari pemakaman umum. Hatinya begitu lega.


"Boleh 'kan, Mas? Jika kelak, aku bahagia meski tanpamu ...." Begitu ucapan Mesha di depan pusara Giyan saat ia beranjak pergi.


Aura ketenangan yang terpancar dari wajah Mesha saat masuk ke dalam rumah, membuat Mayang dan Bagas bernapas lega.


"Udah cuci tangan sama cuci kaki, 'kan tadi Cha?"


"Sudah, Bu. Di keran air depan."


"Oh, syukurlah masih ingat." Mayang tersenyum lega.


Mesha masuk kamar untuk bersiap mandi, sementara Mayang, mulai menyiapkan makan malam untuk keluarganya.


Di luar sana, langit mulai tekungkung gelap. Semburat merah jingga membuat semarak angkasa pada petang itu. Angin sepoi-sepoi menyapu dedaunan yang membuat suara gemerisik bagai alunan melodi nan indah.


Usai makan malam, Mesha membawa meja lipat ke teras belakang rumah. Sambil memandangi ikan-ikan yang berenang ke sana ke mari, gadis itu menekuni lembaran-lembaran kertas di hadapannya. Ia duduk menyelonjorkan kaki. Rambutnya yang hitam panjang, digelung tinggi dengan tusuk konde ukiran kayu yang antik.


"Sudah mulai banyak kerjaan kantor, Cha?" Suara lembut sang ibu, sontak membuat Mesha menolehkan wajahnya.


"Mmm ... iya, Bu. Tapi Echa beruntung, ada Mas Sakha yang kadang bantuin."


"Sakha? Siapa? Teman kerja?"


"Ya iya lah, Bu. Siapa lagi?"


"Oh ... kamu mau dibuatin teh atau kopi gitu, Nduk?"


"Nggak usah, Bu. Ntar kalo Echa mau, bikin sendiri."


"Ah, ya sudah. Nanti kalo sudah malam, cepet-cepet masuk ya! Jangan kelamaan di luar!"


Mesha mengangguk mendengar perkataan ibunya.


Dahi Mesha berkerut saat meneliti sebuah laporan keuangan pengadaan barang. Beberapa angka selalu tidak cocok dengan arsip awal atau kuitansi yang ada. Gadis itu terus membolak-balik halaman demi halaman berusaha terus mencocokkan.


"Ada kecurangan ... tapi, mana mungkin Mas Sakha pelakunya?" gumam Mesha.

__ADS_1


Udara malam yang semakin dingin, membuat Mesha mulai menggigil. Gadis itu memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya dan masuk ke kamar. Setelah membereskan kertas-kertas dan buku, ia beranjak pergi. Beberapa saat setelah merebahkan tubuhnya, gadis itu belum bisa tidur. Ia terus-terusan berpikir, siapa yang mencurangi laporan keuangan di kantor kelurahannya.


"Aku harus memastikan langsung ke Mas Sakha besok. Nggak pantes kalo berburuk sangka sama orang sebaik dia." Mesha bergumam sendiri.


***


Keesokan harinya, Mesha berusaha mencari waktu yang tepat untuk berbicara langsung, empat mata dengan Sakha. Hal itu membuat gadis tersebut terlihat gelisah. Saat jam makan siang, Sakha yang selalu memperhatikan gerak-gerik Mesha, menghampiri gadis itu.


"Mbak Mesha sakit atau gimana? Kok kayak gelisah gitu?" tanya Sakha saat berdiri di depan meja kerja Mesha.


Perempuan yang diajak bicara malah menoleh ke sana ke mari. Kemudian ia berdiri dan mendekatkan wajahnya.


"Mas, ada yang mau kutanyakan. Tapi, jangan sampai terdengar oleh yang lainnya." Mesha mulai berbicara dengan volume suara yang rendah.


Mendengar kalimat Mesha dan wajah cantik yang mendekat, jantung Sakha berdetak semakin kencang. Pria itu membayangkan hal yang begitu romantis.


