Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan
Bab 37 : Ilusi Takdir.


__ADS_3

"Syukurlah. Kalo Mbak Mesha mau menjalani hidup baru. Aku ikut senang." Grisa mengambil tempat duduk di sebelah Mesha setelah memesan beberapa bungkus bubur ayam.


Kalimat yang meluncur dari mulut Grisa bagi orang lain terdengar biasa saja. Namun tidak di telinga Mesha. Perkataan itu seperti sindiran. Hati perempuan yang pernah menikah itu, bagai diremas-remas. Di bawah meja, ia memainkan jari-jemarinya yang lentik. Menahan perasaan.


"Jadi ... Sa– Eh, Mas Sakha beruntung mendapatkan Mbak Mesha," lanjut Grisa.


Lagi-lagi, kata Grisa seperti menghujam hati Mesha.


"Ya, aku juga merasa begitu. Dia perempuan yang selama ini aku dambakan. Tapi, kalau boleh tahu, kamu siapanya Dek Mesha?"


Grisa tersenyum.


"Aku adik mantan suaminya Mbak Mesha."


"Oh, adiknya Mas Giyan."


Mesha memandangi dua orang di dekatnya dengan tegang. Ia merasa tidak enak hati dengan suasana saat ini. Suara pemilik warung bubur ayam menghentikan pembicaraan kedua orang tadi. Laki-laki itu memberitahu bahwa pesanan sudah selesai dibuat.


"Artinya, Mas Sakha udah benar-benar tahu masa lalu Mbak Sha." Grisa mengerling ke arah Mesha.


"Ya. Dan aku gak mempermasalahkan itu."


"Bagus. Semoga pernikahan kalian sukses dan langgeng. Aku pamitan dulu."


Dengan senyum sopan, Grisa meninggalkan Mesha dan Sakha yang masih menikmati makanan.


Mesha terus-menerus mengaduk bubur di mangkoknya dengan tatapan kosong. Sakha yang mengkhawatirkannya, meraih tangan perempuan itu.


"Apa yang kamu pikirkan? Itu bubur mau kamu aduk sampai kapan?"


"Gak ada, Mas. Aku sudah kenyang."


Sakha mengerutkan dahi. Ia yakin, Mesha baru menyendok buburnya. Bagaimana mungkin hal itu mengenyangkan?


"Sudah, Dek. Gak usah dipikirkan hal yang aneh-aneh. Habiskan buburnya, aku lihat tadi kamu cuma makan berapa sendok."


***


Di sisi lain, seorang pemuda yang masih berbaring di ranjang berteriak-teriak histeris. Kedua matanya masih terpejam erat. Teriakannya membuat seseorang berlari menerobos masuk ke kamar.


"Bro? Bro! Kenapa? Bangun, Zay. Bangun!"


Beberapa saat kemudian, Zayan tersentak. Laki-laki itu terduduk setelah bangun dari tidur. Kedua telapak tangannya mengusap keras wajah sendiri. Sementara itu, teman dekatnya menatap dengan perasaan khawatir.

__ADS_1


"Sampean kenapa, Bro?"


"Itu ... aku hanya mimpi buruk."


"Hmmm. Makanya, jangan jarkoni! Katanya kalau habis subuh gak boleh tidur, 'ora ilok'."


Zayan tersenyum malu mendengar sindiran temannya.


"Mamahku udah siapkan sarapan. Kita disuruh makan dulu."


Zayan mengangguk.


Zayan biasanya tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil bersama teman kampus yang lainnya. Namun, kali ini. Ia ikut pulang ke kampung halaman Karman. Sebuah kota kecil yang berbatasan dengan desa Karangsoka.


"Oh iya. Kita jadi ke toko buku yang dekat taman kota, 'kan?" sela Zayan.


"Ya, jadi. Nanti sehabis sarapan."


Setelah menghabiskan isi piring dan membereskan ruang makan, Zayan dan Karman berpamitan kepada ibu Karman. Mereka berdua berjalan menuju sebuah halte. Beberapa menit kemudian, sebuah bus kota dengan cat warna biru berhenti di hadapan kedua laki-laki muda tadi.


"Ini, busnya. Ayo!" ajak Karman.


Bus kota melaju sedang di jalanan kota. Kemudian berhenti di sebuah halte tak jauh dari sebuah tempat yang ditumbuhi pohon-pohon rindang. Zayan dan Karman berjalan menuju ke sebuah toko buku yang menjual buku baru juga buku-buku lama.


Namun, fokus Zayan malah tertuju pada pemandangan di sekelilingnya. Hingga tanpa sengaja, ia hampir saja menabrak seorang gadis dengan gaun berwarna salem. Laki-laki di sebelah gadis itu dengan sigap merangkulkan tangan ke pundak sang gadis.


"Maaf!" Secara kebetulan, Zayan dan perempuan tadi berbicara bersamaan. Sekilas, kedua orang itu berpandangan lalu menunduk. Ada perasaan aneh yang menjalar di rongga dada Zayan waktu melihat seseorang itu. Namun rasa malu mencegahnya untuk terus menatap wajah cantik tadi.


"Kamu gak apa-apa, Dek?"


"Gak apa-apa, Mas."


"Lain kali kalo jalan, hati-hati, Mas. Tunangan saya bisa terluka." Pria tadi menghardik Zayan.


Dengan perasaan malu dan tak enak hati, Zayan meminta maaf. Ia menangkupkan kedua tangan di depan dadanya lalu berbalik. Sementara itu, Karman yang sudah berjalan jauh di depan, memanggil-manggil teman dekatnya.


"Kamu beneran gak apa-apa, Dek Mesha?"


"Iya, Mas. Kan tadi gak nabrak."


"Itu kayaknya cowok gak beres, Dek. Kayak mencuri pandang sama kamu terus."


"Cuma perasaan Mas Kha, mungkin."

__ADS_1


"Iya kali ya, Dek. Memang, punya calon istri cantik itu kudu waspada."


"Halah, gombal!"


Kali ini, setidaknya Sakha bisa melihat senyum lebar Mesha lagi, setelah kejadian di warung bubur ayam tadi. Ia merasa harus berterima kasih pada pria yang hampir saja menabrak calon istrinya. Karenanya, ia bisa merangkul sekaligus melihat tawa pujaan hatinya.


Di tempat lain, Zayan menggelengkan kepala terus-menerus. Berusaha menepis bayangan samar wajah perempuan yang berpapasan dengannya tadi. Terkadang, buku di tangannya pun ia pukulkan ke kepalanya sendiri.


"Kenapa sih, Bro? Dari tadi, kulihat tingkah sampean itu aneh. Apa ada yang terjadi di dekat taman tadi?"


"Gak. Gak ada, kok."


Dengan gayanya yang tenang seperti biasa, Zayan mengembalikan buku di tangannya ke rak. Kemudian, pria itu berjalan ke rak buku lain. Sementara Karman, ia mengekor.


Beberapa menit telah berlalu, Zayan mengantre di meja kasir dengan beberapa buku di tangannya. Karman hanya membeli sebuah buku. Setelah membayar, mereka berdua berjalan menuju ke sebuah kafe sederhana. Memesan kopi dan makanan ringan.


"Aku tadi, hampir saja menabrak seorang gadis. Dan wajahnya sangat familiar," ungkap Zayan setelah menyeruput kopi di hadapannya.


"Cantik?"


"Bukan masalah itu ... lagipula, ia bersama calon suaminya."


"Waaaa ... waaaahhh ... bahaya! Jangan diterusin, Bro. Masa iya, cowok keren dan setampan sampean, naksir sama calon istri orang!"


Zayan mencubit bibir Karman dengan gemas. Dengan cepat, temannya itu menepis tangannya.


"Kalau ngomong itu jangan seenaknya! Dengarkan dulu ceritanya, ditelaah. Baru komentar, gitu."


"Iya, iya ... maaf," sahut Karman sambil mengusap-usap bibirnya yang memerah karena cubitan Zayan. "Terus gimana tadi ceritanya?" lanjutnya.


Zayan menggambarkan perasaannya saat melihat perempuan tadi.


"Baru pertama kali lihat cewek itu kan, Bro?"


Zayan mengangguk lalu melipat tangan di dada.


"Ya udah. Ngapain dipikirin? Lupain aja, beres!"


"Iya. Tapi kalo diingat-ingat, seperti ada yang mengganjal."


"Ya jangan diingat!"


Zayan berdecak frustasi. Ia merasa percuma menceritakan hal ini semua pada temannya itu. Ia juga merasa kesal saat melihat beberapa sosok yang bergelantungan di pohon-pohon rindang di taman tadi. Beberapa di antara mereka, menebak-nebak apakah Zayan bisa melihat wujud mereka atau tidak.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2