"Bi—bisa ... ke ruang arsip aja, biasanya di sana kosong, Mbak." Sakha berusaha menyembunyikan rasa geroginya, tetapi gagal. Bahkan ia sempat menabrak pinggiran meja saat berjalan menuju ruang arsip. Mesha menutupi mulutnya, saat tertawa melihat apa yang dialami rekan kerjanya tersebut.


Setelah merasa aman, Mesha mulai berbicara dengan Sakha. Ia masih menurunkan volume suaranya.


"Mas, jujur sama aku ...." Kata-kata Mesha terhenti sejenak. Hal itu malah membuat Sakha semakin salah sangka.


"Ju—jur? Tentang apa, Mbak?" Sakha mulai berpikir bahwa Mesha menanyakan tentang perasaannya.


Mesha menyodorkan sebuah map. Sekarang Sakha semakin bingung.


"Ini apa, Mbak?" tanya Sakha.


"Tolong, Mas Sakha jujur. Apa Mas Sakha yang memanipulasi catatan keuangan pengadaan barang beberapa bulan lalu?" Kali ini Mesha langsung berbicara tentang maksud pertanyaannya.


Namun Sakha malah tertawa sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Apanya yang lucu, Mas?"


"Nggak, nggak ada Mbak ... cuma inget sama sesuatu hal konyol saja. Maaf!"


"Jadi, Mas Sakha bukan?"


Sakha masih tersenyum-senyum memikirkan hal konyol yang tadi sempat melintas di pikirannya. Namun saat ia sadar Mesha masih memandanginya sambil menunggu jawaban keluar dari mulutnya, ia memudarkan senyum.


"Bukan, Mbak," jawab Sakha dengan tegas dan mimik wajah serius.


"Syukurlah ... tapi, kira-kira siapa, Mas?"

__ADS_1


"Coba dicheck aja, Mbak. Tanggal-tanggal laporan yang terlihat janggal. Sakha terdiam sejenak, lalu melanjutkan kata-katanya, "Jadi karena ini, Mbak Mesha mencari tempat untuk berbicara?"


Mesha mengangguk.


Lagi-lagi Sakha tertawa. Ia benar-benar merasa hal yang dipikirkannya tadi begitu lucu.


"Mas Sakha kenapa sih? Ketawa terus. Apa mukaku ada yang aneh?"


Sakha menggeleng.


"Atau Mas Sakha lagi jatuh cinta ya? Hayooo ... sama Mbak Risa?"


"Jangan sok tahu, Mbak!"


Kini giliran Mesha yang tertawa, sementara Sakha terpukau melihat tawa gadis di hadapannya.


Hati Sakha semakin terpesona dengan makhluk indah yang masih sibuk meneliti lembar demi lembar itu.


"Ini, coba lihat, Mas! Kira-kira siapa yang menulis ini?" sela Mesha.


"Eh ... itu ... waktu itu, memang aku yang handle, tapi Demi Tuhan, aku nggak mengutak-atik itu, Mbak."


Mesha mengetuk-ngetuk pipinya lembut dengan jari telunjuknya, berpikir.


"Perlu lapor ke pak lurah kah, Mas?" tanya Mesha.


"Jangan dulu, Mbak. Cari pelakunya dulu dan bukti yang kuat. Baru laporkan ke pak lurah."


"Baiklah." Mesha mengangguk setuju.


"Udah, keluar yuk, Mas! Kalo kelamaan di sini nanti takutnya dikira kita ngapa-ngapain," sambung Mesha.


"Ya, Mbak."


Kedua orang di ruang arsip tadi keluar berurutan. Tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan yang tajam dan penuh kecurigaan.


"Waktu istirahat siang masih ada, Mbak. Yuk cari makan dulu!" ajak Sakha.


"Boleh, Mas."


"Cieeee ... ehem! Yang semakin dekat-dekatan!" goda Radit saat berpapasan dengan kedua orang tadi.


"Apaan sih?" elak Sakha.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2